
Bunyi pintu kamar yang dibuka paksa, membangunkan Renjun dari perasaan takutnya dengan keluarnya sosok Hyunwoo dari dalam kamar.
Hanya saja kali ini penampilan Hyunwoo benar-benar telah rapi kembali, ada raut wajah kepuasan dalam dirinya sampai mengundang perasaan bergidik ngeri di sekujur kulit Renjun.
Hyunwoo berjalan acuh melewati Renjun, tetapi tepat di ambang pintu ia mengatakan sebuah kalimat yang membuat mata Renjun berkaca-kaca bila membayangkannya.
Tanpa sedikitpun menoleh kebelakang, Hyunwoo berbicara dengan nada santai.
"Kau berani sekali datang kemari, kalau saja bukan karena Hyungmu itu pasti sudah kubunuh kau sekarang. Kau harusnya bersyukur masih ada yang melindungi orang menyusahkan sepertimu," tukas Hyunwoo seraya tersenyum muak, lalu tak hanya itu saja sebab ia kembali melanjutkan perkataannya.
"Lain kali aku akan membunuhmu kalau kita berjumpa lagi, kau harusnya sadar kalau aku sangat membencimu melebihi apapun di Dunia ini dan menyedihkannya malahan Hyungmu yang harus menjadi pelampiasanku atas kebencianku kepadamu," lanjutnya, lalu ia pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun kalimat yang sejak dulu diinginkan oleh Renjun.
Renjun hanya bisa tercengang mendengarkan semua perkataan Hyunwoo tadi, matanya tidak bisa lagi menahan tetesan air mata yang mulai menurun perlahan dengan berjuta-juta kekecewaan yang sulit untuk dibagi kepada orang lain. Akan tetapi, sebelum terlalu dalam ia berlarut-larut pada kesedihan dan kekecewaan itu, ia langsung teringat pada Winwin dan buru-buru menghampiri Winwin di dalam kamar.
"Hyung?" lirih Renjun tatkala ketika melihat Renjun yang sedang duduk bersandar di kaki Ranjang dengan wajah penuh lebam dan luka sayatan di lengan kirinya.
"Tenang saja, kau gak perlu mengasihaniku." Winwin berdiri saat itu juga tanpa mengatakan apapun lagi, ia berjalan melewati Renjun yang mengikutinya dari belakang.
"Kau tenang saja, aku akan mengobati lukaku dulu dengan kotak p3k yang ada di atas kulkas!" beritahunya secara sengaja agar tidak membuat Renjun semakin merasa bersalah, sebab ia tidak mau rasa bersalah Renjun malah memperburuk kesehatannya saat ini.
Renjun tidak lagi mengatakan apapun, ia hanya mengikuti langkah Winwin yang tengah mengobati luka sayatnya. Dan begitu Winwin usai membaluti luka sayat itu dengan Kasa dan pembalut, barulah Winwin berjalan membasuhi wajahnya di wastafel dapur seraya berusaha menahan rasa perih diwajahnya.
Sementara itu, Renjun membuang semua kasa yang digunakan Winwin untuk menekan perdarahan dari luka sayatan tersebut. Dan tak lupa juga Renjun menggunakan tisu yang ada di meja dapur untuk membersihkan tetesan darah yang menetes di lantai.
__ADS_1
Namun tak beberapa lama saat ia sibuk membersihkan lantai, matanya langsung tertuju pada bunyi bising yang diperbuat oleh Winwin yang tengah memukul tangannya di tembok beberapa kali sebelum akhirnya ia mulai tenang kembali dan menoleh kearah Renjun.
"Aku akan mengantarkanmu pulang!" tawar Winwin pada adiknya itu.
"Gak perlu," tolak mentah-mentah oleh Renjun seraya meneteskan air mata kembali.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf... Aku sangat menyesal, Hyung." Renjun mengusap air matanya, matanya semakin memperlihatkan rasa penyesalan yang mendalam dan inilah hal yang sebenarnya ditakutkan oleh Winwin.
"Sudahlah, kau gak harus minta maaf. Ini bukan salahmu," lirih Winwin pelan, ia tak mau lagi mendengarkan perkataan maaf dari Renjun.
Akan tetapi, Renjun masih terus meminta maaf ditambah lagi perasaan sesalnya ini mulai menjadi-jadi sampai membuat kedua tangan Renjun gemetaran hebat.
Jelas saja Winwin menjadi kesal sekaligus khawatir, ia secara spontan mulai berteriak keras sampai membungkam Renjun saat itu juga.
"Berhentilah meminta maaf! Kau itu gak bersalah, jadi tolong jangan buatku tambah kesal dan besikap seolah-olah kau memang gak berguna!" teriaknya. Lalu ia berjalan mendekati Renjun, emosinya seketika menghilang saat mendapati Renjun yang mulai terbeku dikursi yang ada di ruang makan.
Renjun berhenti mengacak-acak rambut Renjun dan meraih kursi yang ada dihadapan Renjun, "Ya sudah, anggap saja ini terakhir kalinya kau datang kesini dan usahakan kau segera pindah dari kota ini ya. Kau tahukan kalau aku gak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu dan Mami," pinta Winwin.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Renjun, tapi bukannya menjawab malahan Winwin berusaha mengalihkan topik dengan menawarkan makan siang pada Renjun. Dia langsung berdiri dan meriah Panci untuk memasak telur dadar.
Namun tetap saja usahanya sia-sia saja, karena Renjun bukanlah orang yang mudah sekali dialihkan topik pembicaraannya apalagi ini sudah menyangkut hal yang sangat penting bagi Renjun.
"Jangan mengubah topik, kau harusnya menjawab pertanyaanku. Lalu kau bagaimana, Hyung? Apa kau ingin ikut dengan kami?" tawar Renjun, tetapi ditolak cepat oleh Winwin.
__ADS_1
"Aku tidak bisa pergi, aku tidak bisa ikut karena aku harus menjaga Papa disini dan memastikan kalau dia tidak berniat mengejar kalian. Lagian aku ini adalah kakak laki-laki yang bisa diandalkan seperti kata Mami, jadi sudah sepantasnya aku melindungimu." Winwin tersenyum.
"Lagian, aku juga belum bisa memaafkan Mami. Jadi, aku gak punya alasan untuk ikut sama kalian," ucap Winwin yang kembali melanjutkan masakannya, ia mengambil dua butir telur di kulkas dengan niat ingin membuat telur dadar.
Tetapi pada saat ia ingin mengambil garam yang ada disebelah Renjun, tampak kagetnya ia melihat hidung Renjun yang kembali mimisan dan membuat Winwin cekatan memberikan tisu dari meja makan kepada Renjun sekaligus membantunya mencupit hidung Renjun yang masih terus meneteskan darah.
"Aku akan telepon Lukas ataupun Doyoung buat antar kau pulang!" beritahu Winwin, tetapi sebelum sempat Winwin mengambil handphonenya mendadak Renjun mencegatnya.
"Gak perlu, Hyung. Kau gak perlu repot-repot membuatku jadi beban untuk teman-temanmu," tolaknya seraya tersenyum lebar.
"Kau ini jangan bertindak aneh-aneh, kau harusnya mendapatkan perawatan medis sekarang soalnya udah ada dua kali kau mimisan hari ini." Winwin tampak kesal.
"Kau benar, tapi kenapa gak kau aja yang mengantarkanku? Kau harusnya tahu, kalau aku hanya ingin diperlakukan sebagai adikmu hari ini!" tukas Renjun, lalu ia meletakkan sobekan tisu di lubang hidungnya sambil berdiri.
"Aku akan menggantikan Hyung buat memasak kali ini, jadi Hyung bisa obatin aja tuh luka lebam di wajah Hyung pakai kompres dingin."
Winwin yang bisa mendengarkan keteguhan hati adiknya hanya bisa mengalah saja, kalau dipikir-pikir juga apa yang dikatakan Renjun ada benarnya. Renjun hanya butuh keperdulian seorang kakak, tak seharusnya ia memberikan tanggungjawab itu kepada teman-temannya.
"Oh iya, Hyung. Kau mau telurnya -" Tubuh Renjun langsung membentur lantai dengan suara hantaman yang keras.
Tentu saja Winwin langsung panik melihat kondisi Renjun yang tidak sadarkan diri dan bibirnya yang mulai memucat, ia langsung menghubungi Doyoung dan mengangkat adiknya dari sana menuju sofa yang ada di teras Rumah.
"Kita akan ke Rumah Sakit, kau yang sabar ya!" lirih Winwin yang sesekali melirik kearah adiknya yang kedua matanya terpejam dan sesekali juga ia menatap jalan seakan tengah menunggu kedatangan Lukas dan Doyoung.
__ADS_1
Dan beberapa kali ia berniat ingin melakukan hal nekat dengan membawa Renjun ke Rumah sakit saja sendirian, tetapi jelas saja itu tidak masuk akal apalagi ia tidak mempunyai kendaraan sama sekali dan malahan nantinya yang ada Renjun telat ditolong karena perbuatan bodohnya itu.
Untungnya saja tak beberapa lama, Rumah Doyoung dan Lukas yang tak jauh dari sana membuat keduanya cepat datang ke rumah Winwin. Dan tanpa basa-basi, Winwin kembali menggendong Renjun dan memasukkannya ke dalam kursi yang berjejeran di angkutan umum begitu ia melihat angkutan pribadi Doyoung berhenti di depan pagar Rumah dan belum sempat mesinnya dimatikan oleh Doyoung.