Musim Dingin Yang Lalu

Musim Dingin Yang Lalu
Apa Kau Peri?


__ADS_3

Serena sedang membantu keempat sekawan itu mandi di pemandian khusus petugas panti secara sembunyi-sembunyi. Dikarenakan tadi ada insiden yang memakan waktu, jadi keempat anak gadis yang menggemaskan itu melewatkan jadwal mandi mereka. Akhirnya Serena membantu Allen, Elyn, Olive, dan Rubi untuk membersihkan diri mereka di tempat mandi yang biasanya digunakan para petugas panti di sana.


Walaupun kecil, panti asuhan tetaplah sebuah tempat yang memiliki peraturan di dalamnya. Jika tak ada peraturan, maka kehidupan mereka di sana tidaklah tertata serapi dan sebaik saat ini.


Salah satu peraturannya adalah para anggota panti yang terdiri dari anak-anak dan petugas panti sendiri, tidur, makan, mandi, dan beraktivitas sesuai jam dan tempat yang telah ditentukan. Namun kali ini mereka melanggar. Dan kebetulan ketua panti sedang tidak ada di tempat, jadi Serena berani membawa tuyul-tuyul kecilnya melanggar aturan sesekali.


“Mari, aku bantu kalian mandi.” Ajak Serena pada anak-anak asuhnya.


Mereka berempat pun antusias. Dengan riangnya mereka mandi dibantu Serena sambil bermain air. Alhasil pakaian Serena pun basah kuyup dibuatnya. Terpaksa Serena mandi lagi untuk yang kedua kalinya, kali ini bersama dengan anak-anak.


“Rubi, kesini sebentar!” Perintah Serena pada Rubi. Gadis itu langsung saja menghampiri Serena dengan patuh.


Serena mengambil wadah yang terbuat dari kayu panjang berbentuk sebuah botol. Dimiringkan botol itu mengarah ke telapak tangannya. Keluar cairan kental berwarna merah muda yang mengalir dari dalam wadah itu, berkumpul di telapak tangan putihnya. Ketika cairan itu digosok-gosokkan menggunakan kedua tangannya, muncullah sedikit buih dari sana, dan mengeluarkan wangi harum bunga mawar.


“Apa itu?” Tanya Rubi penasaran.


“Ini namanya sampo, ini akan aku usapkan ke rambutmu supaya jadi bersih dan wangi.” Katanya. “Mau pakai?” Tanyanya.


Tanpa ditanya dua kali pun Rubi langsung menganggukkan kepalanya seraya duduk tepat di depan Serena. Cairan berbuih di tangan Serena tadi digosokkan ke kepala Rubi perlahan-lahan. Sensasi geli dan menyenangkan yang Rubi rasakan, karena baru kali pertama ia melakukan hal semacam ini selama hidupnya.


“Apa kau senang?” Tanya Serena.


Wanita itu mendapati kaki Rubi bergerak-gerak kegirangan. Jika Rubi diibaratkan seekor kucing, kakinya itu mewakili buntut kucingnya. “Menggemaskan sekali.”

__ADS_1


Kotoran dan tanah yang menyelimuti seluruh kepala Rubi perlahan-lahan luntur. Namun karena rambut panjangnya sangat tidak terawat jadi terpaksa Serena menggunting setengahnya tadi sebelum gadis itu dikeramasi. Itu pun atas persetujuan Rubi sebelumnya.


Cukup banyak Serena menggunakan sampo untuk membersihkan rambut Rubi, ia memakaikan sampo dan membilasnya hingga beberapa kali. Karena memang dari ceritanya pada Serena, gadis itu sengaja membuat dirinya terlihat buruk rupa agar tak dijadikan peserta lelang oleh para penjaga.


Mengingat hal itu pun Serena jadi geram lagi, ia teringat lagi akan cerita yang dilontarkan Rubi dengan gamblang secara suka rela. Hatinya masih saja sakit dan tak terima membayangkan perlakuan mereka yang bekerja di pelelangan itu pada anak-anak tak berdosa. Serena terus sumpah serapah pada orang-orang jahat yang berbuat semena-mena pada anak kecil selucu ini.


“Aku siram air!” Allen langsung menumpahkan segayung air ke kepala Rubi.


“Aduh...”


Karena Allen mengguyurkan air secara tiba-tiba, busa sampo yang ada di kepala Rubi menyebar ke mana-mana, hingga masuk ke dalam mata Serena. Refleks Serena menutupi wajahnya dan berusaha meraba-raba wadah air yang tak jauh dari tubuhnya dengan kedua mata terpejam.


“Waaaahhhh~”


Serena mendengar suara Elyn dan disusul suara Olive yang terkagum-kagum akan sesuatu. Serena masih saja sibuk membilas wajahnya dengan air supaya meredakan sakit di matanya. Allen pun masih saja minta maaf pada Serena dengan rasa yang amat bersalah, suaranya yang bergetar terdengar hampir menangis.


KLONTANG!


Gayung yang tadinya berada di tangan Allen pun terjatuh ke bawah.


“Anak-anak ada ap-“ Mata Serena terbelalak. Bukan tanpa alasan mereka semua jadi mematung di tempatnya.


Elyn, Olive, Allen, bahkan Serena terdiam memandangi Rubi yang sedang terduduk manis di tempatnya. Rubi ikut terdiam karena semua teman-temannya termasuk Serena yang hanya terdiam memandang ke arahnya dengan wajah takjub dan tak percaya.

__ADS_1


“Rubi… Apa kau itu peri?” Ujar Allen membuyarkan keheningan yang terasa panjang itu.


“Peri? Apa itu peri? ” Rubi bertanya balik pada Allen yang sudah menampakkan senyumannya.


“Waahhh!! Lihatlah kau seperti peri!” Olive jadi heboh sendiri. “Di mana sayapmu? Sayap~ sayap~ ayo tunjukkan sayapmu!” Gadis itu berputar-putar mengitari tubuh Rubi mencari keberadaan sayap.


Sosok Rubi saat ini seperti anak gadis pada umumnya, dia kecil, lucu, menggemaskan, dan telanjang bulat. Tapi yang membuat mereka takjub adalah bagaimana sosok Rubi terlihat.


Rambut perak berkilau bak permata, tubuh putih bersih sebening mata air di gunung tertinggi, mata merah pekat semacam memancarkan cahaya, dan yang lebih menakjubkan lagi adalah tubuh Rubi seolah bersinar. Seakan Serena, Allen, Elyn, dan Olive sedang menatap hasil karya lukisan yang dilukis langsung oleh sang dewa terpajang di depan mata mereka.


“Serena! Rubi itu peri kan? Buktinya tubuh Rubi menguarkan cahaya yang sangat cantik seperti peri di dalam buku cerita yang selalu kau bacakan untuk kami!” Ucap Elyn kegirangan. Sejak saat Serena membacakan sebuah buku dongeng, Elyn lah yang sangat antusias mendengarkannya dan berharap bertemu dengan peri sungguhan.


Serena masih saja termangu menatap Rubi di tempatnya. “Serena!” Panggil Elyn yang langsung membuyarkan kekaguman Serena.


“Rubi, apa kau seorang albino?” Tanya Serena pada Rubi yang masih mematung.


“Albino? Serena apa albino itu peri?!” Olive masih saja penasaran terhadap temannya, dan masih sibuk mencari sayap Rubi yang menurutnya disembunyikan.


Serena menengok kanan dan kiri memastikan tak ada orang lain selain mereka berlima di dalam sana. Serena dengan tegas meminta pada Elyn, Olive, Allen dan tentunya Rubi agar tidak memberitahu siapa pun tentang kejadian hari ini.


Ia bahkan menakut-nakuti anak-anak lugu itu dengan mengatakan kalau mereka sampai memberitahu orang lain tentang sosok Rubi pada hari ini maka gadis itu akan menghilang, dan mereka berempat tidak akan pernah bertemu dan bermain dengan Rubi selamanya.


Mendengar perkataan Serena yang menakutkan, mereka berempat berjanji bahwa apa pun yang terjadi mereka tidak akan membocorkan rahasia ini dan tidak membiarkan Rubi menghilang, mereka akan selalu menjaga Rubi disisi mereka.

__ADS_1


Sesaat terbesit perasaan cemas dalam benak Serena. Ia menatap sedih ke arah Rubi, gadis kecil lugu yang belum lama ini siuman dari tidur panjangnya selama seminggu. Setelah pelelangan budak itu, entah rintangan apa lagi yang akan dihadapi gadis cantik bernama Rubi ini nantinya.


Serena pun bertekad akan menjaga Rubi dengan seluruh jiwa raganya bersama dengan anak-anak lain yang ia sayangi sepenuh hati. Serena memeluk Rubi erat, begitu juga ketiga teman sekamarnya ikut memeluk Rubi, keluarga baru mereka dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2