
Serena, Robert, beserta ketiga kucing kesayangannya kini berada di dalam kereta kuda yang tengah melaju cepat menuju mansion pribadi milik Robert yang ada di pusat kota.
Serena terus meringis kesakitan ketika kulitnya yang terluka itu bergesekan dengan gaunnya. Wanita itu hampir saja hilang kesadaran karena sakit yang baru pertama kali ia rasakan selama hidupnya.
Serena tersadar ketika ada tangan kekar yang menggerayangi tubuh bagian belakangnya. “Riedl... Jangan dilepas...” Ujarnya menahan tangan itu membuka kancing gaun yang ada di punggungnya.
“Maaf tapi aku harus melakukannya, jika tidak lukamu akan semakin parah.” Sahut Robert yang hanya ada kekhawatiran di otaknya.
Begitu kancing itu terbuka setengahnya betapa terkejutnya Robert melihat punggung putih yang harusnya mulus itu malah terdapat luka goresan akibat cambuk pria tua bangka yang membuatnya ingin kembali dan segera memotong lehernya. Tapi untung saja luka Serena tidak terlalu dalam dan tak akan membekas sebab pukulan tadi terhalang korset yang membungkus tubuhnya dari balik gaunnya.
“Syukurlah... lukanya tidak parah karena korsetmu.” Ucap Robert lega seraya meletakkan kepalanya di belakang pundak putih Serena.
“Benar kan, aku baik-baik saja.” Katanya dengan suara serak yang hampir tak terdengar.
Harum lembut yang menguar dari kulit Serena membuat pria tampan di belakangnya itu merasa tenang, tanpa disadari ia bahkan mengecup lembut punggung wanita yang telah lama menjadi sahabatnya itu.
Helaan nafas lega Robert membuat Serena pun merasa tenang. Jika pria itu berkata bahwa lukanya tidak parah maka begitulah adanya, sebab sikap Robert yang sangat posesif dan cenderung khawatir berlebih membuatnya bertindak lebih dulu dibandingkan logika.
Serena membalikkan badannya lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Robert di sebelahnya. Pria itu menyambut Serena ke dalam pelukannya. Lagi-lagi tanpa sadar Robert mengecup kening Serena beberapa kali karena terbawa oleh suasana nyaman di dalam kereta.
Pria itu juga membisikkan kalimat-kalimat penenang pada wanita yang amat ia kasihi, sampai ia lupa bahwa ada tiga pasang mata kucing yang sedang memperhatikan tingkah laku kedua orang dewasa ini di depan mereka.
Tak berselang lama kereta kuda yang mereka tumpangi telah masuk ke dalam salah satu kediaman yang dimiliki oleh Robert. Bergegas pria itu membuka pintu kereta kuda dan disambut oleh kepala pelayan yang bertanggung jawab atas mansion tersebut serta beberapa pelayan di belakangnya.
__ADS_1
Betapa kagetnya para pelayan ketika melihat sang tuan yang mereka layani turun dari kereta dengan menggendong seorang wanita yang tak sadarkan diri di tangannya serta gaun si wanita yang sudah terlepas bagian atasnya, memperlihatkan pundak putih yang agak kemerahan terpantul oleh sinar matahari. Dan lebih mencengangkan lagi identitas wanita itu adalah putri pertama Marquess Tedrick yang sangat dihormati.
“... Tuan muda.” Suara kepala pelayan kediaman keluarga Count itu gemetaran, ia tak bisa membayangkan perlakuan hina apa yang dilakukan oleh tuan mudanya ini pada seorang wanita bangsawan yang suci.
“Singkirkan pikiran kotormu itu dariku Sculler, dan cepat panggilkan dokter ke kamarku!” Perintahnya pada sang kepala pelayan.
“Tidak tuan!” Hadangnya pada tuan mudanya. “Tolong jangan dibutakan oleh cinta! Saya tahu anda sangat mencintai nona Serena sejak kecil, tapi tidak begini caranya!”
“Minggir, kau ini kenapa?”
“Tolong jangan nodai kesucian nona Serena, saya akan membantu anda bilang pada tuan Count untuk melamar nona secepatnya! Jadi... Jadi...”
TOK!
Sculler meringis kesakitan memegangi kepalanya yang kena sasaran pedang milik Robert. Kepala pelayan itu akhirnya tenang dan mau mendengarkan penjelasan tuan rumahnya. Robert bergegas menuju kamar tidur tamu agar Sculler tidak mencacinya lagi. Dibaringkannya tubuh Serena di atas ranjang yang telah dibersihkan sebelumnya.
“Lalu kenapa gaun nona Serena terbuka begitu??” Ujar Sculler yang masih tidak percaya pada tuannya.
“Karena lukanya sakit jika bergesekan dengan gaunnya makanya aku buka agar tidak semakin parah.” Setelah jawaban jujur itu pun Sculler masih tidak percaya pada Robert. “Ah terserah kau saja. Percuma aku jelaskan kau juga sudah berpikir aku yang salah, buat lelah saja.”
Beberapa saat kemudian seorang dokter datang ke kamar tamu dan mengobati luka yang ada di punggung Serena, dokter itu meminta beberapa pelayan untuk membantunya melakukan pengobatan. Robert memerintahkan hanya boleh pelayan wanita yang ada di dalam kamar itu dan juga dokter yang dipanggil adalah dokter wanita.
Robert mondar-mandir cemas di depan kamar tamu yang berisi Serena di dalamnya. “Anda seperti seorang suami yang khawatir saat istrinya sedang berjuang melahirkan di dalam sana.” Mendengar celetukan Sculler, tubuh Robert membeku sesaat, ada perasaan senang yang bersarang di hatinya. Kepala pelayannya ini sangat tahu bagaimana membuat hati tuannya menjadi baik lagi.
__ADS_1
“Permisi tuan muda.” Ujar salah satu pelayan yang menghadap pada Robert. “Anak-anak yang ada dalam kereta kuda tidak mau keluar, jadi...”
“Astaga iya! aku lupa soal mereka!”
Robert melesat menuju pintu masuk utama mansion tempat di mana kereta kuda itu berhenti. Ketiga anak yang dibawa serta bersama Serena memojokkan tubuh mereka bersembunyi di dalam kereta. Pelan-pelan pria tampan itu mendekat ke arah mereka dan membujuk agar mereka mau keluar, tapi ketiga kucing itu tetap saling berangkulan menatap takut ke arahnya.
Robert menghela nafas, ia bersimpuh ala kesatria dan menjulurkan tangannya ke arah pintu kereta. “Jika kalian keluar dari kereta dan menyambut tanganku, maka aku akan membawa kalian pada Serena.” Ucap Robert pada ketiga anak di dalam sana.
Selama beberapa saat ia tidak mendapat jawaban, tapi jiwa kesatrianya pantang menyerah dan tetap teguh pada pendiriannya. Robert masih saja tersenyum ke arah pintu kereta dan menunggu ketiga gadis kecil itu dengan sabar.
Setelah beberapa lama menyembul salah satu kepala milik salah seorang anak yang ada di sana. “Di mana Serena?” Katanya seraya menatap lekat pada mata Robert.
“Serena sedang diobati di dalam, lukanya cukup parah jadi aku memanggilkan dokter untuknya.” Jelas Robert. “Apa kalian ingin bertemu dengan Serena?” Tanyanya.
Kepala anak itu masuk lagi ke dalam kereta, Robert pikir usahanya sia-sia, tapi siapa sangka sepasang kaki mungil merangkak keluar dari dalam kereta dan berusaha menuruni anak tangga.
“Boleh aku bantu kalian keluar?” Bujuknya pada ketiga anak kecil yang masih menaruh curiga. Ketiga gadis itu saling bertatapan sebelum akhirnya salah satu dari mereka menganggukkan kepalanya.
Robert membantu anak-anak itu keluar dari kereta dengan hati-hati. Keadaan mereka bertiga pun sangat memilukan, luka akibat cambukan orang yang bahkan namanya tidak bisa dirinya ingat membuatnya geram.
“Aku akan menggendong kalian ke tempat Serena berada.” Katanya yang langsung menggendong ketiga anak itu bersamaan tanpa mendengar persetujuan mereka terlebih dahulu.
Setiap pelayan yang berpapasan dengan ketiga anak kecil yang tengah berada dalam gendongan Robert menatap ngeri melihat luka cambuk yang terbuka dan masih mengalirkan darah segar. Pelayan-pelayan itu berbisik iba satu sama lain melihat kondisi mengenaskan anak-anak malang yang masih sangat kecil dan bertubuh kurus.
__ADS_1
Allen memeluk leher Robert dan membenamkan wajahnya karena takut pada orang dewasa yang menatap pada mereka. Elyn dan Olive tertunduk dan mencengkeram baju Robert sebab merasa takut.
“Mereka bukan barang tontonan! Rendahkan tatapan kalian!” Perintah Robert pada seluruh pelayan yang ada di kediamannya. Segera setelah tuan mereka bicara seluruh pelayan menundukkan kepala mereka dan tak berani melirik apalagi berbisik.