Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Piramida Kasta


__ADS_3

Rupanya tak hanya di lantai ini saja, teriakan juga terdengar dari lantai atas. Seakan tempat ini adalah sebuah benteng yang terdiri dari beberapa lapisan. Para calon budak yang bertahan di dalam sel dan tidak mau keluar akan disiksa oleh para orang jahat itu. Mereka tak segan-segan menendang atau memukul menggunakan alat penyiksa yang telah dipersiapkan sebelumnya.


Padahal yang sedang di siksa oleh mereka adalah anak-anak di bawah umur yang bahkan mungkin tidak memiliki tempat tinggal dan keluarga di permukaan. Dan malah akan memiliki trauma mendalam di masa kecilnya akibat kejadian mengerikan ini.


Aku yang geram melihat kejadian mengerikan di depan mataku bangkit dari tempatku sembunyi. Tapi, sebuah tangan menghalangiku. Rupanya tangan itu milik Rossie yang tengah berusaha menahanku berdiri.


“Diamlah di tempatmu dasar anak bodoh! Kau mau celaka!?” Bisiknya marah.


Aku berusaha keras menahan emosi yang telah memunjung. Betapa sakit hatiku melihat mereka yang masih kecil diperlakukan kasar dan tak beradab seperti itu. Setelah para orang-orang jahat itu berhasil membawa anak-anak pilihan mereka keluar, mereka pun pergi dan menutup kembali pintu besi itu dan menghilang di balik pintu besar di ujung lorong. Suara erangan dan teriakan yang memilukan tadi berangsur-angsur meredup.


“Dasar anak gila! Kau pikir kau mau apa, ha!” Rossie yang terlihat amat kesal melempar jerami yang membungkus tubuhku tadi ke arahku.


“Apa kau tak lihat apa yang mereka lakukan!?” Aku tak kalah marahnya dari Rossie.


“Hei anak baik, apa yang akan kau lakukan? Teriak pada para penjaga itu untuk melepaskan mereka? Mereka tidak akan mendengarkanmu.” Ucap Rainar.


“Setidaknya ada hal yang dapat aku lakukan dan bukannya hanya menonton perlakuan mereka seperti tadi!” Kataku yang terlanjur tersulut emosi.


“Coba saja! Atau kau nanti yang akan menggantikan mereka! Kau yang akan dijual oleh para bedebah itu dan akan dijadikan budak oleh orang-orang kaya di permukaan! Apa kau tak tahu!?” Hardik Rossie kesal padaku.


“Apalagi kau sangat langka. Di dunia ini yang punya mata merah seindah itu hanya kau.” Kata Rainar. “Aku penasaran kau akan dihargai berapa.” Tutupnya.


“Jika mereka melakukan itu pada keluargamu, apa kau akan terima!?” Suaraku mulai bergetar.


“Tenang saja, aku tak punya hal mewah yang kau maksud itu.” Sahut Rainar dengan santainya. “Kami semua yang ada di sini tak memiliki keluarga. Pun jika ada, kami tak akan berada di sini, bukan?” Lanjutnya.

__ADS_1


Rossie mengambil nafas panjang, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya membalas perkataanku. “Keluarga yang kau maksud itu adalah orang-orang yang membuang kami di jalanan? Atau orang dewasa yang menjual kami ke tempat terkutuk ini demi mendapatkan uang untuk hidup mereka?”


Perkataan Rossie membuat seluruh penghuni sel menatap ke arahku. Suaranya yang pelan itu rupanya terdengar oleh mereka semua yang masih trauma. Mataku membulat, bukan itu yang aku maksud. Aku hanya memosisikan diriku sebagai keluarga mereka. Aku hanya tak terima dengan perlakuan orang-orang dewasa yang masuk dan memaksa anak-anak lain keluar dengan cara menyeret mereka seperti itu.


Aku pun terdiam. Air mataku mengembang di kelopak mata. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka di permukaan sana. Setelah perkataan Rossie tadi, mulai terdengar sayup-sayup isak tangis dari salah seorang anak kemudian menular cepat ke seluruh anak di dalam penjara.


Aku merasa bersalah atas perkataanku tadi, salahku yang telah membuka luka mereka kembali. Jika saja aku tidak membahas keluarga, mungkin keadaan tak menjadi semakin buruk seperti ini.


Dari perkataan Rossie, aku bisa mengetahui bahwa bukan hanya anak terlantar yang ada di sini. Ada anak-anak yang sengaja dijual oleh keluarga mereka demi uang. Ada pula anak yang diculik oleh penjahat dan dijual ke pelelangan.


Aku bersandar di sudut sel seraya memeluk lututku. Menatap sendu ke arah tanah yang ada di bawah kakiku. Aku merasakan Rossie duduk bersandar di jeruji besi yang sama yang sedang aku sandari. Ia menghela nafas berat.


“Mereka yang diculik dan dijual di sini, apa keluarga mereka tidak mencari?” Kataku membuka kalimat.


“Bukannya mereka tidak berusaha mencari, tapi mereka tidak bisa.” Jawab Rossie.


Belum selesai aku bicara, Rossie sudah menghentikanku dengan menyentil kencang keningku yang sukses membuatku meringis kesakitan.


“Hey, Rubi...”


Rubi adalah nama panggilan yang dipilihkan oleh Rainar dan Rossie untukku dari hasil diskusi panjang mereka beberapa waktu yang lalu. Mereka membuatkan nama itu mengambil dari warna mataku yang cantik seperti batu ruby. Sejak saat itu namaku menjadi Rubi.


“Kalau terlalu banyak bertanya, kau tidak akan bisa tumbuh tinggi.”


Aku langsung mengatupkan kedua bibirku rapat-rapat. Rossie dan Rainar yang memperhatikan dari selnya terkekeh.

__ADS_1


“Kau bohong kan!” Kataku sebal.


“Kenapa kau sangat penasaran?” Ujar Rainar padaku.


“Aku hanya ingin tahu saja.” Jawabku.


“Bukannya mereka tidak mau mencari kami, tapi mereka tidak bisa.” Ucap Rossie.


“Memang kenapa?” Tanyaku lagi.


“Ada yang namanya sistem kasta di permukaan, tingkatan mutlak yang tidak boleh dan tidak akan bisa diubah bahkan oleh Kaisar sekalipun.” Rossie menjelaskan apa itu sistem kasta yang ia maksud padaku.


Di permukaan tingkatan masyarakat dibagi menjadi tiga tingkat yang membentuk sebuah piramida. Tingkat pertama dan paling atas adalah Kaisar beserta keluarga Kekaisaran. Tingkat yang paling agung dan paling dihormati oleh seluruh rakyat Kekaisaran Estheria ini.


Tingkat kedua adalah bangsawan. Mereka pun dibagi menjadi bangsawan tinggi dan rendah. Keberadaan mereka tidak dapat disepelekan karena mereka membantu keluarga Kaisar dalam mengelola kekaisaran, serta menjadi fondasi di kekaisaran.


Tingkat ketiga ialah rakyat. Meskipun berada di tingkat ketiga namun peran rakyat pun sangat penting. Rakyat bekerja untuk bangsawan dan keluarga Kaisar dan membayar pajak untuk kesejahteraan kekaisaran. Rakyat turut serta membantu pembangunan kekaisaran menjadi besar dan maju. Tidak akan ada kekaisaran tanpa rakyat di dalamnya.


Tingkat akhir atau keempat ada budak. Meskipun tidak masuk dalam piramida resmi Kekaisaran, setelah dihapus puluhan tahun silam karena tidak sesuai dengan sisi kemanusiaan, namun budak masih ada di Kekaisaran. Budak adalah golongan yang paling hina yang ada di kekaisaran.


Mereka yang berstatus budak lepas dari hukum yang berlaku di kekaisaran. Tidak ada peraturan yang mengatur tentang perlindungan budak di dalam kekaisaran. Maka dari itu, jika seseorang telah diberi tanda budak oleh orang yang membeli mereka, maka tak ada lagi kebebasan baginya seumur hidup.


Budak biasanya dijadikan mainan oleh orang golongan atas, peliharaan yang bisa diajak bicara, pemuas nafsu, dijadikan gladiator, atau samsak tinju bagi tuannya. Semua budak yang telah dibeli tidak diperlakukan layaknya manusia, dan bahkan banyak kasus pembunuhan budak yang ditutup-tutupi oleh kekaisaran.


“Tapi yang masih ada di sini belum menjadi budak karena tidak ada tanda, bukan?” Tanyaku.

__ADS_1


“Memang. Tapi rata-rata yang ada di sini hanyalah rakyat biasa. Para petugas sok taat di permukaan itu tidak akan memperbesar laporan rakyat kecil seperti kami. Mereka hanya pura-pura mendengarkan dan menulis laporan, lalu membakar seluruh laporan rakyat di tungku perapian.” Ucap Rossie.


“Jika saja Kaisar tahu rakyat kecil seperti kami diperlakukan seperti itu, maka ia tidak akan tinggal diam!” Rossie yang geram akan perlakuan ‘petugas permukaan’ padanya pun tak henti-hentinya bersumpah serapah sejadi-jadinya.


__ADS_2