
Raja Juan pergi menemui beberapa raja yang khusus ia undang untuk acara malam ini. Begitu pula dengan Marquise Evander yang mundur untuk bertemu dengan kawan-kawannya para bangsawan.
"Pengecut!" seru Imelda hati-hati.
Vale menatap ibunya. Ia terdiam.
"Bukankah kau merindukan istrimu? Kemana seorang Vale yang menggebu-gebu ingin bertemu dengan istrinya seminggu kemarin?"tanya ibunya marah.
Vale pergi meninggalkan ibunya. Pengecut? ya, ia memang pengecut. Ia antusias sekali bisa bertemu dengan Nicole malam ini. Ia bahkan berencana menyeret Nicole agar tidak ikut acara dansa dan mereka akan berbicara empat mata hanya berdua saja, namun ketika melihat Nicole turun dari kereta dan bersanding dengan seorang bangsawan tampan itu, kakinya tidak dapat bergerak. Ia kesal dan marah. Seharusnya ialah yang berada disamping Nicole. Bukan pria itu!
Vale melangkah keluar istana dan berdiri sambil menatap kebun bunga milik mendiang Ratu Isle yang indah itu. Bagaimana caranya ia bisa berdua dengan Nicole? ia harus memikirkan cara.
Zest membawa Nicole menuju ruangan yang iapun terkaget-kaget ketika melihatnya. Ia dibawa keruangan bayi.
"Nicole." panggil Zest
"Ya, paduka."
"Apakah kau sakit hati atas semua perlakuan kakakku padamu?" tanya Zest sambil menatapnya.
"Saya harus jujur dan mengatakan iya, saya sakit hati. Sangat sakit hati." jawab Nicole dalam.
"Apakah kau mencintai kakakku?"
Nicole menatap Zest. "Saya mencintainya, paduka."
Terlihat wajah Zest berubah menjadi tenang.
"Setelah kau disakiti, kau masih mencintai kakakku?"
Nicole mengangguk.
"Bukankah itu pengorbanan atas nama cinta, paduka? Aku yakin mylord pun mencintai saya. Hanya saja Mylord belum bisa mengatakannya."
__ADS_1
Zest tersenyum. Zest memegang tangan Zest. "Terimakasih karena telah menjadi pendamping kakakku. Terimakasih juga karena kau telah menerima semua perlakuan dari kakak yang aku yakin itu bukan dari hatinya. Kakak orang baik. Banyak yang menyukainya. Ia penyayang. Untuk itulah ia diturunkan untuk mendapat gelar duke. Jujur saja, aku sedikit takut kau tidak mau kembali pada kakak. Beberapa hari yang lalu kakak menolak gelar itu selama kau tidak ada disampingnya."
Nicole terkejut. "Apakah benar, paduka?"
" Tidak ada yang menolak gelar apapun dikerajaan ini. Tapi kau telah membuat kakak menolaknya."
Nicole hanya tersenyum. Ia menatap sekeliling ruangan.
"Kau tahu kenapa aku membawamu kesini?" tanya Zest.
"Tidak paduka."
Zest mengelus perutnya yang sudah terlihat membesar. "Tinggal beberapa bulan lagi aku akan melahirkan. Aku sengaja membawamu kesini. Apakah kau tidak mau memiliki anak, Nicole? Aku yakin kalian akan memiliki penerus yang hebat. Tapi, apakah kalian sudah berhubungan.." Ucapnya tertahan.Zest menatap Nicole yang begitu penasaran.
Nicole memegang perutnya. Ia menunduk malu. Walaupun kejadian itu membuatnya marah dan pergi meninggalkan istana Arsy, namun ia tidak pernah menyesal telah melakukannya.
Zest tersenyum, iapun beranjak dari duduknya. "Baiklah, aku tidak akan bertanya tentang hal itu lagi. Lebih baik kita ke hall untuk segera mengikuti acara."
"Bisa kita bicara?" tanya Vale tegas.
Marques Evander tersenyum. "Tentu saja."
"Apakah kau tahu aku adalah suami dari Nicole?"
"Ya aku tahu."
"Kenapa kau tiba dengan istriku?Siapa kau?"
Marquise Evander mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, namaku Evander."
"Aku tidak peduli siapa namamu. Aku lebih peduli untuk mendengar mengapa kau datang dengan istriku?" Tanya Vale mulai kesal.
"Tidak ada yang melarangnya, Tuan. Lagipula istrimu seorang diri dan ia mencari pendamping. Lebih baik aku menjadi pendampingnya. Istrimu sangat cantik dan tidak ada satu pria pun yang tidak terpesona pada kecantikannya."
__ADS_1
Vale mengepalkan tangannya. Ia hampir kehilangan kontrol dan hampir melayangkan tinjunya ke wajah pria itu. Tapi suara Raja Juan terdengar dari dalam.
Sebelum Evander masuk, ia masih sempat berkata. "Jangan sia-siakan istrimu, atau nanti istrimu bisa diambil pria lain."
Vale langsung menatap pria itu. Tidak akan ia biarkan laki-laki manapun mengambil istrinya.
Acara pesta itu dimulai. Beberapa pasangan sudah mulai memasuki area tengah hall ketika musik dimainkan. Gaun-gaun yang indah melambai mengikuti alunan musik. Para pria berpakaian tuxedo menambah kesempurnaan acara itu. Raja dan Ratu Artaleta mulai memasuki area dansa. Mereka tampak serasi walaupun Ratu Zest sedang hamil. Para wanita masih menunggu seorang pria untuk mengajaknya berdansa. Nicole melihat pasangan Raja dan Ratu. Ia begitu iri melihat pasangan itu berdansa dengan sempurna. Keduanya saling bertatapan, mata mereka memancarkan cinta yang dalam.
"Mau berdansa denganku?"
Nicole menoleh kesamping nya. Sebuah tangan telah terulur. Ia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang mengajaknya berdansa. Dengan wajah malu, Vale tersenyum ketika memintanya untuk berdansa dengannya.
Nicole membalas uluran tangannya. "Ya, mylord."
Vale membawa Nicole ke tengah area. Mereka berhadap-hadapan dan saling memberikan hormat. Ini adalah pertama kalinya ia berdansa dengan seorang wanita. Ia menarik tubuh Nicole agar mendekat. Begitu pula dengan jari-jari mereka saling bertautan. Mereka mulai berdansa mengikuti alunan lagu.
"Siapa laki-laki itu?"tanya Vale seraya berbisik.
Nicole tersenyum. "Teman saya, mylord."
"Kemana kau selama ini?"
"Apakah kau merindukanku,mylord?" tanya Nicole sambil menatapnya.
Vale menatap Nicole. "Ya."
Nicole tersenyum dan menundukkan kepalanya. Ia malu ketika mendengar jawaban jujur dari suaminya.
"Apakah kau mencintaiku,mylord?"
Vale terdiam. Ia tidak bisa mengatakannya. Ia hanya menatap Nicole. Lama ia menunggu namun tidak ada jawaban. Perlahan Nicole pun melepaskan jari-jari nya. "Maafkan aku mylord, aku harus beristirahat sejenak." ucapnya sambil berjalan meninggalkan Vale.
Mengapa sangat sulit mengatakannya,mylord?
__ADS_1