
Seperti saat jadwal pelelangan akan dilakukan di permukaan beberapa waktu lalu. Salah satu penjaga yang sedang bertugas tak sengaja bersandar pada sel Rainar. Kemudian petugas itu menatap ke dalam sel sehingga mata si petugas dan Rainar bertemu. Dalam sekejap wajah penjaga itu langsung pucat dan tubuhnya lemas. Ia cepat-cepat ingin menyelesaikan tugasnya dengan segera.
Aku yang pada waktu itu memperhatikan kejadian tersebut dari balik serat jerami yang dulu diberikan Rossie, melihat wajah Rainar yang menyeringai ke arah penjaga itu. Betapa menyeramkannya Rainar ketika menyeringai menggunakan wajah penuh luka di mana-mana.
Wajah yang sama yang hanya memperlihatkan senyum manis anak remaja padaku. Kini aku tak dapat melihatnya lagi, atau tertawa bersamanya. Sungguh sakit mengetahui kenyataan bahwa ia sudah tak ada lagi di dunia.
Kengerian yang kini terjadi di dalam ruang penjara dengan banyaknya tubuh yang bergelimpangan di mana-mana membuatku takut sekaligus lega. Dikarenakan aku tidak harus mati seperti mereka di dalam sana sebelum melihat dunia yang bisa membuatku amat penasaran.
Hewan besar dan aku keluar dari pintu ruang bawah tanah itu, dan langsung menaiki tangga panjang melingkar yang di sisi kanan dan kirinya diapit oleh tembok berbatu mengarah ke permukaan.
Di dalam ruang sempit itu pun banyak sekali asap hitam yang berdiam diri di sana. Seakan mereka menunggu untuk menyerang begitu aku menaiki tangga itu.
Aku menutup hidung rapat-rapat, berusaha mencegah paru-paruku terserang asap hitam lebih banyak lagi. Sepanjang menaiki tangga, ku lihat banyak pintu besar yang sejenis dengan pintu tempat di mana aku dikurung. Di antara anak tangga pun samar-samar aku melihat banyak sekali bayangan hitam pekat bergelimpangan memenuhi tangga.
Aku melewati sekitar tujuh pintu sebelum akhirnya berhenti di depan pintu yang tampak lebih mewah dengan warna merah pekat seperti darah.
Jika tak salah lihat, lantai tempat aku dikurung pun bukanlah lantai terakhir. Ada pula tangga mengarah ke bawah. Tangga yang mengarah ke tempat lebih gelap, seakan tangga itu mengarah menusuk masuk ke dalam perut bumi.
Kami sampai di ujung tangga. Cahaya kemerahan dari sana terasa sangat panas. Hewan itu mendobrak pintu terakhir di ujung tangga. Tampak aula besar dan sebuah panggung dengan banyaknya tempat duduk bertingkat, persis seperti pelelangan yang selama ini ada di benakku, tengah di lalap si jago merah.
Ada juga tubuh-tubuh yang bergelimpangan di sana tengah terbakar, dan ada juga jasad yang telah menghitam. Bau bangunan dan bau hangus daging yang sedang terbakar menyebar di mana-mana. Penampakan hari itu sangat mengerikan dan mencekam. Jantungku seakan melompat keluar dan berlarian.
__ADS_1
KRAK!
Sebuah balok besar dari atap bangunan runtuh menimbulkan percikan api yang menyebar ke segala arah. Beberapa kali puing-puing bangunan terjatuh ke bawah. Serigala itu menghindari puing-puing yang terjatuh ke segala arah. Tubuh mungilku yang berada di moncongnya ikut terpontang-panting ke kanan dan ke kiri tak tentu arah.
“Uhuk... Uhuk...”
Aku tak dapat menahan diri lagi. Aku sudah tak tahan dengan pekatnya asap yang masuk melalui hidung. Walaupun sudah ku tutup rapat dengan kedua tanganku, tetap saja asap itu lolos dan masuk hingga ke paru-paru.
Serigala itu menengok ke kanan dan kiri, berusaha mencari jalan keluar di dalam kobaran api. Kepala serigala itu menengok ke atas. Aku mengikuti arahan kepala serigala. Ku lihat langit malam bertabur bintang mengintip dari celah atap.
Dengan satu sentakan kakinya, serigala itu melompat tinggi mendobrak atap yang tengah terbakar hebat menggunakan tubuh besarnya. Aku merasakan rasanya terpental melayang tinggi di udara, keluar dari kobaran api yang sedang melahap habis sebuah bangunan.
Sesampainya aku di permukaan, aku melihat sebuah bangunan besar nan mewah yang terbakar hebat. Menerangi hutan belantara di sekitarnya. Membuat udara malam yang seharusnya dingin menusuk kulit menjadi hangat akibat besarnya kobaran api. Ternyata selama ini aku terkunci dalam sel bawah tanah sebuah gedung pelelangan yang berlokasi di tengah hutan belantara.
Tubuh kecilku berayun-ayun di moncong serigala, mengikuti derap langkah kaki sang serigala yang menjauh dari bangunan. Serigala itu membawa tubuhku masuk lebih jauh ke dalam hutan.
Tak berapa lama, serigala besar menurunkanku perlahan. Ia menatap gadis mungil yang tergeletak tak sadarkan diri di bawah kakinya. Beberapa saat berlalu, perlahan-lahan aku membuka mata. Mata merahku mengedar ke segala arah. Mendapati serigala tengah terduduk manis disisiku.
Di bawah rembulan yang bersinar terang, sosok hewan itu kini terlihat jelas. Bulu berwarna putih dari kepala hingga ekor dan tampak bercahaya seterang sinar bulan malam ini. Sedikit noda hitam di tubuh dan wajahnya sebagai bukti bahwa menerobos kobaran api yang sedang menggila tadi bukanlah mimpi.
Seluruh badannya sangat besar, mulai dari kepala, tubuh, kaki, hingga ekor. Bahkan cakarnya pun besar dan terlihat amat tajam. Tinggi tubuhku saat ini mungkin setengah kaki serigala itu. Aku seakan melihat sebuah gunung di hadapanku.
__ADS_1
Mata hewan besar itu bersinar terang, layaknya sinar matahari pagi yang hangat dan sangat cantik. Jika serigala itu akan dilukis ke dalam sebuah lukisan, maka untuk melukis matanya tidak ada tinta cair mana pun yang sepadan. Melainkan sang pelukis akan mewarnainya dengan emas murni yang dilelehkan.
“Ada di mana kita sekarang?” Tanyaku seraya memutar tubuh memperhatikan lokasi sekitar yang telah berbeda dengan yang terakhir kali aku lihat.
Tempat kami sekarang adalah dataran rumput yang luas sejauh mata memandang, tak ada satu pun pohon yang berdiri. Padahal sebelumnya terdapat banyak pohon-pohon besar yang menjulang tinggi ke langit. Seakan kami telah pindah ke dunia lain selama aku tak sadarkan diri tadi.
“Apa kita pindah dunia?” Tanyaku pada serigala di hadapanku. “Hei! Apa kau bisa bicara? Kau tahu kita ada di mana sekarang?” Kini aku berteriak mengulangi pertanyaan, karena ku pikir serigala ini adalah makhluk sihir yang bisa bicara.
Serigala besar itu tidak merespons pertanyaanku. Ia hanya duduk tegak seperti patung yang melihat lurus ke depan tanpa berkedip. Kepala serigala itu beralih menatap bulan penuh yang bersinar terang di atas langit. Aku pun ikut menatap bulan di atas sana yang seolah menyambutku di bawah pantulan sinarnya.
“Cantiknya.” Gumamku yang tengah terduduk di atas permukaan rumput yang kian mendingin.
Aku dan serigala itu duduk bersebelahan memandang hikmat bulan di atas kepala kami. Ekor serigala itu melilit lembut di tubuhku. Bulu lebatnya seperti selimut lembut yang menyelimuti tubuh kecilku. Kedua bulan yang tengah bersinar terang itu menemani kami di malam panjang yang dingin.
Kami berdua menikmati setiap jengkal keindahan langit yang disajikan di depan mata. Udara malam yang kian mendingin tiap detiknya itu menjatuhkan buliran salju dari langit. Pemandangan yang amat menakjubkan sampai tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata.
Serigala yang tadinya duduk terdiam menikmati pemandangan malam mengalihkan pandangannya ke arahku yang kini berada di tengah-tengah lilitan ekornya.
“A-Apa kau akan memakanku sekarang?” Kataku diikuti gigiku yang gemeretak kedinginan. Namun serigala itu hanya memandang mantap ke arahku.
Mata kuning keemasan yang besar itu menatap tak berkedip, seakan melahap tubuhku dengan tatapan matanya. Aku segera berdiri lalu membungkukkan badan mungilku sembilan puluh derajat “Terima kasih telah menyelamatkanku, Putih.”
__ADS_1
BRUK!
Seketika diriku pingsan di atas hamparan padang rumput yang kian terselimut oleh salju.