
Pengantin pria dan wanitanya tengah berdansa dan ditonton oleh ratusan pasang mata. Nicole melihat itu dari kejauhan. Ia dapat melihat sinar bahagia dari pasangan itu. Mereka saling mencintai. Tentu saja, untuk itulah mereka menikah. Nicole menundukkan kepalanya. Ia merasa sedih. Jika dia dan Vale saling mencintai,bagaimana jadinya pernikahan mereka?
"Apa yang sedang kau lamunkan, sayang?ayo!suamimu telah menunggumu." Sahut Ratu Alena. Tangan Nicole ditarik dengan kencang oleh Ratu.
Saat mendekati hall tempat orang-orang berdansa, ia menginjak gaunnya yang paling depan. Nicole tidak dapat menjaga keseimbangannya. Ia hampir terjatuh. Beberapa orang yang melihat mentertawakannya. Nicole tidak berani mengangkat wajahnya. Ia terlalu malu. Sulit baginya untuk tidak menangis.
Tiba-tiba bahunya disentuh. "kau tidak apa-apa?." Ucapnya.
Nicole mengangkat wajahnya dan menatap wajah Vale. "Ayo kita berdansa. Jangan pedulikan orang-orang."
Nicolepun berjalan mengikuti langkah Vale.
"Dengarkan aku. Jangan lihat tatapan orang lain padamu. Cukup tatap aku. Kita tidak mungkin mengecewakan orang yang mengundang kita bukan?" Bisiknya. Nicole hanya mengangguk pelan. Airmata yang tadi tertahan, akhirnya turun. Dengan lembut Vale mengusap pipi Nicole. Nicole merasa jantungnya semakin berdebar. Aku jatuh cinta, pikirnya. Merekapun mulai berdansa mengikuti irama musik yang mengalun kencang. Banyak yang berdansa mengikuti mereka berdua.
Tak lama kemudian terdengar suara Raja Ernest memberitahukan pengumuman.
"Puncak acara akan dimulai." Ucapnya keras. Tiba-tiba beberapa pelayan mendorong meja berisi botol-botol wine beserta beberapa gelas. "Aku harap semua tamu undangan ini tidak akan mengecewakanku. Ini adalah tradisi yang dilakukan oleh Dalles ketika ada acara pernikahan."
"Pantas saja Juan mengirim kita kesini. Apakah kau kuat minum wine?"tanya Vale pada Nicole.
"Sudah lama aku tidak meminum wine. Aku lupa." Jawab Nicole pelan. Ia cemas. Padahal ia tidak bisa meminum alkohol.
__ADS_1
Beberapa meja telah disiapkan beserta wine dan gelasnya. Meja saling berhadapan sesuai dengan pasangan masing-masing. Nicole menatap ragu pada Vale. Namun Vale terlihat sangat menikmati apa yang ada didepannya. Vale penikmat wine. Jadi bagi dia meminum seberapa banyakpun ia akan kuat. Berbeda dengan Nicole. Ia cemas.
Pelayan mulai mengeluarkan wine kedalam gelas. Ia mengisi gelas wine dari ujung ke ujung. Dimulai dari pria yang meminum. Dilanjutkan dengan wanita. Nicole melihat Vale yang meminum dengan cepat. Ia benar-benar menikmatinya. Nicole menatap gelas didepannya. Ia meminum dengan cepat. Rasa panas terasa ditenggorokannya.
Cukup 3 gelas saja, kalau tidak aku akan pingsan. Pikir Nicole. Gelas kedua ia meminum dengan cepat. Begitupun dengan Vale dan yang lainnya. Tenggorokannya semakin sakit. Ia takut tidak bisa menahannya. Ia cemas ketika akan meminum gelas ketiga.
Valepun menatapnya dengan cemas. Ia menggelengkan kepalanya dan meminta Nicole tidak meminum wine itu. Wajahnya telah memerah.
Tapi Nicole menggelengkan kepalanya. Ia meminum gelas ketiga dengan satu tegukan. Nicole memegang tenggorokannya yang terasa semakin panas. Kepalanya tiba-tiba pusing. Ia menyimpan kepalanya dimeja dan ia sudah tidak tahan merasakan tenggorokannya yang tiba-tiba panas dan sakit.
Vale setengah berlari menghampiri meja Nicole. Ia tahu ada yang tidak beres dengan istrinya itu. Maka ketika Nicole menyimpan kepalanya dimeja, tubuh Vale bereaksi dengan cepat. Ia segera menghampiri Nicole.
"Sakit" Bisik Nicole sambil memegang tenggorokannya.
"Aku akan membawamu kekamar. Peluk aku, Nicole." Jawab Vale tanpa melepaskan gendongannya. Nicole memeluk leher Vale dengan kencang. Ia mulai menangis. Rasanya menyedihkan mengetahui dirinya tidak berguna.
"Jangan menangis. Bagaimana keadaanmu?kau masih merasa panas?"
"Ya" jawab Nicole.
"Sebentar lagi kita sampai." Ucapnya.
__ADS_1
Vale merebahkan tubuh Nicole ditempat tidur. Iapun dengan cepat mengambil air putih. "Minumlah."
"Maafkan aku.." bisik Nicole sambil menutup wajahnya. Vale mengerutkan keningnya. "Untuk apa?" Iapun duduk disamping Nicole.
"Aku tidak berguna. Aku mempermalukanmu didepan orang banyak." Isak Nicole.
Vale membaringkan dirinya disamping Nicole. Ia merengkuh Nicole kedalam pelukannya. "Kau tidak mempermalukanku. Kau memang tidak bisa meminum wine. Kau terlalu memaksakan diri."
Nicole membalas pelukan Vale dan membenamkan wajahnya didada Vale.
"Kau masih kepanasan? Tenggorokanmu masih sakit?"
Nicole mengangkat wajahnya dan menatap Vale. "Ya."
"Tidurlah. Mungkin dengan tidur, tenggorokanmu bisa sembuh." bisik Vale sambil mengusap airmata Nicole. "Besok kita akan pulang pagi sekali. Lebih baik kau istirahat diistana."
"Terimakasih, mylord. " bisik Nicole sambil mengangkat wajahnya. Tanpa diduga Vale menundukkan wajahnya dan mencium bibir Nicole.
"Tidurlah, sayang. Jangan membuatku kehilangan kesabaran. Kau tahu bukan bagaimana jika pria dan wanita berduaan disatu ruangan?" Bisiknya.
Jantung Nicole berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia tidak berani menatap Vale dan bersembunyi didalam kehangatan pria itu. Vale tersenyum bahagia. Jantungnya pun berdetak lebih kencang. Nicole pasti dapat merasakannya.
__ADS_1