
Vale mencari keberadaan Nicole dipesta itu. Pesta telah berakhir namun sosok itu tidak terlihat lagi. Begitu pula dengan pria yang datang bersama Nicole.
"Kak!" panggil Ratu Zest.
Vale membalikkan tubuhnya dan melihat adiknya sedang berjalan mendekatinya.
"Ada apa Paduka Ratu?" tanya Vale serius.
"Kau tidak boleh pulang. Kau harus menemani Juan untuk membereskan pekerjaannya. Esok ia akan pergi menemui Raja Dalles untuk membicarakan masalah perbatasan. Juan akan pergi pagi sekali."
"Tapi Paduka, maafkan aku. Aku harus mencari Nicole saat ini. Nanti aku kembali dan kita berbicara.
Zest mendesah. "Nicole sudah pulang dari tadi."
Vale hanya menatap adiknya.
"Kau menyesal bukan? Tadi Nicole menangis. Kalau kau mencintainya, kenapa kau diam saja?" seru Zest kesal. Padahal ia berbohong. Nicole tidak pernah menangis sedikitpun.
Vale tidak berkata apapun. Zest marah dan mencubit lengan kakaknya.
"Kakak!" teriak Zest. "Aku menyayangimu kak, tolong jangan seperti itu. Kau menyakiti Nicole. Sudah cukup kak, jangan biarkan Nicole pergi untuk kedua kalinya." tambahnya.
"Apakah kau tahu dimana Nicole tinggal?" tanya Vale. Mendengar Zest mengatakan hal itu, ia ketakutan "Aku ingin menemuinya sekarang."
"Aku tidak akan mengatakannya jika kau tidak tinggal disini untuk pergi bersama Juan esok pagi."
Vale menatap wajah Zest. "Baiklah, aku akan tinggal disini."
"Apakah kau akan memberitahu perasaanmu padanya saat kalian bertemu?" tanya Zest.
"Akan aku coba." jawab Vale.
"Tidak bisa hanya dicoba. Tapi harus." ucap Juan yang saat itu tiba-tiba sudah ada dibelakangnya. "Nicole telah menunggu lama."
Nicole membuka matanya. Ia tertegun ketika melihat sekeliling kamarnya. Ia tidak ingat kamarnya telah berubah. Iapun bangun. Ini bukan kamarnya. Ia ingat ketika tadi di pesta, Ratu Zest memberikan minuman padanya.
Kamar itu indah dan luas. Tempat tidurnya memiliki ukiran emas. Di setiap sisi terdapat kelambu yang dapat dibuka dan ditutup. Disebelah kanan tempat tidur, terdapat sofa pendek yang selaras dengan tempat tidurnya. Permadani yang ia injak sangat halus. Ia yakin sekali permadani yang ia injak bukan buatan Artaleta. Pintu kaca yang ada didepannya terdapat gorden yang menjuntai. Ketika dibuka, angin malam masuk dan gorden itu melambai mengikuti angin malam. Ia tidak merasa dingin sedikitpun. Ia berada dimana? Karena penasaran, iapun keluar dan berdiri di beranda. Ia berada dilantai tiga istana Artaleta, karena kebun yang ada dibelakangnya ia cukup tahu siapa pemiliknya.
Petir menggelegar seketika, Nicole menatap langit yang mulai gelap. Iapun berjalan masuk kedalam kamar tanpa berniat menutup pintu itu. Ia ingin melihat ketika hujan turun. Tiba-tiba terdengar suara berat dibelakangnya.
"Nicole!"
Nicole membalikkan tubuhnya. Ia terkejut melihat Vale berada didepan pintu beranda.
__ADS_1
Vale yakin ada yang direncanakan oleh adiknya. Tidak pernah sekalipun ia menginap di kamar istana. Suara petir itu bersautan. Vale merasakan nalurinya untuk berjalan keluar. Ia terdiam di beranda dan melihat langit. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan itu bukan dikamar yang ditinggalinya saat ini. Ingin sekali ia melihat siapa yang membukanya. Ia menoleh ke samping kiri dan kanan, namun pintu itu tertutup. Ketika ia menundukkan kepalanya kebawah, ia terkejut ketika melihat Nicole berada di kamar bawah. Tanpa menunggu lama, iapun langsung memanjat tembok pagar beranda. Tubuhnya tergantung sejenak sampai kakinya dapat mendarat dengan sempurna dilantai kamar yang ditempati Nicole.
Nicole tidak dapat berkata apapun. Sosok itu berlari menghampirinya. Dengan cepat ia merasa sudah berada di pelukan sosok itu. Ia dipeluk dengan sangat erat.
"Maafkan aku, tolong maafkan aku!" ucapnya sambil terisak.
Tidak pernah dalam hidupnya, ia melihat seorang pria menangis. Apakah ia sedang bermimpi?
Nicole mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan pria itu. Itu nyata, ia sedang memeluk pria yang paling ditunggunya malam ini.
Vale melepaskan pelukannya dan menatap Nicole. "Tolong maafkan aku, tidak ada maksudku melukaimu dengan sengaja."
Nicole mengangkat jarinya dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Vale. Ia tersenyum. "Aku memaafkan mu, mylord."
Vale langsung memeluk Nicole kembali. "Pagi itu aku benar-benar melukaimu. Aku pengecut. Aku pantas dipukul. Aku tidak pernah menyesal melakukannya. Aku hanya menyesal pada perkataan ku padamu pagi itu. Aku bingung ketika pagi itu cepat berlalu. Aku melihatmu begitu senang dan aku takut untuk menyadari bahwa aku masih mencintaimu, Nicole!"
"Aku pun mencintaimu, mylord." jawan Nicole.
Vale melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Nicole. "Benarkah?"
Nicole mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia sangat bahagia karena akhirnya perasaannya tersampaikan. Dan malam ini ia merasa Nicole semakin cantik. Rambutnya pirang dan terurai panjang. Sedikit berantakan namun itulah yang menjadikannya semakin cantik. Jari-jarinya terulur untuk merapikan rambutnya. Tidak ada make up diwajahnya. Perlahan Vale menundukkan wajahnya ketika Nicole menutup mata. Tiba-tiba pintu kamar Nicole diketuk dengan kencang.
Nicole membuka matanya dan mereka saling melepaskan diri.
Vale langsung didorong oleh Nicole keluar kamar. "Tunggu aku disini." bisiknya.
Nicole menutup pintu beranda dan berlari ke pintu utama untuk membuka pintu.
Elissa masuk dengan membawa nampan berisi pakaian tidur Nicole.
"Mylady.. kenapa sangat lama sekali membuka pintu, saya khawatir." tanya Elissa. Ia menatap kesekeliling kamarnya. Ia tersenyum ketika melihat bayangan dibalik pintu.
"Aku sedang tidur, Elissa."
"Maafkan aku mengganggu tidurmu, mylady. Tapi kau tidak bisa tidur menggunakan gaun itu. Kau harus menggantinya dengan gaun tidur."
"Elissa, kenapa aku bisa berada dikamar istana?" tanya Nicole serius.
"Kau tidak sadarkan diri saat baru saja meminum wine."
Nicole mengerutkan keningnya. Ia tidak meminum minuman yang aneh malam ini. Ia menatap Elissa. Ia yakin ada yang disembunyikan. Elissa gugup dan dengan cepat ia berjalan keluar setelah menyimpan nampan itu di atas tempat tidur.
"Selamat beristirahat mylady. Semoga malam mu menyenangkan. Dan jangan lupa untuk mengunci pintu rapat-rapat." ucap Elisa sambil tersenyum. Nicole mengerutkan keningnya. Ketika berbalik, Nicole terkejut melihat Vale sudah berada dibelakangnya. Ia mendorong tubuh Nicole ke pintu.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa mengganggu kita malam ini." bisik Vale sambil menundukkan wajahnya. Nicole menutup matanya ketika Vale mencium bibirnya dengan lembut.
"Sejak kapan kau mencintaiku, mylord?" tanya Nicole. Ia berada dipangkuan Vale dan lengan pria itu memeluknya dari belakang.
"Kau ingat ketika kau berumur 10 tahun aku sering dibawa papa ku dan Raja Phillip bertemu dengan kakek mu?"
Nicole menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingat."
"Sejak saat itu aku mulai mencari tahu tentangmu. Aku sering minta ikut ketika papa pergi ke rumah kakek mu hanya untuk melihat mu bermain. Sekecil itu kau sudah cantik dan aku langsung menyukaimu. Kau cinta pertamaku. Aku sedih ketika kau sudah pindah keluar negeri untuk belajar." Vale menundukkan wajahnya dan menyimpannya di bahu Nicole.
"Lalu, saat aku menjalin cinta dengan Juan?" tanya Nicole serius.
"Itu adalah hal terberat dalam hidupku. Ketika aku melihatmu berada disekolah yang sama, aku bahagia. Walaupun kau menjalin cinta dengan Juan, akupun bahagia karena melihatmu bahagia. Aku tidak menginginkan yang lain asal kau bahagia."
"Oh mylord, aku tidak menyangka cintamu begitu dalam. Maafkan aku!" bisik Nicole sambil memeluknya. "Lalu kenapa kau jahat padaku?"
"Aku melakukannya tanpa sadar. Seringkali aku merasa sebal pada diriku sendiri setiap kali aku jahat padamu. Memang sepertinya aku harus mendapat gelar calon duke yang menyebalkan." ucapnya sambil tersenyum. "Tapi walaupun menyebalkan, kau masih mencintaiku. Aku bahagia." Vale tersenyum senang. "Lalu sejak kapan kau mencintaiku?" tambahnya.
"Sejak hari pernikahan kita. Aku ingin berubah menjadi lebih baik ketika menikah denganmu dan menebus kesalahanku karena menikah dengan niat yang salah. Aku tidak tahu kenapa kau begitu membenciku. Untuk itulah aku menerima lamaran ibumu saat itu."
"Yang terpenting hari ini. Bisakah kita lupakan masa itu?" jawab Vale senang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Iapun bertanya dengan serius. "Bisa kau jelaskan siapa Evander itu?"
Nicole beranjak dari pangkuan Vale. "Marques Evander. Ia sangat tampan bukan?" tanya Nicole sambil menatap Vale.
Wajah Vale langsung berubah. "Tampan?"
"Ya, sebenarnya Marques Evander adalah kekasih Lisa, sepupuku. Aku dan Lisa membuat rencana agar kau cemburu." jawab Nicole sambil tertawa. "Sepertinya aku berhasil."
"Apa? Kau mengerjai ku?" tanya Vale. ia langsung bangkit dari duduknya dan mengangkat tubuh Nicole dengan mudahnya. " Aku akan membalas semua perlakuanmu padaku!" ucapnya sambil membawanya ke tempat tidur.
Tanpa mereka sadari, ada beberapa orang berada didepan kamar mereka. Mereka semua menyunggingkan senyumannya.
"Rencanamu berhasil, sayang." bisik Juan sambil mengecup kepala Zest.
"Kau harus memberiku hadiah, paduka."
"Apapun akan aku kabulkan."
Saat tidak terdengar lagi suara dari dalam, mereka semua membubarkan diri. Hanya Elissa yang terdiam. Ia menitikkan air matanya terharu. Pada akhirnya mereka mendapatkan kebahagiaan. "Kau senang bukan?" tanya Nisa.
"Tentu saja Nisa, aku menunggu hari ini tiba."
"Ayo, kita harus pergi." ajak Nisa
__ADS_1