My Annoying Duke

My Annoying Duke
Berlibur bersama Ratu Artaleta


__ADS_3

Kereta kuda yang ditumpangi oleh Ratu Zest dan Nicole sedikit berguncang karena bebatuan yang menghalangi jalanan. Beberapa hari yang lalu, Zest meminta kepada Vale untuk pergi berlibur menuju danau yang berada diselatan istana namun ditolak karena pekerjaannya. Ia tahu Nicole pun kesepian sama seperti nya. Beberapa pekerjaan penting tidak bisa ditolak. Demi keinginannya kali ini, ia harus membawa Nicole pergi dengannya.


Sesekali Zest memegang perutnya yang sudah membesar. Nicole melihatnya, ia sedikit khawatir. Tapi ia lebih khawatir lagi karena suaminya tidak tahu jika ia pergi bersama Ratu. Bagaimana ia menghubungi suaminya? Tadi pagi ia melihat Vale terburu-buru saat pergi ke Istana.


Ia melihat keluar jendela, gorden kereta dibuka dan angin semilir pegunungan sudah terasa.


"Lebih baik kita buat para pria gelisah ketika melihat wanita-wanitanya hilang." ucap Zest sambil tersenyum. Zest memang seperti itu, ia sangat menyukai keributan dan membuat orang khawatir.


"Tapi paduka, saya khawatir ketika suami saya pulang, saya tidak dirumah." jawab Nicole ketika ia memasukkan kembali tubuhnya kedalam kereta.


"Lebih baik mereka khawatir. Itu tandanya mereka berdua menyayangi kita."


Nicole hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu dari Vale jika Ratunya adalah sedikit pembangkang. Tapi Ratunya adalah orang terpilih.


Tak lama kemudian kereta pun berhenti. Nicole melihat keluar jendela kembali. Sepertinya mereka sudah tiba. Angin pegunungan dan bau tanaman membuatnya menutup mata. Ia merasakan alam tengah menyambutnya. Ia tidak pernah merasakan alam seperti ini sebelumnya. dan kini ia merasa takjub.


Zest keluar kereta terlebih dahulu, diikuti Nicole kemudian. Gaunnya yang panjang sedikit menyulitkannya ketika turun. Untung saja pengawal telah siap membantu. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari berlibur. Dapat pergi dari kehidupan istana sebentar adalah hal yang sulit. Ia menoleh kebelakang.


"Kau akan terkejut ketika melihatnya." bisik Zest.


Ketika sudah berada diluar, Nicole terpesona dengan keindahan danau itu. Ia menatap seluruh pesona alam yang sangat indah. Air danau sangat jernih, ia dapat melihat gunung berjajar berada dihadapannya layaknya lukisan kuas seorang masterpiece.


"Paduka Ratu, ini luar biasa indah" ucap Nicole tanpa berkedip.


"Kau belum merasa ini indah sebelum kakimu dimasukkan wajahmu dibasuh oleh air danau." jawab Zest. "Ayo" Zest menarik tangan Nicole menuju pinggir danau. Ia mengangkat gaunnya yang sedikit melebihi mata kaki. ia tidak mau gaunnya kotor.


Zest berjongkok dan mengambil air kedalam tangannya. Kemudian ia membasuh wajahnya. "Kau coba."


Nicole ikut berjongkok dan mengikuti apa yang tadi dilakukan oleh Ratunya. Air itu bersih dan segar. Ia langsung merasa fresh. "Paduka, air ini benar-benar jernih." ucap Nicole antusias. "Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?"


"Kau tahu bukan sebelum aku menikah, aku senang bepergian. Ini adalah tempat pertama yang aku temukan." Zest tersenyum sambil membayangkan masa-masa dahulu.


"Zest!!!" teriak Juan ketika ia mengetahui istrinya telah pergi membawa Nicole untuk berlibur dengannya. Ia kesal karena sudah beberapa kali pula ia berkata untuk menunggu sampai pekerjaannya selesai.


Ketika pulang tadi, seorang pengawalnya memberi tahu jika Istrinya pergi menuju danau untuk berlibur. Sebelum masuk ke istana, Juan langsung berbalik dan membawa kudanya kembali.

__ADS_1


Vale tersenyum. Ia tidak menyangka jiwa petualang adiknya akan melibatkan Nicole. Padahal Nicole tidak pernah berpetualang sekalipun.


"Aku khawatir karena ia sedang hamil besar." seru Juan.


"Lebih baik kita susul sebelum malam menjelang, paduka." ucap Vale dijawab anggukan Juan.


"Nisa, kau ikut dengan kami." seru Juan ketika ia berjalan keluar.


Vale tidak khawatir pada Nicole, hanya saja ia tahu kebiasaannya jika setiap bepergian kemanapun Nicole pasti memberitahunya. Jadi ia yakin Nicole pasti cemas. Vale menyadari beberapa bulan ini ia dan Raja Artaleta sangat sibuk sehingga mengabaikan istri-istrinya. Tapi apa yang dilakukannya demi kelangsungan Artaleta.


Ketika semua sudah siap, mereka berdua pun pergi menggunakan kuda masing-masing. Wajah Juan sedikit marah, berbeda dengan Vale. Vale santai karena tahu mereka berdua dapat menjaga dirinya sendiri. Lagipula sudah ada 2 pengawal.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka berdua untuk sampai ke danau itu. Mereka berkeliling danau namun tidak dapat menemukan mereka berdua. Vale mulai dilanda khawatir. Seharusnya mereka masih ada disana. Ia menatap Juan yang terlihat cemas.


"Kemana mereka berdua?" tanya Juan dengan nada cemas. Kuda yang ditumpanginya berjalan maju dan mundur karena kebingungan.


"Kita berkeliling saja, paduka. Aku yakin mereka masih disini. Tidak ada kereta disini. Mungkin mereka sedang beristirahat."


Nicole membawa Ratunya untuk beristirahat dibawah pohon rindang. Ratunya terlalu bersemangat sehingga ia tidak menyadari dirinya sedang hamil. Nicole memegang bahu Ratu Zest hingga sampai di pohon itu. Kedua pengawal dan seorang kusir telah berjaga disekitar.


"Kau lelah Ratu.." ucap Nicole. Ia melihat wajah Ratunya sedikit pucat.


"Terimakasih, paduka Ratu." jawab Nicole


Zest tersenyum."Apakah kau senang berlibur denganku kesini?"


"Iya, tapi saya lebih senang jika mylord ikut." jawab Nicole jujur. Ia tidak pernah pergi berdua saja dengan suaminya karena Raja selalu membuatnya memiliki pekerjaan.


"Aku mengabulkannya."jawab Juan yang berada tak jauh darinya.


Nicole dan Zest menoleh ke sampingnya.


"Mylord"ucap Nicole terkejut. Ia senang Vale menyusulnya.


"Kakak,, kau menyusul kami atau emm.... Juan mana?" tanya Zest

__ADS_1


"Aku disini!"jawab Juan tegas. Nicole dan Zest membalikkan badannya ke belakang. Ia melihat Juan sedang berkacak pinggang sambil menatap mereka berdua. Ia terlihat sedikit marah.


Nicole bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Vale karena takut pada kemarahan Rajanya. Ia memeluk Vale dan berbisik. "Maafkan aku, aku pergi tanpa memberitahu mu."


"Yang penting kau masih ada dan aku tidak terlambat menjemputmu." bisik Vale. Wajahnya tidak terlihat marah. Nicole tersenyum senang.


"Jangan ganggu mereka. Ayo!" Bisik Vale. Ia memeluk bahu Nicole dan membawanya pergi. "Kau lelah?" tanya Vale.


Nicole menggeleng. "Tidak. Selama kau ada di sampingku."


Vale memegang erat bahu Nicole sambil tersenyum. "Minggu depan akan ada acara besar. Kau harus siap. Kita akan dikukuhkan gelar oleh Raja Juan."


Nicole melepaskan tangan Vale. "Benarkah?" tanya Nicole antusias. Ia memeluk Vale bahagia.


"Tadi kau berlibur dengan Ratu, malam ini kita berlibur berdua. Ayo, aku akan membawamu ketempat-tempat yang indah pada malam hari." ajaknya. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan.


Namun keromantisan mereka berakhir ketika mereka berdua pada akhirnya menggunakan kuda untuk berkeliling. Raja dan Ratu telah pulang menggunakan kereta. Sedangkan kuda yang tadi dinaiki oleh Raja kini digunakan oleh Vale. Begitu pula kuda Vale sekarang digunakan Nicole.


"Kau bisa sendiri? Aku akan pelan-pelan dan kau ikuti aku. Kita berdampingan."


"Aku pernah menjuarai kuda ketika sekolah dulu. Kau seharusnya ingat."


"Aku tidak ingat." jawab Vale sambil menggelengkan kepalanya. Ia melihat wajah kecewa Nicole. Vale pun tersenyum


"Aku ingat, sayang. Aku tidak mungkin melupakannya. Tapi kuda yang kau gunakan berbeda jenis dengan kuda yang kumiliki."


"Aku bisa menjinakkannya." jawab Nicole sambil tersenyum.


Namun tidak ada kata pelan jika mereka telah menggunakan kuda khusus. Mereka berlomba untuk sampai ketempat tujuan dengan cepat.


Ada yang aneh ketika tadi mereka berlomba, sesekali Nicole memegang perutnya yang sakit ketika mereka saling kejar-kejaran. Iapun berhenti sejenak untuk memegang perutnya. Karena malam hari, Vale tidak dapat melihat wajah kesakitan Nicole.


"Ada apa denganku?" bisik Nicole sedikit panik. Ia memegang perutnya karena sakit.


"Ada apa?" tanya Vale yang mundur kembali padahal tadi ia sudah berada sedikit jauh didepan. Ia turun dari kuda dan menghampirinya. Ia memegang tangan Nicole yang disimpan di atas tali.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa" jawab Nicole sambil tersenyum. "Ayo kita pulang. Aku lelah."


"Baiklah, kita pelan-pelan saja."


__ADS_2