My Annoying Duke

My Annoying Duke
Jangan pernah membuatku khawatir lagi


__ADS_3

Vale melihat dokumen yang dapat menjerat seseorang ketika melakukan kebohongan pada warga. Ia melihat beberapa pengawal.


"Ikut aku, ke Balmore." ucapnya sambil berjalan keluar.


Suasana siang hari itu cuaca sangat terik. Perjalanan ke Balmore tidak membutuhkan waktu yang lama. Sesampainya disana, ia menatap bangunan itu. Terakhir kali ia datang kesana untuk minum adalah hari dimana Nicole pergi. Iapun turun dari kuda dan berjalan kedalam diikuti beberapa pengawal.


Ketika didalam, suasana masih terasa sepi. Pengunjung yang tiba dapat dihitung dengan jari. Ia ingin bertemu dengan wanita itu. Tiba-tiba ia melihat ada seorang wanita dengan pakaian sangat minim mendekatinya. Wajahnya sama dengan wajah yang ada di koran itu.


"Selamat siang, Duke. Aku tidak menyangka kau akan datang kesini tiba-tiba. Apakah kau ingin meminta maaf padaku atas apa yang dilakukan istrimu?" ucapnya percaya diri.


"Aku datang kesini khusus hanya ingin menemuimu, cantik."


Bella tersenyum, ia menghampiri Vale dengan wajah senang. "Ada apa kau menemuiku?"


"Aku datang karena ingin menangkapmu!" seru Vale. Ia langsung memegang kedua tangan Bella dan menyimpannya dibelakang. Ia lakukan agar wanita itu tidak kabur.


"Kau ditangkap karena menyebarkan berita palsu mengenaiku dan istriku."


Bella berteriak. "Aku tidak menyebarkan informasi palsu. Aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi milikku.."


"Sampai kapanpun aku tidak mau! Ikat dia, kita interogasi di istana." seru Vale pada pengawal. Tanpa banyak bertanya, pengawal langsung mengikat tangan Bella dibelakang. Semua pengunjung melihatnya. Bella adalah salah seorang wanita paling cantik di Balmore. Tidak ada yang tidak ingin mendapatkannya.


Ketika Vale tiba di kediamannya malam hari, ia langsung menemui Nicole. Nicole sedang berbaring di tempat tidur. Matanya tertutup. Ia pun membaringkan tubuhnya.


Mendengar suara sedikit, Nicole membuka matanya. Matanya masih merah karena masih mengantuk.


"Kau sudah pulang?" tanyanya.


"Ya, aku sudah membereskan semuanya."


Nicole mengerutkan keningnya. "Kau membereskan semuanya? Wanita itu? Begitu cepat?"


Vale tersenyum. "Raja pernah mengancam Bella saat aku mabuk. Dengan begitu saja ia sudah dapat dikenai hukuman karena tidak mengindahkan perintah Raja."

__ADS_1


"Jadi besok kita akan aman?"


"Ya" jawab Vale sambil memeluk Nicole. Satu tangannya disimpan diatas perut Nicole. "Bagaimana kabar bayiku hari ini. Apa kau merasa sakit? Kau harus ingat pesan dokter Martina. Kau tidak boleh banyak bergerak. Esok pun kau tidak boleh lepas dari pandanganku."


Nicole tertawa. "Ya, aku tahu. Selama masa hamil, seorang suami harus perhatian penuh pada istrinya. Itu yang membuat seorang istri bahagia." jawab Nicole sambil memeluk Vale.


"Aku sudah tidak sabar menunggu anak kita lahir. Apakah laki-laki atau perempuan? Bagaimana wajahnya?"


"Jika laki-laki mungkin sepertimu, mylord. Jika perempuan, mungkin akan cantik sepertiku." Nicole tertawa sambil menutup wajahnya di dada Vale.


Vale tertawa. "Aku tidak peduli bagaimana anak kita nanti ketika lahir. Aku hanya peduli bahwa kau masih harus melahirkan beberapa anak lagi. Aku tidak mau anak kita seorang diri. Ia butuh saudara."


Itulah perbincangan mereka terakhir sebelum keduanya tertidur.


"Kritis??"


Vale melepaskan genggaman tangannya pada dokter itu. Ia lemas dan tersungkur dilantai. Elissa menutup wajahnya. Ia menangis. Vale teringat bagaimana pembicaraan mereka tadi malam.


Seorang dokter lagi keluar dan menghampiri Vale. “Kami harus melakukannya, Duke. Kami takut nyawa duchess dan bayinya tidak akan tertolong. Mereka berdua dalam keadaan sangat lemah.


“Baiklah Duke” Ucap dokter itu.


Vale masih duduk dilantai ketika ia mendengar suara kereta berhenti. Terdengar langkah terburu-buru. Juan, ibunya dan ayahnya menatap Vale. “Apa yang terjadi?”


“Nicole kritis.”ucap Vale dengan bibir bergetar.


“Kritis?” pekik ibunya sambil menatap Elisa yang sedang menangis. “Eli, katakan apa yang terjadi?”


“Benar. Ini yang saya takutkan dari awal. Sudah seminggu ini nona kesakitan dibagian perutnya.”


“Mama harus kedalam.” Ucap Imelda cepat. Ia masuk kedalam tanpa mendapatkan ijin dari dokter.


Vale menatap wajah Nicole yang pucat. Sudah 2 hari ia tidak sadarkan diri. Dokter jaga setiap hari tiba untuk mengecek kondisi Nicole. Menurut dokter, virus yang menyebar ditubuhnya akan bereaksi malam ini. Itu dikarenakan obat yang diberikan akan Nicole akan memiliki efek samping. Nicole akan demam tinggi. Vale masih bersyukur kedua orang yang dicintainya dapat diselamatkan.

__ADS_1


Ia teringat pada Zest ketika ia diculik tahun lalu.


Juan benar-benar shock saat itu dan perasaan yang sama menimpa dirinya. Mengapa mereka berdua harus mendapatkan kejadian yang hampir sama? Vale menggenggam tangan Nicole dengan erat. Ia tidak mau melepaskan tatapannya sedetikpun.


Tiba-tiba Nicole mengerang kesakitan. Tubuhnya bergetar hebat. Vale pun memeluk Nicole. Ia menahan setiap gerakan hebat yang dirasakan Nicole.


“Ayo lawan Nicole. Kau harus sembuh.” bisik Vale. Ia terus memeluk Nicole hingga ia tertidur.


Pagi menjelang..


Nicole membuka kedua matanya perlahan. Ia terbangun dan berada didalam pelukan seseorang. Berapa lama ia tidak sadarkan diri? Bayinya? Refleks tangan Nicole disimpan diperutnya. Ia mendorong sedikit tubuh yang memeluknya.


“Kau sadar?”tanya Vale seketika. Mereka berdua sama-sama terkejut.


“Bayiku?”


“Akhirnya kau sadar.” Ucap Vale lega dan memeluknya.


Nicole melepaskan pelukan Vale. “Bayiku?”


“Bayi kita selamat, Nicole. Mulai saat ini aku tidak akan membiarkan kau ijin kemana-mana seorang diri. Aku akan terus menemanimu.” Ucap vale. Ia mengangkat salah satu tangannya untuk membelai rambut Nicole.


"Hatiku sakit melihat kau tidak sadar diri seperti kemarin. Jangan membuatku mengalami hal seperti itu lagi."


Nicole memeluk Vale. “Maafkan aku. Aku salah karena tidak mendengarkan ucapan dokter. Ketika aku mengikuti acara jamuan itu, aku sudah merasakan sakit."


Vale membalas memeluk Nicole."Jangan pernah lakukan itu lagi tanpa seijin ku."


Nicole merasa lega.


“Yang terpenting sekarang adalah kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Kita akan menjadi keluarga yang sempurna. Kau harus memberiku anak-anak yang cantik dan tampan.” ucap Vale


Nicole mengangguk sambil tertawa dalam tangisnya. “Ini saja belum. Malam itu kita sudah banyak berbicara” ucapnya sambil tertawa.

__ADS_1


"Ya, kau harus mengingatnya, duchess"


THE END


__ADS_2