My Annoying Duke

My Annoying Duke
Kau tidak punya hati, duke


__ADS_3

"Ah!" Teriak Nicole cepat. Ia refleks memeluk tubuh Vale yang saat itu terkejut pula ketika lampu tiba-tiba mati.


"Ada apa ini?" Tanya Vale bingung. "Kau tidak apa-apa?"tambahnya pada Nicole yang masih memeluknya.


"Aku takut." Bisiknya dengan tubuh gemetar.


"Aku akan memeriksanya." Ucap Vale sambil melepaskan tangan Nicole. Tapi Nicole tidak mau melepaskannya. "Lepaskan aku, Nicole. Aku tidak bisa mencari tahu jika kau memelukku seperti ini."


"Aku ikut." Jawab Nicole cepat.


Ketika Vale berdiri, Nicole mengikutinya dengan masih memeluknya dari belakang.


Tok..tok..tok..


Nicole meloncat karena terkejut. Ia semakin mempererat pelukannya. Vale memegang tangan Nicole yang berada diperutnya. Ia berjalan perlahan dan membuka pintu.


"Maaf tuan, semua lampu mati. Besok saya akan memanggil orang untuk membetulkan listrik." Ucap Elisa sambil menatap Nicole. Ia tersenyum samar.


"Jadi kita akan terus gelap-gelapan sampai pagi?" tanya Vale


Elisa mengangguk pelan. "Lilinpun habis. Tidak ada yang tersisa. Ini hanya satu-satunya penerangan yang ada."


Vale mendesah kesal. Ia menatap curiga pada Elissa. "Kau tidak melakukan sesuatu bukan?"


"Saya pamit, tuan. Banyak tempat yang harus saya lihat. Permisi." jawab Elissa cepat. Ia langsung berjalan meninggalkan kamar utama tanpa menjawab pertanyaan Vale.


"Bagaimana?" tanya seseorang.


"Aku harap semuanya lancar, Nisa." jawab Elissa pelan.

__ADS_1


Nisa membuka mantelnya. "Kita harus menghangatkan sesuatu didapur. Besok pagi aku akan memberi laporan pada duchess tentang kejadian hari ini." Nisa yang sudah datang dari siang hari sengaja ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di Arsy. Ia tidak menyapa Nicole maupun Vale.


"Ya, aku setuju." jawab Elissa cepat.


"Menurutmu apa yang akan terjadi malam ini?"tanya Nisa sambil tertawa.


Elissa hanya tertawa. "Aku tahu pikiran kita sama." jawab Nisa.


Vale tidak bisa melepaskan diri karena Nicole masih memeluknya. Merekapun berjalan kembali ketempat tidur. "Kalau kau terus memelukku seperti ini, bagaimana bisa aku naik keatas. Aku tahu kau takut. Aku merasakan tubuhmu gemetar."


"Aku takut. Tidak bisakah kau mengerti?" ucap Nicole sedikit kesal.


"Apakah benar kau seorang Nicole? Bukankah iblis berteman dengan kegelapan?" Tanya Vale kejam.


Nicole langsung melepaskan diri perlahan. Tanpa terlihat oleh Vale, Nicole menitikkan airmata. Ia masih diam ditempat ketika Vale merebahkan dirinya ditempat tidur.


Vale menatap langkah demi langkah Nicole. Ia sedikit keterlaluan. Nicole seperti mati kutu ketika dikatakan seperti itu.


Vale merasakan Nicole menjauhi ranjang. Ia berjalan menuju sofa. "Bukankah kau tadi akan tidur?" Tanyanya.


"Kau kejam, tidak puaskah selama ini kau perlakukan aku seperti ini?" Tanya Nicole sambil terisak. "Kau tidak punya hati." tambahnya.


Vale merasa hatinya tersayat ketika mendengar gadis itu menjawab dengan nada terisak. Ia benar-benar bersalah. Ia merasakan Nicole berjalan ke sofa.


Vale membuka matanya ketika ia merasakan wajahnya hangat akibat sinar matahari. Rupanya ia tertidur. Padahal semalam ia sedang memikirkan Nicole. Nicole? Tiba-tiba ia teringat pada gadis itu. Ia bangun dari tidurnya dan melihat sofa yang telah kosong. Tidak ada tanda-tanda ditiduri. Padahal semalam ia merasakan Nicole merebahkan tubuhnya.


Iapun bangkit dari tidurnya. Jangan-jangan Nicole pergi? Dengan cepat ia membuka lemari. Pakaian Nicole masih ada. Iapun setengah berlari menuju bawah. Ternyata Nicole tengah menyiapkan sarapan bersama Elissa. Wajahnya tidak terlihat habis menangis semalaman. Ternyata pikirannya salah, gadis itu menangis hanya untuk bersandiwara. Vale mengepalkan tangannya. Ia marah.


Disatu sisi, Nicole adalah gadis yang pintar menyimpan kekecewaannya. Hatinya bisa saja sakit. Namun bibirnya tetap tersenyum.

__ADS_1


Nicole menoleh ketika merasakan seseorang berada dibelakangnya. Ia hanya tersenyum dan mengeluarkan kursi makan Vale.


"Elisa, bawakan sarapan untukku ke ruanganku!" Ujarnya ketus sambil menatap Nicole. "Aku benci pada gadis itu!"


"Baik Tuan." Jawab Elissa sambil cepat-cepat menyiapkannya. Iapun membawa nampan yang berisi sarapan keruangan Vale.


"Apakah pantas Tuan melakukan ini pada mylady? Bagaimanapun kalian telah menikah." Sahut Elissa marah.


"Kau tidak perlu mengajariku. Aku tahu mana yang harus kulakukan dan tidak!" Jawabnya kesal. "Kau tidak tahu, semalam ia pura-pura menangis lalu lihat pagi ini, ia tidak terlihat habis menangis!" teriak Vale marah.


Tanpa pikir panjang, Elisa langsung keluar ruangan itu. Ia ingin melihat Nicole.


Elisa tertegun ketika tidak melihat Nicole diruang makan. Ia mencoba mencari berkeliling. Ketika langkahnya sampai didepan istal kuda, ia mendengar isakan seseorang. Elisa diam didepan istal itu dan mendengarkan isakan penuh kekecewaan. Ia pikir Lady Nicole adalah gadis yang kuat. Ternyata ia masih sama seperti gadis yang lain. "Lady, saya akan buat Mylord menyesal" Bisik Elissa. Dan orang yang bisa membuat rencananya lancar adalah Nyonya Imelda. Ia harus menemuinya hari ini. Ia berharap Nisa sudah mengatakan tentang keadaan di istana Arsy.


Imelda menggeram marah ketika mengetahui semua perlakuan buruk Vale pada Nicole. Sedikit sulit meyakinkan Nicole untuk menikah dengan anaknya. Kini gadis itu malah diperlakukan semena-mena.


"Aku tidak mendidik anakku untuk tidak menghargai seorang perempuan. Tidak pernah sedikitpun!" Geramnya.


Nisa mengangguk setuju. "Beberapa hari kemarin Tuan diluar batas, myduchess. Saya mendengar sendiri Lady menangis didalam istal. Elissa yang biasa mendengarnya."


Imelda menatap nanar Nisa tidak percaya. "Istal kuda?"


"Ya, kuda-kuda Tuan telah menjadi teman curhat Lady beberapa waktu ini. Apalagi Tuan tidak pernah pulang sejak menikah."


"Ini sudah keterlaluan Nisa, aku akan memberikan hukuman pada anak itu. Aku tidak akan membiarkan Nicole hidup dengan anakku. Aku harus menyelamatkannya." Ucap Imelda sambil berjalan keluar untuk menemui Raja dan Ratu. Ia membutuhkan pertolongan mereka berdua.


"Nyonya.. sebaiknya besok pagi saja anda pergi ke istana. Hari ini bukankah ada acara. Lady Nicolepun pasti sedang dijalan. Lagipula jangan terlalu mendadak memberitahu Ratu Zest. Kasihan saat ini ratu sedang mengandung."


Imelda menghentikan langkahnya. "Kau betul Nisa, aku tidak memikirkan kesehatan Zest yang tengah mengandung. Besok ingatkan aku untuk mengatakan semuanya."

__ADS_1


__ADS_2