My Annoying Duke

My Annoying Duke
Kebahagiaan sesaat


__ADS_3

Ketika mereka telah sampai diistana keesokan harinya, Nicole langsung melakukan aktifitasnya seperti biasa. Ia pergi ke istal kuda untuk melihat kedua kuda mereka. Sedangkan Vale pergi ke istana untuk melapor kepada Raja mengenai undangan dari Dalles.


"Lady, sebaiknya hari ini anda tidak pergi berkuda seperti biasa. Saya khawatir akan turun hujan." Ucap Elisa cemas. Ia sesekali melihat keatas.


Nicole melihat keluar. Langit terlihat sangat cerah. Tidak mungkin akan turun hujan, pikirnya. "Sepertinya tidak, Elisa. Langit diluar sangat cerah. Aku pergi berkuda sebentar. Aku ingin menghidup udara disekitar hutan pinus ini. Aku belum pernah berkeliling mengitarinya. Aku ingin tahu apa yang biasa Raja Phillip lakukan ketika disini." ucap Nicole senang.


Elisa mengangguk. "Baiklah Lady, berhati-hatilah. Dan cepat pulang karena saya khawatir."


Nicole mengeluarkan kudanya dan mulai menyusuri hutan pinus yang menjulang tinggi.


"Sepertinya aku harus pulang." Ujar Vale ketika ia dan Juan berada ditaman istana. Mereka sedang merencanakan sesuatu.


"Apakah sesuatu telah terjadi? Antara kau dan Nicole?"


Vale menatap Juan. "Apa maksudmu paduka?"


"Jarang-jarang kau ingin cepat pulang. Kau baru berada disini beberapa waktu. Kini kau ingin cepat-cepat pulang." Juan menatap curiga pada Vale.


"Sepertinya akan turun hujan. Itulah alasanku untuk cepat pulang." Jelas Vale sambil melihat langit.


"Sayangnya aku tidak bisa membiarkanmu pulang. Kau harus menemaniku bermain cricket sebentar saja."


Vale mendesah. Jika raja yang memintanya, ia tidak bisa berbuat banyak. "Baiklah."


Hampir sore hari ketika hujan badai itu akhirnya berhenti. Vale memutuskan untuk pulang karena situasai telah aman. Hujan telah reda dan Raja telah beristirahat. Ketika kudanya mendekati istananya, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dari kejauhan ia dapat melihat Elisa tengah cemas. Elisa tidak pernah seperti itu. Ia tahu itu. Apakah terjadi sesuatu pada Nicole? Tidak!


Vale mempercepat kudanya. Ia langsung melompat ketika kuda itu berhenti. "Ada apa Eli?" Tanyanya cemas.


"Lady, Mylord. Lady belum pulang sejak siang."


Vale membelalakkan matanya. "Kemana?"


"Ia pergi seperti biasa dengan kudanya." Jawab Elisa


"Kuda? Apakah Nicole melarikan diri?" Vale tidak pernah menginginkan itu terjadi. Ia terus menatap Elisa tanpa berniat melepaskannya.


"Tidak. Lady hanya ingin mengelilingi hutan ini."


"Kenapa kau membiarkannya pergi seorang diri?"tanya Vale marah.


"Mylord, Lady hampir setiap hari pergi menggunakan kudanya. Tapi ia hanya pergi 30 menit saja. Namun kali ini Lady pergi sangat lama sekali. Malam hampir tiba tapi Lady belum pulang. Saya khawatir. Lady tidak mungkin pergi dari istana ini karena ia tidak membawa apa-apa. Tolong bawa Lady pulang, Mylord. Saya benar-benar khawatir."


"Aku akan mencarinya." Jawab Vale sambil menaiki kudanya. Ia akan mencari Nicole bahkan hingga keujung dunia sekalipun. Ia pasti menemukannya.

__ADS_1


Dilain tempat.


Nicole terbangun dengan tubuh berat. Ia sempat pingsan karena kedinginan. Suara-suara binatang mulai terdengar. Nicole memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan dan ketakutan. Ia tidak tahu bagaimana caranya bisa pulang. Jalan ke istana sangat jauh dan ia tidak tahu posisinya kini berada dimana. Ia sempat jalan kaki sebelum hujan badai itu datang. Kali ini tidak mungkin ia bisa berjalan kaki karena memar-memar.


Kuda kesayangannya hilang ketika ia simpan dan diikat ke pohon. Pada akhirnya Ia berlindung di sebuah pohon rindang ketika hujan itu mulai turun. Dan badai itu memporak-porandakan tumbuhan disekitarnya. Sayang, pohon besar itu tidak dapat menampung air hujan. Ia tetap basah dan kedinginan. Ia ingin pulang. Tangisan dan kedinginannya tidak berarti. Tidak ada yang bisa menolongnya.


"Mylord" Serunya disela tangisnya.


Kuda Vale melesat dengan kecepatan tinggi. Ia tahu semua daerah disini karena ayahnya sering mengajaknya untuk berburu.


"Nicole!" Panggil Vale kencang. Ia terus menajamkan tatapannya keberbagai penjuru. Dari kejauhan ia bisa melihat kuda Nicole terlihat bingung. Iapun turun. Vale berkeliling mencari. Nicole namun tidak dapat ditemukan. Iapun mengikat kuda Nicole dipohon.


"Nicole!" panggilnya menggema.


Nicole membalikkan badannya karena mendengar suara memanggilnya. Ia berdiri sambil memegang pohon dibelakangnya. Kedinginan menguras kekuatannya. Ia lemas dan duduk kembali sambil menunggu siapapun yang dapat menolongnya.


"Nicole!" panggil Vale.


Nicole terkejut melihat Vale berada diatas kudanya. Ia terlihat sangat cemas. Ia melihat Vale turun dari kudanya dengan cepat.


"Vale. Kau menemukanku?" Isak Nicole. Ketika ia bangkit, tubuhnya lemas sehingga ia jatuh terpungkur. Vale berlari menghampiri Nicole.


"Apa yang terjadi?"tanyanya cemas


"Aku melihat kudamu disana!" jawab Vale sambil menunjuk temppat dimana kuda Nicole berada.


"Kau bisa berdiri?"tambahnya.


"Kakiku sakit."


Vale melihat kaki Nicole memar-memar. Ia terkejut. "Ada apa dengan kakimu?"


"Tadi saat aku mencari tempat untuk berteduh, aku terkena ranting pohon yang berjatuhan." Ucap Nicole sambil sesekali terbatuk.


Vale mengangkat tubuh Nicole. "Kita pulang sekarang. Tubuhmu panas. Kau terkena demam."ucapnya.


"Maafkan aku sering membuatmu khawatir."


Vale menatap Nicole. "Yang terpenting kau baik-baik saja."


Vale membawa Nicole dengan cepat. Ia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Nicole.


Sesampainya diistana, Nicole langsung dibawa kekamar dan diberikan pertolongan langsung oleh Vale dan Elisa. Elisa terlihat sangat cemas.

__ADS_1


Vale menatap Nicole yang telah tertidur.


"Lady akan baik-baik saja, Mylord. Ia hanya demam karena tadi kehujanan. Anda tidak perlu khawatir. Luka dikakinya sudah dibalur. Kau tidak perlu cemas." ucap Elisa sambil membawa baskom air. "Anda ingin disiapkan makan malam?" tanyanya kembali.


"Sepertinya aku tidak merasakan nafsu makan. Kau keluarlah. Biar aku yang menjaga Nicole. Mungkin ia akan merasa nyaman jika saat terbangun ada aku disampingnya."


Elisa tersenyum. "Baiklah, Mylord. Selamat malam."


Nicole merasa tubuhnya hangat. Ia membuka matanya perlahan. Didepan matanya nampak tubuh seorang pria yang sedang memeluknya. Nicole bergerak perlahan. Seketika itu matanya terbuka. Vale sedang menatapnya. "Kau sudah baikan?" Tanyanya sambil memegang kening Nicole. Suhu tubuhnya sudah normal.


Nicole menganggukkan kepalanya. Ia mencoba melepaskan pelukannya. Vale pun mengendorkan pegangan tangannya. Ia membiarkan Nicole bangun dari tidurnya. "Aku ingin minum."ucap Nicole.


"Aku ambilkan. Kau diam disini." Vale melihat teko dimeja sampingnya kosong.


Ketika ia masuk kembali ke kamar, Nicole sedang duduk disamping tempat tidur. Ia menatap Nicole tanpa bergerak. Jantungnya berdegup dengan kencang.


"Ada apa?"tanya Nicole cemas. Iapun berjalan dan duduk disamping Nicole. Nicole dapat melihat keraguan di mata suaminya.


"Bisa kah aku meminta sesuatu?"tanya Vale ragu.


"Ya, katakan." Ucap Nicole tenang.


Tiba-tiba Vale memegang tangan Nicole. "Aku ingin tidur denganmu malam ini."


Nicole terkejut tapi kemudian ia tersenyum. "Baiklah, ayo kita lakukan." Jawabnya tenang.


"Apakah kau akan baik-baik saja?"


Nicole memegang kedua pipi Vale. "Ya"


Mendengar hal itu, tanpa pikir panjang Vale langsung merengkuh Nicole kedalam pelukannya. Mereka mulai belajar semua makna pernikahan dengan sesungguhnya.


Ketika pagi menjelang, Nicole perlahan keluar dari pelukan Vale.Ia terus tersenyum mengingat apa yang telah dilakukan Vale tadi malam. Vale memperlakukannya dengan sangat hati-hati walaupun sempat ada keraguan. Ia merasa dicintai dan ia memang mencintainya. Ia senang cintanya berbalas.


Nicole keluar dari kamar mandi dan menghampiri Vale yang masih tertidur. Ia tersenyum bahagia. Pagi ini ia akan membuat sarapan paling enak. Ia akan membuatkan makanan untuk Vale. Makanan terenak yang pernah dibuatnya.


Sambil bersenandung didapur, ia mulai memasak. Elissa yang melihatnyapun ikut bahagia melihat orang yang disayanginya bahagia. Ia meninggalkan Nicole. Membiarkan ia membuat makanan untuk orang yang dicintainya. Jika melihat hal itu, ia ingin sekali memberitahu Duchess. Tiba-tiba ia melihat Vale turun dengan tergesa-gesa. Wajahnya pucat. Elissa mengikutinya.


Pria itu kemudian mendekati Nicole dan berkata yang iapun tak tahu. Sedetik kemudian ia mendengar suara tamparan keras pada pipi Vale. Nicole menatap wajah Vale dengan marah. Wajahnya merah membara dan airmata telah turun dipipinya. Iapun melihat Nicole pergi berlari keluar tanpa dikejar oleh Vale.


Elissa berlari mengejar Nicole tapi sosok itu telah menghilang. Namun, ia tahu dimana sosok itu berada. Iapun berjalan kearah istal kuda. Ia mendengar isak tangis yang ditahan agar tidak terdengar dari luar. Elisa masuk dan menemukan wajah Nicole yang tampak kacau. Ia menatap Elissa sambil menangis.


"Sayang.."ucap Elisa sambil menatap sedih. Nicole menghambur kepelukan Elissa sambil menangis. "Menangislah, nak!" Bisiknya..

__ADS_1


__ADS_2