
“Sebenarnya kalian ini siapa?” tanyaku berusaha menelaah kejadian aneh ini. “Kenapa bisa wajahku berubah jadi upik abu begini?” Aku mendapati banyak kotoran dan luka yang telah mengering di area wajah dan sekujur badan kecil ini.
Seorang perempuan dari sel sebelahku berusia jauh lebih tua dibandingkan denganku (yang saat ini merasuki tubuh anak kecil), mengajak aku berbicara.
“Kau datang ke sini dua hari yang lalu. Saat kau tiba di sini sudah dalam keadaan tak sadarkan diri dan kau tidak bergerak seperti mayat.” Katanya. “Tapi tiba-tiba saja kau terbangun dan mengajak mereka berbicara seolah tak ada apa-apa seperti ini, jelas saja anak-anak itu dan tentunya aku jadi takut padamu.” Jelasnya.
“Kau bilang aku tak sadarkan diri selama dua hari!?” Kataku yang tak percaya.
“Iya, sudah dua hari kau tidak bangun.” Jawab anak laki-laki di seberang.
“Dan sekarang kita ini ada di mana?” Tanyaku penasaran.
“Pelelangan budak.”
Sontak aku sangat terkejut mendengar jawaban yang aku dapatkan. “Apa-apaan nama norak itu. Pelelangan budak katanya, Haha.” Kepala kecilku jadi pusing, otak mungil ini tak dapat menampung banyak informasi sekaligus. Terlalu banyak insiden yang terjadi tiba-tiba dalam satu waktu.
“Namaku Rossie.” Kata gadis yang memberikanku cermin tadi memperkenalkan diri.
“Aku....” Aku tertegun. Aku bahkan tidak dapat mengingat namaku sendiri sama sekali. Kepalaku semakin sakit jadinya.
“Namaku Rainar.” Jawab anak laki-laki yang menggunakan pengekang leher di seberang sel.
“A-Aku tak ingat namaku...” Kataku yang mulai terkena serangan panik.
“Apa mungkin....” Rossie memegangi dagunya seraya terlihat berpikir.
“... Bisa tidak ucapanmu jangan setengah-setengah begitu?” Kepalaku yang sakit membuat aku jadi gadis kecil emosian.
“Aku kan hanya ingin bilang begitu, kenapa kau malah marah?” Rossie yang hanya berniat menggodaku justru habis aku marahi.
__ADS_1
“Benarkah kau takut padaku? Kalau iya, mengapa kau malah mendekatiku?” Ucapku yang terlanjur sewot karena terlalu kesal, aku tak bisa mengingat apa pun bahkan hanya sebuah nama.
Sesaat tadi diriku tahu bahwa aku adalah seorang wanita dewasa yang merasuk dalam tubuh gadis belia. Namun saat ditanyakan nama barusan, pikiranku langsung kosong. Seperti kertas bersih yang tak ada coretan, juga tak ada orang yang dapat membantu untuk mengingat siapa aku sebenarnya. Aku pun tak mengerti mengapa aku ini berpikir bahwa diriku ini adalah seorang wanita dewasa dari dunia lain yang terjebak di dalam tubuh orang lain.
Rainar terkekeh dari dalam selnya. Ia duduk manis di dalam sana seakan sedang menonton sebuah pertunjukan komedi.
“Apa kau butuh popcorn untuk menonton kami dari sana?!” Kali ini aku melampiaskannya dengan suara yang lantang, lebih berteriak sedikit pada Rainar yang hanya duduk memperhatikan kami dari tadi.
“Apa itu pop... Apa katamu tadi?” Kini Rossie menempelkan wajahnya di sela-sela jeruji, seakan wajah besarnya itu mampu melewati celah besi dingin yang sempit.
“Apa itu enak?” Kali ini giliran Rainar melakukan hal yang sama seperti Rossie.
“Kau membawanya di tubuhmu? Cepat keluarkan!” Perintah Rossie yang juga dapat persetujuan dari Rainar di seberang sana.
Bukan hanya mereka berdua, bahkan anak-anak lain yang ketakutan padaku di awal tadi pun kini menaruh perhatian mereka.
“Hei... Hei... Apa-apaan wajah kalian itu. Bisa kita kembali ke topik pembicaraan sebelumnya? Aku tak ingat namaku! Bahkan yang lebih parah aku tak ingat siapa aku ini!”
Setelah jawabanku mengenai popcorn yang mengecewakan mereka tadi, tak ada seorang pun yang menyahut untuk menanggapi, baik itu Rossie maupun Rainar. Bahkan gadis lain yang tadi ikut bersemangat terlihat tak acuh. “Dasar anak kecil.” Gerutuku dengan suara pelan, lebih pelan dari suara kalbu.
“Sudahlah anak kecil jangan dipaksa, nanti kepalamu akan semakin sakit jadinya.” Kata Rainar pada akhirnya.
Aku agak tercekat sesaat, karena Rainar tepat menyebutkan kata ‘anak kecil’ di dalam kalimatnya, seakan mengetahui ejekanku tadi. Juga ekspresi Rainar yang mengatakan bahwa ‘sekecil apa pun suaramu aku bisa mendengarnya’, semacam itu.
“Buat saja namamu sendiri.” Kata Rossie menanggapi. “Aku pun membuat namaku sendiri”.
“Aku juga.” Rainar membenarkan. “Banyak anak yang di jual di sini tidak memiliki nama bahkan dari lahir.” Katanya lagi.
Rainar dan Rossie mengobrol sendiri, mereka asyik berdiskusi membuatkan nama yang akan aku gunakan sebagai namaku.
__ADS_1
“Kalian tadi bilang ini tempat pelelangan budak?” Aku memastikan ungkapan Rainar beberapa saat yang lalu.
“Bukan di sini, tapi di atas sana.” Rainar menunjuk ke arah langit-langit selnya. “Di bawah sini adalah tempat para tahanan yang akan di lelang.” Katanya.
“Tapi aku bukan tahanan! Aku bukan penjahat!” Aku kesal mendengar kata tahanan yang keluar dari mulut Rossie. Aku yang tak pernah berbuat jahat apa pun mana bisa diperlakukan seenaknya oleh orang lain yang bahkan tak ku ketahui wujud dan bentuknya.
“Mungkin kau diculik dan pada akhirnya kau dijual di sini.” Rossie menyahut.
“Sepertinya mereka menggunakan sihir untuk mengembalikan umurmu. Karena tidak mungkin anak usia lima tahun cara bicaranya seperti kau.” Jelas Rainar.
Aku tidak mengerti sepenuhnya tentang apa yang mereka bicarakan satu sama lain sedari tadi. Tentang sihir, pelelangan budak, pengembalian umur, penghilang ingatan, penculikan, semuanya sangat membingungkan dan tidak masuk akal. “Apakah sihir itu benar-benar ada di dunia ini?” Gumamku.
KLANG!
KLANG!
Bunyi yang memekakkan telinga itu membuat para penghuni sel berbondong bondong merapatkan tubuh mereka pada tembok. Seakan-akan dengan cara seperti itu mereka dapat menembusnya sehingga dapat masuk ke dalam tanah.
“Hei kau! Cepat ke sini!” Perintah Rossie padaku. “Menunduklah dan jangan bergerak sampai aku perintahkan!”
Aku langsung mengikuti arahan Rossie tanpa bertanya. Rossie membungkus tubuh mungilku menggunakan serat jerami kotor yang agak basah dan berbau menyengat.
“Tahanlah sebentar sampai mereka pergi!” Bisik Rossie memperingatiku yang tengah berusaha melepaskan serat jerami tersebut dari tubuhku.
Akhirnya mau tidak mau aku hanya diam di tempat dan menahan siksaan dari jerami yang berbau menyengat itu. Serat jerami yang sudah lapuk membuat banyak rongga di setiap sisinya. Aku mengintip dari balik jerami sambil menutup hidung rapat-rapat, dan mencoba menahan nafas semampuku.
Aku melihat beberapa orang dewasa dengan tampang menyeramkan masuk ke dalam. Mereka memakai pakaian perpaduan antara hitam dan hijau tua yang seragam. Dan dua dari mereka membawa tongkat panjang dengan ujung besi di bagian atasnya seperti mata pisau yang tumpul. Orang yang tak membawa tongkat di tangannya membuka pintu sel dengan kumpulan kunci yang dijadikan satu menggunakan besi bundar.
Setelah pintu terbuka, Orang-orang bertampang seram itu memilih beberapa dari kami lalu menyeret paksa keluar. Seperti sedang menyeret hewan ternak keluar dari kandangnya. Teriakan pun terjadi di mana-mana.
__ADS_1