Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Bercak Darah


__ADS_3

Serena Mallory Tedrick atau biasa dipanggil Serena, merupakan putri pertama bangsawan keluarga Marquess yang pergi meninggalkan kediamannya dan menjadi petugas relawan di panti asuhan perbatasan wilayah selatan. Sudah lima bulan ia menjadi relawan dan mengurus ketiga kucing liar terasing dengan penuh kesungguhan.


Hari ini Serena datang ke ibukota kekaisaran untuk berbelanja kebutuhannya dan membeli hadiah yang diperuntukkan bagi ketiga anak asuh yang ia cintai. Sebenarnya ia tak perlu jauh-jauh pergi karena desa tempat panti asuhan yang ia tinggali sekarang pun terdapat kota besar dengan berbagai toko pakaian dan mainan.


Tapi Serena tak dapat memilih banyak barang yang ia sukai, bahkan tidak ada yang menarik minatnya untuk dibeli. Bukannya merendahkan, tapi karena Serena adalah seorang putri Marquess yang cukup terhormat, sedari kecil hidupnya selalu bergelimpangan barang-barang mewah.


Jadi mainan dan gaun yang ada di kota perbatasan wilayah itu tidak menarik perhatiannya dan merasa anak-anak asuhnya bisa mendapatkan yang lebih baik lagi, makanya Serena memutuskan pergi ke ibukota kekaisaran yang lebih ia kenal dibandingkan tempat lainnya.


“Terima kasih telah berbelanja di toko kami Nona.” Ucap kepala toko dan para stafnya memberi hormat sedalam-dalamnya pada nona muda yang baru saja meninggalkan tokonya dengan membawa banyak tas belanjaan.


“Aku beli apa lagi ya...” Ucapnya riang seraya berjalan meniti setiap pertokoan yang ada di sana.


Beberapa kali Serena keluar masuk toko dan membawa serta tas belanjaan setelahnya. Dengan raut wajah riang ia dan kesatria pelindungnya pergi melihat-lihat berbagai macam koleksi terbaru pada tiap toko langganannya.


“Apa ini tidak terlalu berlebihan, Lady?” Ucap sir Galen di tengah-tengah acara belanja menyenangkan nona muda yang ia layani.


Robert Riedl Galen yang lebih akrab dengan sebutan sir Galen adalah kesatria pribadi milik Serena yang telah bersumpah setia melayani dan melindunginya, tidak memandang status dan kedudukan majikannya, dan siap memberikan yang terbaik pada sang majikan. Robert akan selalu setia berada di sisi Serena meskipun wanita itu kabur dari rumah dan melepas kedudukannya sebagai nona pertama keluarga Marquess Tedrick seperti saat ini.


“Apa anda sudah lelah, Sir?” Ujar Serena yang masih saja sibuk memilih-milih gaun untuk ketiga kucing kesayangannya.


“Tidak, bukan itu.” Kata sir Galen. “Anda kan sedang menyamar sebagai rakyat biasa supaya bisa tinggal di panti asuhan itu, kenapa anda malah membelikan barang-barang ini?” Lanjutnya.


Serena menghentikan tangannya di udara, ia tertegun sesaat lalu menatap tumpukan belanjaan yang sedang di bawa sir Galen dan beberapa pelayan pribadinya. Lalu ekspresi wajahnya yang seakan mengatakan ‘Benar juga, mereka akan curiga kalau aku bawa banyak barang begini dari ibukota.’ Ia pun tak terpikir bahwa satu gaun yang ia beli dapat menghidupi seluruh anggota panti asuhan selama dua hari.


Dari kecil memang kelakuan Serena sering membuat kesatria pribadinya ini menghela nafas panjang. Karena sifat cerobohnya, ia selalu mendapatkan masalah. Serena melakukan semua hal berdasarkan egonya lebih dulu baru berpikir dengan otaknya. Robert yang tumbuh besar bersama Serena sudah sangat hafal dengan sikapnya yang seperti ini.

__ADS_1


“Riedl... Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengembalikan seluruh barang yang sudah aku beli ke toko semula kan?”


Pada akhirnya Serena kebingungan sendiri. Wajahnya memelas dan otaknya tidak dapat bekerja. Apalagi dia belum lama tinggal di panti asuhan dan mengaku sebagai rakyat biasa, bisa-bisa dia dituduh sebagai pencuri jika membawa banyak barang ke panti.


Jika sudah dalam keadaan senang Serena akan melupakan segala macam logika dan kemungkinan yang terjadi. Jika Robert tidak melindungi dan menjaganya selama ini mungkin dari kecil wanita itu sudah diculik dan entah akan berada di mana. Robert hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas atas kelakuan teman kecilnya ini.


“Ah! Bagaimana kalau sebagian diberikan pada keponakanmu?” Kata Serena yang tiba-tiba saja mendapat ide dari langit. “Kebetulan putri kedua Count sudah lahir kan?”


“Ruang gaun keponakanku sudah penuh semua, tidak ada ruang lagi. Lagian putri kedua kakakku kan baru lahir, mana bisa pakai gaun usia anak lima tahun.” Jawab Robert seraya menghela nafas.


“Ayolah Riedl... Kau kan tinggal membuat ruang gaun yang baru, apa susahnya?”


“Yang susah itu kakakku dan kakak iparku! Belum lama ini mereka merelakan sebagian ruang kerja menjadi ruang gaun, terus mau apa lagi yang direlakan?”


“Rumahmu itu kan besar pasti banyak ruangan yang tidak terpakai.” Serena terus saja merengek pada Robert dan masih saja mendapat penolakan keras dari sahabat masa kecilnya itu.


Langkah Serena terhenti ketika melihat kerumunan orang-orang yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Robert menunjuk satu orang pelayan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di sana. Tak lama pelayan itu kembali dan berkata bahwa ada pengemis kecil kotor yang membuat para bangsawan tidak nyaman, dan pengemis kecil itu sedang dihukum oleh seorang pemilik toko.


“Pengemis itu seorang anak kecil?” Tanya Serena yang penasaran.


“Benar nona.” Jawab pelayan tadi.


Buru-buru Serena melangkah mendekati kerumunan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Robert tidak tenang, ia merasa akan terjadi masalah besar yang akan menimpa sahabatnya itu. Bergegas ia menghentikan Serena namun sudah tak terkejar, wanita itu telah sampai di titik kerumunan.


Ia melihat ada tiga orang anak kecil berpakaian lusuh dengan rambut acak-acakan dan luka di sekujur tubuh. Betapa kejamnya pemilik toko itu memukuli anak-anak kecil yang katanya mengganggu para bangsawan dengan cambuk.

__ADS_1


Mata Serena terbelalak kala melihat wajah salah satu anak yang menengadahkan kepalanya ke atas sambil memohon ampun pada orang yang tengah mencambuki tubuh kecil mereka. Wanita itu melesat menerobos di tengah-tengah kerumunan dan langsung memeluk tubuh-tubuh kecil yang telah berlumuran darah.


CTAS!


Sebuah cambukkan keras menyasar ke punggung wanita yang tiba-tiba saja muncul. Noda merah langsung membekas di luar gaunnya. Cambuk dari tangan sang pemilik toko direbut paksa oleh seorang kesatria yang berusaha melindungi majikannya.


“Lancang!” Teriak sir Galen pada pemilik toko yang cambuknya direbut paksa olehnya.


“Siapa kau! Minggir!” Perintah pemilik toko angkuh pada sir Galen dan ia berusaha merebut cambuknya kembali.


Robert yang hanya memakai pakaian biasa karena sedang menyamar sebagai rakyat biasa ini tidak dikenali oleh orang-orang yang ada di sana. “Siapa namamu!?” Ujar sir Galen murka.


“Reed Paige! Aku pemilik lima toko terkenal di daerah ini!” Ucapnya congkak memperlihatkan kehebatan dirinya.


“Sekarang tidak lagi.” Ujar sir Galen. “Kalian dengar! Mulai hari ini seluruh toko milik Reed Paige akan diambil alih oleh Count Galen!” Lanjutnya.


“Siapa kau! Berani sekali menyebut nama terhormat itu dari mulutmu!”


“Aku? Aku Robert Riedl Galen, putra kedua mendiang Count Galen pemilik jalan ini, dan kesatria pribadi nona pertama Marquess Tedrick.” Katanya.


Setelah kata yang terucap dari mulut sir Galen semua bangsawan yang berkumpul di sana perlahan mulai meninggalkan lokasi kejadian. Mereka berkerut mendengar nama-nama yang disebutkan oleh pria yang mengaku sebagai kesatria dari putri pertama seorang Marquess yang sangat terkenal.


“Jika kau tidak percaya, ini...” Robert memberikan sebuah token yang tadinya bertengger di dada sebelah kiri pakaiannya, token emas itu merupakan lambang sebuah keluarga. Sir Galen memberikannya ke tangan pemilik toko yang kini terdiam seribu bahasa.


“Pergilah ke kediaman Marquess Tedrick atau Count Galen dan tunjukkan ini pada mereka, kau akan mendapat jawabanmu!” Tutup sir Galen, lalu ia beralih pada Serena yang masih memeluk ketiga anak asuhnya dengan tubuh yang gemetar menahan rasa sakit.

__ADS_1


Perihnya luka Serena meresap hingga ke hati Robert, betapa sakit hatinya melihat wanita yang harusnya ia lindungi malah mendapat luka akibat kelalaiannya. “Cepat bawa kereta kuda ke sini!” Perintah sir Galen yang langsung mendatangkan kereta kuda berlambang keluarga Marquess Tedrick yang tergambar jelas di pintunya.


Melihat kereta kuda dengan lambang bangsawan tingkat tinggi di depan tokonya, tubuh Reed Paige kian gemetar, nafasnya memberat, tubuhnya berkeringat, kemalangan apa yang menimpanya hingga melakukan kesalahan seperti ini. Reed Paige memohon ampun pada sir Galen yang tentu saja diabaikan. Robert yang hanya terfokus pada Serena tak memedulikan jeritan Reed Paige yang meminta belas kasihannya.


__ADS_2