
Tidak ada yang pernah menyangka kalau Renjun bakalan pergi kesekolah hari ini setelah satu hari penuh ia ijin tidak sekolah. Anehnya ia masih tetap memaksa pergi ke sekolah hari ini Padahal sudah dua malam, keadaan Renjun cukup memilukan yang membuat Maminya harus meminta izin Beberapa hari libur sekolah. Akan tapi mau gimana lagi Renjun juga sudah mengenakan pakaian Seragam putih abu-abu nya dengan rapi seperti biasa hari ini jadi gak ada alasan untuk tetap memintanya beristirahat kembali di kamar sembari menunggu hasil laboratorium kesehatannya.
Walaupun Wendy tetap bersikukuh mencegah Renjun untuk pergi ke sekolah, ia sangat khawatir bila membiarkan Renjun berangkat sekolah dengan kondisi sekarang. Namun tetap saja Renjun bersikeras untuk berangkat ke sekolah ditambah lagi Chanyeol lagi-lagi membela Renjun juga dengan dalih kalau Renjun sudah baikan juga.
"Tapi Mami khawatir sama kamu loh, njun!" Mami Wendy yang ada dihadapannya Renjun menatap tajam anaknya, tapi Renjun malah menatap balik kearah mamanya.
Pokoknya Renjun mau sekolah, lagian aku ini gak kenapa-kenapa kok dan aku juga bukan beban siapapun!"
"Loh siapa yang bilang kamu beban? Kamu itu bukan beban loh nak, kamu itu anaknya Mami jadi wajarlah Mami khawatir!" ucap Wendy.
"Sudahlah Wen, biarin aja Renjun sekolah. Lagian nanti sore juga hasilnya bakal keluar kok jadi untuk sekarang kita gak perlu khawatir berlebihan dulu sebelum tahu hasilnya."
"Kok cepat banget hasilnya keluar?" tanya Renjun.
"Inikan sudah dua hari Njun, memang jadwalnya hasil tes keluar hari ini."
"Yaudah, kalau gitu Renjun tetap sekolah hari ini!" tukas Renjun, lalu ia meneguk susunya sampai habis setengah gelas.
Wendy cuman bisa menghela nafas saja, ia tahu kalau anaknya memang lumayan keras kepala seperti dirinya.
"Sudahlah Ma, biarin aja Renjun sekolah. Nanti aku yang antar ke sekolah jadi kamu tenang aja!" bujuk Chanyeol sambil mengelus punggung belakang Wendy.
Wendy yang melihat keinginan keras Renjun, bujukan memilu suaminya dan tak mau membuat pertengkaran di hadapan Sarang cumah bisa mengalah saja dan mengangguk.
"Baiklah, kalau emang itu maunya Njun." Wendy mengalah kali ini, lalu ia mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai strawberry kesukaan Renjun.
"Tapi kamu sarapan dulu," ucap Wendy yang memberikan roti itu pada Renjun.
"Makasih ya ma," tukas Renjun yang mulai tersenyum, suasana hatinya mulai membaik.
Dan kini Keluarga kecil itu mulai kembali hangat setelah melewati perdebatan panjang, bahkan Renjun sedikit mengusili adiknya yang duduk disebelah dan ia juga tidak lagi berusaha menghindar setiapkali diajak ngobrol oleh Chanyeol, meskipun Jawabannya masih canggung dan singkat tetapi lumayanlah dibandingkan saat kemarin-kemarin .
Namun ketenangan itu berubah menjadi serangan panik, tatkala saat hidung Renjun kembali mimisan. Lantas dengan cekatan Chanyeol berlari kearah Renjun dan mencupit hidungnya.
"Tisu!" perintahnya pada Wendy yang buru-buru memberikan tisu saat itu juga.
Chanyeol langsung mencupit hidungnya Renjun dengan tisu dan membantu membersihkan darah yang menetes. Tampak jelas wajah panik yang diperlihatkan Chanyeol dan suara kekhawatiran Wendy saat itu.
"Renjun, kamu gak apa-apa nak? Ada yang terasa sakit nak?" tanya Wendy.
Renjun tidak menjawab, ia malah jauh lebih terkejut dengan tindakan Chanyeol barusan dibandingkan darah yang kembali menetes di hidungnya.
Sementara itu Sarang mulai menangis karena merasa panik dan terkekejut, ia mulai ikutan mendekati Renjun dan menggenggam jemari Renjun saking ketakutannya.
Papi Chanyeol melirik pada Mami Wendy, "Bawa Sarang ke kamar dulu, biar aku aja yang urus Renjun!"
"Baik mas," ucap Wendy yang cuman bisa menurut saja, sebab ia juga tidak mungkin mengacuhkan Sarang yang jelas-jelas masih belum mengerti tentang keadaan kakaknya dan masih membutuhkannya saat ini.
"Sarang, ikut mama ya!" Wendy menggendong sarang dan membawanya ke lantai atas, meninggalkan Chanyeol yang tengah sibuk mengatasi mimisan Renjun.
Begitu Renjun rasa kalau tak ada lagi suara langkah kaki Maminya di sana, barulah ia berbicara kepada Chanyeol.
"Maafkan aku," lirih Renjun.
"Buat apa?" tanya Chanyeol yang mulai berhenti mencupit hidung Renjun dan hanya menambal lubang hidungnya dengan tisu.
"Kamu menunduk aja dulu, hidungnya kamu cupit aja terus ya njun. Kayaknya mimisan kamu sudah mulai berhenti!" beritahu Chanyeol.
"Maaf," ucap Renjun lagi, tetapi ia tetap nurut instruksi Chanyeol barusan.
"Kamu gak perlu minta maaf njun, kamu gak salah apa-apa kok."
"Kalau aku gak mimisan, kalian gak perlu panik dan buat Sarang jadi nangis."
"Kamu jangan ngomong gitu, ini bukan salah siapapun kok. Lagian udah wajar kok Mami dan Papi panik karena kamu itu anaknya kami, tapi kamu jangan berpikiran negatif ya karena mungkin aja kamu cuma kecapekan atau alergi selama beberapa hari ini." Chanyeol tersenyum.
"Aku harap sih gitu," lirih Renjun dengan setengah putus asa.
"Kamu itu anak sulung yang paling kuat, kamu percayakan sama Papi?"
Renjun mengangguk, ia terlalu canggung memperoleh pujian tersebut makanya ia langsung berdiri dan menggendong ranselnya untuk mengindari pembicaraan yang terlalu lama dengan Chanyeol. Selain itu juga ia masih merasa bersalah kepada Sarang karena telah merusak suasana pagi ini.
"Ayo kita berangkat sekolah aja, biar Sarang bisa lanjutin sarapannya!" ajak Renjun yang langsung berjalan pergi mendahului Chanyeol, mau tak mau terpaksa Chanyeol mengejar Renjun tanpa sempat berpamitan dengan istrinya.
****
__ADS_1
"Kamu nanti kalau ada apa-apa telepon Mami atau Papi ya," ucap Chanyeol.
Renjun melepaskan safety beltnya, "Aku tahu, kalau gitu aku pamit ya om."
Renjun langsung turun dari mobil, ia melangkahkan kakinya memasuki kawasan sekolah yang saat itu sudah sangat ramai. Biasanya sih Renjun selalu datang lebih awal, tetapi kali ini ia mungkin salah satu diantara banyaknya siswa yang datang lebih lama walaupun ada sih sebagian guru belum tiba akibat hujan deras sejak subuh dan baru saja berhenti beberapa saat lalu.
Renjun juga sudah tidak merasa lemas lagi pagi ini, mungkin karena seharian penuh ia mengistirahatkan badan yang membuat dia mulai baikan.
Bahkan ia juga sudah bisa berjalan cepat menuju kelasnya yang masih sepi dibandingkan kelas lain, memang sih kelas 11-E itu adalah kelas yang di huni oleh orang-orang yang suka datang terlambat makanya gak heran dicap sebagai kelas berandal oleh guru.
Tetapi anehnya salah satu orang yang biasanya sering datang terlambat, entah mengapa kali ini sudah duduk aja dibangku sebelah Renjun Sampai membuat Renjun pangling saat meletakkan tasnya di meja tersebut.
"Kok balik lagi duduk disini?" tanya Renjun, tapi malahan ia cuma melihat Heechan cengar-cengir gak jelas.
"Kan kita udah temanan sih njun, jadi kita duduk barengan lagi ya. Soalnya duduk sama si Malik gak enak, anaknya jorok dan suka naruh sampah makanan di laci." Heechan malah mengeluh gak jelas yang buat Renjun cuman bisa geleng-geleng kepala saja.
"Jangan ngejek gitu, lagian itukan teman kelas kita." Renjun merasa gak enak bila sampai Malik datang ke kelas dan mendengarkan ucapan Heechan barusan, ia sebenarnya gak perduli sih tapi entah kenapa setiapkali melihat orang lain direndahkan rasanya ia pengen marah saja karena dulunya ia pernah mengalami peristiwa tersebut. Sebenarnya kalau kita mengenal dekat Renjun, kita pasti bakalan tahu betapa baik dan perhatiannya dia pada kita dan itulah yang mungkin menjadi daya tariknya sampai membuat siapapun bakal pengen bersahabat dengannya.
"Tapi kamu bilang nanti sama dia mau pindah kesini! aku sih gak perduli ya kau mau balik duduk disini atau enggak," beritahu Renjun, lalu Renjun menarik kursinya untuk duduk di sebelah Heechan tetapi diurungkannya niat itu karena pertanyaan Heechan.
"Oh iya njun, kau kenapa gak datang kemarin? Sakit apa?"
Renjun masih berdiri, ia juga bingung mau memberikan jawaban yang bagaimana karena baru kali ini ada yang menanyakan keberadaannya, sebab selama ini dia hanyalah sosok ilusi yang tidak terlihat dimata orang lain kecuali hanya untuk dijadikan mainan lelucon.
"Woy, kok diem!" tegur Heechan lagi yang membuyarkan lamunannya.
"Cuman demam aja kayaknya, ada tugas gak kemarin?" tanya balik Renjun yang pengen cepat mengalihkan pertanyaan tersebut.
"Gak ada sih," jawab Heechan.
"Oh gitu, yaudah kalau gitu makasih ya."
Heechan menatap bingung, " Makasih buat apa?"
"Gak ada," jawabnya yang malah jadi bingung sendiri, padahal sebenarnya ia mau berterimakasih buat Heechan yang udah nanyak kondisinya.
Heechan yang menatap aneh cuman bisa mengangguk saja, lalu ia berdehem panjang.
"By the way, bawa baju olahraga kan?" tanya Heechan lagi, Renjun hanya mengangguk-angguk saja.
"Kayak HRD kau nanyak-nanyak mulu melebihi Mami kepo-nya, " tukas Renjun yang udah mulai mengesalkan, tetapi Heechan sepertinya sudah memaklumi watak Renjun setelah seharian tidak melihat wujud Renjun disekolah.
Renjun cuma bisa senyum saja melihat tingkah humoris Heechan, tetapi pusat perhatiannya teralihkan oleh Jeno yang sedang duduk membaca buku di meja barisan depan dan disaat yang bersamaan pula terdengar suara Mark dan Chenle yang baru datang sambil berlari senang melihat Renjun.
"Akhirnya datang juga, Njun! Kirain dirimu sakit, padahal kami mau jenguk sih rencananya." tukas Mark yang selalu memperlihatkan wajah ramahnya.
"Sok tahu kalian dimana rumahku, palingan juga nyasar," tukas Renjun yang bukannya berterimakasih, malahan bercelutuk tajam dengan tatapan julidnya.
"Yaampun njun, harusnya tersentuh kali pas dengar kami mau jenguk bukannya malah ngomong gitu." Heechan berdiri dan sedikit kesal pada Renjun.
"Bukan Renjun namanya kalau gak buat kesal," ledek Chenle sambil menepuk punggung Heechan.
Renjun hanya tersenyum saja, ia merasa senang saat ucapannya bisa di terima baik oleh mereka dengan waktu yang sangat cepat ini, selain itu ketidakhadirannya selama sehari juga tidak membuat kehebohan di sekolah ini jadi dia tidak merasa risih sama sekali.
"Makan kantin, yuk! Aku belum makan nih," ajak Mark.
"Boleh, ayo!" ucap Heechan yang menerima cepat ajakan Mark, seolah-olah ia tahu kalau Mark memang tidak pernah sarapan dirumahnya sama sekali.
"Boleh sih, kau gimana njun?" tanya Chenle.
"Aku temanin kalian aja, soalnya aku udah sarapan." Renjun juga ikutan setuju ikut ke kantin, walaupun sebenarnya ia berbohong sudah kenyang karena lebih tepatnya ia tidak merasa lapar yang mana malahan ia merasa mual bila mengingat darah yang menempel di potongan roti miliknya tadi pagi.
"Yaudah ayo buruan, keburu masuk nanti!" ajak Heechan yang malah lebih bersemangat dan lebih dulu berjalan pergi mendahului ketiga temannya, lalu disusul oleh Mark dan Chenle serta Renjun.
Dan saat Renjun melewati barisan meja Jeno, ia melirik sekilas pada Jeno yang sejak dirinya datang cuman berpura-pura membaca buku saja. Jadi tanpa pikir panjang, Renjun menghampiri Jeno dan menutup halaman buku yang di lihat Jeno dengan cepat.
"Ayo ikutan!" ajak Renjun yang kini sudah berdiri di hadapan Jeno yang berada di meja barisan depan.
Jeno mendongak ke atas, ia cuman bersikap datar saja tanpa mengatakan apapun.
Heechan yang melihat Renjun berhenti di depan meja Jeno langsung mendekat.
"Udah gak usah di ajak anak ini, lagian dia juga gak mau bergabung sama kita kali Njun." sindir Heechan yang dibalas tatapan tajam oleh Jeno.
"Dengarkan kata temanmu? Yaudah mendingan jangan ganggu aku, lagian siapa juga yang mau bergaul dengan orang bodoh kayak kalian." ucap Jeno sombong, meskipun itu bukanlah kalimat yant sebenarnya ingin diutarakan oleh cowok Tsundere sepertinya.
__ADS_1
"Dia udah nolak tuh njun, yaudah mendingan kita pergi aja yuk!" ajak Heechan.
Renjun menghela nafas panjang, ia kembali menutup halaman buku yang ingin dibuka oleh Jeno kembali.
"Kalau memang mau berteman, bilang aja kali. Heechan, Mark dan Chenle juga bakal bersedia kok berteman samamu jadi berhenti membohongi dirimu sendiri," keluh Renjun yang sekali lagi mengeluarkan kalimat tidak mengenakan, ia memang selalu membujuk orang dengan cara yang sama sekali tidak lembut dan malah mengesalkan.
Tetapi perkataan tersebut sama sekali tidak membuat Jeno kesal, malahan Jeno malah diam saja seolah-olah ia menurut saja dengan yang dikatakan Renjun. Tapi beda halnya kalau Heechan yang berbicara, pasti dia bakal kesal dan pengen memukul anak itu.
"Ayo ikut, bukannya kita teman?" Renjun kembali membujuk sekali lagi, Jeno yang memang sebenarnya ingin berteman dengan mereka ditambah lagi ia merasa kalau saat ini hanya Renjun yang sangat peka terhadap keinginannya tersebut cuman bisa mengangguk saja dan ikut berjalan duluan ke luar kelas.
Heechan sampai terbelalak melihat Jeno, ia lalu melirik kepada Renjun.
"Kenapa dia nurut gitu? Kau apain?" tanya Heechan.
"Dia pengen berteman dengan kita, kalian aja yang gak peka." pukas Renjun yang langsung jalan meninggalkan Heechan.
Mark dan Chenle cuman bisa senyum saja melihat Jeno dan tatapan bingung Heechan, sejak kerja kelompok di kafe itu mereka sebenarnya juga telah menyadari keinginan Jeno untuk bergabung dengan mereka tetapi mereka juga sebenarnya gak tahu cara mengajak Jeno dan kehadirannya Renjun menjadi perwakilan untuk mengajak Jeno bergabung dalam kelompok mereka.
"Heechan sampai bingung gitu Njun, apa memang dia yang gak sadar kali ya sejak di kafe itu?" tanya Mark.
"Gimana mau sadar, Jeno pun kadang suka ngeselin apalagi pas Mark pergi. Jeno dan Heechan kan bertengkar gara-gara omongan Jeno," ucap Chenle.
"Lah iya, beneran?" tanya Mark yang gak tahu apa-apa sambil tetap memperhatikan langkahnya melewati koridor sekolah.
"Udah gak usah bahas lagi masalah itu," tukas Renjun.
"Bahas apa guys?" tanya Heechan yang tiba-tiba saja berlari menghampiri mereka, padahal tadi dia jalan sedikit lambat dibelakang ketiganya.
"Gak ada apa-apa," jawab Renjun yang langsung berbelok menuju kantin dan mendekati meja yang sudah diisi oleh Jeno duluan.
Dan dikantin tersebut, Renjun sama sekali tidak menyadari kalau disana ada Jaemin dan Jisung yang sedang sarapan pagi. Dirinya baru sadar keberadaan Jaemin juga saat Jaemin sendiri yang menghampiri meja Renjun dengan tatapan yang tak kalah cerianya dengan Mark tadi.
"Njun, kau udah sembuh?" tanya Jaemin yang malah mencuri kursi yang harusnya di duduki oleh Chenle.
"Tahu darimana aku sakit?" tanya balik Renjun.
"Lah kan biasanya kalau gak hadir karena sakit sih, masa liburan sih njun." ucap Jaemin blak-blakan sambil tertawa kecil.
Tetapi sepertinya kehadiran Jaemin dan tawa Jaemin benar-benar mengganggu ketenangan Heechan dan Jeno yang juga disana saat itu.
Namun mereka tetap bersikap acuh saja karena memang mereka juga tidak terlalu memperdulikan keberadaan Jaemin, apalagi Jaemin juga anak kelas unggulan jadi wajar saja wataknya tampak sombong seperti itu.
"Oh gitu," ucap singkat Renjun yang juga bingung mau mengatakan apa lagi, lalu ia melirik kearah teman-temannya yang sudah duduk sambil menatap muak pada Jaemin.
"Kalian udah pesan makanannya?" tanya Renjun, ia merasa ada aura keheningan di meja itu.
"Udah njun," jawab Mark ramah yant dubakas anggukan oleh Renjun.
Lalu entah angin apa yang datang saat itu menyambar Heechan, ia langsung ngomong asal saja karena memang ia sendiri tidak suka melihat teman-temannya tampak akrab dengan orang seperti Jaemin.
"Njun, kalian ngomongnya udah selesai belum? Kalau udah, suruh aja deh tuh orang pergi soalnya seingatku sih dia gak mau berteman dengan anak kelas E." sindir Heechan yang langsung dipukul oleh Mark kepalanya.
"Jangan cari perkara deh, aneh-aneh aja nih masih pagi buat musuh!" keluh Mark.
Heechan cuman cemberut aja melihat Mark, ia juga tak bisa memukul balik Mark.
Tetapi sepertinya sindiran Heechan barusan tidak digubris oleh Jaemin, ia malah sibuk membuka topik obrolan lagi kepada Renjun seakan-akan ia memang cuman menanggap semua anak kelas 11-E sebagai angin berlalu saja terkecuali Renjun yang memang telah dianggapnya sebagai teman.
"Mereka ajak kamu ngomong loh, jangan diacuhkan!" tukas Renjun pada Jaemin yang langsung membuyarkan senyuman ramah Jaemin.
"Benar tuh Njun, kursiku aja sampai diambil sama nih orang." Keluh Chenle yang terpaksa berbagi kursi dengan Mark karena kursinya dipakai oleh Jaemin.
"Mereka yang mana ya Njun? Aku cuman ngelihat kamu sendirian doang disini," ucap Jaemin yang kembali tersenyum, lalu ia melirik kearah Jisung yang sedang makan sambil main HP di meja mereka sebelumnya.
"Oh iya njun, itu namanya Jisung dan dia sepupuku." beritahunya yang sebenarnya gak ada yang nanyak sih, tapi entah kenapa Jaemin merasa setiapkali mengobrol dengan Renjun bisa membuatnya terbuka saja atas keluh kesahnya.
Tapi sekali lagi Renjun tampak tidak senang dengan perkataan Jaemin sebelumnya, hanya saja dia memilih diam dan bersikap acuh karena memang dia juga tidak ingin membela siapapun diantara mereka saat ini.
"Ngeselin banget nih orang," pukas Heechan yang juga disusul setuju oleh Chenle, untungnya ada Mark yang berusaha menenangkan kedua temannya untuk tetap tenang. Sementara itu Jeno malah sibuk memainkan hpnya seolah ia tidak perduli tentang apa yang terjadi saat itu, atau lebih tepatnya ia merasa muak melihat wajah Jaemin.
Hingga akhirnya kemarahan yang terpendam itu mulai menjadi pertikaian saat Jisung datang menghampiri mejanya Renjun, ia memberikan tatapan sinis pada Renjun dan teman-temannya sambil menarik Jaemin dari sana.
"Ayo pergi Hyung! ngapain juga bergaul sama orang bodoh kayak mereka," tukas Jisung, lalu matanya tertuju pada sosok Jeno yang sejak awal ada di sebelah Renjun.
"Apalagi Si Jeno, malu-maluin banget bergaul sama orang bodoh kayak dia. Nanti Hyung jadi ketularan bodohnya gimana?" pukas Jisung yang asal ngomong saja sampai membuat Jeno kesal dan melampiaskan kekesalannya dengan tak sengaja memukul keras meja kantin tersebut sampai menjatuhkan botol kecap yang ada dipinggiran sudut meja dan membuat beberapa siswa melirik kearah mereka.
__ADS_1
Renjun yang berada disebelah Jeno langsung kaget, dia sampai berdiri dan menatap kepada Jeno, sedangkan Jaemin hanya tertegun saja saat itu sambil melirik kepada Jisung yang tersenyum licik.
"Si bodoh mengamuk ya?" sindirnya yang malah mengundang kemarahan Heechan, memang Heechan seringkali terlibat pertikaian dengan Jeno tetapi tetap saja ia tidak suka melihat situasi seperti ini.