Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Akhir Cerita?


__ADS_3

Hari demi hari pun berganti. Entah sudah berapa lama aku tinggal di sini. Di dalam sel yang kotor, dingin, gelap, dan lembap. Demi bertahan hidup, aku bersembunyi dari petugas agar tidak segera di ambil dan dijual ke pelelangan yang belakangan ini lebih rutin diadakan di permukaan.


Aku menyamarkan warna rambutku menggunakan tanah dari dalam sel. Ku ambil sedikit tanah yang bersih dari sudut, dan ku ambil lumut dari tembok, ku campurkan dengan tanah agar melunak dan mudah diaplikasikan.


Aku baluri seluruh rambut dari akar hingga ke ujungnya, juga di permukaan kulit dari wajah sampai kaki. Itu pun atas saran Rainar dan Rossie agar diriku ini bisa selamat. Meski setelahnya seluruh tubuhku menjadi gatal-gatal dan rasanya amat menyiksa, namun cara itu ampuh untuk menyamarkan warna dari rambut dan kulitku.


Aku pun semakin sulit untuk bersembunyi, karena serat jerami yang biasa aku gunakan untuk bersembunyi dihancurkan oleh teman selku sendiri. Mereka yang iri dan tak terima merasakan ketidakadilan yang aku dan Rossie lakukan demi menyelamatkan kami berdua.


Mereka yang kesal padaku menghancurkan serat jerami itu pada saat diriku ini sedang tertidur lelap karena kelelahan menghindari penjaga. Akhirnya Rossie menyarankan aku untuk menutupi seluruh tubuhku dengan tanah, agar penampilanku semakin tak layak menjadi peserta lelang.


Dalam penjara bawah tanah ini aku tidak tahu, kapan waktu siang dan malam. Yang ku tahu jadwal makan di sini terjadi satu kali dalam satu hari. Makanan yang diberikan pun, makanan sisa para bangsawan yang diambil setelah mereka mengadakan perjamuan tepat setelah acara lelang diadakan di permukaan. Itu pun setelah para penjaga memakan makanan sisa perjamuan.


Bisa dibilang penghuni sel hanya mendapat jatah sisa dari sisa perjamuan di permukaan. Pada saat itulah kami, para penghuni sel, mendapatkan menu makanan terlezat selama kami mendekam di sel dingin nan mencekam ini.


Jika tidak ada perjamuan di permukaan pada hari itu. Kami, para penghuni sel, hanya diberikan satu potong roti hitam keras yang sudah berjamur, dan semangkuk sup dingin yang rasanya seperti air cucian piring dan bau kaus kaki basah. Tetapi demi bertahan hidup, mau tidak mau aku dan penghuni lain memakan makanan apa pun yang diberikan, meski tidak lezat dan bahkan bisa mengancam nyawa.

__ADS_1


Terkadang para penghuni sel pun harus berebut makanan dengan tikus-tikus yang berkeliaran bebas di sana. Ada juga penghuni lain yang tak cukup dengan jatah makanan mereka dan merebut roti milik orang lain. Hal tersebut tentu saja membuat keadaan di dalam sel tak pernah terkendali. Teriakan yang menggema pun sudah seperti lantunan lagu klasik yang setiap saat bersenandung.


Tidak hanya mereka yang keluar, banyak pula penghuni sel baru berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak remaja yang belum menginjak usia lima belas tahun. Bahkan terkadang ada beberapa penjaga yang membawa anak-anak perempuan keluar dari sel mereka. Lalu dikembalikan pada esok hari dengan kondisi yang sudah tidak bisa dijelaskan lagi.


“Hei Rubi! Apa kau masih waras?” Panggil Rainar. Suaranya yang serak terdengar agak payau.


Di tempat itu jangankan untuk makan makanan yang layak, dapat setetes air pun sulit. Sebab itulah banyak dari para calon budak seperti kami mati karena dehidrasi. Bahkan kadang para penjaga tidak memberikan jatah makanan dua sampai tiga hari penuh, yang membuat kemungkinan hidup semakin kecil.


Ada juga yang memanfaatkan lumut yang tumbuh di tembok untuk dikonsumsi. Selain mengandung sedikit air, para penghuni juga memakannya pada hari ketika tidak mendapat jatah makanan. Begitu pun denganku, memakan lumut di tembok sel adalah aktivitas terbaru yang bisa aku lakukan selama beberapa waktu belakangan.


Namun tak seluruh penghuni dapat memakan lumut agar dapat menyambung nyawa. Karena jumlah lumut yang terbatas tak sebanding dengan jumlah penghuni sel di sana. Tentu saja, kami berebut lumut yang tak seberapa itu. Memang ada lebih banyak lumut di bagian atas tembok. Namun karena jaraknya yang tinggi, kami hanya bisa berangan-angan untuk dapat menggapainya.


Banyak dari mereka yang bersikap egois dan tidak mau membagi makanan yang ia peroleh dengan tangannya sendiri, padahal seluruh penghunilah yang bekerja sama. Sebab itulah, banyak dari penghuni sel bertengkar memperebutkan hak mereka sampai pada tingkat pembunuhan sesama penghuni. Semua itu mereka lakukan hanya untuk menelan sedikit lumut dari tembok.


Aku terisak di sudut selku. Aku sudah tidak kuat dengan kegilaan di dalam tempat ini. Apalagi Rossie, salah satu temanku di dalam tempat mengerikan ini, telah diambil menggantikanku karena Rossie mencoba menghalangi penjaga untuk menyelamatkanku beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


“Kecil...” Panggil Rainar.


“... Aku?” Jawabku seraya menyeka bulir bening di pipi.


“Ya. Karena hanya kau yang memiliki tubuh paling kecil di sini.” Ucapnya sedikit meledek.


“Ini karena aku tidak makan dengan benar, jika aku bisa makan banyak tubuhku akan jadi sebesar gunung.” Debatku dengan Rainar di sisa-sisa tenaga yang aku miliki.


Rainar pun hanya dapat terkekeh membalas ucapanku. Tak ada lagi yang dapat ia katakan. Aku merangkak mendekati sel Rainar. Menyandarkan tubuhku di antara sela besi dingin dengan lemasnya. Mataku menatap kosong ke depan.


“Rainar...” Panggilku dengan suara yang entah dapat didengar atau tidak.


“Jika kau yang lebih dulu keluar nanti, hiduplah baik-baik di atas sana. Makanlah makanan yang kau suka, lakukan apa pun yang kau mau. Jika kau masih mengingatku disela kebahagiaanmu, tunggulah diriku sampai keluar juga.” Ucapku yang telah kehilangan semangat.


“...Hmmm, bagaimana jika kau yang lebih dulu keluar dibanding aku?” Tanya Rainar menanggapi ucapanku.

__ADS_1


“Maka aku akan menunggumu. Tak peduli berapa lama waktu dibutuhkan, aku akan menunggu sampai kau menemukanku.” Setelah mengucapkannya mataku terpejam erat. Tak ada lagi tenaga yang tersisa, mungkin yang tadi adalah tenaga terakhir yang aku miliki sebelum mati.


Tak berapa lama terdengar sayup-sayup suara gaduh dari balik pintu besar. Satu-satunya pintu yang digunakan penjaga untuk mengeluarkan dan memasukkan para budak ke dalam. Suara teriakan dan erangan yang semakin nyaring terdengar. Membuat suasana di dalam sel terasa mencekam. Kegaduhan itu sampai membuatku yang hampir pingsan ini membuka mata.


__ADS_2