My Annoying Duke

My Annoying Duke
Pesta perpisahan sang duchess


__ADS_3

Suasana jamuan para duchess itu tampak sangat ramai. Itu bukan pesta biasa yang dilakukan oleh seorang duchess of vanguard. Itu adalah pesta perpisahan seorang duchess dan memperkenalkan calon duchess yang baru.


Berbagai bangsawan hadir dipesta itu. Nicole yang biasa menjadi pusat perhatian disetiap pesta sedikit menutup dirinya karena ia kini telah menikah dengan calon Duke of Vanguard. Ia mengerti bagaimana reputasi keluarga Vanguard.


Ia mengikuti setiap langkah Vale. Tiba-tiba tangan Vale ditarik oleh beberapa sahabatnya. Mereka meninggalkan Nicole seorang diri. Nicole mendesah dan sedikit kesal. Ia diam ditempat dan mengawasi keberadaan suaminya. Beberapa tamu memasuki rumah, dan ia masih menunggu.


"Jangan mempermalukanku! Awas!" Ancam Vale ketika ia menghampiri Nicole. Ia mengantarnya masuk kedalam rumah. "Dan aku akan pulang terlambat nanti malam." tambahnya.


"Baiklah."jawab Nicole pelan.


Imelda dan Nisa menatap kedua orang itu dari kejauhan. Mereka menggelengkan kepalanya. "Mereka terlalu kaku, Nisa.." ucap Imelda


"Ya, nyonya.."


"Cari tahu kemana Vale pergi. Setahuku, paduka tidak memiliki agenda hari ini."


"Baik, nyonya.." jawab Nisa yang langsung berlari keluar.


"Kau sendirian? Dimana suamimu?"tanya seorang wanita yang sedikit berumur. Nicole tahu wanita itu. Ia adalah Lady Isyrla. Hampir disetiap pesta wanita itu muncul membawa anaknya yang gadis.


"Mylord langsung ke istana untuk menemui paduka, mylady." Jawab Nicole ramah.


"Keterlaluan. Wanita cantik sepertimu ditinggalkan. Kau mau berbincang denganku? Anakku sedang bersama Lady Elea. Akupun seorang diri. Lagipula acara ini belum dimulai."


Nicole menatap sekeliling. Vale tidak ada. "Baiklah, mylady."


Nicole dan wanita itu pergi keluar ruangan dan duduk untuk mengobrol.


"Sudah berapa lama kalian menikah?"tanyanya kemudian.


"Belum lama. Kurang lebih satu bulan."


"Ternyata masih muda. Waktu aku menikah dahulu, usia pernikahan satu bulan adalah usia paling romantis. Kau sudah hamil?"


Nicole menggeleng.


"Sayang sekali. Tapi, sebelum memiliki anak, kau harus puas berduaan bersama suamimu. Apalagi beberapa minggu kedepan suamimu akan dinobatkan sebagai penerus duke bukan?"


"Ya, mylady."

__ADS_1


Tiba-tiba perempuan itu memegang tangan Nicole dan berkata. "Kau harus sabar, sayang. Hadapi semua dengan senyuman. Jika kau sudah tidak kuat, kau bisa pergi. Itu wajar. Tidak ada yang melarangnya. Jika kau ingin menangis, menangislah sekarang."


Nicole merasa terharu. Ia merasakan ibunya sedang menasihatinya. Ia memeluk wanita itu dan menangis.


"Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa kasihan padamu."


"Terimakasih, mylady."


"Apakah kau bahagia menjadi bagian dari keluarga Vanguard?"


"Tentu saja,mylady." jawab Nicole sambil melepaskan pelukannya.


"Hapus airmatamu, sepertinya acaranya akan dimulai. Ayo kita masuk."


Nicole mengangguk pelan. Ketika masuk, Imelda dan Nisa sudah menunggu didepan pintu.


"Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Imelda sambil memeluk Nicole. Ketika memeluknya, ia sempat bertatapan dengan Lady Isyrla. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan dan Imelda sudah tahu jawabannya.


Lady Isyrla adalah sahabat Imelda. Mereka bersahabat sejak masih remaja. Apapun masalah yang sedang dihadapi oleh Imelda, Lady Isyrla sudah biasa membantu. "Aku masuk kedalam terlebih dahulu, anakku sudah menunggu." ucapnya pada Nicole sambil memegang bahunya.


Nicole berbalik dan melepaskan pelukannya "Baik, mylady. Terimakasih untuk semuanya."


Nicole tersenyum. "Aku baik-baik saja mam, oh... ibu." ucap Nicole gugup.


Imelda tersenyum. "Kenapa kau gugup seperti itu? Panggil aku dengan sebutan apapun."


"Aku lebih suka memanggilmu dengan mam, karena mengingatkanku pada mama."


Imelda tersenyum. Iapun menggandeng lengan Nicole. "Ayo masuk kedalam, aku akan mengenalkanmu dengan beberapa istri duchess yang adaq dikerajaan Artaleta."


Nicole tersenyum dan mengikuti Imelda kedalam ruangan.


Nisa berdiri disamping Imelda ketika Nicole berkeliling menghampiri para duchess.


"Paduka saat ini berada di istana, nyonya. Sepertinya Tuan Vale tidak kesana. Menurut prajurit yang melihatnya, ia membawa kudanya kedaerah Balmore."


Imelda terkejut. "Balmore?"


Seperti yang diketahui banyak orang, Balmore adalah kota dengan perjudian dan pelacuran tingkat tinggi di kerajaan tetangga. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dari Artaleta. Namun banyak saudagar yang berjualan di Artaleta singgah terlebih dahulu di Balmore. Ketika Raja Juan belum menikah, ia dan Vale sering kesana hanya untuk minum.

__ADS_1


Nicole tidak pernah sebahagia hari ini. Ia telah bertemu dengan banyak wanita hebat. Dan itu bisa menjadi pelajaran penting untuknya. Hari sudah menjelang malam, Duchess of Vanguard tidak mengijinkannya untuk pulang. Tapi ia memikirkan suaminya.


"Mam.." panggil Nicole. Ia merasa tidak tenang.


Brak!


Suara pintu terbuka kencang. Nicole melihat Vale berada disana. Imeldapun menghampirinya.


"Ada apa? Kau mabuk?"


Vale melihat ibunya. "Ibu, aku akan membawa Nicole pulang sekarang."


"Bukankah tadi kau bilang akan pulang larut pada Nicole?"


"Ya, awalnya. Aku menjemput Nicole sekarang. Bisakah ia pulang denganku? Bagaimanapun kami masih pengantin baru."


"Aku tidak mengijinkan Nicole pulang malam." seru Imelda.


Vale menatap Nicole. "Apa kau mau tetap disini?"


Nicole merasa kikuk. "Tidak mylord, aku pulang denganmu."


Vale tersenyum pada ibunya. "Lihatlah ibu, Nicole lebih memilih aku."


Saat perjalanan pulang, mereka terdiam seribu bahasa. Nicole merasa bisa bernafas dengan lega saat tadi ia sudah menangis didepan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Ia melirik pada Vale. Vale sedikit mabuk. Jika saja ia tidak mengingat ucapan Lisa dan wanita tadi, ia pasti sudah meninggalkan pria disampingnya itu. Hari ini ia tidak bertemu dengan Lisa, ia merindukan sepupunya.


Hari sudah larut. Nicole lelah dengan kegiatannya hari ini. Iapun telah membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Matanya tertutup walau sebenarnya ia belum mengantuk. Ia tiba-tiba terpikir untuk pergi jika perlakuan Vale masih sama. Tiba-tiba terdengar pintu kamar ditutup dengan kencang. Vale menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Nicole merasakan tubuh Vale berbaring disisinya. Ia bergumam tapi Nicole tidak tahu apa yang digumamkannya.


Tiba-tiba tangannya membalikkan tubuh Nicole dengan cepat. Nicole membuka matanya dan ia langsung bertatapan dengan kedua mata Vale yang tajam. Jantungnya berdebar dengan kencang. Kedua mata Vale menatapnya. Tangannya menangkup kedua pipi Nicole. "Wanita jalang, kau wanita iblis!" Ucapnya.


Nicole melepaskan cengkraman Vale. "Kau mabuk!" Ia merasakan dirinya terancam. Ia mencoba untuk turun dari ranjang dan berlari keluar. Tapi baru saja kakinya menginjak lantai, Vale sudah mendorong kembali tubuh Nicole keatas tempat tidur. Nicole mengerang kesakitan. Namun Vale tidak peduli. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Nicole.


Nicolepun membuang wajahnya kesamping. Ia harus pergi dari sana. "Tidak! Jangan!" teriak Nicole. Dengan membabi buta, Vale mencoba mencium bibir Nicole dengan paksa. Nicole menolak dengan mendorong tubuh Vale hingga kepalanya membentur tembok.


Nicole mulai menitikkan air mata. Ia tidak pernah diperlakukan kasar oleh siapapun.


Nicole berlari keluar meninggalkan Vale yang sedang memegang kepalanya akibat terbentur tadi. Ia pergi kedapur untuk mengambil minum.


Ia minum air putih untuk menenangkan hatinya. Istana itu tampak sepi. Elisa meminta ijin untuk pergi kerumah ibunya. Apa yang harus ia lakukan? Ia benar-benar ketakutan pada Vale.

__ADS_1


Nicole perlahan menaiki tangga beberapa saat kemudian. Ia melihat ke kamarnya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Vale tertidur. Ia mungkin lupa apa yang telah terjadi pada malam ini. Nicole yakin sekali.


__ADS_2