
Setelah absensi malam yang dipercepat itu ketua panti mengadakan rapat dadakan yang diperuntukkan bagi seluruh pendeta dan para relawan yang bekerja di panti asuhan. Seluruh petugas yang baru mengetahui isi rapat malam itu pun terkejut bukan kepalang. Bagaimana tidak, malam saat mereka bersiap tidur dipaksa untuk menghadiri rapat dadakan.
Malam mereka yang damai dan tenteram tiba-tiba saja terasa mencekam akibat pemberitaan ada monster yang sedang berkeliaran dengan bebas, dan parahnya monster itu bersembunyi di hutan yang tak jauh dari panti asuhan di mana mereka tinggal.
“Maka dari itu saya mohon pada kalian untuk selalu waspada dan tetap menjaga keamanan anak-anak di panti ini! Bagi kalian yang tidak mempunyai kekuatan suci, segera laporkan sesuatu yang mencurigakan dan berbahaya kepada para pendeta. Dan seluruh pendeta suci akan ikut saya, mulai besok pagi kita akan memperkuat perisai di setiap sisi!” Ucap ketua panti di akhir rapat mereka malam itu. Setelahnya para pendeta dan petugas lain keluar dari ruang kerja ketua lalu menuju kamar masing-masing dan hanya menyisakan Serena di belakang.
Ketua panti terduduk lemas di kursinya, ia memijat ringan keningnya yang sudah berkerut. Serena mengambilkan segelas air dari teko yang ada di atas meja kerja sang ketua.
“Terima kasih.” Ujarnya seraya meneguk air putih dari dalam gelas yang diberikan Serena.
“Ketua...” Ucap Serena membuka kalimat. “Bagaimana anda bisa tahu kalau anak saya pergi bermain di halaman belakang?” Tanya Serena penasaran, Rubi adalah anak yang dimaksud oleh Serena.
Ketua panti terkekeh geli mendengar pertanyaan Serena sebelum ia menjawabnya. “Bagaimana saya tidak tahu kalau gadis itu selalu lewat depan ruangan ini dan membawa banyak remah roti yang ditampung di gaunnya.” Mengucapkannya membuat aura wajahnya kembali berseri.
“Dia membawanya seperti itu?” Tanya Serena lagi sambil membayangkan betapa menggemaskannya Rubi membawa remahan roti di gaunnya.
“Awalnya saya hanya heran kenapa ada gadis kecil yang bolak-balik depan ruangan setiap hari di jam yang sama. Akhirnya saya mengikutinya karena penasaran, saat saya ikuti ternyata gadis itu mengarah ke halaman belakang. Sempat saya mau memarahinya, tapi melihatnya membagi makanan dengan semut-semut kecil itu membuat saya berpikir ulang dan hanya mengawasi.” Tutur ketua panti seraya meletakkan tangannya di pipi.
“Dan parahnya ketiga kakaknya itu... Kenapa mereka malah ikut adiknya yang berbuat salah dan bukannya melarang gadis itu pergi ke sana? Saya tidak bisa berkata-kata lagi dengan tingkah pola anak-anak asuh anda nona Serena!” Lanjutnya yang terdengar marah tapi ada sedikit singgungan senyum di ujung bibirnya.
Serena tersenyum haru mendengar cerita tentang anak-anak asuhnya yang sangat membanggakan untuknya. Serena mengetahui bahwa Rubi memang gadis yang penuh kasih sayang dan perhatian pada hal lain selain dirinya. Mungkin karena selama ini yang ada di sekitarnya hanya terdapat hal-hal mengerikan saja jadi sekarang ia mencurahkan seluruh isi hati dan pikirannya pada setiap kejadian di depan matanya.
__ADS_1
Bagaimana si Rubi itu tidak dikatakan penuh kasih sayang dan perhatian, melihat sarang semut yang selama ini ia kagumi terendam air dan porak-poranda akibat banjir saja sudah membuatnya menangis meraung-raung dan menyalakan dirinya sendiri. Serena tertawa geli membayangkan betapa lucunya tingkah Rubi selama ia tinggal di panti asuhan, kehadiran gadis kecil itu memberikan dampak positif baginya dan ketiga kakaknya.
“Saya lega melihat wajah anda yang semakin bahagia dengan kehadiran anak asuh yang baru.” Kata ketua panti melihat Serena yang tak bisa berhenti tersenyum.
“Iya ketua saya sangat senang.” Sahut Serena yang semakin bersemangat.
“Syukurlah kalau begitu. Wajah anda tidak seperti saat pertama kali datang kesini. Sekarang wajah anda lebih terlihat seperti manusia, nona muda Tedrick.”
Nafas Serena tertahan di tenggorokannya kala ia mendengar nama yang selama ini tak pernah lagi ia dengar semenjak dirinya bekerja di panti asuhan tiga tahun silam. Tubuh Serena gemetaran, keringat yang sebesar biji jagung berkumpul di keningnya lalu mengalir bebas membasahi wajahnya.
“Ba... Bagaimana...” Kata Serena terbata-bata menatap pada ketua panti di hadapannya. Air matanya mengembang di kelopak mata.
“Ketua!” Katanya sambil menahan tangisannya sekuat yang ia bisa.
Ketua panti tertawa melihat Serena yang ia kasihi tak berdaya di hadapannya. “Memangnya wanita tua ini tahu apa?” Katanya sambil terus tertawa.
Serena menghela nafas yang tertahan di tenggorokannya, ia tahu bahwa ketua panti hanya sekedar menggodanya. “Bagaimana anda tahu? Sejak kapan? Ada yang memberi tahu anda? Siapa? Apa orang itu ada di panti ini?” Ujar Serena yang menghujani ketua panti dengan pertanyaan.
“Bertanyalah satu-satu nona muda, wanita tua ini kesulitan menjawabnya.”
“Tolong beritahu saya ketua!”
__ADS_1
“Baiklah, baik akan saya beritahu. Saya tahu sesaat setelah anda datang ke sini nona Serena.”
“Saat pertama kali saya datang!?”
“Iya. Anda datang membawa koper kulit mahal itu kan? Apa anda lupa bahwa ada lambang keluarga Tedrick di permukaan koper itu? Petugas yang lain memang tidak tahu karena mereka berasal dari desa dan lambang keluarga anda tidak terlalu terkenal seperti lambang kaisar, atau grand duke utara, tapi apa anda lupa asal saya dari mana?” Ujar ketua panti sedikit menyombongkan diri.
‘Ah, begitu’. Begitulah ekspresi wajah yang ditunjukkan Serena setelah mendengar jawaban dari ketua panti. Ia tak sadar bahwa apa yang ingin disembunyikannya selama ini malah hal pertama yang ketahuan oleh orang lain, bahkan itu dengan orang yang paling tidak ingin ia tahu.
Serena menghela nafas penyesalan dan menutup wajahnya karena malu. Ia yang selama ini bertingkah menjadi rakyat biasa demi kenyamanan dirinya sendiri malah seakan menjadi orang bodoh di hadapan ketua panti yang mengetahui kebenarannya. Jadi selama tiga tahun terakhir ini ketua panti hanya menyaksikan Serena berakting dengan jeleknya.
“Memang pada awalnya saya tidak berpikir bahwa anda adalah nona bangsawan dan bisa saja anda mencuri koper itu. Tapi kalau melihat tingkah laku anda yang sangat beretika dan anggun begitu siapa yang tidak tahu? Percuma saja anda berpura-pura jadi rakyat biasa sebab gerak tubuh anda tidak akan melupakan dari mana anda berasal. Dan apa yang anda ajarkan pada anak-anak asuh anda itu tidak bisa menyembunyikan siapa anda sebenarnya. Lain kali cobalah untuk tidak ceroboh nona muda Tedrick."
Lagi-lagi Serena tercekat, rupanya ketua panti pun tahu kalau ia mengajarkan anak-anak asuhnya tata kerama dan membaca. Ketua panti terus menggodanya dan sekarang menekan nama Tedrick seakan hal tersebut adalah ejekan untuknya yang tidak berhasil menyembunyikan identitas aslinya. Serena sekali lagi menghela nafas panjang, ia sangat malu akan kelalaian yang ia lakukan. Mereka berdua pun melanjutkan obrolan ringan di keheningan malam.
...***...
Sebuah bayangan hitam pergi menjauh meninggalkan ruangan ketua panti di belakangnya. Pemilik bayangan yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan yang dilakukan oleh Serena dan ketua panti dengan asyiknya di dalam sana.
Pemilik bayangan itu mengetahui siapa sebenarnya Serena yang sangat ia benci karena bersikap sok bijaksana dan arogan, sikapnya sangat mengganggu.
Punggung lebar dan renta itu mendengus dingin, otaknya bekerja keras menyiasati bagaimana cara agar memberi tahu seluruh anggota panti bahwa selama ini petugas kesukaan mereka yaitu Serena telah berbohong, dan supaya wanita itu segera dikeluarkan dari panti asuhan tanpa ketahuan bahwa ialah yang membocorkan rahasia ini.
__ADS_1