Musuh Yang Halal

Musuh Yang Halal
Enam


__ADS_3

Begitu sampai. Zara langsung turun tanpa peduli sama Dani.


"Zara.. Zara... loe unik banget, tapi sayangnya sifat loe yang bikin gue kadang kesal, hari ini gue harus nurun dikit harga diri gue supaya bisa lunasin janji gue". ucap Dani setelah Zara masuk ke rumah.


Dia langsung pergi meninggalkan rumah Zara.


Sementara Zara langsung ke kamar tanpa melihat ke arah orang tua dan abangnya. Dia hanya mengucap salam saja. Membuat heran orang tuanya tersebut.


"Kenapa adx kamu Al?."


"Tadi pagi anaknya om Rama kesini yah, ngajak Zara keluar. iTu tadi baru pulang, Sebenarnya Zara gx mau pergi ma Dani yah, Al paksain sedikit, dianya malah kesal dan marah sama Al."


"Hahaha... Ada juga ternyata yang membuat adekmu emosi gitu Al. Ayah pikir dia gx akan pernah bisa marah."


"Ya Allah Ayah... anak gadis lagi merajuk bukannya dibujuk malah diketawain"ucap Bunda Zara sewot.


"hahaha.... biarkan saja dulu bun... bentar lagi dia menikah, biarkan saja begitu. biar makin dewasa dia".


" Ya ayah. Al setuju sama ayah."


bunda hanya bisa menghela nafas berat.


Tanpa mereka sadari, Zara mendengar semua perkataan mereka ditangga.


Zara menjadi sedih, dia berpikir orang tuanya lelah menjaganya, sampai setuju untuk menikahkan dia dengan secepat mungkin.


" Baiklah ayah, bunda, abang, Zara akan turutin semuanya. Akan Zara tunai janji Zara dengan om Rama. " guman Zara.


###############


Sementara ditempat Dani, dia sedang membantu orang tuanya dirumah sakit. Karena kesehatan Ayah Dani sudah membaik. Dokter memperbolehkan untuk pulang dan istirahat dirumah.


Selama perjalanan pulang, Ayah Dani terlihat sangat senang. Dani yang menlihat wajahnya hanya bisa tersenyum bahagia.


Mobil mereka memasuki sebuah rumah yang sangat besar. Asisten rumah tangga mereka menyambut tuannya dengan penuh kebahagiaan. Mereka sangat senang menlihat majikan mereka telah kembali ke rumah dalam keadaan sehat.


"Dani.."


"Iya Ayah."


"kapan pernikahan kamu dilaksanakan, apa sudah ada pemberitahuan dari Amir".


glek.. Dani menelan ludah.


"ehmmm.. Dani siap kapan pun yah, ".


"emmmhuff (menghela nafas dengan berat). baiklah biar ayah saja yang menelpon mereka".


"tidak ayah, ayah baru sembuh, biarkan Dani yang mengurusnya".


"sudah nak, biarkan ayah dan ibu yang mengurus pernikahanmu, kamu jangan khawatir ada ibu yang membantu ayahmu".


Ibu yanv dari tadi hanya diam dan tersenyum ikut berbicara.


"tapi bu...".


"Dani, apa kamu menganggap ayahmu sudah sekarat dan sepuh".


"Bukan begitu maksud Dani, ayah. "


"hahahaha... lihat bu kelakuan anakmu sekarang ini. benar benar sudah sangat dewasa".


"iya Ayah.. hahahha..... "


orang tua Dani sangat bahagia menlihat anaknya khawatir. Dani bingung menlihatnya.


"kok ayah dan ibu malah ketawa sih.."


"sudah pokoknya kamu tinggal terima beres sajalah". akhirnya Ibunya menyudahi percakapan mereka.


mereka pergi kekamar untuk istirahat. Sedangkan Dani termenung diruang tamu.


"apa sih yang mereka ketawain" guman Dani .


Dikamar orang tuanya Dani menelpon sahabat mereka menanyai kelanjutan pernikahan anak anak mereka.


########


Dirumah Zara sedang bersiap siap mau kuliah. dia turun ke bawah.


"Mau kuliah non?".


"iya bi, pada kemana orang orang bi".


"ibu dan bapak sudah berangkat ketempat kerja non, kalau Abangnya non sedang survey apa tadi ... bibi lupa non, ntah apa tadi dibilang sama aden Al.".


"ya bi.. intinya mereka sudah berangkat semua kn?".


"iya non, oa non, tadi ibu pesan kalau non Zara berangkat kuliah, disuruh bawa bekal dikulkas sudah disiapin sama ibu".

__ADS_1


"ya. bi.. pak din mana bi?".


"ada didepan non, mau tak panggilin".


"kasih tau pakdin saja lah bi, Suruh siap2. Zara mau diantar pakdin aja kekampus".


"baik non."


Bibi keluar memberitahu keinginan putri majikannya kepada pak din, sopir keluarga Zara. Zara mengambil bekal dan langsung ke depan.


setelah setengah jam kemudian, Zara sampai ke kampus. Langsung masuk keruang kuliahnya dan duduk disamping Juwisya sahabatnya.


Juwisya bingung lihat Zara tidak bersemangat.


"loe kenapa ra...?"


"gx da juwi.. gue gx pa pa".


"benar.. tu muka kenapa gelap banget gx cerah kayak biasanya".


Zara hanya tersenyum nanggapin ocehan sahabatnya itu.


Tak lama kemudian dosen masuk dan kuliahpun dimulai.


Tak terasa waktu telah berlalu selama 2 jam. Waktunya untuk istirahat dan salat dhuhur.


Zara tidak pulang kerumah. karena bentar lagi masuk lagi kuliahnya.


"Ra... loe kenapa sih.. " Juwisya bertanya ketika mereka sampai dikantin.


"loe mau makan bekal gue gx".


"hah.. tumben loe ngasih bekal buatan bunda loe sama gue, biasanya loe ngasih gue nyium aromanya ja gx boleh".


"loe mau pa gx sih? kalau gx gue kasih Toni ni".


"eh.. ya deh ..".


Zara hanya minum jus yang tadi dibeli tempat kkRos, salah satu penjual dikantin kampus.


waktu berlalu mereka masuk kembali ke ruang kuliah sampai jam 3.30...


Tak terasa akhirnya hari yang berat sudah Zara lalui dikampus.


Zara keluar dengan lesu dan melangkahkan kakinya ke halte disampingnya Juwisya menatap dirinya dengan perasaan yang lain.


"Zara... sekarang kasih tahu gue, loe kenapa?".


"gue.. ".


" jangan bilang gue gx pa pa lagi, gue jitak pala loe".


"Juwisya... hikhikhikhikk"...


akhirnya pertahanan hati Zara luluh dan terlerai dengan sempurna sambil memeluk Juwisya.


"Cup cup cup.. tenag Ra, ada gue disini.."


bukannya nangis malah jadi ketawa Zara dengarin perkataan Juwi..


"Ya elah loe, gue bukan anak SD lagi juwi".


"Habisnya gue bingung... tiba tiba loe nangis,


kenapa sih ceritainlah ma gue".


"Juwi.. gue bakalan dikawinin ma orang tua gue".


"hah.. maksud loe, disuruh nikah gitu".


"apa bedanya juwi.. "


"beda lah Ra, gimana sih. loe tu manusia .. masak dikawinin sih. "


"ya elah, ribet banget gue ma loeh."


"ya sudah maaf. tapi kenapa loe disuruh kawin Ra. Abang Al juga setuju."


"ya Juwi.. Abang Al malah mendukung banget".


"tapi gimana ceritanya sih.. kok tiba tiba gitu".


akhirnya Zara menceritakan semuanya sama Juwisya.


"loe sih, cepat banget buat ngejanji padahal gx tau, apa yang harus loe lakuin".


"terus sekarang gue harus gimana".


"kalau sudah nyangkut janji.. utang mutlak loe itu gue juga bingung mesti ngomong apa."

__ADS_1


hikhikhikk Zara malah nangis lagi ..


"Zara... ". Juwisya memeluk sahabatnya tersebut.


"Yang sabar Ra, gue yakin akan indah pa akhirnya, lagian calon laki loe tu juga bukan orang sembarangan loe".


"Apaan sih, loe kok malah muji dia sih.".


"memang kenyataannya Zara, siapa sih yang gx tahu Dani Alfhandy. "


"tapi kna tetap saja....."


"Zara..." tiba tiba ada yang memanggil Zara.


"eh.. kkDani.. " Juwisya menyahut.


Zara menoleh kebelakang mengikuti arah mata Juwisya.


"hai Juwisya, sudah selesai kuliahnya.?".


"udah kk, gue lagi nunggu dijemput. nah tu paklah supir gue sudah datang".


jawab Juwisya sambil nunjuk ke arah mobilnya jemputannya .


"Zara.. gue balik dulu ya, nanti gue hubungin loe ya?".


Zara hanya tersenyum dan menggangguk.


"duluan kk...dan anterin teman gue ya, dia lagi galau".


"apaan sih loe Juwi.. udah sana".


"hahaahaaa, iya ya.. dada Assalamualaikum".


"Wa'alaikum salam".


mereka menjawab kompak.


"ekhemm.. Zara... mau ak.. gue antarin pulangnya".


"gx usah .. gue naik bus ja".


"sebenarnya ada yang pengen gue omongin juga".


"ya udah ngomong ja. perasan dari tadi juga udah ngomong". jawab Zara ketus.


"kita omongin dimobil aja gimana, atau kita cari tempat makan biar enak ngomongnya".


"gue gx lapar, gue capek pengen tidur.".


"ok. baiklah tapi gue antarin ja ya, loekan capek, nnti kalau naik bus malah ketiduran".


"ya. ya. bawel banget sih loe, sudah kayak mamak ja".


"ayuk.. itu mobil gue disana".


mereka berjalan ke mobil Dani


dalam perjalanan.. sebenarnya Dani bingung mau gimana ngomongnya.


"katanya tadi loe mau ngomong, buruan mau ngomong apa".


"ekhemmm.. sebenarnya ini tentang pernikahan itu, gue mau nanya syarat syarat dari loe".


"loe kok jadi lembut gini sih ngomong ma gue, gue jadi geli dan heran. biasanya mulut loe pedas kayak mie level 10, super hot".


"masak sih, gue ngerasanya biasa aja."


"terserah loe deh, dan buat syarat dari gue lupain ja. gx syarat khusus.. gue cuma minta loe nanggung biaya hidup gue ja. karena selama ini semua fasilitas kehidupan gue dari orang tua dan abang gue".


"hanya itu, ".


"ya."


"ok. baiklah gue penuhin syaratnya".


sebenarnya banyak banget syarat yang ingin Zara sampaikan, namun dia sadar gx ingin menambah dosa lagi. dengan tidak mencintai suaminya kelak saja sudah berdosa apa lagi ditambah syarat yang aneh dari dia.


Zara hanya berharap semoga dia nikah hanya sekali dan akan ada keajaiban di pernikahannya nanti.


bersambung


¤¤¤¤☆《¤☆☆¤¤¤


cukup sekian dulu ya guys...


capek banget hari ini,


mohon kritik dan saran ya.

__ADS_1


__ADS_2