MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
LAMA TIDAK BERTEMU 2


__ADS_3

"Kau yakin, Njun? Gak perlu kuantarkan aja," tawar Winwin yang langsung ditolak mentah-mentah oleh sang adik.


"Gak usah kali, Hyung. Lagian aku tahu kok, kalau Hyung gak bakal terbuka didepanku. Jadi, bagusan aku pergi buat kasih waktu untuk Hyung cerita sama teman-teman Hyung.  Lagian Hyung juga berhak kok bersantai-santai dengan mereka tanpa sedikitpun mengkhawatirkanku terus, jadi bawa santai aja ya." Renjun tersenyum, lalu ia menatap kearah teman-temannya Winwin.


"Jagain Hyungku ya," ucapnya yang langsung mengenakan masker kembali.


Winwin cuman bisa mengalah saja dan membiarkan adiknya menghilang dari pandangannya, karena ia cukup tahu kalau Renjun pasti bisalah menjaga diri sendiri.


Sementara itu Renjun yang tampak bersemangat menyusuri lingkungan sekolah, kebetulan saja saat itu suasana sekolah sangat ramai dengan kerumunan para wali dan murid beserta guru-guru yang ada. Jadi, kehadiran Renjun disana sama sekali tak ada yang menyadari sedikitpun dan kalaupun ada yang kebetulan berpapasan dengan Renjun pasti tak langsung bisa mengenalinya karena status Renjun yang merupakan siswa baru disekolah tersebut.


Namun tetap saja, Renjun berhati-hati mengelilingi lingkungan sekolah tersebut sambil menundukkan kepalanya menyusuri area sekolah yang ada. Sesekali ia melirik kearah gedung yang sangat sepi sekali, berhubungan memang kantor guru ada dilantai satu dan kebanyakan guru juga telah usai membagi raport jadi gedung lantai dua sampai gedung atas itu telah kosong.


"Apa mungkin ditaman sekolah ya?" gumam Renjun yang langsung berbalik arah menuju taman sekolah. Tepat seperti dugaannya, ia akhirnya bisa menemui Heechan yang tampak duduk dengan raut wajah murung di bangku taman sekolah sambil membuang raportnya ke tempat sampah. Jelas saja, Renjun tak senang dengan apa yang dilakukan oleh Heechan yang seperti tak menghargai nilai yang baru diperolehnya itu. Renjun yang sedikit kesal langsung menegur Heechan seraya mengutip kembali raport tersebut dengan wajah tak senang.


"Apa kau gila? Gak semua orang loh bisa bersekolah, kenapa kau malah membuang raportmu?" tanya Renjun yang berniat untuk menceramahi temannya itu, tapi sepertinya Heechan sama sekali tak menyimak apa yang tengah dikatakan Renjun. Ia masih terlalu kaget atas kehadiran Renjun yang tiba-tiba saja ada dihadapannya jadi tanpa sadar ia langsung memeluk erat Renjun secara spontan.


"Kami kangen denganmu, Bro." Heechan berulangkali mengatakannya sampai membuat Renjun tersenyum senang, baginya ini adalah kali pertama ia merasa dirindukan oleh orang asing yang disebut sebagai teman. Biasanya selama ini Renjun hanyalah siswa yang terasingkan disekolah, sosok penyakitan yang kehadirannya tak pernah terlihat sedikitpun.


Renjun melepaskan pelukan Heechan, lalu ia mengembalikan raport tersebut kepada sang pemiliknya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu? Apa nilaimu buruk, makanya kau sedih seperti ini." Renjun melepaskan maskernya, kini Heechan bisa melihat jelas wajah pucat teman yang selama ini dirindukannya.


"Cuman masalah keluarga aja kok, tapi kayaknya ini bukan waktu yang tepat buat memberitahumu." Heechan hanya bisa tersenyum dan menatap tak percaya kepada sosok Renjun yang ada dihadapannya.  Hingga rasa kagumnya itu berubah jadi perasaan khawatir tatkala saat melihat ada sesuatu yang berbeda dari wajah Renjun saat ini dibandingkan saat terakhir kali ia melihat Renjun.


"Wajahmu pucat sekali, kau juga semakin kurus sekarang. Apa kau baik-baik saja?" tanya Heechan.


"Aku baik-baik saja kok, kau gak perlu khawatir gitu denganku." Renjun masih saja menyembunyikan kesehatannya kepada Temannya itu, Heechan sebenarnya tak percaya tapi dia juga gak mau memaksa Renjun untuk berterus-terang karena baginya itu bisa saja privasi yang belum sanggup untuk disampaikan Renjun kepadanya.


"Kau memang pembohong yang buruk, tapi Ya sudahlah kalau memang kau gak mau berterus-terang. Jadi, kemana sebenarnya kau selama ini? Asal kau tahu, kami kira kau gak mau lagi berteman dengan kami, makanya kau memutuskan untuk pindah bersekolah dan melupakan kami."


"Aku tidak pindah sekolah kok, aku minta maaf ya karena buat kalian berpikiran seperti itu." Renjun mulai merasa bersalah saat mendengarkan keluhan Heechan.


Tapi sepertinya Renjun merasa ragu untuk berterus-terang, "Ada masalah keluarga sedikit, tapi kayaknya ini juga bukan waktu yang tepat untuk menceritakannya kepadamu."


"Kau memang orang paling menyebalkan," keluh Heechan sambil tertawa geli, Ia tak habis pikir dengan Renjun yang baru saja membalikkan perkataannya disaat ia tengah serius menanyakan masalah penting seperti tadi.


"Aku hanya mengatakan apa adanya," ucap Renjun yang juga ikut tertawa.


"Terserah kau sajalah, Njun. Oh iya, ayo kuantar buat ketemu mereka!" ajak Heechan dengan maksud untuk mengajak Renjun menemui teman-temannya yang lain.

__ADS_1


"Aku kayaknya gak bisa berjalan bebas saat ini, jadi bagaimana kalau kita ngumpul di atap sekolah aja?" tawar Renjun yang teringat akan keadaannya saat ini, ia tak mungkin berkeliaran bebas disaat seperti ini karena ia tak mau salah satu guru atau siapapun itu menyadari kehadirannya dan menghubungi orang tuanya. Dia benar-benar tak bisa lagi kembali ke rumah sakit dan kehilangan kebebasannya, ditambah lagi ia juga harus terpisah dari Winwin.


"Bisa sih, itu adalah ide yang bagus banget. Tapi apa Renjun sanggup berjalan ke atap dengan kondisi seperti ini?" tanya Heechan yang sangat mengkhawatirkan keadaan fisik Renjun, tapi sepertinya ucapan Heechan barusan membuat Renjun terbungkam cukup lama sampai membuat Heechan jadi merasa bersalah sendiri.


"Maaf, aku gak bermaksud meragukanmu." Heechan  menepuk bahu Renjun beberapa kali karena saking takutnya kalau ia salah berbicara dan membuat Renjun marah.


Tapi sepertinya Renjun sama sekali tidak marah, ia malah terlihat ceria dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya padahal selama ini ia jarang sekali tersenyum dihadapan teman-temannya itu.


"Tenang aja, aku kuat kok buat naik ke atap gedung ini. Lebih baik kau buruan deh panggil teman kita yang lain, soalnya aku gak bisa lama-lama juga ada disini." Renjun menepuk pundak Heechan.


"Baguslah kalau gitu, bentar ya aku panggil mereka!" ujar Heechan yang langsung berlari pergi meninggalkan Renjun, sementara itu Renjun juga mulai bergerak menaiki anak tangga menuju  atap gedung dengan tenang.


Untungnya selama dalam perjalanan ke atap gedung, ia tak mempunyai kendala ataupun hambatan apapun. Bahkan ia berhasil sampai ke atap gedung dengan keadaan baik-baik saja. Hingga akhirnya ketahanan tubuhnya mulai menurun dan kedua kakinya terasa mati rasa, sampai membuatnya terjatuh lemas di ambang pintu atap gedung.


"Bisa-bisanya aku jatuh disini, gimana kalau kelihatan teman-teman yang lain?" tanya Renjun dalam hatinya seraya tak bisa menyembunyikan senyuman dari sudut bibirnya, ia tampak sedang mentertawakan keadaannya sendiri yang sangat menyedihkan.


Namun keadaan seperti ini tak membuatnya putus asa, ia langsung berusaha bangkit kembali sekuat tenaganya seraya memegang erat gagang pintu untuk membantunya berdiri. Dan dengan tenaga yang tersisa, ia berjalan menuju tengah atap dengan langkah yang terseret-seret karena kedua kakinya yang telah mati rasa.


Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini, tapi ia bisa menduga kalau ini adalah salah satu dari banyaknya gejala leukimia yang dideritanya selama ini. Walau jarang terjadi, tapi ia tak mau ambil pusing ataupun panik akan hal seperti ini.

__ADS_1


Dan begitu ia berhasil sampai ditengah atap, ia langsung menjatuhkan diri untuk duduk disana sambil menikmati teriknya matahari yang menebus kulit. Untuk sesaat, ia memandangi kedua kakinya yang tampak menyedihkan itu.


__ADS_2