MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
KETAKUTAN


__ADS_3

Renjun menuruni anak tangga dengan perasaan kesal, ia tidak habis pikir akan sikap keras kepala kedua temannya itu. Bukannya saling meminta maaf, malahan mereka sibuk menghina satu sama lain.


Walaupun disisi lain, ia juga bingung untuk menemukan cara menghentikan pertengkaran tersebut. Selain itu, ia juga penasaran terhadap Jeno yang sejak pagi kerap disindir habis-habisan oleh Jisung dan reaksi Jaemin yang tampak kesal setiap kali nama Jeno disinggung oleh Heechan.


Anehnya entah kebetulan atau bagaimana, saat menuruni anak tangga di lantai 3. Renjun tanpa sengaja bertemu dengan Jeno yang tampak bimbang di pojokkan tangga, sontak saja Renjun langsung menegurnya saat itu juga.


"Apa kau ingin menemuiku juga, Jeno?" tanya Renjun, lelaki itupun tampak kaget melihat Renjun yang sudah ada di hadapannya saat ini.


Jeno mulai berdehem tidak jelas sembari tetap menyembunyikan kedua tangannya di balik badan seolah ada yang sedang disembunyikan.


Renjun mendekat dengan tatapan curiga, "Ada yang ingin kau bicarakan? "


"Gak ada, aku cuman iseng aja mengelilingi sekolah. " Jeno berusaha membuat alasan saking malunya berkata jujur.


"Oh gitu, baiklah. Kalau gitu kebetulan banget deh, ada yang mau ku tanyakan samamu! " ujar Renjun.


"Memangnya kau mau nanyak apa? Kuharap kau jangan nanyak tugas deh, karena aku gak akan kasih contekan apapun samamu." pekiknya.


"Tenang saja, bukan itu kok. Aku cuman mau nanyak, sebenarnya apa yang terjadi diantara kau dan Jaemin? Kenapa kalian berdua musuhan, sih? Memangnya gak bisa diselesaikan secara baik-baik? " tanya Renjun yang langsung menghujani Jeno dengan pertanyaan-pertanyaan yang teramat sensitif baginya.


Jelas saja Jeno terlihat marah dan memasang wajah yang tidak bersahabat, "Bukan urusanmu!"


Lalu tanpa menunggu respon Renjun, ia malah turun duluan meninggalkan Renjun sambil membuang bekal yang di sembunyikan dibelakang badannya tadi kedalam tempat sampah yang tersedia di sudut tangga.


Renjun merasa bingung sekaligus panik, ia huruf buru mengambil kembali bekal yang di buang Jeno dan mengejar Jeno saat itu juga. Dia mencoba menghalangi Jeno agar temannya itu berhenti, lalu ia kembali menyodorkan bekal itu pada siang pemiliknya.


"Maaf ya," ucap Renjun yang kini sudah berdiri di Hadapannya Jeno, tapi Jeno malah balik menyodorkan bekal itu pada Renjun.


"Buatmu, gak usah dikembalikan lagi. "


"Sebenarnya aku juga gak lapar sih, tapi makasih ya. Kau memang teman yang baik, " puji Renjun sembari tersenyum lebar dan menggenggam erat bekalnya. Lalu ia naik kembali seraya menepuk baju Renjun.


"Kita makan bareng sama yang lain aja di atas, yuk! " ajak Renjun.


Jeno sebenarnya masih kesal sih pada Renjun, apalagi sikapnya tadi pagi dan barusan yang tampak mengesalkan. Tetapi ia langsung luluh setiap kali Renjun mengajaknya ngobrol seolah ia merasa aman di sebelah Renjun. Sepertinya pancaran cahaya Renjun yang tadinya menyinari bayangan kegelapan hidup Jaemin juga ikut berpengaruh pada sosok dingin Jeno, ia benar-benar seperti seorang penyelamat di kehidupan para anak SMA itu.


"Memangnya di atas ada siapa? " tanya Jeno sambil mengikuti langkah Renjun.

__ADS_1


"Ada Heechan dan Jaemin, aku harap sih mereka sudah baikan ya di atas." Renjun masih tetap memimpin jalan.


"Kalau gitu aku gak bisa naik ke atas, " tolak Jeno yang langsung menghentikan langkahnya dan terpaksa membuat Renjun juga ikutan berhenti.


"Kau gak perlu mengatakan apapun  kalau memang terlalu berat untuk diungkapkan, tapi aku siap mendengarkanmu kalau kau mau. " Renjun tersenyum, ia tak punya ekspresi apapun yang bisa di berikannya untuk menenangkan ketakutan Jeno selain senyuman hangat itu.


Renjun juga sebenarnya bukan orang yang suka tersenyum, ia juga bukannya terlalu ramah tetapi biasanya ia akan menjadi orang yang ramah setiap kali hal itu dibutuhkan dan saat ini ia butuh tersenyum dan bersikap ramah untuk menunjukkan kepada dirinya sendiri kalau ia bisa menjadi teman yang baik dan bukanlah pecundang seperti yang dipikirkan Winwin.


Sejak kehadiran Jaemin tadi di atap kelas, ia mulai merasa percaya diri kembali dan merasa kalau dirinya bisa saja menjadi teman yang baik untuk memberikan kehangatan bagi teman-temannya.


"Aku cuman takut, " lirih Jeno yang langsung menunduk.


"Aku juga pernah merasa ketakutan, bahkan hampir setiap waktu.Jadi kau gak perlu mau mengatakan ketakutanmu, karena semua orang pasti pernah merasakan ketakutan." Renjun berjalan menaiki anak tangga selangkah, disusul kemudian oleh Jeno.


"Aku takut bertemu Jaemin lagi, bukan karena aku membencinya tapi aku merasa malu udah gagal menjadi sahabat yang mendukungnya dimasa sulit itu. Aku juga takut memulai pertemanan dengan Heechan,Mark dan Chenle karena aku takut kalau nanti mereka juga meninggalkanku karena gagal menjadi sosok teman yang mereka butuhkan. Kau tahu betapa hampir gilanya aku saat memusuhi Jaemin yang sejak SD menjadi sahabatku, aku benar-benar takut sampai detik ini. " Jeno menatap punggung Renjun yang masih tetap menaiki anak tangga dengan pelan di hadapannya.


"Memangnya apa yang Jaemin harapkan darimu? "


"Kau tahu, Jaemin mulai berubah semenjak kakaknya jadi gila karena gagal universitas di tambah lagi ia menjadi mesin impian kedua orangtuanya. Dan kabar tentang aku yang dipindahkan ke kelas 10-E menjadi bentuk kekecewaannya padaku, dan aku masih ingat jelas bagaimana ia bersikap seolah tidak mengenalku hari itu dan menghina orang tuaku seenaknya."


"Tapi kau tidak membencinya, kan? Kau masih mau kan berteman dengannya? " tanya Renjun yang tetap berjalan maju tanpa mendongak kebelakang.


"Kalau gitu mari kita berteman! " tawar Renjun yang kali ini membalikkan badannya sambil mengulurkan tangannya kepada Jeno.


"Mungkin aja kalau kau jadi temanku, kau bisa berteman dengan Jaemin dan Heechan serta yang lainnya. "


"Kau ini aneh ya, kadang sikapmu buat kesal dan kadang juga sangat baik. " ledek Jeno.


"Aku tahu, makanya sekarang kau gak boleh sia-siakan tawaran pertemananku. "


Jeno menghela nafas panjang, lalu ia membalas salam pertemanan Renjun.


"Makasih ya, kau memang teman yang baik Jeno. " ucap Renjun yang membuat Jeno sedikit malu.


"Aku yakin setelah ini kau tidak akan takut lagi untuk menjalin pertemanan, " ucap Renjun yang langsung berjalan kembali ke atas.


Dan begitu mereka tiba di atap tangga, mereka malah melihat pemandangan yang buruk dimana ada Heechan yang sedang berkelahi dengan Jaemin sampai keduanya saling bergelut dengan penampilan yang sedikit berantakan.

__ADS_1


Tentu saja Renjun menjadi geram saat itu, ia langsung merelai keduanya dengan bantuan Jeno juga.


Lalu ia sengaja berdiri di tengah keduanya, menatap keduanya secara bergantian dengan sorotan mata tajam.


"Kalau kalian mau berkelahi lagi, pukul mukaku duluan! " ketua Renjun dengan nada yang agak meninggi.


"Kalian mau rupanya ketahuan sama guru? Anggaplah kalau memang kelas 11-E gak terlalu diperdulikan guru, lalu gimana dengan nasibmu yang kelas 11-A Jaemin? " tanya Renjun kesal.


"Kau harusnya gak ikut campur deh, Njun! Kau pikir siapa juga yang gak emosi melihat anak sombong ini menghina Mark dan Jeno seenaknya, " keluh Heechan yang mulai melawan.


"Kau yang mulai duluan, kalau kau hanya menghinaku masih bisa kuterima tapi masalahnya kau malah menghina kakakku! " bentak Jaemin sambil menunjuk kearah Heechan.


"Dasar sialan! " teriak Heechan yang kembali memukul Jaemin dan menyebabkan pertikaian lagi diantara mereka.


"Gimana nih, Njun? " tanya Jeno pada Renjun.


"Apa yang harus kulakukan? Apa aku gagal menjadi teman yang baik buat mereka? Atau memang benar kata Winwin Hyung, gak ada yang bisa menjadi temanku sama sekali. Apa aku harus -" ia menghentikan gumamannya sejenak, lalu kembali menoleh pada Heechan dan Jaemin tatkala saat ia mendengarkan panggilan Jeno yang menyebut namanya.


"Berhenti kubilang, sialan! " teriak Renjun yang mulai kembali merelai  kedua orang, tapi kali ini tenaga mereka semakin kuat sampai membuat Renjun terjengkal jatuh.


Anehnya, bukannya berdiri kembali malahan Renjun terduduk lemas menatap kedua tangannya. Ia merasa kini isi kepalanya berterbangan bayangan masa lalu saat duduk di bangku SMP dahulu.


Dia mulai bisa mengingat kembali dengan teman-temannya yang terus mentertawakannya yang dipukuli habis-habisan oleh ketua kelas dan setiap kali dia bersujud dikaki mereka untuk memohon ampun, ia malah ditolak ke lantai sampai terjungkal secara terus-menerus setiapkali waktu istirahat kelas.


Kini Renjun mulai berhalusinasi, ia bisa mendengarkan suara tawa disekelilingnya sampai membuat rasa takutnya kembali muncul.


Dan tanpa sadar ia berdiri dan memukul keras wajah Jaemin dan Heechan menggunakan tempat bekal milik Jeno sampai keduanya berhenti berkelahi.


Dengan nafas yang Tersengal- sengal, Renjun terduduk lemas sambil menjatuhkan bekal tersebut. Ia bisa melihat tatapan kebingungan diantara Jaemin dan Heechan, keduanya sampai saling pandang karena terkejut sekaligus merasa nyeri dikepalanya yang tadi dipukul oleh Renjun.


"Maaf, tapi kalian udah keterlaluan. " Renjun menggenggam erat kedua tangannya yang gemetar, ia sampai keringat dingin dan merasa sedikit pusing saat ini.


"Maaf juga ya buat bekalmu yang hancur, gak masalahkan? " tanya Renjun pada Jeno.


"Gak apa-apa sih, justru aku bersyukur banget akhirnya mereka berdua berhenti berkelahi." Jeno ikutan duduk di sebelah Renjun.


"Kau beneran memukul kepalaku, njun. Untungnya gak bocor, " keluh Heechan sambil mengelus kepalanya yang masih nyeri, sementara itu Jaemin cuman terdiam saja menatap Renjun dan Jeno berkali-kali, ia juga masih cukup kaget dan lelah buat memberikan tanggapan apapun.

__ADS_1


Kini keempatnya saling memandang satu sama lain, tak ada satupun kata lagi yang keluar dari mulut mereka sampai akhirnya terdengar suara Pak Suho yang mulai memanas dengan memegang penggaris di tangannya.


"Kalian berkelahi? Ikut bapak ke ruangan sekarang! " teriak Pak Suho yang sudah penuh amarah.


__ADS_2