
Ketika Vale melepaskan diri, ia tak kuasa untuk tidak menghapus airmata itu. Perlahan ia mengikuti nalurinya untuk menghapus airmata itu dengan jari-jarinya.
Nicole membuka matanya dan menatap Vale. Tiba-tiba jantungnya berdebar dengan kencang.
"Jangan menangis " bisik Vale sambil menyimpan tangannya dikedua pipi Nicole. Tanpa sadar bibir Vale sudah berada dikening Nicole. Jantungnya semakin cepat berdetak.
Ada apa ini? pikir Nicole. Mengapa terasa nyata?
Tepuk tangan meriah menghiasi ruangan itu. Vale membalikkan badannya dan tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya pada seluruh tamu undangan.
Raja Juan dan Ratu Zest saling bertatapan. Semua tamu undangan yang hadir merasa bahagia, tapi mengapa mereka melihat ada yang berbeda dari kedua pengantin itu.
"Sayang, kau melihatnya?" tanya Ratu Zest.
Raja Juan mengangguk tanpa melepaskan tatapannya pada Nicole.
"Aku harap bukan sesuatu yang buruk. Kakakku adalah orang paling baik dan perhatian. Akupun tidak pernah melihat Nicole sebagai orang yang buruk kecuali waktu itu. Jadi kuharap tidak akan ada yang terjadi."
"Lebih baik kita menghampiri mereka." Raja Juan dan Ratu Zest bangkit dari duduknya.
"Kalian berdua sangat serasi, Nicole." Ucap Lisa yang terlihat sangat antusias. "Tapi ada yang menggangguku, tadi kau menangis?"tambahnya pelan.
"Aku hanya terlalu emosi." Jawab Nicole pelan.
__ADS_1
"Kau ingat ucapanku?" Tanya Lisa penuh tekanan.
"Ya, aku mengingatnya."
"Baguslah. Aku terpaksa melakukan ini untuk nama baik keluarga."
Nicole mengangguk pelan. "Aku tahu. Kau melakukan ini untuk nama baikku juga."
"Lalu sekarang dimana suamimu yang menyebalkan itu?" Lisa menatap seluruh ruangan itu.
"Ia sedang menyiapkan kereta."
"Kalian langsung ke Istana Arsy?" tanya Lisa terkejut.
"Ya, Raja Juan telah memberikannya sebagai hadiah pernikahan. Sepertinya Vale tidak enak pada Raja Juan jika kami tidak segera pindah kesana."
"Nicole sangat beruntung memiliki kakakku." Ucap Ratu Zest yang berada dibelakangnya.
Lisa menganggukkan kepalanya untuk memberi hormat. Begitu pula dengan Nicole.
"Aku sangat bahagia karena kau menikah dengan kakakku. Kakak terbaik didunia."
"Terimakasih Ratu. Hamba pun merasa beruntung menikah dengan penerus Duke of Vanguard. Siapa yang tidak mengenal Duke of Vanguard di Artaleta ini" jawab Nicole pelan.
__ADS_1
"Kita masih menunggu kapan Vale akan dikukuhkan sebagai Duke of vanguard yang baru menggantikan papa."
"Tidak akan lama lagi." jawab Raja Juan yang kini berada dibelakangnya.
Nicole dan Lisa menganggukkan kepalanya.
"Aku sangat bahagia melihat kau menikah dengan Vale. Sekarang kita adalah keluarga."
"Berulangkali aku katakan. Aku minta maaf karena kesalahanku dimasa lalu. Aku terlalu cemburu padamu. Padahal kau tidak melakukan apa-apa." Ucap Zest sambil menggenggam tangan Nicole. "Sekarang kau menjadi keluargaku. Aku senang sekali."tambahnya.
"Aku senang karena semua permasalahan dapat diselesaikan, Ratu."
"Oh ya, aku tidak tahu kenapa Vale lebih memilih Istana Arsy dibandingkan Istana Dalles."
"Istana Arsy berada di selatan Azalea. Istana itu biasa digunakan oleh ayahku jika sedang berburu."
Lisa langsung menatap Nicole dengan cepat. Ia merasa khawatir.
"Maafkan aku mengganggu pembicaraan kalian. Aku harus cepat membawa istriku pergi." Ujar Vale yang datang dengan tiba-tiba.
"Apakah kau sudah tidak tahan ingin berdua dengan istrimu?"goda Raja Juan.
"Hari sudah menjelang malam, paduka. Kami tidak mau datang kesana kemalaman."
__ADS_1
"Bukankah itu bagus?" goda Raja Juan kembali.
Vale langsung menggenggam tangan Nicole dan membawanya pergi dari Istana Artaleta.