
"Apa? Apa yang kau katakan, mama!" Sahut Zest saat mendengar cerita dari ibunya mengenai kakaknya dan Nicole. "Bagaimana mungkin kakak tega melakukan itu?"tambahnya.
"Ratu, kita harus melakukan sesuatu." Ucap Imelda.
"Ya, kita harus melakukan sesuatu." Zest menoleh pada Juan. "Sayang, apakah kau memang memerintahkan kakak untuk menggantikanmu?"
"Tidak pernah sekalipun. Ia yang bersikeras untuk melakukannya. Awalnya aku memang tidak mengetahui maksudnya seperti itu. Jika Vale melakukan pernikahan ini dengan maksud yang tidak baik, aku yang akan melakukan sesuatu. Aku akan mengirim mereka berdua ke acara undangan pernikahan anak Raja Dalles. Aku akan meminta mereka untuk pergi berdua menggantikan kita"
"Hamba tidak menyangka Vale dapat melakukan hal seperti itu." ucap Imelda sedih.
Juan berdeham. "Sebenarnya, Vale telah mencintai Nicole sejak usia 15 tahun. Ketika dia mabuk, aku sempat bertanya tentang perasaannya pada Nicole. Sehari sebelum pernikahan mereka."
Zest dan Imelda sama-sama terkejut. Juan tersenyum dan melanjutkan kembali ucapannya. "Kalian berdua tahu, bagaimana hubunganku dengan Nicole dimasa lalu. Tapi aku bersumpah,itu bukan cinta. Aku telah memikirnya saat kami berpisah. Aku menyayangi Nicole sama seperti sayang kepada saudara. Kami pernah dipertemukan ketika kecil. Tapi, itu tidak ada hubungan ketika aku bertemu denganmu. Itu jauh setelah kau diculik dan aku melupakanmu." ucap Juan sambil menatap Zest.
"Aku pernah mendengarnya, sayang. Sekarang aku hanya ingin bertanya. Mengapa kakakku begitu membenci Nicole?" Sahut Zest.
"Mungkin karena Nicole pernah mengkhianatiku. Aku pikir itu bukan yang sebenarnya. Aku salah setelah mengetahui jika Nicole mencari jenazah kedua orangtua nya. Ia harus fokus dalam pencarian sehingga ia memutuskan kami untuk berpisah. Aku telah membujuk Vale tentang hal ini. Tapi sepertinya dia menutup mata. Terlebih ia menemukan Nicole bertemu dengan seorang pria di Balmore. Saat aku selidiki, pria itu adalah pamannya. Lebih tepatnya ayah Lisa. Nicole hampir frustasi ketika tidak dapat menemukan orangtuanya. Itu wajar dan aku mengerti. Aku tidak tahu bagaimana membujuk Vale. Padahal ia tahu kejadiannya seperti itu."
"Kapan paduka mengetahuinya?"tanya Imelda.
__ADS_1
"Sejak aku menikahi Zest. Perlahan aku tahu semua kebenarannya."
"Jika kepergian mereka ke Dalles tidak memberikan hasil. Hamba akan melakukan sesuatu." Ucap Imelda.
"Apa yang akan kau lakukan, mama?" Tanya Zest
Imelda tidak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul.
Vale melihat Nicole dari balik jendela ruang kerjanya. Wanita itu seperti biasanya. Berada dikebun bunga miliknya. Ia merasa pagi ini wanita itu tetap menjauhinya. Sudah lebih dari seminggu Nicole menjadi orang yang berbeda. Ia tidak mau menatap matanya. Bahkan ketika mereka berada didalam satu ruangan, Nicole seperti memasang badan. Ada apa dengan Nicole?
Tunggu? Mengapa ia merasa kosong? Bukankah ini yang ia inginkan? Bukan, ia tidak menginginkan Nicole jauh dari sisinya? Berbagai perasaan berkecamuk didalam dada Vale. Ketika ia melihat kembali Nicole dari jendela ruangannya, ia melihat Nicole berjalan terhuyung. Nicole jatuh pingsan didepan matanya. Vale terbelalak. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menuju kebun tempat dimana Nicole pingsan.
Nicole merasa kepalanya sangat pusing. Semalaman, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ingin sekali ia tidur tapi ketika melihat suaminya, ia waspada. Ia tidak mau mendengar ucapan yang menyakiti hatinya. Sejak malam itu, ia mencoba menjauhi Vale.
Nicole merasa badannya lemas dan kepalanya berputar. Ia ingin tidur dan lelah. Kakinya tak mampu menahan tubuhnya. Ia tidak merasakan apa-apa lagi selain hilang kesadaran.
Tak lama, ia merasakan tubuhnya seperti diangkat oleh seseorang. Ia merasa hangat. Siapa yang mengangkatnya? Sepertinya Ia harus berterima kasih padanya.
"Elissa!" teriak Vale panik. Ia berjalan cepat sambil mengangkat tubuh Nicole menuju kamarnya.
__ADS_1
Elisa bergegas untuk mencari minyak untuk menyadarkan Nicole. Ketika melihat wajah pucatnya pagi ini, ia yakin semalam telah terjadi sesuatu. Elissa tahu Nicole tidak pernah bisa tidur nyenyak. Tiga hari kebelakang ia mendapati Nicole bermimpi buruk ketika tidur siang. Vale tidak mengetahuinya karena ia menutup ruang kerja nya rapat-rapat.
Ketika ia berada dipintu kamar, langkahnya terhenti. Kedua mata Vale menatap wajah pucat Nicole. Tatapannya tidak pernah sekalipun terlihat seperti itu. Tatapan seorang suami yang merasa kesakitan ketika melihat istrinya sakit. Ia terlihat panik. Tiba-tiba Vale duduk disamping tempat tidur dan memegang salah satu tangan Nicole. Ia mencium tangan Nicole sambil berbisik. Elissa tidak dapat mendengar dengan pasti apa yang Vale bisikkan. Melihat hal itu, hati Elissa sedikit bergetar. Ia merasa senang. "Lady, andaikan kau melihat apa yang Tuan lakukan? Ia khawatir padamu." Bisiknya. Iapun mengetuk pintu perlahan.
Vale melepaskan tangan Nicole dan berdiri. Ia melihat Elissa membawakan nampan. Valepun menyingkir tanpa melepaskan tatapannya pada Nicole. Elissa mulai menggosok-gosokkan tangannya pada tangan Nicole seraya memanggil-manggil nama Nicole.
Perlahan Nicole membuka matanya. Ia bingung melihat Elissa yang sedang tersenyum padanya. "Ada apa Eli?"
"Kau tadi pingsan, Lady. Kau kenapa? Apakah kau sakit? Apa yang kau rasakan?"
Nicole menggelengkan kepalanya. "Kepalaku tiba-tiba terasa pusing dan berputar. Aku tidak ingat lagi."
"Kalau begitu istirahatlah Lady. Mungkin tadi malam kau kurang tidur." Ucap Elisa sambil membawa nampan keluar.
Nicole menaikkan selimutnya hingga menutupi lehernya. Ia tidak tahu jika Vale tengah menatapnya disofa. Perasaan Vale menjadi tenang ketika melihat Nicole sudah siuman. Melihatnya jatuh seperti tadi membuat jantungnya berdebar dengan kencang. Ia takut terjadi sesuatu pada Nicole. "Kau baik-baik saja?"tanyanya kemudian. Ia tahu Nicole terkejut mendengar suaranya.
"Ya, aku baik-baik saja." jawab Nicole pelan.
Vale mendekati tubuh Nicole. "Tidurlah." Ucapnya sambil menyentuh kepala Nicole dengan tangannya. Iapun keluar dari kamar.
__ADS_1
Nicole merasa jantungnya berdebar dengan kencang. Ia tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan itu dari Vale. Nicole menyentuh dadanya. Mengapa jantungnya tidak mau berhenti berdebar?