MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
LIMA TAHUN KEMUDIAN


__ADS_3

Disebuah ruangan tertutup yang tengah dijaga ketat oleh beberapa pria  gagah dengan memegang senjata di luar pintu ruangan. Tampak jelas sedang diadakan pertemuan penting dari beberapa orang yang memakai pakaian mewah di sepanjang bundaran Meja makan berbentuk oval.


Meja makan itu terbuat dari kayu jati yang kokoh, coraknya bewarna silver dengan berbagai macam hidangan mewah di atasnya yang pasti bakal menggiurkan siapapun karena dibuat khusus oleh beberapa Chef Ternama dari Paris.


Sepertinya pertemuan itu bukanlah perdana kali bagi mereka, tampak jelas di wajah mereka yang sudah saling mengenal satu sama lain. Dan diantara para tamu Yang datang satu itu, ada satu orang tamu yang wajahnya ditutupi oleh topeng hitam di bagian sisinya seolah menandakan bahwa ia sedang menutupi setengah bekas luka di wajah. Tapi bila kita perhatikan sekali lagi, wajahnya tampak tidak asing sekali.


"Tidak layak baginya untuk diberikan kesempatan, Walau bagaimanapun pengkhianat haruslah dihukum."


"Wah, kau benar-benar telah menjadi orang yang kejam sekarang. Direktur pasti sangat bangga padamu, Winwin." Salah seorang Tamu terlihat memberikan pujian pada si pemilik Topeng, yang tak lain adalah Winwin sendiri.


Entah apa yang terjadi padanya setelah Lima tahun belakangan ini di Negeri Orang. Tapi yang jelas ia sama sekali belum mengetahui kebenaran tentang adiknya, ditambah lagi ia sudah memutuskan untuk mengakhiri kontak dengan teman-temannya sejak dua tahun yang lalu dan menetap di Negeri orang dengan bantuan seseorang yang dipanggil Direktur tersebut.


"Menantunya Pak direktur memang pantas untuk dibanggakan, aku benar-benar iri padamu." Sambungnya lagi, seraya meneguk teh di hadapannya.


Winwin sendiri hanya membala dengan senyuman, ia genggam erat tangan seorang gadis yang ada disebelahnya itu. Tampaknya gadis itu adalah Kekasihnya Winwin yang merupakan putri tunggal dari sang Direktur. Entah sejak kapan juga Winwin menjalin hubungan dengan gadis itu, tapi yang jelas keduanya telah memakai cincin pasangan yang melingkar di jari manis selayaknya pasangan yang sudah bertunangan.


"Kau benar, Sam. Aku benar-benar bangga bisa menjadi pujaan hati untuk Winwin. Dan pastinya aku adalah gadis paling beruntung yang bisa memiliki hatinya," ungkap Gadis itu. Winwin hanya tersenyum kembali, ia memang tidak terlalu banyak bicara mengenai isi hatinya pada siapapun atau hal-hal yang berbau personalisasi didalam hidupnya.

__ADS_1


"Justru Winwin yang beruntung mendapatkan gadis cantik sepertimu, Alyssa." Rose mengungkapkan pendapatnya, ia sangat menolak tegas anggapan mengenai perkataan Allysa. Baginya, Winwinlah yang bersyukur bisa mendapatkan keberuntungan mutlak seperti itu. Tidak mungkin ada lelaki yang tidak iri pada keberuntungan Winwin, apalagi derajat Winwin diangkat sangat tinggi oleh Pak Direktur yang kini telah memiliki ikatan baik dengannya.


"Rose benar, akulah yang beruntung. Tapi aku rasa cukup sekian pembicaraan diluar topik itu, kita bisa kembali lagi kedalam topik untuk membahas masalah hukuman yang akan diberikan pada para pengkhianat itu."


"Kau benar, kita tidak boleh membuat pertemuan ini menjadi sia-sia. Lagipula, aku harus melakukan transaksi lainnya setelah pertemuan ini," ucap Samuel.


"Aku juga harus memenuhi target pembunuhanku, karena aku tidak mau Pak Direktur mengamuk dan memecatku." Rose juga malah jadi kepikiran dengan urusan pribadinya.


"Apapun yang saat ini ada dipikiran kalian, jadikan saja alasan itu sebagai cambuk untuk mengikis perasaan kasihan pada mantan rekan kita itu." Seorang lelaki berpakaian Kaos oblong memasuki ruangan dan mengambil posisi duduk di kursi paling ujung. Kedatangannya benar-benar mencuri perhatian pada tamu, termasuk juga Winwin yang langsung melepaskan genggaman tangannya dari Allysa dan bersikap serius dari sebelumnya.


Suasana yang tadinya cukup tenang malah berubah drastis dalam sekejap. Mereka mulai terlihat serius, bahkan sampai lupa kalau dihadapan mereka ada hidangan lezat. Tak ada satupun yang mengeluarkan suara bila tidak memiliki keinginan untuk mengatakan apapun, berbanding terbalik dengan Allysa dan lelaki berkaus oblong yang masih merasa santai tanpa takut sedikitpun.


"Aku juga tidak akan datang kesini, kalau tidak disuruh oleh Papa. Lagian juga aku ini saudara kembarmu, bersikap baik juga padaku." Pria berkaos Oblong bernama Kim Tan itu malah balik mengeluh pada Allysa, seraya memakan buah Cherry yang ada dihadapannya.


"Baiklah," respon Allysa yang enggan berdebat hari ini.


"Terserah kau saja," ucap Kim Tan, lalu ia melirik kepada Winwin yang berpisah dua kursi jaraknya dari bangku Kim Tan.

__ADS_1


"Aku juga punya informasi khusus untukmu, Win. Jadi, bisa kalian tinggalkan ruangan ini sebentar untuk kami!" perintah Kim Tan secara mendadak, padahal sebelumnya ia menyuruh mereka untuk datang malam itu, agar mendiskusikan sanksi kepada para pengkhianat.


Winwin sendiri hanya mengangguk saja, ia langsung menyudahi sarapannya seraya memberikan senyuman ramah kepada Kim tan. Sementara itu, Tamu yang lain tak membantah sama sekali dan berjalan tenang meninggalkan ruangan. Termasuk didalamnya ada Allysa yang sangat menuruti Saudaranya itu, meskipun ia lebih sering membenci Kim Tam melebihi apapun di dunia ini. Allysa juga tahu kalau pastinya informasi yang ingin disampaikan Kim Tan adalah pesan serius dari Ayahnya, jadi ia tak ingin mengganggu rencana tersebut sedikitpun.


Dan begitu ruangan menjadi sepi dan hanya menyisakan mereka saja, barulah Kim Tan mulai angkat bicara seraya menyantap potongan daging di mulutnya.


"Papa memintaku untuk memberikanmu perintah tunggal dan rahasia kali ini." Kim Tan masih fokus menyantap makanannya.


"Apa itu?" tanya Winwin.


"Kau harus membunuh seseorang," jawab Winwin yang merasa lega secara atas misi barunya. ia tampak sudah terbiasa untuk mendapatkan misi dari Direkrut.


"Siapa orang yang nyawanya tidak beruntung itu?


"Aku lupa namanya, tapi ia adalah target yang harganya cukup mahal. Soalnya dia sudah melukai anak dari temannya Papa yang tinggal di Indonesia. Benar-benar anak yang malang," ucap Kim Tan seraya menggelengkan kepalanya ke arah kiri dan kanan.


"Kalau begitu tak ada alasan bagiku untuk menolak perintah Direktur. Jadi, kau bisa mengatakan pada Direktur kalau aku sudah siap kapanpun untuk terbang kembali kesana," beritahu Winwin tanpa mempertimbangkan apapun.

__ADS_1


"Kau yakin? Bukannya kau benci untuk kembali ke Indonesia, apa tak masalah sama sekali?" tanya Kim Tan yang seolah-olah bukan terlihat seperti orang yang sedang khawatir, tapi malah menunjukkan ekspresi mengolok-olok nya.


"Perintah Direktur adalah kewajiban yang harus ku turuti. Kau tidak usah khawatir, bahkan disuruh loncat dari gedung ini pun aku rela bila Direktur yang memintanya sekarang. Aku sama sekali tak punya alasan lagi untuk bertahan hidup," beritahu Winwin yang langsung membungkam bibir Kim Tan dalam sekejap.


__ADS_2