MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
MANUSIA EGOIS?


__ADS_3

Tiga minggu telah berlalu sejak pengobatan kemoterapi yang dilakukan oleh Renjun, bahkan saat ini renjun telah diperbolehkan pulang sejak beberapa hari yang lalu dan diminta untuk datang kembali dua minggu kemudian untuk melaksanakan pengobatan kemoterapi keduanya. Awalnya keadaan renjun cukup membaik, tetapi beberapa hari belakangan ini kondisinya semakin melemah sejak ia memutuskan untuk mogok makan dan membuat Dia kehilangan banyak berat badan, jelas aja Hal ini semata-mata hanya karena perasaan kecewanya terhadap ketidakhadiran winwin sejak hari itu.


Belum lagi renjun merasa sangat malu untuk membiarkan teman-temannya datang menjenguk dengan keadaan rambutnya yang mulai berguguran dan wajah pucatnya yang sangat menyedihkan.


Renjun juga sering sekali mengajukan keberadaan Wendy dan Chanyeol, karena renjun merasa kecewa atas perkataan Wendy waktu itu. Renjun masih beranggapan kalau perkataan Wendy lah yang menyebabkan Winwin tidak lagi ingin menemuinya dan merusak persaudaraan mereka.


Seperti halnya hari ini renjun kembali tidak menyentuh sama sekali bubur nasinya, bahkan ia rela menahan rasa sakit ini kan ia harus mengkonsumsi obat seolah-olah ia sedang menyiksa dirinya sendiri.


"Apa kau harus bersikap seperti ini terus? Mau sampai kapan, Njun?" tanya Wendy yang masih tak percaya dengan sikap keras kepala anaknya itu.


Akan tetapi, renjun seolah-olah mengajukan perkataan Wendy dan malahan ia sibuk bermain game di hp-nya.


Wendy yang semakin kesal langsung membanting handphone renjun ke lantai sampai membuat layar handphone tersebut retak, renjun hanya bisa menghela nafas kesal tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Bukannya ia tidak bisa marah, hanya saja ia tidak lagi memiliki tenaga untuk sekedar membentak ataupun berkata kasar kepada Wendy.


"Jawab Mami!" teriak Wendy yang mulai berdiri dan tak lagi sanggup menahan air matanya, tapi tetap saja Renjun masih bersikeras untuk tidak mengalah meskipun sebenarnya ia tidak sanggup melihat maminya menangis seperti ini.


"Ya tuhan, Renjun! Mami benar-benar gak tahu lagi mau bicara kayak gimana lagi supaya kamu gak egois kayak gini, nak." Wendy mengacak-acak rambutnya yang tak gatal, ia sudah habis kesabaran dan langsung keluar dari pintu kamar Renjun.


Entah apa yang dilakukan Wendy saat itu,  namun yang jelas beberapa saat kemudian Wendy kembali lagi kedalam kamar Renjun yang mana kali ini ditemani oleh Chanyeol yang berjalan masuk duluan dengan wajah kesal.


Sepertinya Chanyeol baru saja kembali dari kantor, buktinya ia masih mengenakan seragam kemeja dan dasi kerja serta sepatu hitam miliknya yang masih mengkilap.


"Sudahlah, Chanyeol. Kita gak perlu memberitahunya sama sekali." Wendy terus berusaha menghentikan Chanyeol, tapi Chanyeol sudah tak lagi dapat menahan diri untuk berterus-terang kepada Renjun.


Ia mengambil kursi belajar Renjun dan mendekat disebelah Renjun yang masih terduduk di ranjang.


Namun sepertinya Renjun masih tak memperdulikan apa yang sedang dibicarakan Kedua orang tuanya itu, ia juga tampak tak tertarik kepada segala hal yang saat ini disembunyikan oleh kedua orangtuanya dan masih bertahan membiarkan bibirnya tetap terbungkam.


"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan seperti ini, aku sudah muak dengan tingkahmu sekarang! Kau sudah keterlaluan pada Mamimu, apalagi sikapmu yang egois tanpa memperdulikan kesehatanmu sendiri padahal selama ini kami sudah berjuang keras untuk kesembuhanmu!" ketus Chanyeol kesal, Renjun sampai memberikan tatapan dongkol pada Ayah tirinya itu.


"Aku sudah tak perduli lagi kalau nantinya aku dibenci olehmu, aku sudah lelah untuk terus diam dan bersikao seolah-olah tak pernah ada yang terjadi. Aku tahu kok kau marah pada kami karena kau masih terus menyalahkan kami atas ketidakhadiran Kakak laki-lakimu itu kan?" tanya Chanyeol tegas.


"Aku mau tidur, keluar dari kamarku sekarang!" tukas Renjun yang berniat berbaring dan menyudahi obrolannya dengan Chanyeol, tapi Chanyeol langsung menahan lengan Winwin untuk tidak berbaring.


"Tidak lagi kali ini, nak. Aku sudah tak tahan terus-menerus mengalah dan memahamimu lagi. Kali ini aku akan berterus-terang padamu dan kau harusnya mendengarkanku!" tegas Chanyeol .


Renjun langsung berusaha melepaskan cengkraman tangan Chanyeol darinya, lalu ia kembali memperbaiki posisi duduknya.


"Apa yang sebenarnya mau kau sampaikan?" tanya Renjun kesal, sesekali ia bisa melihat jelas Wendy berusaha memberikan isyarat kepada Chanyeol agar Chanyeol mengurungkan niatnya untuk mengatakan apapun kepada Renjun.

__ADS_1


Tapi sepertinya Chanyeol sudah tak lagi dapat dipengaruhi ataupun dibujuk, ia kembali berdiri dan menarik paksa Renjun untuk segera berdiri.


"Kau gila ya? Apa yang mau kau lakukan, aku gak mau pergi dari sini!" ketus Renjun yang kesal, tapi tenaganya yang lemah jelas saja Langsung kalah dari Chanyeol.


"Ambil kursi roda itu, Wen!" teriak Chanyeol yang langsung menggendong paksa Renjun untuk duduk di atas kursi roda. Lalu tanpa sepertujuan Renjun, ia langsung mendorong kursi roda itu dan membawanya pergi ke mobil.


Untungnya sejak kembali dari Rumah Sakit, posisi kamar Renjun yang ada dilantai dua dipindahkan ke lantai dasar.


"Sudahlah, Papi! Kita sudah komitmen untuk merahasiakan ini dari Renjun!" keluh Wendy yang berusaha membujuk suaminya yang sedang memasukkan Renjun kedalam Mobil, walaupun ada beberapa kali Renjun berusaha memberontak tetapi tetap saja tenaganya seperti anak berusia 5 tahun saat ini akibat kondisi kesehatannya yang menurun karena tidak makan dan minum obat.


"Tidak usah lagi memanjakannya, aku sudah lelah terus-menerus seperti ini! Kau tahukan kalau aku gak mau kehilangannya hanya karena kita terus-terusan mengikuti sikap egoisnya itu?" tanya Chanyeol pada Wendy sembari memasukkan kursi roda Renjun kedalam bagasi mobil.


Cukup lama Wendy terdiam akan perkataan Chanyeol tersebut. Namun Chanyeol sendiri tidak lagi punya kesabaran menunggu respon dari istrinya selain beranggapan bahwa Wendy sudah setuju pada perbuatannya saat ini.


Ia langsung masuk kedalam mobil dan meninggalkan Wendy yang masih terbungkam di sana dan hanya bisa membiarkan mobil Chanyeol pergi begitu saja.


Sementara itu, Renjun hanya tersenyum licik saja di sebelah Chanyeol. Dia juga tampak tak lagi berusaha memberontak, Malahan ia sibuk bersandar di bangku jok sambil menatap kedepan.


"Kau mau membawaku kemana rupanya?" tanya Renjun tersenyum.


"Aku yang harusnya bertanya padamu nak, kau tertawa kenapa? Bukannya sebelumnya kau memberontak beberapa saat yang lalu?" tanya Chanyeol seraya tetap fokus menyetir.


"Kalau kau mau makan dan minum obat pasti kau tidak bakal selemah ini, nak. " pungkas Chanyeol yang langsung memarkirkan mobilnya disebuah klinik kecil yang tak terlalu jauh dari lokasi Rumah Renjun.


Lalu ia keluar dari mobilnya seusai memarkirkan mobilnya dan menurunkan kursi roda Renjun, sebelum akhirnya ia membuka pintu sebelah kiri dengan niat untuk menggendong Renjun kembali ke kursi rodanya.


"Klinik? Memangnya apa yang mau kau tunjukkan padaku?" tanya Renjun ketus yang sudah tak lagi berpura-pura tertawa, tapi sepertinya Chanyeol tak tertarik menjawab pertanyaan Renjun selain memindahkan anaknya itu ke kursi roda.


Dan mendorong kursi roda itu memasuki Klinik,   jelas saja Renjun hanya bisa menyimpan rapat rasa penasarannya itu.


"Selamat pagi, Pak. Kebetulan sekali anda datang soalnya kami berniat ingin menghubungi anda barusan, tapi kok tumben Ibu Wendynya gak ikut datang Pak?" tanya salah seorang perawat yang sepertinya sudah cukup kenal dengan Wendy dan Chanyeol.


"Istri saya sedang sibuk, gak masalahkan kalau saya saja yang datang?" tanya Chanyeol seraya tersenyum.


"Tidak kok Pak, kalau gitu  mari saya antarkan ke kamar pasien soalnya kebetulan sekali Dokter Lukman sedang memeriksa pasien," ucap Perawat tersebut yang berjalan duluan, lalu Chanyeol langsung menyusul mengikuti langkah sang perawat seraya mendorong kursi roda Renjun.


"Pasien? Maksudnya ini apaan sih?" tanya Renjun  kesal.


Dan kekesalannya semakin bertambah tatkala saat pintu ruangan klinik itu terbuka dan memperlihatkan seorang Dokter yang sedang mengobrol dengan Winwin yang tengah duduk di ranjang.


Saking terkejutnya, Renjun sampai menahan roda kursinya agar berhenti bergerak. Dia masih terdiam di ambang pintu masuk dan masih menatap tajam pada Winwin yang sudah berdiri beberapa detik lalu.

__ADS_1


"Aku mau pulang sekarang!" gumam pelan Renjun tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya dari Winwin.


"Kini kau sudah tahukan alasan kenapa Hyungmu tidak bisa datang hari itu, apa kau masih terus membuat Ibumu menangis lagi?" tanya Chanyeol yang berbisik ditelinganya Renjun.


"Antar aku pulang sekarang, Pi!" tegas Renjun yang sudah tak mampu lagi mengatakan apapun selain melarikan diri dari sana.


Namun sepertinya Chanyeol tak ingin menuruti permintaan Renjun, tidak lagi untuk kali ini. Ia malahan mengajak Dokter dan satu-satunya perawat yang ramah tadi untuk membicarakan perihal hal yang tadinya ingin disampaikan Dokter.


"Aku titipkan Renjun sebentar denganmu ya, nak!" ucap Chanyeol pada Winwin, sebelum akhirnya ia menyusul Dokter yang menawarkan diri untuk membicarakan masalah penting tersebut diruangannya saja.


Sementara itu Renjun masih tetap berdiri diambang pintu tanpa sekalipun berhenti menatap terpaku pada Winwin.


Sepertinya ia tampak sangat terkejut saat mengetahui kalau selama ini winwin berada di klinik dengan beberapa perban di tubuhnya dan sebelah wajahnya yang rusak akibat kecelakaan waktu itu.


"Kau harusnya tak tahu hal ini, kalau saja dia bukan Ayahmu pasti sudah kuhabisin dia sekarang karena sudah berkhianat," ucap Winwin yang tak kalah kesal dengan pengkhianatan Chanyeol padanya, lalu ia berjalan mendekati Renjun.


"Kenapa? Apa kau jijik melihat wajahku yang sudah rusak?" tanya Winwin sambil tetap berjalan mendekati Renjun dengan sikap biasa saja.


"Apa yang terjadi padamu, Hyung?" tanya Renjun.


"Tidak penting apa yang terjadi padaku, palingan juga ini cobaan yang harus kuhadapi lagi. Lagian semenjak kecelakaan Dua Minggu yang lalu, aku gak perlu lagi sekolah dan pulang ke Rumah neraka itu." Winwin tersenyum tepat dihadapan Renjun, seraya berjongkok dihadapan kursi roda Renjun sambil mengacak-acak rambut adiknya yang tampak rontok dan rusak.


"Maaf ya udah berkhianat padamu, harusnya hari itu aku datang menemanimu kemoterapi." Winwin berhenti tersenyum seraya memperlihatkan wajah penuh penyesalannya.


"Aku gak perduli dengan semua yang terjadi padamu, aku masih tetap membencimu!" tukas Renjun dengan tatapan datar, lalu ia berusaha sekuat tenaga memundurkan kursi rodanya saat itu juga dan pergi dari sana.


Winwin yang sebenarnya sudah tahu jawaban apa yang bakal dilontarkan adiknya itu hanya bisa tersenyum saja, ia bisa menduga betapa bencinya Renjun kepadanya saat ini.


Dan bukannya berusaha membela diri atau sekedar memberikan penjelasan pada Renjun, ia malahan tertawa kecil sambil berdiri.


"Kau memang adikku yang paling egois," ucap Winwin yang berusaha bersikap tenang meskipun aliran darahnya terus mengalir tak karuan di dalam tubuh.


"Kalau gitu aku akan berhenti menjadi adikmu mulai hari ini, Hyung." Renjun berbicara kali terakhir sebelum akhirnya ia benar-benar mendorong paksa kursi roda itu menjauh dari Winwin, bahkan saking terkejutnya Winwin tak lagi kepikiran untuk mengejar ataupun menahan kursi roda itu untuk pergi.


Namun yang jelas tanpa sepengetahuannya, kalau saat ini Renjun terlihat terburu-buru untuk bisa pergi dari sana sambil membiarkan air matanya terus mengalir perlahan-lahan.


Dan sebelum ia bisa tiba di koridor utama, Renjun berusaha membangkitkan dirinya dari kursi itu dan berjalan terseok-seok sambil menjadikan dinding sebagai alat bantunya berjalan.


Ia benar-benar berjalan pergi tanpa sepengetahuan Chanyeol, bahkan ia juga tak memperdulikan kalau ia sama sekali tak memegang sepersenpun uang disakunya.


Namun yang jelas sebelum benar-benar pergi dari pintu klinik itu, ia bergumam pelan dengan mengatakan kata maaf berulangkali.

__ADS_1


__ADS_2