My Annoying Duke

My Annoying Duke
Undangan dari istana


__ADS_3

Suara pintu kediaman Edgar diketuk dengan sangat keras. Karena ketakutan, tidak ada satupun pelayan yang membukakan pintu.


"Nicole! buka pintunya. Aku tahu kau ada didalam!" teriak Vale sambil memukul-mukul daun pintu.


Tidak ada jawaban dari dalam. Iapun terus memukul pintu dan berharap yang membuka pintu adalah Nicole.


"Nicole.." bisik Vale. Ia menundukkan kepalanya dengan tangan disimpan di pintu.


"Mylord" panggil Lisa ketika ia baru saja sampai dengan kudanya. Ia bingung ketika melihat Vale berada di rumah Nicole.


Vale membalikkan badannya. "Lisa, tolong katakan dimana Nicole?" ucapnya sambil berjalan menghampirinya.


"Saya tidak tahu, mylord. Bukankah ia berada denganmu di istana yang penuh dengan pohon pinus itu?" jawab Lisa sambil meliriknya.


"Jangan berbohong padaku Aku tahu aku salah, tolong katakan aku ingin bicara."


"Maafkan saya mylord, saya betul-betul tidak tahu dimana Nicole berada."


"Kemana aku harus mencari Nicole?" bisiknya. "Aku akan kembali setiap hari untuk mencari Nicole."ucapnya sambil pergi.


Lisa menatap Vale dalam diam. Vale terlihat berbeda. Ia tidak ada semangat. Raut wajahnya


"Nicole, kau berhasil. Kau tidak akan menyangka jika suamimu benar-benar kehilanganmu", bisik Lisa sambil tersenyum.


Nicole sedang meminum tehnya pagi itu ketika Elissa datang dengan sebuah kartu ditangannya. Ia duduk di taman Istana Bertys. Istana itu jarang ada yang tahu termasuk Vale. Ketika ia diantar oleh pengawal istana kesana, Nicole terpesona dengan keindahan istana itu. Istana itu tidak terlalu besar, namun disebelah kiri dan kanan terdapat taman bunga tulip. Raja Juan memberikan banyak pelayan sehingga ia dan Elissa tidak merasa kesepian selama berada disana.

__ADS_1


"Mylady.. ada undangan dari Istana."


Nicole mengambilnya dan membuka isinya. "Pesta dansa?" tanya Nicole sambil menatap Elissa.


"Myduchess meminta kau datang"jawab Elissa.


Nicole tersenyum. "Tentu saja aku akan datang jika mama yang meminta."


Sejak pergi dari Vale, Nicole menjadi seseorang yang berbeda. Ia kembali seperti Nicole yang dulu.


"Kau sudah membayar semua kesalahanmu pada Mylord, Nicole. Kali ini aku harap kau menjadi Nicole yang aku kenal. Nicole yang ceria." ucap Lisa ketika ia baru saja bertemu setelah kejadian itu. Ia teringat ucapan sepupunya itu.


Dan sekarang itulah yang ia lakukan. Menjadi Nicole yang ceria. Ia pernah kecewa karena suaminya tidak menghargainya. Ketika mendengar penjelasan Zest dan Juan mengenai perasaan Vale, ada sedikit rasa lega. Apa yang dilakukan Vale padanya hanya sebuah kamuflase. Vale tidak mau mengakui jika ia mencintai Nicole sejak dahulu. Egonya begitu tinggi. Dalam hati kecilnya ia sempat berfikir, ia harus memberikan pelajaran pada pria yang masih menjadi suaminya itu. Dan bisa saja ia lakukan ketika mereka bertemu di pesta dansa nanti.


Ia menatap Elissa. "Aku ingin Mylord mencintaiku bukan sebagai wanita yang lemah. Tapi wanita yang sejak dulu ia cintai."


"Elissa, kita harus mencari gaun yang cocok dipakai untuk pesta nanti."Ucap Nicole bersemangat. "Aku harus tampil cantik."


"Baik mylady.."


Nicole bangkit dari duduknya dan menarik lengan Elissa dengan cepat. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan suaminya.


"Nicole!" panggil Lisa.


Nicole membalikkan badannya dan melihat Lisa sedang berjalan dengan Marquise Evander yang menghampirinya.

__ADS_1


"Siang, mylady." ucap Marquise Evander.


"Selamat siang, Marquise Evander. Sudah lama sekali kita tidak pernah berjumpa." jawab Nicole ramah.


"Ya, saya tidak bisa dengan bebas bertemu dengan Lisa karena satu hal. Hari ini tepat sekali saya bisa bertemu dengan Lisa sekaligus bertemu dengan calon duchess yang baru."


Nicole tersenyum. "Aku senang melihat kalian. Aku harap semua masalah yang kalian hadapi dapat diselesaikan."


"Terimakasih, mylady. Kalau semua masalah beres, saya ingin menikahi Lisa" jawab Marquise Evander senang.


Nicole terkejut. "Benarkah?"


"Saya serius. Saya tidak pernah bertemu dengan seorang wanita yang mandiri dan cantik seperti Lisa."


Nicole melirik pada Lisa. "Aku iri padamu."


"Apa yang kau pegang?" tanya Lisa saat melihat tangan Nicole memegang sesuatu. Ia mencoba mengganti percakapan karena merasa tidak enak pada Nicole.


Nicole memberikannya. "Pesta dansa."


Lisa langsung tersenyum. "Ada suamimu?"


Nicole tersenyum simpul. "Aku ingin sedikit bermain-main dengan Mylord ketika disana. Apakah hari ini ia datang ke rumah?"


"Setiap hari. Rencana yang myduchess lakukan untukmu sudah benar. Jika kau tidak meninggalkan suamimu, mana mungkin ia akan menyadari perasaannya."

__ADS_1


Nicole hanya tersenyum.


"Aku mempunyai akal.." ucap Lisa cepat. Marquise dan Nicole menatap Lisa.


__ADS_2