
Nicole berjalan seorang diri keluar istana. Disaat kesepian seperti ini, ia merindukan sepupunya. Lisa tidak pernah membiarkannya seorang diri. Ia selalu menemaninya selain para pelayan. Ia berkeliling istana untuk melihat ada apa saja disekeliling istana.
Istana itu cukup luas, hanya saja istana itu dikelilingi oleh pohon pinus yang menjulang tinggi. Tidak ada orang-orang yang lalu lalang, tidak terlihat kehidupan seperti di istana Artaleta. Tak jauh dari istana, ia melihat ada lapangan yang tidak begitu luas, diujung lapangan terdapat target face dimana busur panah masih tertancap disana. Ada pula orang-orangan yang terbuat dari jerami yang biasa digunakan sebagai target memanah.
Setelah dari lapangan memanah, Nicole melihat terdapat istal kuda dan ia bisa mendengar beberapa kuda sedang merintih. Nicolepun masuk kedalam. Ia terkejut ketika menemukan kuda kesayangannya berada disana. Vale telah membawanya dan ia pikir orang yang baru saja menjadi suaminya itu masih punya hati. Iapun tersenyum senang. Nicole mengelus kepala kuda itu hingga ia berhenti merintih. "Helena, aku kira aku akan kesepian." Ucapnya sambil memeluk kuda berwarna coklat itu.
"Aku kesepian, helena. Aku merindukan Lisa. Aku merindukan rumah. Vale sangat membenciku disini. Apa yang harus aku lakukan agar Vale tidak membenciku?" ucapnya pelan.
Vale keluar dari ruang kerjanya dan menemukan Elissa sedang berada didapur. Ia tidak melihat Nicole.
"Kau mencari nyonya, tuan?" tanya Elissa
Vale diam dan kembali berjalan ke ruang kerjanya.
" Beliau sedang berkeliling. Tadi hamba melihatnya berada di istal."
"Aku tidak bertanya." jawab Vale ketus.
Elissa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah beberapa jam berada di istal kuda, iapun melangkah keluar lagi untuk melihat-lihat sekitar. Ia mendengar suara gemercik air dibelakang istal. Ia yakin ada sebuah sungai disana. Iapun berjalan dijalan setapak yang menghubungkannya ke suara air mengalir. Ternyata memang benar, sungai itu berada diarea hutan pinus yang megah. Airnya sangat jernih. Banyak bebatuan kecil didalamnya. Karena tak tahan,
Iapun duduk disamping sungai. Kedua kakinya dimasukkan kedalam air itu. Air terasa dingin tapi Nicole sangat menyukainya. Iapun duduk-duduk disana dan memainkan kakinya di air.
"Nyonya, nyonya Nicole!" panggil pelayan.
Nicole berdiri dan menyaut. "Ya, aku disini. Tunggu disana, aku akan menemuimu."
Nicole setengah berlari menghampiri suara pelayan itu.
"Ada apa?" tanya Nicole
"Baiklah."
"Apakah suamiku sudah makan, Elissa?" tanya Nicole ketika duduk dimeja makan.
"Belum nyonya, akan saya antarkan sekarang keruang kerjanya." jawab Elissa sambil membawa nampan.
"Biar aku saja." Nicole berdiri dan berjalan menuju ruang kerja Vale.
__ADS_1
"Tapi nyonya.." potong Elissa. Ia merasa khawatir. "Biarkan Vale menolakku Elissa, tapi aku harus tetap melayaninya sebagai seorang istri."
Elissa mundur sambil menunduk. Tuan, kau salah jika menganggap Mylady seseorang yang buruk. Mudah-mudahan Tuhan membuka hatimu.
Nicole mengetuk pintu pelan..
"Masuk."
Vale sedang melihat keluar jendela. Ia tidak melihat siapa yang datang. Ia seperti sedang berfikir. "Elissa, aku tidak menyuruhmu membawakan makan siang untukku."
"Aku yang membawanya,Mylord" jawab Nicole pelan.
Vale terkejut dan membalikkan badannya.
"Aku tidak mau makan, bawa saja makanannya keluar." seru Vale kesal.
"Kau boleh membenciku semaumu, Mylord. Tapi kau harus makan. Aku permisi keluar. Maafkan aku jika mengganggumu." jawab Nicole sambil menunduk. Ia melangkah keluar kamar.
Vale terdiam. Ia menatap makanan didepannya yang terlihat menggiurkan. Elissa telah memasak makanan kesukaannya. Perlahan iapun menyendok makanan yang ada didepannya dan mulai makan.
__ADS_1
Melihat wajah Nicole seperti tadi, ia merasa hatinya mulai ragu. Jika ia terus berada di Arsy, ia akan terus menyakiti Nicole. Ia harus pergi segera. Iapun bangkit dan memakai sepatunya. Tanpa banyak bicara ia keluar dari Istana dengan kudanya. Tidak terlihat olehnya, seseorang sedang menatapnya dibalik kaca. Orang itu adalah Nicole, istrinya.