
"Kau pasti bisa menang, Hyung!" teriak Renjun yang saat itu tengah menyemangati Winwin yang sedang menikmati perkelahian hebat dengan seseorang pria berotot di tengah lapangan. Sepertinya itu bukan perkelahian biasa, sebab keduanya dikelilingi oleh kerumunan orang yang sangat menikmati perkelahian tersebut seperti sebuah perkelahian jalanan dimana siapapun yang menang akan memperoleh uang taruhan sebagai hadiah untuknya yang telah mengibur para tamu.
Untungnya perkelahian itu tak berlangsung lama dimana Winwin berhasil memenangkan perkelahian dengan usahanya sendiri, Meskipun sebagian wajahnya babak belur penuh lebam. Namun hadiah yang diperolehnya cukup sebanding dengan rasa sakit yang diperolehnya.
"Kau sangat keren, Hyung!" puji Renjun saat melihat Winwin datang menghampirinya. Tak lupa pula, ia memberikan sebotol air botol mineral kepada Winwin.
Winwin hanya meneguk habis botol pemberian Renjun, tampaknya ia masih belum terbiasa mendengarkan pujian dari adiknya sendiri apalagi keadaan fisiknya yang sekarang membuatnya sedikit merasa kurang percaya diri.
"Kenapa juga bisa-bisanya aku kalah dari orang cacat kayak dia? Dasar menyebalkan," pekik pria bertato yang menjadi lawan Winwin beberapa saat yang lalu.
Winwin yang mendengarkan itu sebenarnya tampak kesal, tetapi ia berusaha tetap tenang karena tak mau membuat keributan dan malahan nantinya bisa membahayakan Renjun. Entah kenapa semenjak menghabiskan waktu beberapa bulan ini bersama Renjun, ia mulai berusaha untuk tidak terlibat pada pertikaian kecil sekalipun yang baginya sama sekali tidak menghasilkan uang. Jelas saja saat ini uang adalah sebuah benda paling berharga yang mampu menyokong kehidupan mereka, bukan hanya sebagai alat yang digunakan untuk mengisi perut saja tetapi uang juga mampu menjadi alat yang mewujudkan mimpi kedua saudara itu untuk menghabiskan banyak waktu mewujudkan impian Renjun sekaligus membeli beberapa obat murah untuk mengurangi sedikit rasa sakit dari penyakit yang diderita oleh Renjun yang akhir-akhir ini seringkali kambuh.
"Kau baik-baik saja, Hyung? Apa kau melamun lagi atau kau marah karena perkataan paman itu?" tanya Renjun yang langsung membuyarkan lamunan Winwin.
"Lebih baik kita buruan pergi dari sini, kau juga belum makan malam dan aku belum membayar tagihan obat ilegalmu bulan ini." Winwin langsung berjalan pergi yang disusul oleh Renjun.
Selama beberapa saat ia terdiam sejenak mencoba memadamkan api kemarahan dan perasaan tidak percaya dirinya, ia bahkan sampai beberapa kali memperbaiki posisi topi dan maskernya untuk menutupi bekas luka diwajah. Jelas saja hal ini tak membuat Renjun nyaman, Renjun langsung menarik paksa topi Winwin saat itu juga.
"Kalau kau seperti ini terus, kau hanya akan membuatku merasa bersalah."
__ADS_1
"Memangnya apa yang kulakukan? Kau itu yang selalu berpikir negatif tentangku," tolak Winwin yang tak setuju dengan apa yang saat ini dipikirkan Renjun, lalu ia mengambil kembali Topinya dari tangan Renjun dan mengenakan topi itu kembali.
"Aku adalah adikmu, jelas saja aku tahu apa yang kau pikirkan. Dan kalau memang kau rasa pelarian kita ini cuman sia-sia, apa perlu kita hentikan saja?" tanya Renjun yang mulai ragu, sekilas ia bisa Melihat tatapan mata tajam yang diberikan Winwin.
"Maksudku, lebih baik kita meminta Mami untuk mengobatimu kembali agar wajahmu bisa kembali bagus seperti sediakala. Lagian aku sudah puas kok melihat pengorbananmu beberapa bulan ini dan aku rasa momen bersamamu juga terasa menyenangkan." Renjun tersenyum seraya mengalihkan pandangannya menghindari Winwin.
"Lalu bagaimana impianmu yang lain? Bukannya kau ingin ke wahana bermain denganku dan menikmati tontonan bola dengan Papa? Aku belum mengabulkan bagian itu," ucap Winwin.
"Aku gak mau kau dihina lagi, wahana bermain itu adalah sebuah hal yang mustahil dan terlalu banyak anak kecil yang bermain disana. Aku gak mau Winwin Hyung bakal diledekin oleh mereka, kalau tentang Papa itu juga adalah hal yang paling mustahil. Bagaimana kalau kita berhenti saja?" tanya Renjun lagi.
"Kau bukan hanya adikku yang paling egois saja, tapi kau adalah orang yang paling plin-plan di dunia ini!" keluh Winwin sambil menyentil kening Renjun.
"Aku hanya mengatakan pendapatku saja, " keluh Renjun yang tak mau kalah sambil mengusap keningnya yang terkena sentilan Winwin.
"Ya sudah, ayo kita buruan beli obat dan makan malam. Aku juga gak mau kesehatanmu menurun lagi," ucap Winwin yang kembali berjalan duluan, ia sepertinya sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Ia sepertinya sangat tidak tertarik untuk menyerah seperti yang disampaikan Renjun, apalagi kehidupan yang saat ini dijalaninya dengan Renjun sudah terasa sangat nyaman dibandingkan ia harus mendengarkan keributan yang diperbuat oleh Hyunwoo ataupun Wendy.
"Aku tahu kau berusaha mengalihkan topik pembicaraan, Hyung. Kau benar-benar gak setuju dengan permintaanku barusan atau jangan-jangan kau memang gak rela berpisah dariku? Apa kau mulai menyayangi adikmu ini, Hyung?" tanya Renjun yang seolah-olah sedang menggoda Kakaknya tersebut. Renjun tampak tersenyum sambil memperlihatkan wajah liciknya, Winwin yang kini berada didepannya dengan jarak beberapa meter hanya bisa menghela nafas panjang saja.
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, cepat jalan!" teriak Winwin yang hanya bisa geleng-geleng kepala saja, ia sendiri merasa kalau berterus-terang tentang apa yang dirasakannya sekarang adalah hal yang bodoh dan memalukan. Bahkan walaupun perasaan itu ditujukan kepada keluarga sendiri, ia merasa hal tersebut jauh lebih memalukan dibandingkan mengatakan perasaan sayang kepada lawan jenis.
__ADS_1
"Kenapa juga kau harus terlihat kesal kayak gitu, padahal semua orang sudah tahu kalau kau itu benar-benar menyayangiku." Renjun sampai mengeluh sendiri karena tak tahan dengan Sikap kepura-puraan Winwin.
"Cepat jalan!" teriak Winwin lagi yang membuat Renjun langsung berlari cepat mengejar ketertinggalannya dari Winwin, meski sebenarnya ia sedikit lega karena telah membuat Winwin berhenti berpikiran insecure lagi terhadap wajahnya tersebut.
****
"Lain kali bayar tepat waktu atau aku akan berhenti memberikanmu pasokan obat lagi, kau pikir nyawaku gak terancam demi bisa melayani permintaan kalian sebagai klienku. Awas saja kalau bulan depan telat lagi!" ancam seorang wanita yang mengenakan jaket hitam hingga menutupi seragam perawatnya.
"Maaf sekali lagi ya mbak," ucap Winwin seraya memelas kepada wanita paruh baya itu sambil mengambil kantong berisi obat dari tangan sang wanita.
Wanita itu hanya mengangguk saja, ia sepertinya sudah memaklumi kendala keuangan yang dihadapi oleh Winwin. Bahkan jauh di lubuk hatinya, ia merasa kasihan pada situasi keadaan Winwin dan Renjun saat ini. Apalagi saat itu ialah orang yang pertamakali menawarkan jasa transaksi ilegal tersebut meskipun Winwin berulangkali menolak, hanya karena saat itu ia tak tega melihat Renjun yang kesakitan seperti orang kesetanan di dekat gang rumahnya.
"Jadi, gimana keadaan adikmu sekarang?" tanya Wanita paruh baya itu sambil melirik kearah Renjun yang berada di depan mulut gang, ia sengaja tidak diperbolehkan oleh Winwin untuk berada disana dan mendengarkan percakapan keduanya. Selain karena transaksi ini bukanlah hal yang bagus, ia juga tak mau tindakan buruk ini menjadi contoh yang jelek untuk Renjun kedepannya.
"Dia lumayan membaik, sepertinya dosis kuat yang mbak kasih menggunakan obat hasil percobaan itu lumayan efektif. Bahkan mimisannya juga tidak lagi terjadi beberapa hari ini, " pungkas Winwin yang tampak bahagia menceritakan perkembangan kesehatan adiknya itu.
"Baguslah, tapi jangan salahkan aku ya kalau nantinya obat itu memberikan efek samping buruk. Lagian obat itu juga masih tahap pengembangan dan kehadiran adikmu sebagai bahan eksperimen bisa membantu perkembangan obat itu juga," terus-terang wanita tersebut apa adanya, tetapi ucapannya itu sama sekali tidak membuat Winwin marah seolah ia sudah tahu resiko apa yang pastinya akan terjadi.
"Tenang saja, kalau gitu saya pergi dulu ya." Winwin langsung pergi menghampiri Renjun, ia malah terlihat tenang dengan tatapan lega setelah mendapatkan obat ditangannya seolah-olah obat inilah alasannya rela mengambil pekerjaan apapun untuk bisa menghasilkan uang demi membeli obat tersebut.
__ADS_1
***
Wah mari tinggalkan jejak komentar ya guys😊