My Annoying Duke

My Annoying Duke
Istana Arsy


__ADS_3

Kereta membawa Nicole dan Vale menuju kediaman barunya. Istana Arsy sangat jarang didatangi oleh Raja Juan karena istana itu dikelilingi oleh hutan pinus. Juan tidak suka dengan banyaknya pohon pinus.


Ketika Raja Juan menawarkan istana yang lain untuk Vale, Vale lebih memilih istana yang jauh dari keramaian. Ia tidak tahu alasan Vale memilih istana itu. Tapi Juan memiliki pikiran lain, ia pikir Vale hanya ingin berdua dengan Nicole. Untuk itulah ia mengabulkannya.


Nicole menatap keluar. Ia tidak berani mengatakan apapun karena ia seorang diri didalam kereta. Vale lebih senang beradaPohon pinus menjulang tinggi. Ini baru pertama kalinya ia melihat hutan pinus seluas ini dan berada di kawasan Artaleta. Ia tidak tahu Vale akan membawanya kemana.


Tiba-tiba kereta itu memasuki halaman istana. Nicole bisa melihatnya. Istana itu tidaklah sebesar Istana Artaleta. Tapi pria itu tidak ada disisinya. Ia lebih senang menunggangi kudanya seorang diri didepan .


Terlihat olehnya beberapa pelayan saja. Tidak seperti dirumahnya. Nicole menahan nafasnya. Sepertinya mimpi buruknya akan segera datang. Ia teringat perkataan Lisa. Ia harus menerima semuanya. Itu dianggap sebagai penebusan dosa karena ia memulai sesuatu yang salah.


Kereta itu berhenti. Vale turun dari dari kudanya dan melewati kereta. Ia melirik sekilas pada Nicole dan berjalan memasuki istana tanpa mengatakan apapun pada Nicole. "Kalian urus istriku!" Ucapnya ketus.


"Baik Tuan." Jawab beberapa pelayan sambil saling berpandangan.


Nicole turun dari kereta itu. Ia terdiam dan menatap istana didepannya. Kemudian ia memasuki istana diiringi oleh beberapa pelayan. "Selamat malam nyonya, apa yang anda butuhkan kami siap melayani. Saya Elissa, kepala pelayan disini."ujarnya.


Nicole tersenyum sambil memegang lengan wanita tua itu. "Terima kasih."


Iapun berjalan dan melihat kesekeliling istana. "Istana ini tidak besar nyonya, hanya ada 10 kamar saja. Kamar utama berada dilantai dua. Saya akan mengantar anda kesana."


Nicole mengangguk pelan. "Aku lelah, Elissa."

__ADS_1


"Sebaiknya anda istirahat. Sepertinya saat ini Tuan Vale ada diruang kerjanya. Sudah dua hari ini beliau pulang kesini dan selalu menyibukkan diri disana."


Nicole mengerutkan keningnya. "Dimana ruang kerjanya?"


"Disamping kamar utama."


Dan seketika itu mereka melewati ruang itu. Ruang itu ditutup dengan erat. Nicole tidak mengindahkannya dan merekapun memasuki kamar utama.


Kamar itu sangat luas. Benar-benar luas. Nicole dibuat takjub dengan keindahannya.


"Pakaian anda sudah disimpan dengan rapi di lemari. Begitu juga dengan semua perhiasan dan perlengkapan anda. Kami akan permisi keluar. Silahkan nyonya beristirahat."


"Maaf, siapa namamu tadi?"tanya Nicole


"Baiklah, terimakasih Elisa." Nicole menganggukkan kepalanya. Sedangkan pelayan itupun pergi sambil menutup kamar.


Ketika Vale masuk kekamar beberapa waktu kemudian, ia melihat Nicole tengah berbaring di ranjang. Matanya terpejam. Ia telah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Nafasnya naik turun. Ia hanya menatapnya. Setelah itu, ia mengambil bantal dan selimut dari lemari. Kemudian iapun membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang berada disudut ruangan. Dan matanya terpejam.


Nicole membuka matanya perlahan. Ia sempat bingung dengan suasana kamarnya. Tiba-tiba ingatannya muncul. Kemarin adalah hari pernikahannya. Lalu iapun melihat ranjang disampingnya. Masih rapi dan tidak terlihat pernah ditiduri. Iapun bangkit dari tidurnya dan melihat sekeliling ruangan. Ia lihat Vale tidur di sofa. Ia tampak berantakan.


Nicole berjalan menghampiri Vale yang masih menutup matanya. Ia menatapnya. Jantungnya berdebar-debar. Tiba-tiba rasa sedih menghinggapi dadanya. Nicole berusaha untuk mengabaikan perasaan itu. Iapun masuk kekamar mandi untuk bersiap-siap.

__ADS_1


Vale membuka matanya. Iapun bangkit dari tidurnya. Ia tahu Nicole keluar kamar setelah bersiap-siap. Iapun harus segera bersiap-siap.


Ketika ia turun dari kamarnya. Ia mencium harum masakan yang sangat lezat. Valepun duduk dikursi makan itu didampingi oleh Nicole. Ketika pelayan memberikan sup kedalam mangkok Vale, ia menatap pelayan itu. "Siapa yang membuatnya?"


"Nyonya Nicole, Tuan."


"Singkirkan!" Ketus Vale. "Berikan aku satu gelas susu dan roti." Tambahnya tanpa menatap wajah Nicole. Ia tahu nicole terpukul tanpa melihatnya. Itu memang yang ingin Vale lakukan. Membuat Nicole hidup seperti di neraka. Ini baru awal. Masih ada lagi, tapi nanti.


Nicole merasa hatinya tengah ditusuk oleh benda tajam. Lupakan Nicole, lupakan perlakuan Vale padamu! Suara hati Nicole terus membisikinya.


Setelah beres makan, Vale memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Ia tidak berbicara sepatah katapun pada Nicole.


Nicole pun merasa sup buatannya tidak enak. Rasanya hambar tidak seperti biasanya. Iapun beranjak dari duduknya dan melangkah keluar.


"Nyonya, anda akan kemana?"tanya Elisa sambil mengikutinya dari belakang.


"Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar. Aku ingin melihat-lihat istana ini."


"Baiklah nyonya. Maafkan saya karena tidak bisa menemanimu. Banyak pekerjaan disini." Ucapnya sambil melihat keliling.


Nicole tersenyum. "Aku tahu. Lanjutkan pekerjaanmu dan jangan khawatir."

__ADS_1


"Hati-hati nyonya."


__ADS_2