Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Hidangan Pertama


__ADS_3

Setelah mandi, Serena beserta keempat kucing kesayangannya bergegas mengenakan pakaian dan bersiap untuk makan malam. Mereka berlima lagi-lagi hampir melewatkan jadwal makan karena terlalu lama mandi. Serena mengarahkan anak-anaknya menuju ruang makan yang ada di salah satu ruangan di dalam panti.


Ruang makan yang terdiri dari meja-meja panjang yang tersusun rapi itu membuat Rubi, gadis yang hanya melewati hari-harinya di dalam sel terkesima. Matanya bergerilya mengedar ke segala arah. Dilihatnya banyak anak-anak lain, baik anak laki-laki dan perempuan yang sibuk antre di depan etalase makanan. Serena pun mengarahkan anak-anak asuhnya untuk ikut mengantre sesuai barisan, agar terlihat rapi.


Di belakang etalase makanan ada dua petugas panti yang bertugas menjaga stand makanan. Mereka memberikan makanan yang telah mereka masak pada anak-anak sesuai porsi yang telah ditentukan. Ada saja anak yang protes karena merasa jatahnya kurang. Ada anak yang terlalu pilih-pilih makanan. Ada juga yang merebut makanan milik orang lain sehingga memicu pertikaian.


Dalam kepala kecilnya Rubi langsung berpikir, bahwa kejadian tersebut terasa akrab baginya. Di tempat yang disebut Serena sebagai panti asuhan ini tidak berbeda jauh seperti sel yang selama ini ia tahu. Yang berbeda adalah tempatnya yang luas, lebih bersih dan harum, makanan yang enak dan masih hangat (meskipun menu makan hari ini hanya sepotong roti, sup tahu, dan sebuah apel).


Rubi pun bisa mandi dengan air yang sangat menyegarkan, memakai pakaian bersih, dan tidur di atas kasur hangat di dalam bangunan bersama teman-temannya. Tak ada ketakutan akan penjaga, tak ada tikus-tikus yang berlalu lalang, tak ada pula tampang mengerikan anak-anak lainnya, dan tak ada tanah basah dan berbau disekelilingnya. Ah, setelah dipikirkan lagi ternyata memang tempat yang bernama panti asuhan ini berbeda dan merupakan tempat yang menakjubkan.


Serena yang sudah mendapat tempat duduk di sudut ruangan memanggil anak-anak asuhnya ke tempatnya berada. Mereka berlima duduk saling berhadapan. Di atas meja sudah tersedia nampan yang terisi penuh dengan makanan hangat.


Serena memandu keempat anak-anak asuhnya memanjatkan doa kepada dewa Eos, dewa matahari, dan berterima kasih atas makanan hangat dan lezat yang ada di hadapan mereka hari ini. Karena selama ini Rubi tidak pernah melakukannya saat di dalam sel, ia hanya menundukkan kepala dan mengikuti apa yang dilakukan Serena dan teman-temannya.

__ADS_1


Harusnya acara makan ini biasanya dipimpin oleh ketua panti. Namun karena beliau tidak ada di tempat jadi anak-anak yang sudah kelaparan sedari tadi langsung mengerubungi ruang makan bak lalat. Acara doa bersama sebelum santap makan pun berangsur-angsur ditiadakan saat ketua panti tidak ada di tempatnya. Sebab petugas panti yang lain tidak ada yang sanggup memberi komando seperti ketua panti yang berwajah tegas nan berwibawa. Bahkan wakil ketua yang harusnya dapat menggantikan posisi ketua pun kewalahan dengan anak-anak ketika mereka kelaparan.


Ada sekitar tujuh orang petugas panti yang di tugaskan langsung oleh kuil suci. Dan ada beberapa orang tambahan dari luar kuil suci yang membantu mengurus panti. Mereka yang membantu mengurus panti disebut relawan. Sebab membantu pekerjaan di panti asuhan ini tidak mendapat bayaran sama sekali, dilakukan secara sadar dan suka rela.


Di waktu-waktu tertentu ada lebih banyak orang yang menjadi relawan. Bahkan para bangsawan berdarah emas itu pun turun tangan mengurus rakyat kecil. Para bangsawan muda itu terjun untuk membantu rakyat biasa, mereka tidak menjalankannya dengan tulus, hanya semata-mata demi nama baik dan popularitasnya. Namun dengan kehadiran para bangsawan, salah satu tempat bakti sosial seperti panti asuhan ini mengalami peningkatan.


Meskipun dalam aturannya siapa pun yang menjalankan bakti sosial yang biasanya dilakukan selama satu minggu, para bangsawan dilarang untuk menggunakan kekayaannya. Misalnya, membawa banyak gaun mewah dan barang berharga ke lingkungan tempat bakti sosial berada. Karena tempat bakti sosial bukanlah sebuah vila megah milik suatu keluarga, apalagi yang bertujuan untuk pamer harta kekayaan. Tempat bakti sosial adalah tempat kegiatan untuk membantu sesama demi menumbuhkan rasa kepedulian dan kedekatan pada sang dewa.


Para petugas menekankan tidak akan bertanggung jawab atas segala kehilangan dan kerugian yang dialami oleh para peserta relawan, dan mereka tidak diperbolehkan menuntut siapa pun. Nama keluarga dari berbagai tingkat tinggi sekalipun tidak dapat memberikan gugatan, meskipun itu adalah keluarga kaisar. Hal tersebut tertuang dalam salah satu kitab peraturan hukum Kekaisaran yang telah berlabel cap kaisar. Yang artinya peraturan tersebut bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.


Dikatakan bahwa setiap keluarga bangsawan yang akan mengikuti kegiatan bakti sosial hanya diperbolehkan membawa paling banyak satu pelayan untuk menemaninya dengan dua syarat.


Pertama, bangsawan yang melakukan kegiatan tersebut merupakan tiga tingkat teratas dalam tingkatan bangsawan di Kekaisaran Estheria, yaitu keluarga bangsawan mulai dari tingkat Count, Marquess, hingga tingkatan Duke di Kekaisaran Estheria. Kedua, para bangsawan yang membutuhkan pelayan disisinya. Seperti, nona atau tuan muda cacat fisik, sakit, atau memiliki kondisi tertentu yang mengharuskannya membawa pelayan.

__ADS_1


Dan biasanya para bangsawan yang tidak dapat membawa pelayan karena tingkatnya terlalu rendah itu menyiasati dengan menyelundupkan bahan-bahan makanan ke dalam dapur. Walaupun hal tersebut dilarang dalam peraturan, namun itu juga menjadi keuntungan panti. Jadi pihak panti memperbolehkannya dengan syarat tidak menyelundupkan apa pun secara berlebihan. Akibatnya para penghuni dapat memakan makanan enak yang dibawa oleh para bangsawan yang melakukan kegiatan bakti sosial di tempat mereka.


...****************...


Rubi menyendok sup hangat dengan sendok yang ada di tangannya. Suapan pertamanya merupakan suapan terbaik. Gadis kecil itu sampai menitikkan air matanya saking terharunya begitu ia menelan sup yang lezat ke dalam tenggorokannya. Rasa gurih, segar, hangat, dan sedikit manis dari sup dan roti pun menciptakan sensasi rasa yang luar biasa di lidah Rubi. Dan untuk ke sekian kalinya Rubi menangis seraya memakan makanan lezat di hadapannya.


Ketiga temannya tertawa geli melihat tingkah Rubi yang sedang makan dan menangis di waktu bersamaan. Serena yang melihat tingkah Rubi pun awalnya ikut tertawa bersama anak-anak, tapi kemudian ujung matanya memanas. Menu makanan paling sederhana yang disajikan di aula makan itu dapat membuat seorang gadis kecil sangat bersyukur bisa memakannya.


“Apa kau menyukainya?” Tanya Serena pada Rubi seraya mengelap hidung dan air mata yang mengalir deras di wajahnya. Hanya lima menit waktu dibutuhkan Rubi untuk melahap habis hidangan di hadapannya, itu pun setelah Serena membagi setengah makanan miliknya pada Rubi.


Rubi mengangguk tanda setuju. Ia menyodorkan wajahnya yang membengkak karena menangis itu pada Serena untuk dibersihkan. Serena yang mendapati tingkah salah satu anak asuhnya, Rubi, sangat menggemaskan kini memeluknya erat-erat.


Wanita itu pun berharap Rubi yang seperti boneka itu bisa ia bawa ke mana-mana dan ia dandani sepuasnya. Serena juga inginnya melahap Rubi bulat-bulat saat itu juga, karena memang Rubi sangat menggemaskan baginya. Allen, Elyn, dan Olive pun setuju dengan Serena, mereka juga merasa bahwa Rubi, yang sudah mereka anggap sebagai adik bungsu itu sangat menggemaskan.

__ADS_1


Ketiga kakaknya itu tak henti-hentinya menggoda Rubi dengan menyuapi ia makanan dari mangkuk mereka masing-masing. Rubi yang senang mendapat banyak makanan lezat hanya membuka mulutnya dengan patuh dan menikmati suapan demi suapan yang datang ke mulutnya. Ketiga kakaknya tertawa riang mendapati adik bungsu mereka yang membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerima suapan dari dirinya.


__ADS_2