
Elise Helga Blanchett, adalah pendeta yang diutus langsung oleh kuil suci pusat yang terletak di ibukota kekaisaran Estheria. Ia ditugaskan untuk membantu mengurus panti asuhan di perbatasan wilayah yang sekarang sedang ia jalani. Dirinya sudah lebih dari dua puluh tahun menapaki jalan dewa dengan penuh cinta dan keimanan di hatinya.
Ia yang dulu merupakan seorang gadis dari keluarga bangsawan kecil di pinggiran desa, dipersunting oleh seorang Marquess kaya raya yang jatuh cinta padanya. Hidupnya sebagai Marchioness Blanchett sangat bahagia dan ia sangat dihormati oleh seluruh pekerja di kediamannya.
Pernikahannya yang dulu ditentang oleh keluarga pengikut Marquess lambat laun mengakui keberadaannya. Ia menjadi seorang yang dihormati kedua setelah Marquess Blanchett di urutan pertama. Karena kecerdasan dan keuletan Elise menjadikannya orang yang dianggap pantas bersanding dan sejajar dengan sang Marquess.
Bagai cerita Cinderella, ia yang berasal dari bangsawan miskin di pinggiran wilayah menemui takdir cintanya yaitu sang pangeran pemilik istana. Namun kebahagiaan sang Cinderella harus kandas setelah sang pangeran dikabarkan meninggal dunia akibat perang yang meletus tiga puluh tahun silam.
Sesuai adat yang berlaku, dirinya yang merupakan seorang istri harus mengemban tugas menjadi kepala keluarga selanjutnya sesaat setelah kepergian suami tercinta, yang seharusnya diberikan pada keturunan mereka. Namun dalam kasus Elise yang belum memiliki keturunan jadi dirinyalah yang diangkat sebagai kepala keluarga.
Seakan dirinya tak boleh berduka, Elise yang telah menjanda tak kuasa menahan paksaan dari bangsawan pengikut keluarga. Para pengikut memaksa Elise yang telah berstatus Marchioness untuk menikah lagi demi melanjutkan ketenteraman keluarga.
Pengikut Blanchett melakukan itu bertahun-tahun hingga terhitung sebelas tahun sudah pemaksaan yang mereka lakukan tanpa ada kata lelah. Karena para keluarga pengikut meyakini kedudukan kepala keluarga haruslah dipegang oleh laki-laki dan bukan wanita.
Elise sakit hati, hatinya berkecamuk. Belum lama dirinya ditinggal oleh suami yang amat ia cintai, namun para tikus tua pengikut itu sudah berdecit meminta ia untuk menikah lagi. Jadi, para pengikut keluarga Blanchett tidak peduli siapa yang akan jadi kepala keluarganya, yang penting keluarga yang mereka ikuti tidak runtuh.
Akhirnya Elise memutuskan untuk menyerahkan keluarga Blanchett ke tangan kaisar dan ia menjadi pendeta yang mengabdi pada dewa. Ia merelakan nama keluarga yang ia pertahankan lebih dari sebelas tahun demi mendiang suami tercinta. Dengan syarat nama Blanchett, nama suaminya, akan ia pakai sebagai bagian dari namanya seumur hidup. Tentu saja kaisar menyetujui syarat dari Elise, mengingat baktinya pada kekaisaran dan keluarga Kaisar yang tiada tandingannya.
Dan di sinilah Elise berada. Di tengah konflik antara pendeta Ortiz dengan Serena dan ketiga anak asuh kesayangannya. Pendeta Blanchett merangkul pundak kecil milik Rubi dengan lembut. Ia menatap tajam pada laki-laki paruh baya yang sangat gila hormat itu.
__ADS_1
Siapa yang tidak mengetahui pendeta Ortiz Gene di dalam panti? Pendeta yang haus akan kehormatan dan ambisi yang tinggi. Lelaki yang berani menentang ketua panti asuhan yang sekarang secara terang-terangan, padahal dirinya tak dimintai pendapat sama sekali.
Pendeta Ortiz merasa dirinya paling superior sebab ia mengabdi di panti asuhan lebih lama dibandingkan ketua panti yang sedang menjabat, dan pendeta Ortiz pernah mendapat kesempatan menjadi ketua panti sementara, karena yang sebelumnya wafat. Selama tiga belas bulan dirinya menjadi ketua panti sementara sebelum ketua panti yang baru ditugaskan oleh kuil suci.
Pendeta Ortiz tidak bisa menjadi ketua panti dikarenakan dirinya tidak terlahir dari keluarga bangsawan dan hanya rakyat biasa, juga bukan pendeta kuil suci ibukota kekaisaran. Pendeta Ortiz hanya pendeta dari kuil suci desa yang letaknya dekat dengan panti asuhan ini.
Makanya saat ketua panti yang baru telah ditunjuk oleh kuil suci, betapa marahnya ia pada kuil suci. Ia sampai mengajukan banding pada pemimpin kuil suci yang ada di ibukota kekaisaran dan tentu saja permintaan banding itu langsung ditolak mentah-mentah tanpa diproses lebih dahulu.
“Tidak seperti anak-anak asuh Anda, anak yang diasuh nona Serena malah berinisiatif membantu saya yang kesulitan.” Ujar pendeta Blanchett menyindir.
“Hah! Hal kecil begitu mana bisa jadi perbandingan anak-anak yang telah aku didik!” Jawab pendeta Ortiz ketus.
“Justru anak inilah yang jaraknya lebih jauh dariku yang berusaha membantuku.” Katanya lagi seraya mengusap lembut kepala Rubi. “Bisa kita lihat mana yang menerapkan sistem perbinatangan dalam ajarannya. Benar seperti itu, Pendeta?” Ucapan yang dilontarkan pendeta Blanchett membuat pendeta Ortiz hampir tersedak air liurnya sendiri.
Bukan tanpa alasan pendeta Blanchett bicara seperti itu, melainkan ada bukti di depannya. Saat momen nampan yang sengaja dilempar ke lantai oleh pendeta Blanchett itu terjadi, anak-anak yang diasuh pendeta Ortiz malah menertawakannya dan bukan membantu.
Mereka juga mengejek pendeta Blanchett secara terang-terangan saat pendeta bilang bahwa tangannya lemah karena usianya tak lagi muda. Anak-anak yang diasuh oleh pendeta Ortiz tertawa kencang dan mengatai pendeta Blanchett sebagai orang yang hampir mati.
Rubi yang bergerak secara naluri membantu sang pendeta padahal ia tahu bahwa pendeta itu sedang berpura-pura. Namun gadis itu tetap saja maju dan melakukan apa yang harus ia lakukan tanpa ingin mendapat sanjungan sama sekali.
__ADS_1
Wajah pendeta Ortiz memerah, ia memendam amarah dan rasa malu. Seluruh anak panti dan petugas yang menyaksikan kejadian ini berbisik tentangnya. Mereka mencemooh pendeta Ortiz melalui tatapan dan suara tawa yang sengaja diperdengarkan padanya.
Dengan wajah memerah seperti tomat, pendeta Ortiz menyeret paksa anak-anak asuhnya keluar dari ruang makan. Anak-anak itu terlihat pucat dan tatapan mereka meminta tolong siapa pun menghentikan pendeta Ortiz yang sedang marah ini.
Akibat dari perbuatan mereka selama ini, tak ada seorang pun yang berniat membantu. Siapa yang mau membantu anak-anak arogan hasil didikan pendeta yang tidak disukai? Para petugas dan anak-anak lain malah menatap mereka dengan tatapan puas. Kejadian menghebohkan itu berakhir dengan suara bantingan daun pintu yang hampir memecahkan gendang telinga.
Anak-anak dan para petugas kembali pada urusan mereka masing-masing. Beberapa dari mereka memberi dukungan pada Serena secara langsung, dan yang lainnya melalui isyarat. Itu karena Serena dengan berani melawan sikap arogan pendeta Ortiz yang tidak mereka sukai dan bahkan membuat pendeta Blanchett yang kaku itu berpihak padanya.
“Pendeta Blanchett, terima kasih telah membantu saya.” Ucap Serena seraya memberi hormat pada pendeta Blanchett.
“Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, tak perlu begitu.” Sahut pendeta Blanchett acuh.
“Terima kasih pendeta, Anda telah membantu Serena.” Ujar Elyn, Olive, dan Allen serempak lalu membungkukkan badan mereka bersamaan memberi hormat pada pendeta Blanchett.
“Rupanya kau telah berhasil sedikit mengubah kucing liar menjadi lebih manusiawi.” Puji pendeta Blanchett yang kagum pada anak-anak asuh Serena.
Serena tersenyum bangga. Mendapat pujian dari pendeta Blanchett adalah hal paling mewah yang pernah ia dapatkan. Karena pendeta Blanchett diketahui tidak pernah memberikan pujian pada orang lain dan terkenal sebagai orang paling acuh terhadap hal apa pun yang bersifat duniawi, kecuali yang berurusan dengan dewa.
“Tapi kalian jangan senang dulu, saya tidak sedang membantu kalian dan ke depannya akan seperti itu. Saya hanya senang ketika ada anak cantik membantu saya yang sudah tua ini mengambil barang yang terjatuh. Berterima kasihlah pada si kecil ini, tanpa bantuan remeh itu saya tak akan buka suara."
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu pendeta Blanchett pergi meninggalkan ruang makan. Serena memperhatikan punggung pendeta sampai ia menghilang dibalik pintu. Tak ada yang berubah dari pendeta, hanya wajahnya terlihat lebih bersinar ketika ia sedikit mengulas senyum di ujung bibirnya.