My Annoying Duke

My Annoying Duke
Cemburu


__ADS_3

Imelda menatap kartu undangan pesta dansa untuknya yang biasa dilakukan oleh kerajaan. Ia akan membawa Nicole bersamanya. Sudah seminggu Vale tidak bisa menemukan istrinya. Sudah saatnya ia mempertemukan keduanya. Sudah cukup membuat Vale tersiksa karena kehilangan Nicole.


Teringat ketika satu hari setelah Nicole pergi, Vale datang seperti pria tanpa arah. Ia mencari kesetiap sudut ruangan dan kamar hanya berharap untuk menemukan Nicole. Tapi ia tidak dapat menemukannya. Ia juga teringat ketika anak nakal itu menangisi Nicole karena hampir menyerah untuk dapat menemukannya. Namun pada akhirnya ia berakhir di Balmore dan mabuk-mabukan.


Melihatnya seperti itu, Imelda yakin jika Vale mencintai istrinya. Ia tidak tahu bagaimana keadaan Vale sekarang. Menurut Zest, kakaknya telah pindah dari istana Arsy dan tinggal di rumah miliknya yang tidak jauh dari rumah Nicole. Awalnya Raja Juan memberikan istana khusus untuk Vale dan Nicole. Namun Vale menolaknya dengan alasan tidak jelas. Padahal istana itu tidak jauh dari Artaleta. Istana tempat Nicole beradapun tidak sepenuhnya Vale tahu.


Terdengar suara kereta kuda diluar. Ia menghampiri pintu dan membukanya. Imelda tersenyum ketika melihat Nicole keluar dari kereta. Wajahnya sedikit pucat. Ia sedikit khawatir karenanya. Iapun menghampirinya. “Kenapa sayang? Wajahmu pucat. Kau sakit?”


"Lady Nicole hanya kelelahan, Myduchess.” Jawab Elisa.


"Aku baik-baik saja, ma." jawab Nicole sambil tersenyum.


“Antarkan kekamarnya cepat. Setelah itu kau harus menemuiku dikamar.” Ujar Imelda pada Elisa.


“Baik Myduchess.” Jawab Elisa sambil memapah Nicole.


“Maafkan aku mama. Mungkin setelah beristirahat sebentar aku akan baikan. ” Jawab Nicole.


“Tidak perlu meminta maaf, sayang. Istirahatlah beberapa waktu. Nanti malam kita harus keistana. Kau masih harus bersiap-siap."


Imelda menunggu dengan resah di kamarnya. Ia menunggu Elissa dan ingin mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. Terdengar pintu kamarnya diketuk tak lama kemudian. Imelda langsung membuka pintu dengan cepat.


“Ada apa dengan anakku?” selidik Imelda.


“Tidak ada apa-apa. Mylady kelelahan karena aktifitasnya kemarin.”


Imelda membelalakkan matanya. “Aktifitas apa?"


"Semalaman ia kurang tidur karena berbincang dengan Lady Lisa."


"Kau dengar apa yang mereka bicarakan?" tanya Imelda penasaran.

__ADS_1


Elissa menggelengkan kepalanya. Iapun sedikit kecewa. "Kau bersihkan sepatu yang akan aku pakai nanti malam."


"Baik myduchess."


Imelda melihat gaun yang akan ia pakai untuk acara nanti malam. Sepertinya malam ini akan indah.


"Apakah gaun sudah disiapkan? Tiara?" tanya Imelda pada Elissa yang tengah membersihkan sepatu milik Imelda.


"Sudah siap semua, myduchess. Sebenarnya mylady kesini pun karena satu hal. Tadinya saya yang akan pergi, tapi mylady tidak mau. Mylady sendiri yang akan mengatakannya."


"Ya ma, nanti malam aku tidak bisa pergi denganmu." ucap Nicole sesaat setelah membuka pintu.


"Mengapa?"tanya Imelda sedikit kecewa.


"Ada sesuatu yang akan kami kerjakan." jawab Nicole dengan senyuman liciknya. Imelda tanpa bertanyapun sudah curiga tentang rencana Nicole.


Vale tengah bersiap-siap untuk pergi ke Istana. Hari ini sudah dapat dipastikan ia akan bertemu dengan Nicole, istrinya. Ia sudah sangat merindukan wanita itu. Bagaimana ia sekarang? Dimana ia bersembunyi?


Iapun berjalan keluar dan menaiki kudanya. Ia menempuh perjalanan selama setengah jam. Dan tentu saja, sebelum Nicole tiba, ia harus tiba terlebih dahulu. Ia ingin melihatnya ketika turun dari kereta. Seperti yang biasa ia lakukan ketika masih muda.


Beberapa kereta sudah tiba. Para undanganpun mulai memasuki Istana. Vale berdiri tak jauh dari tempat kereta berhenti.


“Mylord, anda dipanggil oleh Paduka Raja didalam. Beliau mengatakan segera.” Ucap pelayan itu.


Vale mendesah kesal. Ia tahu jika Juan sengaja melakukannya. Iapun berjalan menuju tempat Juan dan Zest berada. Kehamilan Zest sudah semakin terlihat. Ia tiba-tiba membayangkan jika Nicole yang sedang mengandung anaknya. Sepertinya rasanya benar-benar membahagiakan.


“Ada apa Paduka? Anda memanggil?” ucap Vale.


“Ya. Aku ingin meminta ijin padamu. Ketika set terakhir nanti, bolehkah aku berdansa dengan istrimu?” Zest yang berada disamping Juan tersenyum penuh arti.


“Tidak. Maafkan saya Paduka, tapi malam ini Nicole tidak boleh berdansa dengan siapapun kecuali saya sendiri.” Jawab Vale lantang.

__ADS_1


“Dan kakak iparku memang baru saja datang. Ia cantik sekali. Apakah kau yakin kak, jika istrimu tidak akan berdansa dengan orang lain” Ucap Zest ketika ia melihat kearah pintu.


Vale dengan cepat membalikkan tubuhnya dan melihat sosok itu. Ia terkejut melihat Nicole menggandeng seorang pria.


Kereta kuda berhenti. Nicole mendesah karena pada akhirnya mereka tiba. Ia sedikit berdebar membayangkan apa yang akan terjadi. Marquise Evander turun terlebih dahulu. Ia membantu Nicole turun dari kereta.


"Aku minta maaf karena melibatkanmu malam ini." bisik Nicole.


Marquise Evander tersenyum. " Tidak masalah mylady. Jika suamimu cemburu karena malam ini, kalian berhasil. Lagipula Lisa sudah menyetujuinya. Demi Lisa, saya siap melakukannya."


"Terimakasih. Kau baik sekali, aku senang Lisa memilihmu."


Marquise muda itupun mengangkat salah satu tangannya untuk menjadi pegangan ketika Nicole turun.


Imelda menghampirinya karena ia sudah sampai terlebih dahulu. Ia tersenyum melihat Nicole dan Marquise Evander.


"Mama tidak menyangka rencanamu sangat bagus, sayang." bisik Imelda.


"Mama tahu dimana mylord?"


"Mama pasti tahu. Ia terkejut melihat kalian. Ia berada dibelakang pilar." jawab Imelda dengan sedikit senyum dibibirnya. Ia begitu puas malam ini. Tinggal melihat bagaimana reaksi Vale selanjutnya.


Mereka berduapun memasuki istana. Beberapa pasang mata nampak terpesona melihat kedua wanita itu. Nicole melihat sosok itu. Vale sedang menatapnya tajam. Kini ia berada disamping Zest.


Imelda dan Nicole menundukkan kepalanya. “Selamat malam Paduka.” Ucap Imelda dan Nicole bersamaan.


“Selamat malam mama. Kalian berdua terlihat cantik sekali. Terutama kau, Nicole.”ucap Juan sambil melirik Vale. Vale terlihat cemburu dan itu benar-benar membuat Juan senang.


Zest menarik lengan Nicole. “Ayo ikut aku sebentar.”


“Baik Paduka Ratu.” Nicole mengikuti langkah Zest.

__ADS_1


Juan menatap kepergian keduanya sambil mengerutkan keningnya.


__ADS_2