
Renjun perlahan-lahan mulai tersadar dari pingsannya, ia membuka kedua matanya dengan posisi yang masih telungkup sambil mengeluh kesakitan karena rasa nyeri yang seolah meremukkan seluruh badannya.
Kini dia bisa melihat jelas sosok Winwin yang ada di sebelahnya, setelah menghabiskan beberapa detik untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Apa yang Hyung lakukan disini?" tanya Renjun yang masih dalam posisi telungkup, bukannya ia tidak mau mengubah posisinya tetapi hanya saja ia tak memiliki tenaga yang cukup untuk menggerakkan tubuhnya sendiri.
"Kau sudah sadar rupanya," ucap Winwin yang langsung menoleh kearah adiknya yang ada disebelah kiri.
Renjun tercengang melihat lebam di wajah Winwin, padahal seingat dia kalau wajah Winwin itu baik-baik saja.
"Wajahmu lebam, apa yang terjadi?" tanya Renjun, tapi bukannya menjawab malahan Winwin menunjukkan mata sendu kepada sang adik dengan ekspresi wajahnya yang datar.
"Kau punya mulut untuk menjawab pertanyaanku, Hyung!"gerutu Renjun yang masih merasa kesal pada perbuatan Winwin tadi.
"Aku hanya membenci diriku sendiri, makanya wajahku jadi lebam karena teman-temanku berusaha melindungiku tadi." Winwin mengalihkan pandangannya kearah langit langit atap gedung.
Sementara itu, Renjun langsung tertawa geli mendengarkan ucapan Winwin barusan.
"Aku juga Hyung, aku mulai benci denganmu sekarang!" hardik Renjun yang mulai memiliki tenaga untuk sekedar membalikkan posisinya dari telungkup menjadi terduduk, disusul juga oleh Winwin yang ikutan duduk.
"Kau mau kemana?" tanya Winwin.
"Pulang," beritahu Renjun, lalu ia berusaha mencari handphonenya disaku tetapi tak kunjung ketemu.
"Kau gak perlu lagi nyari Handphone mu itu, soalnya udah rusak dibuat sama Doyoung." Winwin menunjuk kesebuah Handphone yang telah remuk di sudut dinding yang jaraknya cukup jauh dari mereka.
Renjun yang mendengarkan hal tersebut, tak tahu lagi mau mengatakan apapun selain tersenyum kesal saja.
"Terserahlah, Hyung. Aku sudah lelah," tukas Renjun yang cuman bisa tersenyum tidak jelas melihat Winwin.
"Kau berhak membenciku, aku juga gak keberatan dibenci olehmu sama sekali." Winwin menghela nafas panjang.
"Kau adalah orang yang paling egois, Hyung. Kau sangat kasar, egois dan pemarah. Kau memang bukan lagi Hyungku,"
__ADS_1
"Jadi, apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Winwin.
"Tidak tahu," jawabnya sambil berusaha bangkit berdiri kembali.
Untungnya usahanya kali ini berhasil, ia bisa berdiri tegak dan menggendongnya kembali tasnya sambil berjalan terseret-seret meninggalkan Winwin tanpa mengatakan apapun.
Renjun juga tak lupa mengambil kembali Handphonenya yang telah rusak, sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan Winwin tanpa mengatakan apapun lagi padanya.
Dengan langkah yang pendek karena merasa masih lemas, Renjun berjalan melewati gang-gang sempit yang menjadi pintu masuk untuk menuju Jalan raya.
Tak ada sekalipun niatnya untuk kembali lagi kesana, selain berusaha berjalan dan segera sampai kedalam Rumah.
Akan tetapi, belum sampai beberapa meter saja mendadak tubuhnya ambruk sampai membuat Renjun terpaksa berhenti dan tergeletak di jalan sambil berteriak tidak jelas.
Dan disaat itulah tangisan Renjun pecah, air matanya menetes tak terkendali ditengah terik matahari yang menembus aspal gang.Untungnya saat gang masih sepi atau memang jarang dilalui oleh orang lain, makanya tak ada satupun Kendaraan yang lewat karena gang tersebut berada di antara dinding perumahan minimalis.
Tanpa terasa wajah kirinya yang basah telah dibaluti oleh pasir aspal, tetapi ia masih tak ingin berdiri dan memilih berlama-lama tiduran di aspal sampai air mata itu mulai berhenti menetes dan hanya menyisakan lamunan sesaat saja selayaknya orang yang usai menangis.
"Bangunlah! Kau bilang mau pulang tapi malah tiduran disini," cetus Winwin yang langsung membantu Renjun berdiri dan membantu menopang Renjun berjalan.
"Harusnya kau jangan pulang duluan, teman-temanku sedang beli obat dan snack untuk kita mengisi tenaga."Winwin memulai percakapan diantara keduanya dengan kalimat keluhan terhadap tindakan Renjun saat ini.
"Kenapa kau repot-repot menyusulku, Hyung?" tanya Renjun.
"Aku akan mengantarkanmu pulang," jawabnya.
"Kenapa? Bukannya kau membenciku, Hyung?"
"Gak tahu, aku cuman rindu aja bersikap sebagai Hyungmu." Winwin masih saja bersikap datar pada adiknya.
"Tapi kau memukulku tadi, kau hampir saja membunuhku!" geram Renjun yang menghentikan langkahnya dan membuat Winwin juga ikutan berhenti.
"Tadinya aku memang niat membunuhmu," beritahu Winwin.
__ADS_1
"Lalu kenapa Hyung tidak jadi membuatku saja?" tanya Renjun.
"Karena panggilan telepon dari Papi tirimu itu," ucap Winwin lagi.
"Apa itu berhubungan tentang hasilnya? Apa karena itu kalian membanting handphoneku?" tanya Renjun lagi, kini matanya terlihat serius seolah membutuhkannya kepastian jawaban dari Winwin.
"Kau bisa mendengarkan semuanya nanti dari keluargamu, jadi aku akan mengantarkanmu pulang sekarang dan memastikan kau sampai di rumah dengan selamat."
Renjun cuman mengangguk saja sambil melanjutkan kembali langkahnya mengikuti langkah pelan Winwin, meskipun ia tidak bisa menyembunyikan perasaan takut didalam dirinya sendiri saat ini.
"Lalu apa hubungannya dengan sikapmu saat ini? Apa kau merasa kasihan padaku, Hyung?" tanya Renjun.
"Tidak, malahan aku membenci diriku sendiri. Aku sudah gagal menjagamu dari yang namanya rasa sakit," pungkas Winwin yang masih sibuk menopang Renjun sambil menatap lurus kedepan jalan.
"Memang selama ini kau menjagaku dari apa?" tanya Renjun.
"Dari Papa kita," jawab Winwin yang mulai lebih terbuka, seolah-olah ia juga sudah putus asa untuk mempunyai kekuatan buat menyembunyikan segala hal dari Renjun lagi.
Jika saja saat ini ia diperbolehkan menangis, bisa saja malahan air matanya jauh lebih deras dibandingkan siapapun. Dia benar-benar sangat hancur saat ini, tak ada satu katapun yang bisa mengobati lukanya sendiri.
"Kenapa rupanya dengan Papa? Apa ada hal yang kau sembunyikan dariku, Hyung?"
"Aku belum bisa menjelaskan apapun padamu saat ini, kau bisa tanyakan pada Mami saja!"
"Jadi apa selama ini kau tidak pernah membenciku, Hyung?" tanya Renjun.
"Tidak tahu," jawab Winwin.
"Aku berharap kau tidak lagi membenci, Hyung." lirih Renjun seraya tersenyum, sebelum akhirnya ia mulai merasa nyeri di kepalanya sampai Membuat dirinya menolak kasar Winwin dan sedikit menjauh dari Winwin.
Renjun terduduk menyandarkan diri di depan bangunan ruko yang masih kosong, ia memukuli kepalanya yang terasa nyeri tanpa memperdulikan lagi tetesan darah mengalir di hidungnya seperti genangan air terjun yang menurun deras.
Winwin saja sampai kaget melihat adiknya yang meras menderita seperti itu, ia buru-buru melepaskan seragam putihnya yang dipakai sengaja tidak terpancing dan menjadikan seragam itu sebagai kain untuk menghapus tetesan darah mimisan Renjun.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Winwin yang berusaha tidak panik saat ini, walaupun hatinya perih melihat pemandangan yang mempertontonkan Renjun yang meringi kesaktian di hadapannya.
"Kepalaku sakit,Hyung!" teriak Renjun.