
Kami, para penghuni sel saling bertatapan penuh tanya. Suara dari balik pintu besar itu terasa janggal dan tidak wajar. Selama ini yang terdengar dari balik pintu itu hanyalah suara tawa para penjaga atau teriakan penghuni lain. Namun saat ini terdengar seperti suara erangan manusia yang tengah meregang nyawa.
Tiba-tiba muncul kepulan asap hitam menyeruak dari sela-sela pintu besar itu masuk ke dalam. Semakin lama semakin pekat asap yang masuk ke dalam ruang bawah tanah ini. Asap hitam itu berkumpul dalam ruangan sempit yang tak memiliki sirkulasi udara sama sekali. Kami pun berteriak histeris.
Kami panik, takut, menjerit, dan gelisah, tak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan beberapa dari kami bertindak gila dengan menabrakkan kepala pada jeruji besi yang menahan kami di sana. Berharap jeruji besi itu dapat hancur berkeping-keping sehingga kami bisa keluar menyelamatkan diri.
Tak butuh waktu lama, kini asap tebal menyelimuti seluruh ruangan sel penjara. Suara erangan para penghuni lain perlahan meredup. Pekatnya asap memaksa menerobos masuk ke dalam paru-paru, membuat sulit bernafas. Oksigen sudah terlalap habis di makan asap hitam.
KLANG!
BUK!
Jeruji besi pada selku terlepas dari engselnya. Begitu pula pada seluruh sel lainnya di dalam sana. Mereka yang masih sanggup bergerak, berlarian berhamburan keluar demi menyelamatkan diri. Mendobrak satu-satunya pintu keluar menuju ke permukaan.
Aku telah terbaring tak berdaya di dalam sel, badanku lemas tidak bertenaga. Aku terlalu banyak menghirup racun yang terkandung dalam asap hitam itu. Tubuh mungilku tak dapat bertahan lagi.
“Apa aku akan mati di sini?” Batinku lirih. Ujung mataku terasa panas, bulir bening dari kelopak mataku terjatuh menitik di tanah.
“GRRR...”
__ADS_1
Suara erangan yang terdengar amat sangat dekat. Sepasang mata kuning bercahaya seterang logam mulia berjalan mendekat ke arahku. Aku tak bisa menghindar ataupun melawan. Tubuhku sudah terkapar lemas tak berdaya, aku tak sanggup bergerak sedikit pun bahkan menggerakkan jari-jari tanganku.
“Oh lihatlah... Bayangan hitam besar itu tampak seperti hewan buas.” Pikirku.
Aku sudah pasrah jika akan mati di dalam sel bawah tanah ini. Karena pasti banyak dari para penghuni seperti aku yang akan dijadikan budak pun mati juga di sini. Aku telah bertekad, memutuskan bahwa sel ini akan menjadi persinggahan terakhirku. Tempat peristirahatan terakhir sebelum aku pergi ke surga. Mungkin.
Sungguh sangat disayangkan, Padahal aku ingin tahu segala hal tentang dunia ini dan sihir yang selalu Rainar ceritakan kepadaku untuk membuat kami berdua tetap waras di dalam sana. Tak henti-hentinya Rainar bercerita tentang bagaimana hebatnya para manusia di atas sana yang memiliki sihir.
Karena tidak semua manusia hidup dapat memiliki sihir, hanya beberapa orang pilihan dewa. Maka orang yang memilikinya adalah orang spesial yang akan mendapatkan perlakuan khusus di permukaan. Orang permukaan menyebut mereka ‘sorcerer’ dan memperlakukan mereka sebagai harta karun milik negara.
Rainar juga bercerita tentang para manusia yang menyebut dirinya ‘bangsawan’ tinggal di dalam bangunan megah dan mewah terlapiskan emas bernama mansion. Mereka, para bangsawan, memiliki segala hal yang tak pernah bisa dibayangkan sebelumnya.
...***...
“Besar sekali.” Batinku.
Nafas hewan buas itu terasa panas di bagian belakang tubuhku. Dan aku hanya bisa memandanginya ketika rahang hewan besar itu terbuka lebar. Puluhan gigi bertaring tajam bagai mata pisau yang berjejer rapi, siap mengoyak tubuhku yang kini merasuki sosok gadis kecil. Mudah bagi hewan besar itu untuk meremukkan tubuh mungil ini hanya dalam sekali gigitan kecil.
Aku memejamkan rapat kedua bola mataku. Bersiap menahan sakit yang akan aku derita nanti. Sebisa mungkin aku tidak akan berteriak, dan aku berharap bahwa proses kematiannya akan berlangsung cepat tanpa rasa sakit.
__ADS_1
Ketika deretan gigi itu mulai mendekat menggigit bagian belakang tubuhku. Aku menutup rapat-rapat kedua mataku. Jantungku berdegup kencang sampai terdengar nyaring di telingaku. Nafas hewan yang terlihat seperti serigala besar itu menggelitik tengkuk mungilku. Aku pun tertawa kegelian.
Hewan besar itu mengangkat tubuhku menggunakan moncongnya. Ia menggigit bagian belakang baju yang aku kenakan. Layaknya seekor induk kucing yang sedang menggendong anaknya. Kakinya yang jenjang dan kekar berjalan mantap menuju pintu keluar.
Aku menengok ke kanan dan kiri, balutan asap hitam sangatlah pekat, membuat jarak pandang terbatas. Samar-samar terlihat banyak tubuh yang bergelimpangan dimana-mana. Bahkan hewan besar itu pun melewati kumpulan tubuh yang sudah tak bernyawa karena kehabisan oksigen atau mati terinjak-injak.
“Rainar...” Panggilku lirih.
Aku menoleh lemas ke dalam sel Rainar. Ku lihat bayangan hitam menggantung di tengah-tengah sel. Tubuh Rainar masih berada di dalam sana. Ia sudah tak bergerak dengan banyaknya rantai yang membelenggu.
Ujung mataku kembali memanas, kali ini lebih perih dari yang tadi. Aku menahan isak tangisku dalam diam. Air mataku tak henti-hentinya menitik jatuh ke bumi. Selama ini hanya Rainar lah yang menemaniku di sana, bercengkerama dan bercanda dengannya adalah rutinitas menyenangkan bagiku. Namun sekarang sosok itu kini sudah tak dapat menemani aku lagi.
Aku terisak merasakan pedih di hati. Aku tak dapat menghentikan air mata yang terus keluar untuk anak laki-laki yang setia membuatku merasa aman di dalam neraka jeruji dingin itu.
...***...
Jika dalam satu sel penjara terdapat hampir sepuluh anak yang terpenjara bersama-sama, seperti selku yang terdiri dari enam anak termasuk aku. Sel Rainar seperti dibuat khusus untuknya saja. Karena di dalam sel tersebut hanya ada dia sendiri dengan banyaknya rantai besi yang membelenggunya.
Jeruji yang mengurung Rainar di dalam sana pun terlihat berbeda. Besi yang terlihat lebih hitam dan tiga kali lebih tebal dari sel lain di sekitarnya, selayaknya memang hal itu suatu keharusan. Seakan-akan tanpa rantai-rantai besi yang menahannya itu, anak laki-laki kurus kisaran umur dua belas tahun yang berada di dalam sel baja dapat dengan mudah meloloskan diri.
__ADS_1
Bahkan setiap penjaga yang melewati selnya, seakan mereka ketakutan dan berusaha menghindar secepat mungkin menjauh dari jangkauan Rainar. Sel Rainar seolah-olah terlupakan dan tidak dipedulikan keberadaannya oleh para penjaga di sana.
Tak tahu apa yang akan terjadi pada para penjaga itu jika berdekatan dengan Rainar. Serasa mereka bisa langsung terluka dan mati di tempat. Para penjaga pun tak berani menatap sembarangan atau bahkan hanya sekedar melirik ujung sel Rainar. Sebabnya jika ada yang bertatapan langsung dengan anak laki-laki itu, ia akan menyeringai menatap balik dengan mengerikan.