MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
TIDAK BERGUNA


__ADS_3

"Woy! Jadi orang jangan sombong banget," teriak Heechan yang mulai bertambah kesal, lalu ia berniat memukul Jisung yang untungnya saja niat itu tidak tersampaikan karena Mark dan Chenle langsung menahan Heechan sekuat tenaga mereka.


"Maaf buk, nanti saya ganti." Mark memelas meminta ampun,.


"Kan emang kalian itu cuman anak bodoh yang malu-maluin sekolah ini aja, ngapain pakai acara marah?" Bukannya meminta maaf, Jisung malah semakin memprovokasi Heechan yang membuatnya bertambah kesal, bahkan kali ini bukan hanya Heechan aja yang kesal tapi Jeno juga.


"Kalau memang pintar, harusnya gak perlu repot-repot bimbel. Memangnya apa yang harus kalian sombongin dengan otak hasil copas-an bimbel?" sindir Jeno yang omongannya gak kalah kasar dan membuat baik Jisung maupun Jaemin ikut terpancing.


Jaemin langsung berlari kearah Jeno, tanpa mengatakan apapun ia mendaratkan pukulan keras di wajah Jeno sampai Jeno tersungkur ke lantai. Namun Jeno tidak hanya diam saja, ia membalas balik pukulan Jaemin sampai terjadi baku hantam.


"Sial," umpat Mark, lalu ia melirik pada Renjun tetapi tak ada Jawaban apapun dari Renjun selain menatap tajam padanya dan membuat Mark beralih pandang menatap Chenle dan Jisung.


"Aku akan memisahkan mereka," ucap Chenle yang langsung mengambil keputusan saat itu juga, ia buru-buru menarik Jeno menjauh dari Jaemin sementara itu Jisung juga terpaksalah ikut membantu merelai Jaemin sebelum nantinya mereka ketahuan guru.


Sementara itu Mark masih tetap menahan Heechan agar tidak ikut-ikutan membuat masalah baru lagi.


"Udah Hyung, gak usah ribut sama orang aneh kayak mereka! Lagian Hyung mau ketahuan guru dan dihukum?" ancam Jisung yang membuat Jaemin mulai tenang, walaupun ia masih melotot kepada Jeno.


"Kau juga jangan berkelahi lagi, Jeno." Chenle tidak ketinggalan menasehati Jeno yang mulai kelelahan.


"Apa-apaan ini!" teriak ibu kantin yang mendekat setelah mendengar keributan itu, belum lagi ia mengeluarkan kata-kata amarah langsung saja matanya  membelalak tatkala melihat botol kecap miliknya telah tumpah berserakan di lantai.


"Kalian memang anak bandel, saya bakal adukan ke guru!" ancam ibu kantin, tetapi Mark buru-buru mendekati ibu kantin dan mengajaknya menjauh dari sana untuk negoisasi, entah apa yang saat itu sedang dibicarakan Mark yang jelas obrolan mereka cukup lama dan membuat Chenle terpaksa memastikan Jeno dan Heechan tidak berbuat macam-macam lagi selagi Mark tengah bernegosiasi dengan Ibu Kantin.


Sementara itu Renjun cuman menunduk saja, ia tidak menatap siapapun dan tidak juga mengatakan apapun. Malahan ia mencoba menenangkan dirinya dari perasaan kalut, seolah ada bayangan masa lalu yang mengajaknya bereunian saat ini dan membuat Renjun membenci perkelahian dan semua perkataan yang dilontarkan oleh teman-temannya dari tadi.


"Kau harusnya malu Jaemin, Sahabat macam apa yang ninggalin temannya disaat susah? Dasar teman pengkhianat!" pekik Heechan yang masih tersulut emosi.


"Jaga omonganmu ya, Memangnya salah kalau Jaemin Hyung pilih-pilih teman? kalian aja yang emang gak pantas jadi temannya kami," tukas Jisung.

__ADS_1


"Sudahlah, kalian ini apa-apaan sih!" bentak Chenle yang masih memegang Jeno dan Heechan agar tidak berbuat gegabah lagi.


"Dasar sampah!" lontar Jaemin dari mulutnya sambil menatap kepada Jeno, Heechan dan Chenle.


"Wah, ngajak ribut nih orang!" Heechan mau memukul tetapi buru-buru di tahan oleh Chenle.


"Lebih baik sampah, daripada hidup menyedihkan dalam bayangan orang lain sepertimu!" pukas Jeno yang juga sebenarnya tahu tentang masalah hidup Jaemin, tetapi sepertinya omongan Jeno barusan menyalakan api hitam millik Jaemin.


"Dasar sampah!" ucapnya meninggi dan bersiap memukul Jeno, sama halnya Heechan yang berusaha lepas dari pegangan Chenle.


"Diam!" teriak Renjun yang mulai diambang batas kesabarannya, ia melemparkan ceret air minum kepada mereka dalam sekali lemparan tetapi berhasil mengenai kelimanya.


Lalu ia menatap kesal kepada semuanya, termasuk juga Chenle. Tangannya sedikit gemetaran saking tidak sanggup lagi melihat kegaduhan ini.


"Harusnya aku gak perlu berteman dengan orang kayak kalian, mari berhenti berteman!" pukas Renjun, lalu ia pergi dari sana sambil mengepalkan tangannya.


Berulangkali Chenle memanggilnya, bahkan Mark yang tidak tahu apa-apa ikut memanggil Renjun tetapi sama sekali digubris oleh Renjun yang sudah terlanjur marah.


Tak ada yang berani mengejar Renjun saat itu, bukan karena tidak mau tapi mereka gak ingin menambah kemarahan Renjun. Bukannya memperbaiki masalah yang ada nantinya malah semakin dimusuhi oleh Renjun, mungkin itulah yang dipikirkan oleh mereka.


Renjun yang masih tampak kesal, tanpa sadar mengelilingi arena sekolah tanpa tujuan. Hingga langkahnya berhenti tepat di depan sebuah Ruangan OSIS yang kebetulan juga ada Winwin yang keluar dari ruangan saat itu juga.


Amarah Renjun langsung memadam saat melihat luka di pelipis mata kanan Winwin, kini luka di pelipis itu menjadi pusat perhatian bagi Renjun sampai membuat Winwin risih dan menyadari hal tersebut.


Winwin langsung memakai topinya untuk menutupi luka tersebut, lalu berjalan mundur untuk memberikan jarak diantara mereka.


Dan entah angin apa yang merasuki Winwin saat ini, ia langsung saja bertanya kepada Renjun tentang kondisi kesehatannya.


"Bagaimana kondisimu? Apa hasilnya?" tanya Winwin spontan.

__ADS_1


"Hasilnya belum keluar," jawab Renjun yang hanya direspon anggukan saja oleh Winwin, sebab ia sendiri juga bingung mau memberikan respon yang bagaimana kepada Renjun.


Dan kesempatan inilah digunakan Renjun untuk menanyakan luka di pelipis Winwin.


"Apa Hyung berkelahi? Atau memukul anak orang lain?" tanya Renjun yang membuat Winwin naik pitam.


"Bukan urusanmu!" bentak Winwin, walau sebenarnya Renjun juga gak bermaksud menanyakan hal tersebut.


Akan tetapi, bentakan tersebut sepertinya cukup mengguncang perasaan Renjun yang membuatnya merasa bersalah dan menunduk saja.


"Maafkan aku, aku gak bermaksud berkelahi lagi denganmu saat ini Hyung!" ucap Renjun.


Winwin yang mendengarkannya mulai merasa bersalah, ia tahu kalau adiknya itu tidak bermaksud kasar padanya tetapi mau gimana lagi sebab setiapkali melihat Renjun pasti rasanya Winwin ingin marah-marah mulu.


"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Winwin yang mencoba mengalihkan pembicaraan dan melupakan obrolan sebelumnya.


"Aku hanya jalan-jalan saja karena kesal, sepertinya kau benar Hyung... Aku memang gak berguna, aku juga bukan teman yang baik sampai gak mampu mendamaikan mereka dan malahan aku malah kabur seenaknya aja." Renjun menunduk, sepertinya ia bukanlah marah kepada teman-temannya melainkan ia marah pada dirinya sendiri.


"Kau memang adik yang gak berguna, harusnya kau lebih berusaha untuk menjadi teman yang baik buat mereka bukan malah kabur. Itulah alasan kenapa aku membencimu, kau memang penakut dan mudah sekali menyerah." Winwin mengatakannya dengan ekspresi datar, entah apa maksudnya mengatakan semua itu tetapi siapapun bisa menyadari ada binaran kebencian di balik matanya.


"Kau selalu saja mengatakan kau membenciku, apa rupanya salahku Hyung?"


"Kau tidak salah apa-apa, orang tua kita yang bersalah dan kaulah penyebab dari masalah ini. Jadi aku mohon berhentilah menggangguku lagi, aku gak mau melukaimu lebih jauh." Winwin melotot tajam, ia mulai serius walau sebenarnya ada perasaan bersalah karena telah bersikap seperti ini pada Renjun padahal kemarin ia hampir gila mengkhawatirkan Renjun yang tidak kunjung ke sekolah sejak kejadian dua hari yang lalu.


"Setidaknya aku mulai tahu kalau kau membenciku, Hyung. Kau tahu rasanya lebih menyakitkan dianggap tidak ada dibandingkan jadi musuh orang lain," ucap Renjun yang mencoba tersenyum di depan Winwin sambil mengangguk tak jelas, kini ia mulai mengerti kalau dirinyalah konflik masalah yang menjadi alasan Winwin membencinya.


"Aku memang gak berguna sama sekali sejak dulu," lirihnya yang mulai kehilangan kepercayaan diri, Winwin yang tadinya teramat membenci Renjun pastilah takkan sanggup menahan perasaan kecewanya pada sang adik.


"Apa kau memang selemah ini?" tanya Winwin sambil mengacak-acak rambutnya Renjun, entah kenapa tangannya bergerak spontan seperti dahulu setiapkali melihat Renjun merasa sedih. Walaupun sebenernya ia merasa benci sama Renjun, tetapi jauh didasar hatinya ada perasaan sayang sebagai seorang kakak laki-laki kepada Renjun yang membuatnya tanpa sadar memperdulikan keberadaan Renjun.

__ADS_1


Dan disaat yang bersamaan juga ada Doyoung dan Lukas yang menghampiri mereka, sontak membuat Winwin menyingkirkan tangannya dari kepala Renjun.


__ADS_2