Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Terbangun


__ADS_3

Udara bersih dan segar masuk ke dalam paru-paru. Segera membilas udara kotor yang bersemayam di dalam tubuh. Kasur empuk berisikan gumpalan kapuk dan jerami kering yang berlapiskan kain lembut menyentuh kulit.


Bantal yang menopang kepala mungil yang terbuat pula dari kain dan kapuk, membawanya lebih terhanyut dalam ketenangan. Sayup-sayup terdengar suara anak-anak perempuan yang sedang mengobrol di dekat telinganya. Yang semakin lama terasa mulai mengganggu.


“Ah, kenapa kalian berisik.”


Seorang anak perempuan yang sedang tertidur lelap di atas sebuah kasur di dalam ruangan mengernyitkan keningnya. Anak perempuan itu tak bisa membuka matanya yang terpejam rapat, terbuai kenikmatan akan kelembutan selimut yang membungkus tubuh kecilnya.


Seolah tak mengindahkan perkataan anak perempuan yang tengah berbaring, anak-anak lain melanjutkan obrolan mereka yang terpotong tadi.


“Tolonglah, beri aku waktu untuk tidur.” Ujar anak perempuan yang masih asyik terpejam.


“Hei bangunlah!”


Salah seorang anak menepuk-nepuk pipi anak perempuan yang tengah memeluk erat selimutnya. Anak itu terus menepuk-nepuk wajah anak yang tengah berbaring di ranjangnya, serta menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan kencang. Terasa seperti guncangan gempa bumi. Akhirnya si anak yang tertidur itu pun dengan malas membuka perlahan matanya.


Iris merah cerah memikat bak permata itu menatap sosok pertama yang tertangkap oleh matanya. Dilihatnya wajah anak perempuan lain tersenyum lebar menatap kagum dan takjub ke arahnya.


“Waahhh! Lihat matanya cantik sekali!”


Kata anak perempuan yang tersenyum tadi. Ia memberitahukan teman-temannya yang lain. Datang dua orang anak perempuan lain ke ranjang sang anak yang terbaring di ranjangnya. Mereka semua langsung terkagum-kagum melihat keindahan iris mata anak perempuan yang baru saja membuka matanya itu.


Anak perempuan yang baru saja terbangun itu mendapati dirinya berada di dalam sebuah kamar dengan dua kasur bertingkat memenuhi ruangan. Ia bersama tiga anak perempuan lain yang tengah berada di sana dan mengatakan bahwa mereka adalah teman satu kamar.


“Hei, apa kau tidak lapar?” Tanya anak perempuan yang pertama kali terlihat olehnya.


KKRRUUUUK...


Bunyi nyaring yang keluar dari perut anak perempuan yang baru saja bangun tidur itu menjawab pertanyaan teman sekamarnya. Ketiga teman sekamarnya itu terdiam sejenak sebelum mereka tertawa cekikikan bersama.


“Benar, kami juga lapar. Ayo makan!” Ajak anak kedua yang memiliki rambut ikal berwarna coklat gelap.


“Sebelum itu bukannya lebih baik kita mandi dulu? Aku dengar tempat mandi hari ini akan ditutup lebih cepat karena air dari waduk besar telah mengering.” Sahut anak ketiga yang memiliki rambut lurus sebahu dengan polosnya. Ia telah membawa peralatan mandi yang baru dikeluarkannya dari laci.


“Oh kau benar! Ayo kita mandi dulu!”

__ADS_1


Dua anak lainnya setuju dengan ajakan anak ketiga tadi. Mereka langsung mengambil peralatan mandi masing-masing. Dan mengajak anak perempuan yang masih saja terbaring di kasurnya itu ikut juga.


“Dasar pemalas! Ayo cepat bangun!”


Dua anak dari mereka bertiga memegangi masing-masing lengan temannya yang masih berbaring. Anak lain yang berdiri di depan mereka bertugas sebagai komando yang memberi kode untuk mengikuti aba-aba nya.


“Kalian siap?” Kata sang komando, yang dijawab dengan anggukan kepala teman-temannya. “Satu... Dua... Tiga... Angkat!”


Kedua anak perempuan yang memegang lengan tadi langsung mengangkat temannya itu bangkit dari kasur bersama-sama. Tubuh anak perempuan yang tadinya terbaring langsung berdiri mantap di samping ranjangnya.


Tak berselang lama mereka bertiga malah terjatuh di lantai, karena teman yang mereka bantu untuk bangun itu terjatuh dan tak dapat menegakkan kakinya. Kepala anak perempuan yang baru saja diangkat paksa itu langsung pusing. Pandangan matanya gelap, badannya lemas tak bertenaga sehingga ia tersungkur di lantai bersama teman-temannya.


Kepalanya yang sakit, pandangannya yang gelap seketika memperlihatkan sekelebat bayangan. Sesosok hitam besar mirip seperti pria dewasa, ruang bawah tanah, bau lembap, dan udara yang tipis. Terlihat seperti mimpi buruk.


“Hei kalian tidak apa-apa?” Tanya anak yang memberi komando tadi. Dua anak lain yang baru tersadar karena terkejut langsung menanyakan hal sama pada temannya yang terjatuh.


“Kepalaku sakit sekali...” Jawabnya sambil terus memegangi kepala mungilnya. Gadis kecil itu terus menerus memijat-mijat ringan kepalanya agar terasa lebih baik, namun darah segar menetes membasahi gaun tidurnya.


“Ya ampun kau berdarah!”


“Bagaimana ini darahnya tidak mau berhenti!”


Ketiga temannya berseru panik kala melihat aliran darah yang keluar dari hidung temannya ini tak kunjung berhenti dan malah mengotori pakaiannya dan tangan temannya yang tengah membantu menyeka, mereka merasa bersalah karena telah membuat temannya ini terluka.


“Cepat panggil Serena!” Perintah salah seorang anak dengan wajah yang cemas. Anak lain yang menerima perintah langsung bergegas keluar kamar dan mencari orang bernama ‘Serena’ untuk membantu mereka. Tak selang berapa lama terdengar suara derap langkah kaki berat mengarah ke tempat mereka.


BRAK!


Pintu kamar dibuka dengan paksa hingga tak sengaja menghantam tembok dengan kencang. Seorang wanita dewasa menjulurkan tangannya pada anak perempuan yang sedang terduduk di lantai. Ia segera memberikan sapu tangannya pada si anak kecil dan membantunya membersihkan darah di wajahnya.


“Rupanya kau sudah bangun.” Ucap suara wanita dewasa itu dengan penuh kasih sayang. “Mari, aku akan bantu kau naik ke atas ranjang.” Katanya seraya menyelipkan tangan lembutnya di antara pangkal lengan si gadis. Tubuhnya yang mungil dan kurus hingga tak terasa memiliki berat sama sekali itu dengan mudahnya dipindahkan ke atas ranjang.


“Kalian bantu aku, ambilkan wadah besar air dari tempat mandi, lalu bawa ke sini!” Perintahnya pada teman sekamar sang gadis.


“Baik!“

__ADS_1


Dua dari mereka bergegas mengambilkan air dalam wadah yang diperintahkan oleh wanita bernama Serena itu tadi.


Serena, nama wanita dewasa yang dipanggil oleh anak-anak itu melihat salah seorang dari mereka masih berdiri di ambang pintu kamar. Wajah kecilnya terlihat khawatir. Ia menatap teman sekamarnya dengan tatapan sedih dan bersalah, aura di sekelilingnya menjadi mendung.


“Ada apa Elyn?” Tanya Serena pada anak itu.


Anak gadis sekitar usia tujuh tahun berpenampilan lucu, memiliki rambut lurus sebahu dan memakai jepitan berbentuk kupu-kupu berwarna biru langit yang cerah seperti warna matanya. Air matanya seketika mengembang di kelopak mata setelah mendengar suara Serena.


“Apa temanku kali ini yang akan mati?” Tanya Elyn.


“Kenapa kau berbicara seperti itu?” Tanya Serena sedikit terkejut.


“Darah yang mengalir keluar dari hidungnya sangat deras. Seperti waktu itu.”


Kini tubuh Elyn bergetar, terlihat raut wajah yang pucat pasi dan berusaha menahan tangis sekuat yang ia bisa. Serena langsung memeluk erat tubuh Elyn yang gemetaran itu dan berusaha menenangkannya dengan membelai lembut kepalanya.


“Tidak akan ada yang meninggalkan kau Elyn, semua akan baik-baik saja, percaya padaku.” Ucap Serena dengan suara lembutnya. Elyn membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Serena. Wanita itu pun menutup erat matanya, seakan ia juga sedang menahan tangisannya sekuat tenaga.


Tap... Tap... Tap...


Buk!


“Heh Elyn! Kenapa kau tidak membantu kami?!” Protes Olive, anak perempuan yang memiliki rambut ikal panjang terjuntai sampai ke pinggang mungilnya. Ia memiliki iris mata berwarna biru rendah yang terlihat seperti hijau kekuningan biasanya warna itu disebut hazel.


“Benar, kami lelah tahu!” Kali ini giliran Allen, anak dengan rambut bergelombang menggemaskan, ia memanyunkan bibirnya. Gadis ini memiliki iris mata berwarna biru kehijauan seperti batu emerald.


“Hah!” Sekarang Olive dan Allen berteriak bersama-sama melihat Serena sedang memeluk Elyn erat-erat.


Ketiga anak perempuan yang amat menyukai Serena pun berebut ingin dipeluk juga olehnya. Serena yang melihat tingkah menggemaskan ketiga anak perempuan itu pun tertawa kegirangan dan memeluk mereka bersama-sama ke dalam pelukannya.


...*** Bersambung~ ***...


Mulai dari chapter ini aku revisi sedikit ya supaya nyambung ceritanya... Sedikit kok ga banyak-banyak.


Kalau kalian suka sama cerita ini jangan lupa like, subscribe, dan komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2