
Ratu Zest berjalan dengan cepat menuju rumah orangtuanya setelah mendengar apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Ia terkejut ketika mendengar dari Nisa jika kakaknya akan berpisah dengan Nicole.
"Ma!!" panggilnya. Rumah itu nampak kosong. Ia tidak melihat ibunya ada di setiap ruangan. Tapi ia tahu dimana ibunya berada. Iapun membuka pintu yang dapat menghubungkannya ke halaman belakang. Ia bisa melihat ibunya sedang minum teh dengan ayahnya. Mereka terlihat tanpa beban. Raut wajahnya seperti biasa.
"Ma!"panggil Zest kesal.
Imelda dan Xavi terkejut melihat kedatangan putrinya yang tak lain adalah Ratu Artaleta. Mereka berdua serempak berdiri dan menganggukkan kepalanya. "Paduka Ratu.." ucap Xavi memberi hormat.
"Papa, aku tidak butuh semua itu. Aku hanya ingin mengetahui tentang kejadian beberapa hari yang lalu. Apa yang terjadi? Mengapa tidak ada yang memberitahuku?" seru Zest kesal.
"Jika Paduka mau mendengar ceritanya, lebih baik hamba pergi. Silahkan berbicara dengan istri hamba." jawab Xavi sambil meninggalkan mereka bertiga.
Kini mereka ada tiga orang. Zest, Imelda dan Nisa.
"Apa yang terjadi ma? Apakah benar yang aku dengar?"
Imelda tersenyum. "Yang mana?"
" Kakak akan bercerai? Nicole pergi meninggalkan kakak? Atau mama akan melegalkan Nicole menjadi anak mama?" tanya Zest sedikit frustasi. Ia bahkan belum duduk di kursi yang tersedia. Imelda menarik lengan Zest dan memintanya untuk duduk.
" Mama akan jawab satu persatu. Cerai? Mama tidak akan biarkan itu terjadi. Kedua, Nicole meninggalkan kakakmu? Tentu saja itu yang mama harapkan agar kakakmu sadar dengan perasaannya. Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh Nicole. Lalu ketiga, Nicole akan dilegalkan menjadi keluarga Vanguard? Tentu saja tidak. Kau tahu bukan riwayat keluarga Edgar? Mana mungkin mama dan papamu akan melakukannya. Mama hanya menakut-nakuti kakakmu." Zest dapat bernafas lega. Wajahnya mulai menghangat. Ketika mendengar cerita tadi malam, ia ingin cepat-cepat berlari ke rumah orangtuanya.
"Lalu dimana Nicole berada?"
"Nicole sudah mama simpan di tempat yang aman. Kakakmu Vale tidak dapat menemukannya."
"Apakah Nicole mau?"
"Awalnya tidak mau, namun mama bisa meyakinkannya. Karena itulah Elissa berada disamping Nicole."
__ADS_1
Suasana tempat itu ramai, tarian para wanita penghibur menjadi satu diantaranya. Berbagai jenis bir yang tersedia ditempat itu menjadi alasan mengapa disana sangat ramai. Balmore. Tempat itu dinamakan Balmore. Tidak ada yang tidak mengetahui mengenai Balmore. Siapapun. Bahkan orang miskin sekalipun.
Di meja panjang yang terbuat dari batu marmer itu terdapat beberapa gelas bir yang sudah kosong. Seorang pria sudah terlihat kepayahan akibat mabuk. Matanya merah dan rambut acak-acakan. Ia meminum bir di gelas terakhir.
"Satu lagi!" serunya.
"Maaf mylord, kau sudah terlalu mabuk." jawab pelayan disana.
"Aku tidak peduli. Cepat berikan aku satu gelas lagi!" Vale menggebrak meja dengan kesal. Pelayan itu ketakutan, iapun memberikan satu gelas bir kembali.
Seorang wanita cantik menghampirinya. Tidak ada yang tidak mengenalnya. Ia berjalan dengan anggun. Semua pria yang ada disana terpesona dengan kecantikannya. Banyak yang bersiul ketika ia berjalan. Namun hanya satu yang tidak bersiul. Pria itu adalah Vale.
"Mylord" bisik wanita itu. Ia memeluk Vale dari belakang.
Vale tersenyum. Ia memegang tangan yang melingkar di perutnya. "Nicole!" panggilnya.
"Ayo kita pergi, mylord. Aku sudah menyiapkan tempat agar kita bisa berdua." ucap wanita itu menggodanya
Vale turun dari tempat duduk dan memeluk wanita itu. "Aku merindukanmu!"
Merekapun berjalan keluar dari tempat itu. Vale berjalan dipapah oleh wanita yang ia pikir adalah Nicole.
"Kalian pikir bisa kemana?" tanya Juan yang saat itu tiba-tiba sudah berada di pintu masuk Balmore.
Wanita itu terkejut dan melepaskan pelukan Vale dengan cepat. Ia gugup. "Selamat siang,paduka."
Juan menatap wanita itu dari atas ke bawah.
"Aku tahu kau siapa. Jangan pernah melibatkan Vale atas semua skandal-skandalmu, Bella!"
__ADS_1
"Apa maksudmu, paduka?" tanya Bella gugup.
"Apa kau pikir aku tidak tahu, banyak pria yang berpisah dengan istrinya gara-gara rayuan konyolmu itu! Lepaskan Vale dan pergi dari sini! Dia bukan mangsa mu!" seru Juan marah.
"Baik paduka.." jawab Bella takut. Ia langsung melepaskan pelukan Vale dan berlari terbirit-birit.
Juan menghampiri Vale yang kini duduk dilantai. Ia menepuk pipi sahabatnya. "Hei! bangun!"
Vale tidak membuka matanya. Ia hanya bergumam dan menyebut nama Nicole.
Juan tersenyum. "Aku bukan Nicole. Aku adalah sahabatmu. Kau menyesal bukan sekarang? Aku pernah merasakannya, dan sekarang kau yang merasakannya. Hanya satu wanita yang melakukannya dan itu adalah Nicole."
Juan menoleh kebelakang. Ia melihat pengawalnya. " Bawa Vale ke rumah orangtuanya. Aku akan mengikuti kalian dari belakang setelah urusanku disini beres."
"Baik,paduka!" seru pengawal itu.
Zest dan Imelda melirik dibalik pintu kamar Vale. Imelda tidak terkejut ketika melihat Vale diantar pengawal istana dalam keadaan tidak sadar.
"Kasihan kakak." ucap Zest sedih.
"Ia pantas. Jika tidak seperti itu, kakakmu tidak akan sadar kalau ia mencintai Nicole."
Zest melihat ibunya. Entah apa yang direncanakan ibu nya kali ini.
Ketika Vale terbangun malam harinya, ia sadar berada di rumah orangtuanya. "Nicole" bisiknya. Iapun langsung berlari keluar kamar. Terdengar sayup-sayup suara orang yang sedang berbicara.
"Acara pelantikan gelar Vale sebagai penerus Duke of Vanguard apa masih bisa dilaksanakan paduka?" tanya Xavi serius.
"Aku pikir masih bisa, asal Vale bersedia. Tapi mengingat kejadian kemarin, aku ragu." jawab Juan.
__ADS_1
"Aku menolak gelar itu jika Nicole belum ada disini." ucap Vale. Semua orang berbalik menatap Vale.