
Elissa berlari cepat menyambut Nicole yang baru tiba dari liburan yang cepat. Mereka tiba saat malam sudah larut. Terlihat olehnya wajah lelah Nicole ketika turun dari kuda. Elissa mendekat dan menatap Nicole dari dekat.
"Mylady, kau kelelahan. Aku akan menyiapkan air untuk mandi segera."
Nicole memegang lengan Elissa. "Bantu aku berjalan."
Vale menghampiri Nicole. "Kau baik-baik saja?" tanya nya cemas. Vale memegang tangan Nicole dan berdiri disampingnya. "Jangan membuatku takut, sayang. Apa yang kau rasakan?"
Nicole menggelengkan kepalanya. "Aku lelah mylord."
Vale membungkukkan tubuhnya. Ia mengangkat tubuh Nicole dengan mudah.
Elissa melihat Nicole khawatir. Ia sering melihat Nicole memegang perutnya akhir-akhir ini. Apalagi hobi Nicole berkuda. Hampir setiap hari ia menghabisi waktunya untuk berkuda. Apakah Ia sedang hamil?
Elissa langsung berlari mencari air hangat dan handuk kecil.
Ketika ia masuk kedalam kamar, ia melihat Vale sedang duduk disamping Nicole. Ia memegang tangannya.
"Permisi mylord.." ucap Elissa.
Vale menolehkan wajahnya dan melihat Elissa membawa sebuah nampan. Iapun menoleh kembali pada Nicole. "Apakah kau butuh dokter? Aku akan membawanya kesini."
Nicole menggeleng. "Elissa bisa menjagaku."
"Baiklah, aku akan menunggu diluar."
Setelah Vale pergi, Elissa duduk disamping Nicole. "Mylady, ada satu hal yang harus saya tanyakan."
Nicole menatap Elissa. "Ada apa?"
"Apakah kau sedang hamil?" tanya Elissa hati-hati.
Nicole terkejut. Ia refleks memegang perutnya. "Aku tidak tahu, Elissa." Mata Nicole membesar. Ia tidak pernah melepaskan tatapannya pada Elissa.
"Kau harus memeriksanya, mylady." jawab Elissa. Ia memegang perut Nicole dan mengelusnya. "Kalau memang kau tengah hamil, kau tidak boleh menaiki kuda lagi. Itu akan membunuh bayimu."
Nicole menatap Elissa dengan wajah cemas. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau membuat Vale cemas. Ia sedang fokus pada acara minggu depan."
" Kau harus mengatakannya. Bagaimanapun mylord harus tahu."
Nicole menganggukkan kepalanya. "Setelah pasti aku hamil, aku akan memberitahunya."
__ADS_1
Elissa mengompres handuk kecil ditangannya. Ia menyimpan handuk itu diperut Nicole. "Bagaimana?"
"Untuk sementara aku tidak terlalu kesakitan, Elissa"
Keesokan hari nya.
"Mylady, dokter istana sudah tiba." ucap Elissa
Terlihat dokter Martina dibelakangnya. Wanita itu sudah melewati usia setengah abad. Namun pesona kecantikannya masih terlihat. Aura keibuan terlihat diwajahnya.
"Selamat siang, mylady." ucapnya hangat.
Nicole tersenyum " Selamat siang,dokter."
"Apa yang kau rasakan?"
Nicole memegang perutnya. "Sebetulnya aku tidak merasakan seseorang yang sedang hamil. Tapi tadi malam perutku sakit karena terguncang setelah naik kuda. Apakah aku sedang hamil?"
Dokter Martina tersenyum. Ia memegang lengan Nicole dan menutup matanya.
"Apakah kau merasa kelelahan yang sangat mylady?"
Nicole menatap Elissa. Ia tidak pernah merasakan gejala kehamilan pada umumnya. Iapun menatap dokter Martina dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah"
Vale melihat berkas-berkas ditangannya dengan serius sehingga tidak mengindahkan kedatangan Zest disampingnya.
"Kakak.." bisik Zest.
Vale terkejut sampai ia berdiri. Ia melihat adiknya dengan mata terbuka lebar. "Kau mengejutkanku, paduka."
"Kak, jangan terlalu serius bekerja. Kau tahu berita apa yang aku dengar hari ini?"
Vale menggelengkan kepalanya.
"Istrimu sedang menemui dokter. Kau tega tidak mengantarnya."
Vale mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu jika Nicole sedang sakit. Ia menjadi gelisah. Tangannya mulai berkeringat. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Tentu saja kau harus menyusul kesana." jawab Zest sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi Nicole sakit apa?"
"Nanti kau akan tahu setelah tiba disana."
"Selamat, mylady.. kau tengah hamil 8 minggu." ucap Dokter Martina.
Wajah Nicole langsung berbinar. Ia tersenyum pada Elissa. "Elissa, aku hamil." ucapnya terbata-bata.
"Ya, mylady. Selamat!" ucap Elissa.
"Mylady.. ada satu hal yang harus saya katakan." Dokter Martina mulai membenarkan letak kacamata nya.
Nicole mulai menatap Dokter Martina dengan serius.
"Saya harap seminggu ini kau tidak melakukan aktifitas berlebihan. Itu bisa membahayakan bayimu."
"Membahayakan?" tanya Nicole sambil memegang perutnya.
"Ya, jika kau tidak bisa menjaganya saya takut terjadi sesuatu pada bayimu. Jadi saya berharap kau bisa beristirahat total di rumah. Aktifitas tadi malam membuat janin di perutmu menjadi lemah."
Tiba-tiba pintu kamar rumahsakit dibuka kencang. Vale masuk dengan wajah panik. Tadi pagi ia masih berbincang dengan Nicole dan kondisinya baik-baik saja.
"Mylord.." ucap Nicole terkejut.
Vale menghampiri Nicole dan memegang tangannya. "Ada apa? Kau baik-baik saja?"
Nicole menyunggingkan senyumnya. Ia tak menyangka suaminya akan begitu khawatir.
Vale melihat Dokter Martina yang terus tersenyum ketika melihat calon duke datang dengan wajah panik.
"Selamat, Duke! Kau akan menjadi seorang ayah." ucap Dokter Martina sambil mengulurkan tangannya.
Vale menatap dokter itu dengan bingung. Ayah? Ia akan menjadi seorang ayah? Apakah Nicole hamil?
Vale kemudian menatap Nicole yang sedang tersenyum padanya. "Apakah kau..." ucapnya tertahan. Ia takut salah mendengar. "Apakah kau hamil?"
Nicole mengangguk. "Ya, Mylord. 8 Minggu" jawabnya sambil mengangkat kedua tangannya dan membentuk angka 8.
"Benarkah?"
Nicole mengangguk.
__ADS_1
Vale langsung memeluk Nicole. "Aku senang sekali. Aku pikir terjadi sesuatu padamu. Aku takut sekali." bisiknya.