
Begitulah akhir dari sang penyihir jahat dalam cerita novel yang berjudul ‘Last Hiems’. Novel berbahasa latin yang aku beli di Eropa beberapa waktu lalu dalam ‘World Tour’ tahunan yang diselenggarakan oleh agensiku.
Sebelumnya mari berkenalan. Diriku ini adalah seorang aktris papan atas di negaraku. Piala dari berbagai ajang penghargaan telah aku raih. Kesuksesan, nama baik, kekayaan, popularitas, kecantikan yang terasa abadi ini adalah hasil jerih payahku selama ini.
Terlahir dari pasangan musisi yang berkarya di bidang musik, makanya mereka memberiku nama seperti not putih pada sebuah piano, Sol La. Seperti sebuah doa yang dipanjatkan kedua orang tuaku melalui sebuah nama agar aku mengikuti jejak karier mereka. Namun takdir malah menuntunku menjadi seorang aktris yang telah mengharumkan namaku selama lebih dari enam belas tahun.
Hari itu cuaca sangat cerah. Musim panas yang menyenangkan tanpa adanya masalah cuaca, membuat jadwal syuting dramaku berjalan lancar. Juga saat menghadiri acara televisi sebagai bintang tamu di salah satu stasiun televisi swasta, semua tampak normal.
Manajer yang biasanya tak berhenti mengeluh karena jadwal kami yang terlalu padat, hari itu hanya terdiam dan tampak menikmatinya selama seharian penuh. Jadwal yang biasanya awut-awutan karena memiliki asisten magang yang belum kompeten pun tak ada. Jadwal yang ia susun pada hari itu tak ada yang meleset, semua tepat sasaran.
Tapi tiba-tiba ada hari di mana aku di diagnosa oleh dokter mengidap kanker darah pada akhir musim gugur ini. Hingga pelemahan organ tubuh membuatku merasa tersambar petir di siang bolong.
Juga aku dikejutkan oleh kabar yang mengatakan bahwa kekasih yang telah aku pacari selama lebih dari lima tahun itu berselingkuh dengan teman dekatku sendiri yang juga seorang aktris. Rasanya seperti tertimpa sebuah batang pohon General Sherman.
Jika kalian asing dengan nama ‘General Sherman’ itu akan aku beri gambaran sedikit. Pohon ini memiliki diameter batang sebelas meter, tinggi hampir mencapai delapan puluh lima meter di atas permukaan tanah, dan memiliki volume batang yang bukan main besarnya. Yap, General Sherman adalah pohon terbesar di dunia yang masih hidup hingga saat ini. Terbayang bukan bagaimana rasanya tertimpa sebuah batang pohon ini.
Belum lagi orang yang aku cintai itu memutuskan untuk menikahi selingkuhannya, dikarenakan penggoda itu sedang mengandung buah hati mereka yang telah berusia tiga bulan. Serta kenyataan yang baru aku ketahui belakangan, aku ditipu oleh mereka berdua yang ternyata telah menjalin hubungan diam-diam di belakangku selama lebih dari tiga tahun lamanya. Jadi selama tiga tahun terakhir akulah badutnya.
Juga, kedua orang tuaku yang tiba-tiba bertengkar hebat, padahal selama pernikahan mereka yang terhitung puluhan tahun itu. Saat mereka bertengkar tak pernah sampai mengajukan ancaman akan bercerai, setiap masalah pasti akan segera berlalu. Tapi berbeda untuk yang kali ini. Seakan tak ada yang bisa dipertahankan lagi. Hal tersebut menambah beban pikiranku, cukup membuat mentalku turun.
Ditambah lagi aku bertengkar hebat tanpa sebab dengan sahabatku yang juga adalah manajerku. Skandal tak berdasar mengenai diriku yang terus bermunculan ke permukaan, garis kewarasan terakhirku hancur, pikiranku kacau, kecemasanku bermunculan. Sukses membuat rekam jejak karierku selama enam belas tahun yang cemerlang itu akhirnya ternoda hanya dalam kurun waktu empat hari.
__ADS_1
Sebagai wanita dewasa, aku hanya bisa menangisi dan menyesali apa yang terjadi padaku. Aku pun tak mengerti di mana salahnya. Pukulan bertubi-tubi yang aku alami memeras habis daya hidupku, hingga membuatku terbaring lemah tak berdaya di ranjang sebuah rumah sakit.
Aku pikir sudah tak ada lagi yang akan peduli. Tapi ternyata kedua orang tuaku masih menangisi keadaanku. Begitu pun sahabatku, yang juga manajerku, Miru. Ia menangis terisak-isak saat mengetahui penyakitku yang berhasil aku sembunyikan selama tiga bulan darinya dan juga kedua orang tuaku.
“Solla.” Panggil lirih sahabatku seraya menangis tersedu-sedu.
“Sekarang kau menangis? Sangat tidak cocok denganmu, lagi pula aku baik-baik saja.” Batinku.
Meski mataku terpejam dan tubuhku tak bereaksi, namun aku masih bisa merasakan kehadiran orang-orang terdekatku di dalam kamar rawat inap yang kini aku tempati.
Seperti cuplikan pada sebuah film, aku melihat gambaran dalam mimpi kedua orang tuaku berbicara dengan dokter. Mama yang bersandar lemas bertumpu pada papa yang mencoba menguatkan diri. Miru yang tak terima dan marah sebab baru mengetahui kenyataannya. Kedua orang tuaku yang sedih dan kesal, mereka tak percaya dan tak berdaya. Mama yang menangis kencang di samping ranjang, menyalahkan dirinya sendiri. Papa yang memohon pada dokter agar menyembuhkan diriku bagaimanapun caranya. Wajah semua orang yang terlihat sedih dan putus asa.
“Akhirnya kalian tahu diagnosa penyakitku ya, aku sangat merasa bersalah. Maafkan aku.” Batinku lirih.
...***...
Selang beberapa waktu, ajaibnya aku dapat membuka kembali kedua mataku. Hari sudah menjelang malam. Udara dingin langsung menjamah lembut tubuhku. “Ternyata sudah masuk musim dingin ya.” Pikirku.
Kulihat langit-langit kamar yang minim pencahayaan. Hanya terdapat bias cahaya dari pantulan lampu tidur di samping ranjang. Aku ingin sekali menggapai orang-orang yang sangat menyayangi diriku ini dan meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja, namun tanganku terkulai lemas tak bertenaga. Kulihat salju pertama turun menyapaku dari luar jendela, lalu mereka bersinar dengan cantik layaknya kunang-kunang.
Apa memang salju bisa bersinar terang begini?
__ADS_1
Samar-samar kulihat cahaya terang dari kejauhan bak sebuah komet mendekat ke arahku melalui kaca jendela tepat di depan ranjangku. Seketika cahaya terang melesat mengarah tepat di depan mataku, sehingga aku memejamkan kedua bola mata. Ketika aku membuka kembali mataku, keadaan di kamar rawat berubah menjadi terang benderang.
“Oh mungkin saja karena semalam aku pingsan, waktu berlalu cepat jadi sekarang sudah pagi.” Pikirku.
Aku sudah berdiri di samping ranjangku sendiri. Aku melihat mama yang tidur di kasur lain di dalam ruangan ini, dan papa yang tertidur di atas sofa, mereka berdua terlihat sangat lelah. Kerutan di wajah mereka berdua tampak jelas. Padahal belum lama ini mereka berdua dinobatkan sebagai pasangan awet muda, ternyata mereka berdua juga manusia biasa yang bisa menua. Sempat aku berpikir bahwa kedua orang tuaku jelmaan alien atau vampir, konyol.
Lalu, kulihat Miru yang sedang tertidur di samping ranjangku seraya melipat tangannya pun tak kalah lelahnya. Aku menjulurkan tangan, mencoba menggapai sahabatku itu dan berniat memberinya kejutan kecil atas keadaanku yang sudah bisa berdiri dan sehat ini.
Ketika aku menyentuh kepala Miru, tanganku malah melewati Miru begitu saja. Begitu juga saat aku menyentuh kedua orang tuaku. Aku yang heran berkali-kali mencoba menyentuh mereka, tapi tak ada satu pun tindakanku yang membuahkan hasil.
Aku pun terkejut melihat diriku yang lain terbaring lemas di atas ranjang dengan banyaknya selang dan kabel penunjang hidup yang menempel erat di seluruh tubuh. Padahal aku sendiri sedang berdiri mematung tercengang.
Dalam keadaan terpaku, bingung, dan putus asa, tubuhku ditarik kencang oleh seutas benang merah yang melilit di perut. Aku kini berada di posisi bertahan agar tubuhku tidak tertarik. Aku mencoba berpegangan pada bibir ranjang yang tentu saja tak bisa kuraih. Namun, semakin kuat aku menahan semakin kuat pula tarikan yang dihasilkan.
Benang yang sangat tipis, namun sangat kuat. Berkali-kali aku berusaha melepaskannya, benang itu juga tajam sampai melukai jari-jari tanganku. Tapi anehnya adalah perutku tidak terluka sedikit pun, padahal benang itu melilit mengitari perutku.
“Oh jangan bercanda! Ini rumah sakit dan kita berada di lantai lima! Kau pikir kau mau menarik aku ke mana?!” Ujarku pada benang yang melilit tubuhku.
WWUUSSHHH!
Dalam satu tarikan kencang, tubuhku terlempar keluar melalui jendela melayang tinggi di udara. Sangat tinggi sampai aku sendiri pun kesulitan bernafas. Setelah mencapai titik tertinggi, akibat adanya gaya gravitasi tubuhku terjun bebas ke bawah.
__ADS_1
Aku melihat dengan jelas kumpulan awan yang aku lewati. Pemandangan luar biasa dengan hamparan laut yang berkali-kali lipat lebih luas dibanding daratan yang terlihat lebih kecil. Tetapi daratan itu tidak terlihat seperti negara Korea di dalam peta dunia yang pernah diajarkan dulu saat aku masih duduk di bangku sekolah. Lebih terlihat seperti daratan Eropa.