Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Pesona Tamu Kecil


__ADS_3

Robet dan ketiga sekawan itu tiba di kamar tamu. Kini pintu kamar tamu telah terbuka yang berarti Serena telah selesai diobati. Pria itu menurunkan ketiga kucing kesayangan Serena di atas ranjang yang sama yang sedang wanita itu tiduri, matanya terpejam rapat seolah tak membiarkan sekelebat cahaya menerobos kelopaknya. Dibelainya wajah Serena dengan penuh perhatian. Ditatapnya wajah pucat wanita itu dengan tatapan hampa.


Dokter wanita yang tengah berdiri di belakang Robert itu kini melirik pada lengan majikannya, betapa kagetnya dokter itu ketika melihat darah segar mengalir menetes ke seprei.


“Tuan tangan anda!” Serunya yang langsung tertuju pada lengan Robert yang berlumuran darah.


“Tenang saja ini bukan darahku.” Ujarnya tanpa sedikit pun menoleh, ia masih saja memandang nanar pada Serena yang masih tak kunjung membuka matanya. “Kalian pergilah mandi lalu dokter ini akan mengobati kalian.” Ujarnya kemudian pada ketiga anak kecil yang menangis pilu di sebelah Serena.


“Tidak mau! Kami mau bersama Serena!” Ucap salah satu dari mereka.


Robert menatap ketiga anak itu seraya memutar otak memikirkan cara bagaimana ia dapat membuat mereka bersih dan terobati, tentu saja tanpa kekerasan. “Baiklah kalau begitu silakan tatap Serena sepuasnya. Jika sudah selesai aku akan mengantarkan kalian pulang.” Ujarnya berpura-pura.


Ucapan Robert membuat ketiga gadis itu mengerut, mereka mencengkeram selimut yang menutupi tubuh Serena dengan tangan gemetaran. ‘Bagaimana jika pria dewasa itu memulangkan mereka ke panti tanpa Serena,’ tentu saja mereka tidak mau jika harus berpisah lagi dengan Serena yang baru saja ditemui dengan segala usaha dan upaya itu.


“Atau...” Kata Robert yang langsung dapat perhatian ketiga anak itu. “Kalian pergi mandi dan mengganti pakaian kalian lalu diobati,” Ujarnya. “Bagaimana?”


Ketiga anak itu saling bertatapan dan mereka mengangguk tanda setuju dengan persyaratan dari Robert demi berada di sisi Serena. Ketiga pelayan yang sudah sedari tadi menunggu anak-anak dengan sabar seraya membawa handuk di tangan mereka. Ketiga pelayan itu menuntun tangan-tangan mungil menuju tempat mandi.


Sesampainya mereka di kamar mandi mata mereka bertiga membulat, besar dan mewah, itu kata yang terlintas di otak mereka. lantainya saja terbuat dari batu granit dan bukan kayu yang licin.


Di dalam kamar mandi itu juga ada kolam besar yang terisi penuh air hangat hingga asapnya membumbung tinggi memenuhi ruangan. Di permukaan airnya juga terdapat kelopak bunga mawar yang menguarkan harum semerbak, terasa seperti berada di kebun bunga.


Dilucuti gaun tidur yang membungkus tubuh mungil itu, ketiga pelayan yang bertugas memandikan mereka bergidik menatap banyaknya luka yang memenuhi tubuh mungil nan kurus itu. Tapi wajah ketiga gadis itu terlihat datar dan tak merasakan sakit dengan luka terbuka di sekujur badan mereka.

__ADS_1


Air hangat dari kolam mandi dituang perlahan-lahan ke atas tubuh mereka, membasuh kulit kering dan kotor itu. Mereka bertiga dimandikan dengan sabun dan dibersihkan seluruh kotoran yang menempel di tubuh sebelum mereka diizinkan berenang di kolam.


Setelah ketiga kucing itu puas bermain air tubuh mereka dikeringkan dan dililit oleh handuk besar kemudian digendong menuju ruang busana. Para pelayan terpaku, mereka lupa bahwa yang ada di ruang busana hanyalah baju-baju milik Count muda dan tak ada baju perempuan. Tidak mungkin juga tamu kecil dipakaikan baju pelayan karena tidak pantas memberikan seragam itu pada tamu, apalagi tidak ada ukuran kecil karena seluruh pelayan di kediaman ini adalah wanita dewasa.


“Bagaimana ini ketua, tidak ada gaun di ruang pakaian tuan muda.” Ujar salah satu pelayan rumah pada ketua pelayan.


“Kalian benar, bagaimana ya...” sahut si ketua.


Selama para pelayan itu berdiskusi, dokter yang sudah sedari tadi menunggu giliran langsung menyerobot dan bergegas mengobati anak-anak malang itu. Jika si dokter ikut menunggu ketiga tamu kecil dipakaikan gaun lebih dulu, entah berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk mengobati mereka.


“Hei kalian!” Seru seorang kusir kereta kuda yang membawa tumpukan kotak yang sudah terbungkus kertas cantik. “Kalian lupa membawa ini!” Katanya seraya menyerahkan kotak-kotak tersebut pada para pelayan. “Masih ada beberapa kotak lagi di kereta,” Lanjutnya.


Para pelayan saling melirik, dilihat dari hiasan pada kotaknya ini merupakan kotak hadiah, dan dari ukurannya kotak-kotak ini ditujukan untuk tamu kecil yang mulai kedinginan. Ketua pelayan mempertaruhkan namanya demi membuka seluruh kotak yang ada, benar saja di dalamnya terdapat gaun-gaun cantik berukuran kecil, pas sekali dengan tubuh tamu ini.


Tangan-tangan piawai para pelayan bergerilya mendandani tamu kecil mereka di ruang busana sang tuan muda. Dasi milik tuannya dijadikan hiasan kepala untuk para anak kecil itu. Melihat kotak-kotak yang hanya terisi gaun dan sepatu tanpa aksesori, jelas sudah siapa yang membelinya.


Beberapa kali para pelayan yang mendandani mereka bertiga berteriak kegirangan melihat hasil kerja keras mereka sangat memuaskan. Langsung saja ketiga tamu kecil itu dipersilakan berjalan menuju kamar tamu di mana Serena berada sekalian memamerkan betapa cantik dan menggemaskannya tamu kecil kediaman Count hari itu.


Pelayan lain yang sebelumnya menatap iba kini mereka menatap gemas dan terkagum dengan perbedaan penampilan para tamu. Mereka semua berteriak gemas kala melihat kaki-kaki kecil berjalan menyusuri lorong rumah.


Sejak awal di kediaman Count hanya Countess saja yang terkesan memberi warna, sampai ketika putra pertama menjadi penerus selanjutnya dan menikah lalu memiliki seorang putri dari pernikahan mereka, hal tersebut menjadi anugerah dewa bagi para pelayan. Ditambah dengan kehadiran putri kedua Count yang menambah warna pada rumah yang terlihat hitam putih.


Jika ada tiga anak lain secantik para tamu ini di kediaman Count, betapa bahagianya hati para pelayan nanti. Tapi sayang tuan yang mereka layani belum juga meminang nona Serena, hingga para pelayan pun jadi gemas dan sering kali mereka membuat momen sakral untuk majikannya, tapi orang kaku itu terus saja bungkam dan tidak juga bergerak melamar.

__ADS_1


“Andai saja tuan kita juga memiliki putri yang cantik seperti ini, kita bisa bersaing dengan pelayan di kediaman utama.” Ujar salah satu pelayan.


“Kau benar! Sebalnya aku setiap mereka menyebut para nona muda di rumah utama, membuat iri saja!” Sahut yang lainnya.


“Ketua... Tolong bujuk tuan Robert untuk segera menikahi nona Serena, supaya kita juga bisa memiliki para nona kecil di rumah ini.” Rengek salah satu pelayan pada ketua pelayan.


“Haahh... Aku juga sudah usaha, tapi tuan kita sangat sulit mengungkapkan perasaannya pada nona... Kita tunggu saja.” Sahut ketua pelayan.


“Hei kalian! Bukannya bekerja malah bergosip!” Tegur kepala pelayan.


“Tuan Scurell... Bagaimana perkembangan hubungan tuan muda dan nona Serena?” Celetuk salah satu pelayan.


“Aduh kalian masih saja bergosip tentang tuan!”


“Ayolah tuan, kami kan juga mau memamerkan nona muda pada para pelayan di rumah utama.”


“Aku juga tidak tahu, yang pasti hubungan mereka baik-baik saja.”


“Lalu kapan mereka menikah?”


“Heh! Kerja sana! Gosip saja bisanya!”


Sama dengan apa yang dirasakan pelayan lain, Scurell sebagai kepala pelayan juga ingin sekali memamerkan tuan dan nona kecil pada kepala pelayan di rumah utama. Namun keinginannya belum tercapai, mungkin ia masih harus bersabar... Entah berapa lama lagi ia harus bersabar.

__ADS_1


__ADS_2