Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Sebenarnya Kalian ini Siapa?


__ADS_3

Aku jatuh dan terus terjatuh dengan kecepatan tinggi. Tubuhku bahkan mengeluarkan asap dan dapat memercikkan api. Layaknya sebuah bongkahan batu meteor yang bersinggungan dengan atmosfer dan jatuh cepat menghantam bumi. Aku semakin dekat dengan daratan. Aku berusaha melindungi wajah dan tubuh dengan menekuk tubuhku sendiri seperti sebuah bola.


DEG!


Aku terbangun di tempat asing. Nafasku terengah-engah. Mataku menjalar ke segala arah. Rupanya aku telah berada di tempat lain bersama dengan orang asing lainnya.


Ada beberapa anak kecil yang memperhatikanku. Aku pun heran. Kenapa aku bisa ada di dalam sebuah sel penjara bersama para anak kecil. Aku memperhatikan keseluruhan ruangan, rupanya tempat itu adalah penjara para gadis, pikirku.


“He..Hei...”


Anak-anak yang aku sapa barusan malah menjauh ketakutan. Dilihat dari wajah dan tubuh mereka, usia para anak ini masihlah belia sekitar tujuh sampai sepuluh tahunan.


“...Kalian tidak apa-apa?”


Aku berusaha bersikap seramah mungkin sembari mengulas senyum di wajahku. Tapi balasan anak-anak itu tetap saja menatap ngeri ke arahku. Aku pun jadi bingung sendiri.


Ku abaikan dulu sikap mereka, lalu memperhatikan sekeliling. Sel besi yang kokoh, tanah yang agak basah, bau lembap bagai terkubur dalam tanah, wajah anak-anak yang ketakutan.


Hmmm... Jelas aku berada di tempat yang mengerikan.


Rambut panjangku menggelitik wajahku, maka dari itu tangan mungilku dengan sigap menyelipkan rambutku itu ke belakang telinga.


“Tunggu, tangan mungil?”


Ketika aku menyadari, rupanya tanganku terlihat lebih kecil dari tanganku yang biasanya. “Loh, apa tanganku memang sekecil ini?” Gumamku sendiri.


Aku terus menerus memperhatikan tangan dan kakiku yang telah menciut. Menggoyang-goyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri. Memperhatikan tubuhku yang menyusut dan berubah kurus kering. Bahkan gundukan daging dan otot yang biasanya bertengger menantang di dada pun lenyap. Diriku sempat takjub sesaat sebab perbedaan fisikku sekarang dengan yang terakhir kali aku ingat.

__ADS_1


“Hei anak aneh! Sampai kapan kau akan bertingkah seperti itu?” Sapa suara berat dari seberang selku.


Aku yang kini menciut itu pun menoleh ke sumber suara. Ternyata ada juga anak laki-laki di dalam sel itu. Dan beberapa anak laki-laki lain di dalam sel lainnya dan ada beberapa sel yang berjejer rapi.


Sel para anak perempuan dan anak laki-laki saling berhadapan dan dipisahkan oleh sebuah jalan. Dari sebuah pintu besar yang berada di sebelah kananku terlihat pembagian sel untuk tiap jenis kelamin, sel sebelah kanan untuk anak laki-laki dan sel sebelah kiri untuk anak perempuan.


Anak laki-laki yang sedikit meninggikan suaranya padaku tadi mengajakku berbicara, dan anak itu menggunakan bahasa asing yang tak pernah aku dengar selama hidup.


“Apa kau barusan bicara padaku?” Aku pun tercekat. Aku baru saja menyadari ternyata diriku juga bisa menggunakan bahasa yang sama dengan anak laki-laki itu.


“Lihat! Kau membuat mereka takut.” Katanya lagi.


Aku pun memiringkan kepala sembari menatapnya heran. Anak laki-laki yang terlihat jauh lebih muda dariku itu menggunakan bahasa tidak formal kepadaku. Cukup membuatku sedikit geram. Karena di tempatku berasal meskipun banyak orang gila tapi mereka tetap menjaga sopan santun.


“Apa kau bisa berbicara lebih sopan padaku?” Kataku.


“Karena aku lebih tua darimu!” Aku akhirnya emosi. “Orang tuamu tidak mengajarkan apa pun padamu?!”


KLANG!


“Kaget aku!” Aku menepuk-nepuk dada rataku karena terkejut.


Anak laki-laki itu memukul selnya dengan kencang. Aku terdiam, mengunci kedua bibirku rapat-rapat. Rupanya anak laki-laki itu marah, lebih tepatnya amat sangat marah saat aku menyinggung kata orang tua padanya. Wajahnya yang penuh luka itu membuatnya semakin mengerikan.


Terdapat banyak luka di wajah dan tubuhnya. Dan di lehernya, ia memakai sejenis pengekang yang biasa digunakan untuk peliharaan yang terbuat dari besi yang melilit mantap di leher. Bercak kemerahan yang telah mengering bahkan menghitam mengelilingi kalung pengekang itu.


“Ma-Maafkan aku. Ucapanku terlalu kasar.” Kataku yang merasa sedikit takut padanya.

__ADS_1


“Kenapa kau merasa lebih tua dariku? Kelihatannya kau jauh lebih muda dibanding aku.” Selidik anak laki-laki itu padaku.


“Hei, umurku sudah dua puluh delapan tahun, tahu!” Jawabku yang berusaha tak membuatnya tersinggung. “Ah Sial! Karena anak sombong ini aku jadi menyebutkan umurku!” Aku geram sembari mengacak-acak rambut.


Anak laki-laki itu pun tertawa kencang. Suaranya menggelegar sampai memenuhi ruangan. Begitu juga anak lain yang mendengar pembicaraan kami, mereka semua ikut cekikikan.


“Dari mana dua puluh delapan tahun? Kau terlihat seperti anak usia lima tahun!” Ia tak ada habisnya menertawaiku.


Mataku terbelalak lebar. “Usiaku lima tahun? Anak ini pasti sudah gila!”


Aku melirik ke arah gadis lain yang berada di dalam satu sel yang sama denganku. Mempertanyakan, apakah benar yang dikatakan anak laki-laki itu melalui isyarat mataku. Tanpa diduga ketiga anak perempuan yang saling berdempetan itu menganggukkan yakin kepala mereka berbarengan. Alisku mengernyit, mulutku terbuka. Mana mungkin aku kembali menjadi anak kecil lagi setelah pingsan di rumah sakit.


Seorang gadis dari sel tepat di sebelah selku menjulurkan tangannya. Memberikan pecahan cermin kecil padaku. Ragu-ragu aku menggunakan cermin yang tadi diberikan olehnya. Betapa terkejutnya ketika aku melihat pantulan dari cermin. Ini jelas bukan diriku. Setidaknya bukan wajah ini yang ada dalam ingatanku. Aku sama sekali tidak mengenali wajah ini. Pantulan dalam cermin menampilkan wajah anak kecil berusia lima tahun.


Kulit putih pucat bak orang mati, rambut abu-abu dan terdapat banyak noda tanah dimana-mana. Mata bulat besar ciri khas tokoh protagonis dalam sebuah novel, dengan bola mata berwarna merah bercahaya bagai berlian mahal.


Aku pernah melihat warna manik mata gadis yang aku rasuki ini. Terlihat seperti ‘Red Diamond’ permata yang aku beli awal tahun lalu di sebuah pelelangan amal. Warna matanya cantik sekali. Susunan iris matanya pun terbilang unik. Berbeda dengan iris mata gadis lain yang terlihat normal dan biasa saja. Mata yang terpantul di cermin ini serasa ada yang menjejalkan permata asli masuk ke dalam matanya.


“Apa ini sihir penghilang ingatan?” Kata anak laki-laki itu membuyarkan kekagumanku di cermin.


“Apa katanya? Anak itu bilang sihir?!” Batinku. “Apa yang kau maksud dengan sihir?” Tanyaku padanya.


“Sepertinya tubuhmu telah diberi mantra, baunya seperti itu.” Kata seorang gadis yang memberikan aku pecahan cermin tadi.


“Bau apa? Kau mencium bau badanku atau apa?” Aku menundukkan kepala, berusaha menciumi ketiak kecilku bergantian.


“Hei! Sepertinya dia dikurung sejak lama sebelum dibawa ke sini!” Jelas gadis pemberi cermin itu, menjelaskan pada anak laki-laki yang sedari tadi bertanya dari seberang sel kami.

__ADS_1


Mereka berdua yang asyik mengobrol membuatku jadi serba salah. Mereka membicarakan diriku tanpa melibatkan aku, itu hal yang cukup mengganggu. Rasa penasaranku pun kian memuncak, banyak hal yang ingin aku ketahui dengan segera. Dimulai dengan pertanyaan “Sebenarnya kalian ini siapa?”


__ADS_2