
Nicole masuk kedalam istal kuda dan menutup pintu dengan cepat. Ia menyandarkan punggungnya dibelakang pintu. Kedua tangannya menekan dadanya hingga bunga-bunga yang masih tersisa ditangannya terjatuh. Ia merasakan sakit yang menggores hatinya. Airmatanya turun perlahan. Ia menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar keluar.
Vale masuk kedalam istana tanpa beban apapun.
"Tuan keterlaluan!" Ucap seseorang dibelakangnya. Ketika itu Vale membalikkan tubuhnya. Ia melihat pelayan tua itu tengah berkacak pinggang padanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku memang hanya pelayanmu. Tapi sesuai amanat ibumu, aku berhak mengkritik sikapmu pada lady Nicole. Kau sungguh keterlaluan. Aku merasa sedih kepada mylady" Ujar Elissa kesal
"Apakah kau sudah terkena tipu muslihat iblis itu?" tanya Vale sambil berjalan.
Elissa membelalakkan matanya. "Iblis? Ya Tuhan, Tuan.. kau sudah melewati batas."
Vale masuk kedalam ruang kerjanya diikuti oleh Elisa. "Perempuan tua, kau jangan terkena tipu gadis itu. Ia tidak seperti yang kau pikirkan. Hatinya busuk begitu pula dengan sikapnya. Kau akan mengetahuinya nanti. Kau pikir aku ingin menikah dengan gadis itu?"
"Kalau kau tidak ingin menikah dengan mylady, kenapa kau melakukannya?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin bermain-main dengannya." Jawabnya sambil tertawa sinis.
"Tuan, sejak kapan kau menjadi kejam seperti ini? Kalau kau memang berniat bermain-main, aku harap kau melepaskannya. Aku kasihan. Selama kalian menikah ia selalu sendirian. Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun. Setiap hari mylady selalu mencari kesibukan. Kau tidak menyadari kalau mylady sekarang tidak menjaga dirinya sendiri?"
Vale diam. Ia mengeluarkan satu batang rokok dan menyalakannya.
"Aku akan membuat kau menyesalinya." Ketus Elissa sambil berjalan keluar. Vale hanya tersenyum samar.
Vale berjalan menuju beranda. Ia ingin membuka jendela itu, tapi ia urungkan ketika melihat sosok Nicole keluar dari istal kuda. Wajahnya terlihat lelah dan benar kata Elissa tadi. Nicole tidak menjaga dirinya sendiri. Padahal ia adalah seorang lady sebelumnya. Tadi ketika mereka bertemu, ia tidak dapat melihatnya. Beberapa rambut yang keluar dari kepangan rambutnya ia biarkan seperti itu. Sedikit penyesalan menghinggapi dadanya. Ia menjadi sedikit ragu.
Tak lama kemudian suara pintu terbuka. Vale masuk kedalam kamar. Ia melangkah mendekati ranjang. Nicole tidak turun ketika makan malam. Sepertinya ia memang kelelahan. Walaupun kelelahan, Nicole harus makan! Suara hati Vale membisikinya. Ia bisa sakit. Haruskah ia bangunkan gadis ini?
Iapun menggelengkan kepalanya. Sebaiknya iapun merebahkan diri diranjang itu karena ia pun tidak cukup istirahat seminggu ini. Ketika merebahkan tubuhnya, ia tidak menyangka gadis itu membuka matanya. Ia terkejut sekaligus bingung.
"Maafkan aku, aku akan pindah kesofa." Ucap Nicole sambil membuka selimutnya.
"Sudahlah, aku ingin tidur dan istirahat. Kau lanjutkanlah tidurmu." Ucap Vale tanpa ragu sambil memegang lengan Nicole.
__ADS_1
Nicolepun merebahkan tubuhnya kembali. Tapi ia tidak bisa langsung tidur. Berada satu ranjang untuk pertama kalinya dengan suaminya membuat jantungnya berdebar. Ia memang sudah jatuh cinta pada suaminya sejak hari pernikahan mereka dilangsungkan. Dan setiap hari semakin dalam walaupun ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya. Tapi ia yakin suatu hari Vale akan mencintainya melebihi cintanya.
Mereka berdua terdiam dalam keheningan. Yang ada hanya hati mereka yang saling berbicara.
"Kau tidak makan malam?" tanya Vale tiba-tiba dengan mata tertutup.
Nicole menoleh pada Vale. "Aku tidak lapar."
"Besok pagi kita harus ke Artaleta. Ibuku ingin bertemu denganmu pagi-pagi. Aku akan mengantarmu kerumah. Aku harap kau baik-baik saja." Ucap Vale sambil membuka matanya. Ia menatap Nicole.
"Baiklah." Jawab Nicole pelan dan membalikkan wajahnya karena malu.
Akhirnya, Vale mau berbicara dengannya. Nicole tersenyum samar sambil membalikkan badannya kesamping.
Seseorang tengah berjalan menuju ruangan paling gelap diistana. Wajahnya menyunggingkan senyuman. Malam ini ia ingin sekali membalaskan dendam pada Vale. Ketika tuas listrik itu ditarik, istana menjadi gelap gulita. Ia tersenyum puas.
"Siapa suruh kau bermain-main pada mylady. Rasakan kau tuan muda. Aku akan membuatmu jatuh cinta pada mylady." Ucap Elissa sambil berjalan kembali menuju kamar utama. Ia membawa lilin untuk menerangi langkahnya.
__ADS_1