MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
APA YANG HARUS DILINDUNGI?


__ADS_3

"Hufftt...." Chanyeol menghela nafas panjang.


"Mendingan kamu duduk dulu, Papi tahu kamu masih lemas!" pinta Chanyeol, lalu ia menatap istrinya.


"Kamu juga duduk dulu disampingnya Renjun, Wendy!" pintanya lagi yang hanya dituruti oleh Anak dan ibu ini.


Setelah ia melihat istri dan anaknya mulai tenang, barulah ia berdiri dihadapan mereka dan berbicara setegas mungkin.


"Seberapa yakin kamu sanggup untuk mengikuti proses pembelajaran hari ini?" tanya Chanyeol tegas, Mami wendy langsung menyambar tatapan tajam kepada Chanyeol yang sama sekali tidak digubrisnya.


Chanyeol tahu kalau istrinya sangatlah khawatir terhadap kondisi Renjun, tetapi walau bagaimanapun mereka tidak boleh memaksa kehendak Renjun apalagi yang selama ini mengalami penderitaan itu adalah Renjun sendiri.


"Mungkin aku sanggup, kalian tahukan kalau aku bukan anak yang lemah." Renjun melirik ibunya sekilas lalu mengembalikan pandangannya pada Chanyeol.


"Sebenarnya Papi lebih setuju sama Mamimu, karena Mami dan Papi gak mau terjadi hal yang tidak baik terhadap kondisi kesehatanmu. Tapi Papi juga gak mau memaksa kemauanmu apalagi sampai membuat  kamu merasa risih karena jadi pusat perhatian orang lain," ucap Papi Chanyel sambil melipatkan kedua tangannya.


"Jadi maunya Papi gimana?" tanya Wendy yang mau berniat berdiri tetapi langsung ditahan oleh Chanyeol untuk kembali duduk.


"Kita akan tunggu Renjun di mobil, lagian ini kan hari sabtu jadi bakalan cepat pulang. Bagaimana menurut Mami?" tanya Chanyeol pada istrinya.


"Aku setuju," ucap Renjun yang asal ngomong saja.


"Renjun aja setuju, gimana menurut Mami?" Chanyeol menggenggam jemari istrinya, lalu disusul oleh Renjun yang ikut menggenggam tangan Maminya di atas tangan Chanyeol.


"Aku mohon, Mami. Sekali ini aja,"


"Baiklah, yaudah kita bisa ke rumah sakit pas pulang sekolah aja. Tapi kalau kamu merasa lemas atau udah gak sanggup kamu bisa izin aja ya, Jangan buat kami semakin bertambah khawatir lagi." Wendy membelai wajah Renjun.


Renjun cuman mengangguk saja, lalu ia berdiri kembali dengan menggendong ranselnya.


"Kalau gitu aku masuk kelas dulu, soalnya aku udah ketinggalan banyak mata pelajaran." Renjun berjalan pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka, Meksipun langkahnya seperti sedang dipaksakan untuk berjalan.

__ADS_1


Dia benar-benar berjuang untuk merasa baik-baik saja, tekadnya mungkin jauh lebih besar daripada rasa sakitnya. Tetapi baru saja melewati tirai mendadak ia teringat sesuatu dan kembali lagi kepada orang tuanya.


"Tolong jangan berlama-lama disekolah ini, kalian bisa nunggu diluar parkiran saja atau kafe dekat sekolah." Renjun menatap Chanyeol seolah ingin memberikan tanda kalau ia takut Mami Wendy bertemu dengan Winwin lagi di sekolah ini.


"Aku mohon Papi," ucapnya yang berusaha menelan rasa pahit di lidahnya karena terpaksa memanggil Chanyeol sebagai Papi, untungnya  Chanyel langsung menyadari apa yang sedang dimaksudkan oleh Renjun dan hanya mengiyakan saja.


"Terimakasih," ucap Renjun sebelum akhirnya benar-benar pergi dari ruangan UKS dan mengacuhkan panggilan Pak Heechul.


Dia berjalan memasuki kelas yang saat itu sedang kosong dikarenakan jadwal pembelajaran komputer di Laboratorium sekolah  yang ada di lantai dua, disana Renjun langsung merebahkan kepalanya di atas meja seraya memejamkan mata untuk sejenak.


Renjun benar-benar kelelahan saat ini, padahal jarak UKS ke kelasnya tidaklah terlalu jauh dan ia juga telah beristirahat selama beberapa jam di ranjang UKS. Namun karena ini memang sudah pilihannya untuk tetap bersekolah hari ini, maka mau tak mau ia harus menguatkan dirinya untuk bisa mengikuti proses pembelajaran.


Tanpa ia sadari, Winwin datang menghampirinya di kelas tersebut sambil memegang botol Minuman soda yang langsung ia letakkan di meja Renjun.


Renjun masih merasa lemas, jadi ia belum menyadari kedatangan Winwin sama sekali dan masih memejamkan matanya untuk menahan rasa pusing di kepala.


"Harusnya kau pulang aja, " ucap Winwin yang sontak membuat Renjun mendongak saat mengenali suara tersebut.


Renjun bisa melihat jelas sosok Winwin yang berdiri tegak dihadapan mejanya, tapi hanya wajah tenang yang terpancar di wajah Winwin saat itu.


"Kau mendadak baik samaku, Hyung. Apa kau merasa kasihan melihatku?" tanya Renjun yang kini sudah duduk tegak, tapi matanya masihlah terlihat sayu.


"Tidak, aku gak pernah mengasihanimu. Aku cuman mau bilang agar kau berhenti bersikap manja," tukasnya Winwin tajam.


"Aku sama sekali gak manja," bantah Renjun.


"Dasar anak manja, kau itu cuman beban keluarga yang selalu saja mengeluh dan pembuat onar. Kau itu harusnya gak pernah lahir kalau ujung-ujungnya hanya buat beban dan penderitaan buat semua orang!" keluh Winwin dengan pedas tanpa memikirkan perasaan Renjun sama sekali, ia sendiri pun sama sekali tidak perduli tentang apa yang akan dipikirkan Renjun tentangnya.


Tentu saja Renjun menjadi geram mendengarkannya, ia sampai melemparkan Botol minuman soda pemberian Winwin tadi ke lantai.


"Apa melempar-lempar barang bisa mengobati amarahmu? Tolong berhenti bersikap kekanak-kanakan, kau ini bukan anak kecil lagi yang harus dimaklumi!"

__ADS_1


Renjun langsung berdiri, ia sudah mengepal kedua tangannya dan tak perlu lagi digambarkan bagaimana raut wajah kemarahannya. Dan saat ia ingin memukul Wajah Renjun, mendadak saja tangannya langsung ditangkis oleh Winwin dengan mudah.


"Bukannya kau yang sejak kemarin-kemarin ingin berbicara denganku? Saat ini, aku sudah mau berbicara denganmu tapi malah begini perlakuanmu, apa yang sebenarnya ingin kau harapkan dariku?" tanya Winwin datar sampai membuat Renjun terdiam bingung.


"Kau memang bukan Hyung yang kukenal lagi, mari kita menyerah saja!" Renjun masih menunduk saja, tetapi tangannya masih mengepal mencoba menahan rasa kecewa dan putus asanya.


"Harusnya dari awal kau menyerah saja, Dasar anak manja!" ledek Winwin tajam.


"Maaf, sekarang aku juga Bingung. Aku takut mati, aku takut kalau ternyata leukimia itu balik lagi saat pemeriksaan nanti. Aku takut Mami menangis lagi, aku juga takut -" Renjun tak mampu lagi bersuara, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri dalam diamnya.


Winwin sampai menghela nafas panjang mendengarkan perkataan putus asa dari Renjun, ia benar-benar lelah melihat tingkah manja adiknya.


"Kata siapa kau bakal meninggal? Kalaupun memang kau menderita Leukimia lagi, memangnya pantas kau menyerah seenaknya? Apa kau gak memikirkan perasaan semua orang yang menyayangimu?" Winwin menepuk pelan pipi Renjun, ia merasa geram melihat adiknya yang sudah kalah dari penyakit tersebut walau sebenarnya hati Winwin juga sama hancurnya saat ini mendengarkan kenyataan tersebut.


Rasanya sia-sia saja ia sudah banyak berkorban dahulu hanya untuk Renjun, bahkan ia sampai bela-belain untuk tetap tinggal dengan Papa mereka dan hidup dalam siksaan neraka Dunia karena tidak mau kehidupan baru Mami dan adiknya bakal diganggu oleh sang Papa kalau saja ia kabur.


"Ah sudahlah, aku harap omonganmu terakhir kali ini bisa kau cerna dengan baik karena aku tak akan lagi bersikap mengenalmu ataupun menegurmu lagi." Winwin ingin pergi, tapi namanya keburu disebut oleh Renjun.


"Aku rindu Papa, Hyung. Apa Papa merindukanku juga?"


"Aku tidak tahu, ia tak pernah membicarakanmu sama sekali." Winwin berusaha menatap mata adiknya, meskipun ia semakin merasa kasihan pada adiknya sendiri dan dadanya terasa nyeri bila membicarakan Ayahnya sendiri.


"Lalu bagaimana denganmu, Hyung. Apa kau pernah merindukanku?" tanya Renjun lagi.


"Aku sama sekali gak punya waktu untuk merindukan ataupun mengingatmu, hidupku sangat berbeda denganmu jadi berhenti menilai semua hal dengan persepsi bodohmu itu." Winwin langsung berjalan mengambil botol minuman soda yang tadi jatuh dan meletakkannya kembali di atas meja Renjun.


"Jadi kapan kau memeriksa kesehatan?" tanya Winwin.


"Rencananya pas pulang sekolah,"


"Tolong jangan pernah menyerah seperti dulu, kali ini jadilah tetap berguna meskipun kau akan menjadi beban untuk semua orang!" Winwin langsung pergi saat itu juga tanpa mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


"Apa dulu aku beneran beban buatmu, Hyung?" tanya Renjun setengah berteriak, tetapi Winwin cuman berjalan menjauh saja tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Renjun tersebut. Dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca saat melewati koridor sekolah, sudah sejak lama ia mata itu yang kini mulai menetes karena merasa dunia terasa tak adil baginya.


"Aku pikir menjaga jarak denganmu dapat melindungimu dari Papa, tapi nyatanya kau tetap akan menderita kalau saja takdir mempertemukanmu kembali dengan penyakit mematikan itu. Apa sebenarnya salahku? Apa aku benar-benar gagal menjagamu dari penderitaan sang Takdir?" gumam Winwin ditengah gejolak perasaan putus asanya. Yups, Tentu saja saat ini ia sedang belajar merapikan kembali hatinya yang remuk oleh benih-benih putus asa yang mulai menumbuh di dalam hatinya. Bahkan kalau dipikir-pikirkan saja, entah kepada siapa selama ini ia berkorban kalau pada akhirnya adiknya sendiri malah mengalami penderitaan dengan cara yang jauh lebih kejam. Apa yang sebenarnya selama ini ia lindungi? Buat apa lagi ia mempertahankan semua ini kalau ia sendiri saja tidak lagi punya alasan untuk melindungi siapapun, kali ini satu-satunya alasan yang selama ini ia pegang teguh telah ambruk dalam sekejap oleh kenyataan pahit yang diberikan secara langsung oleh tetesan darah yang menetes di hidung adiknya saat tadi.


__ADS_2