MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
HARAPAN TERBESAR


__ADS_3

Hujan malam ini turun begitu deras, kali ini anginnya melambai sangat kencang sampai membuat beberapa pohon hampir tumbang dibuat olehnya, belum lagi kilatan petir tak berhenti menggelegar di langit sejak dari tadi yang membuat siapapun pastilah akan kesulitan bila tidak meneduh ditempat yang aman. Untungnya saja renjun berhasil tiba di sebuah bangunan yang biasanya digunakan winwin untuk taruhan berkelahi sebelum hujan tersebut benar-benar turun lebih deras lagi, sepertinya memang ia sengaja memilih lokasi tersebut  untuk meneduh karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Rumah ataupun klinik dan bangunan sepi yang membuatnya mampu menenangkan diri sementara waktu meskipun ia tahu kondisi fisiknya tidak baik-baik saja.


Makanya tanpa ada aba-aba, ia langsung menjatuhkan diri dilantai gedung dan tergeletak lemas di sana. Bahkan, saking kelelahannya ia sampai membiarkan hidungnya mimisan saat ini.Belum lagi perutnya tak berhenti berbunyi berulangkali karena kelaparan dan bibirnya juga terasa kering pucat. akan tetapi, ia masih saja bersikukuh pada egonya dan memilih tidak memperdulikan kesehatannya sendiri saat ini selain hanya tetap berbaring dan memejamkan mata dengan tenang.


Ditengah kesepian dan kegelapan malam itulah, renjun benar-benar menumpahkan seluruh isi hatinya. wajahnya benar-benar sudah berantakan sekarang, tetesan darah yang sudah mengering bercampur dengan air mata yang terus mengalir dalam keadaan terpejam.


"Maaf...aku benar-benar minta maaf!" gumamnya berulang kali, entah kepada siapa kata maaf itu ingin ia berikan saat ini, tapi yang jelas nada suaranya memperlihatkan sebuah perasaan sesal dan pilu yang tak tergambarkan.


"Aku benar-benar minta maaf...." Renjun semakin mengencangkan suaranya dalam keadaan yang masih berbaring dan terpejam, hingga tak terasa Renjun benar-benar tertidur pulas saat itu karena terlalu lelah menangis dan menyalahkan diri sendiri.


Namun ketenangannya untuk tidur sejenak tidak berlangsung lama, sebab tak beberapa lama kemudian seseorang yang tampak tak asing dengan mengenakan pakaian kaos oblong hitam dan jeans hitam membangunkan Renjun seenaknya.


Renjun yang masih setengah tersadar langsung tersentak, ia buru-buru duduk sambil mengusap-usap wajahnya dengan lengan baju.


Dan begitu kesadarannya mulai membaik dan rasa kantuknya berangsur-angsur memudar, barulah ia bisa melihat jelas Winwin yang saat ini sedang ada dihadapannya seraya mengenakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya yang mengalami kerusakan di sisi sebelah kanan.


"Apa yang Hyung lakukan disini?" tanya Renjun bingung, ia benar-benar tak bisa membohongi hatinya yang merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Winwin saat itu sampai membuat wajah tampan Winwin menjadi rusak.


Berbeda pula pada Winwin yang tampak berusaha tenang, bukannya menjawab pertanyaan Renjun  malahan ia sibuk mengelap darah kering yang ada di sekujur wajah Renjun dengan lengan bajunya juga dibandingkan ia harus menjawab pertanyaan Renjun tersebut.


"Aku serius," ketus Renjun.


"Kau tenang saja, aku datang sendirian kesini dan orang tuamu gak akan tahu tempat ini. Lagian apa yang kau lakukan disini? Kau tahu kalau mereka sedang sibuk mencarimu sekarang, kau memang anak nakal yang tak pernah berhenti mengkhawatirkan orang lain ya!" keluh Winwin dengan nada yang tegas.


Renjun cuman menunduk saja untuk sesaat, sebelum akhirnya bibirnya mulai bergumam keras dan membalas tatapan tajam Winwin.


"Kenapa Hyung tahu aku disini?" tanya Renjun.


"Aku hanya menebak-nebak saja, lagian kau ini adikku dan pastilah aku tahu kalau kau akan bersembunyi ditempat sepi seperti ini kalau ada masalah. Kau ini emang paling mudah ditebak ya, pantasan aja kau selalu kalah bermain petak umpet denganku," ledek Winwin seraya tersenyum, ia bisa melihat wajah Renjun yang mulai menggerutu dibalik wajah pucatnya itu.


"Hyung benar-benar masih mengenaliku, aku jadi merasa bersalah padamu." Renjun menundukkan kepalanya lagi.

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya Winwin.


"Aku gak seharusnya membencimu, Hyung. Aku benar-benar merasa bersalah sama Hyung dan Wajahmu juga rusak karenaku, Aku minta maaf ya, Hyung." Renjun memelas sendu, ia bahkan tak bisa lagi mengatakan kalimat apapun selain kata maaf yang berulangkali dilontarkannya sampai membuat Winwin geram dan menepuk-nepuk bahu Renjun.


"Aku kan sudah bilang samamu untuk berhenti meminta maaf terus-menerus, jadi berhentilah mengatakannya karena aku sudah terlalu muak. Aku benci melihatmu terpuruk bersalah kayak gini, jadi lupakan saja semua yang berlalu ya," ucap Winwin.


Renjun hanya bisa mengangguk saja, sepertinya perkataan Winwin yang kesekian kalinya kembali menenangkan rasa takut Renjun.


"Baguslah kalau memang kau sudah mengerti apa yang kusampaikan, sekarang ayo kita pulang!" ajak Winwin.


"Aku gak mau pulang, Hyung!" tolak Renjun saat itu juga.


"Alasan apa lagi yang membuatmu gak mau pulang sih, Njun? " tanya Winwin.


"Aku lelah tinggal dengan orang-orang yang terus-menerus tersiksa karena mengkhawatirkanku, aku gak sanggup melihat mata mereka jadi sembab karena menangisi keadaanku. Aku bukan orang bodoh kok, aku bisa melihat seberapa menderitanya kalian karenaku." Renjun mrmbuang tatapannya menghindari Winwin, "Dan untuk kali ini, aku tidak mau menyusahkan kalian lagi, aku tahu kalau aku sangat egois tapi gak ada salahnya juga kalau anak egois ini belajar untuk tidak lagi menyusahkan siapapun. Aku juga muak melihat kalian harus terbebani karenaku, harusnya kalian bisa tenang menikmati hidup ini bukannya malah sibuk mengurusi orang penyakitan sepertiku!" keluh Renjun yang membuat Winwin langsung mengacak-acak rambutnya sampai beberapa untai rambut Renjun tersangkut di telapak tangan Winwin.


"Kau bisa menghabisi rambutku kalau terus-terusan mengusap-usap kepalaku, " keluh Renjun yang membuat Winwin tersenyum.


"Kau ini memiliki ketidakpercayaan diri yang rendah ya, aku saja yang memiliki wajah buruk rupa sekarang merasa tenang-tenang saja. Bahkan aku gak pernah kepikiran kalau aku menyusahkan siapapun," ledek Winwin yang mencoba membandingkan kehidupannya dengan semua yang tadi dikeluhkan oleh Renjun.


"Lalu, bagaimana dengan pengobatanmu? Gimana kalau nantinya kesehatanmu malah semakin parah?" tanya Winwin.


"Aku gak perduli lagi, lagian aku gak mau terus-menerus hidup di atas ranjang rumah sakit yang bau obat-obatan dan aura kesuraman yang menyebalkan. Aku juga pengen sesekali merasakan bagaimana nikmatnya hidup ini, kalaupun nantinya aku pergi pastilah rasanya terasa damai dan ikhlas karena sudah berhasil memuaskan keinginanku untuk hidup normal seperti orang lain." Renjun terus bersikukuh pada keinginannya.


"Kau memang egois, lalu bagaimana dengan kami? Bagaimana kami bisa melanjutkan hidup kalau kau seenaknya pergi, apa kau gak menyadari seberapa banyak pengorbanan yang harus kami lakukan untukmu bisa tetap hidup? Kau itu benar-benar bodoh atau bagaimana sih, masa gak sadar sama sekali kalau kau adalah alasan berharga yang menbuatku ataupun Mami dan Papi tirimu itu untuk tetap bertahan di dunia yang kejam ini!" celoteh Winwin yang sudah sangat kesal.


Untungnya saja celotehan Winwin kali ini berhasil membuat Renjun terbungkam, ia sampai tak sanggup lagi berkutit apapu selain memikirkan kembali keinginannya itu.


"Tapi aku juga pengen menikmati hidup seperti anak lainnya, aku juga ingin bermain wahana permainan ataupun berenang serta menonton bioskop seperti orang lain. Aku juga pengen bermain sepeda seperti dulu ataupun memainkan permainan olahraga bersamamu dan menonton bola sambil mengobrol seru denganmu dan Papa seperti anak lainnya. Memangnya aku salah kalau meminta banyak?" tanya Renjun yang mulai meneteskan air mata, kini ia benar-benar meluapkan keinginannya dihadapan Winwin.


"Kalau gitu mari kita penuhi semua keinginanmu!" ajak Winwin yang jelas saja membuat Renjun terkaget-kaget.

__ADS_1


"Memangnya bisa?" tanya Renjun yang jelas saja tak merasa yakin.


"Kau baru saja mengatakan ide yang sangat menarik dan aku akan mengabulkan semua keinginanmu itu, asalkan kau janji setelah itu kau harus kembali ke rumah sakit dan melanjutkan pengobatanmu. Kau setuju kan?" tanya Winwin.


Cukup lama Renjun terdiam sejenak, ia masih bingung dengan perkataan Winwin yang seolah-olah menganggap semuanya terasa mudah tanpa sedikitpun memikirkan apapun.


"Kau kan tahu kalau Papa Membenciku, bagaimana mungkin bagian itu bisa terkabul?" tanya Renjun seraya tersenyum meledek.


"Aku memang gak bisa menjamin hal itu samamu, tapi aku akan usahain kalau semua yang kau sampaikan tadi bisa terwujud. Dan aku butuh dirimu untuk bersama-sama mewujudkan semuanya, kau maukan mempercayaiku untuk mewujudkan semua keinginanmu itu?" tanya Winwin.


"Tapi syaratnya kau gak boleh sedikitpun mengatakan hal ini ataupun keberadaanku pada Mami dan Papi? Kau juga harus berhenti menatapku sebagai orang lemah?" tanya Renjun balik.


Winwin langsung menunjukkan jari kelingkingnya pada Renjun yang langsung dibalas kembali oleh Renjun dengan janji kelingking.


"Aku janji," ucap Winwin yang membuat Renjun tersenyum.


"Aku akan selalu mempercayaimu, Hyung." ucap Renjun juga sambil memeluk Winwin selama beberapa saat, sebelum akhirnya keduanya melepas pelukan itu dan Renjun membiarkan Winwin kembali mengacak-acak rambutnya.


Lalu Winwin membaringkan dirinya di sebelah Renjun, sambil menatap langit-langit atap yang bewarna putih kusam.


"Besok kita akan mulai mewujudkan semua keinginanmu itu, jadi lebih baik kita beristirahat sekarang."


"Terimakasih, Hyung." Renjun tampak sangat bahagia mendengarnya, ia juga ikut berbaring disebelah Winwin sambil membayangkan betapa indahnya bila seluruh keinginan itu terpenuhi.


Mereka benar-benar menggantung semua harapan itu dengan mudahnya, tanpa mereka sadari kalau bisa saja mereka bakal semakin kecewa bila salah satu harapan itu tak bisa terpenuhi. Winwin benar-benar rela mengambil resiko yang bisa saja mengancam nyawanya, walaupun sebenarnya ia tahu kalau sebenarnya takkan mudah mewujudkan semua keinginan Renjun apalagi setelah beberapa hari yang lalu ia mendengarkan secara langsung dari bibirnya Chanyeol kalau Kesehatan Renjun semakin parah dan tak seharusnya Renjun melarikan diri dari Rumah Sakit, jadi takkan mungkin Renjun bisa bertahan cukup lama berada diluar Rumah Sakit seperti semua keinginannya itu. Dan ditambah lagi Winwin sangat paham betul bagaimana kejamnya Hyunwoo saat ini, apalagi sudah beberapa Minggu ini Winwin tidak pulang ataupun mengabarkan keberadaannya pada Hyunwoo, pastilah semakin membuat kebencian Hyunwoo membeludak dan ia bisa membayangkan apa yang pastinya akaj terjadi bila nanti ia mengajak Renjun menampakkan diri dihadapan sang Papa.


Winwin benar-benar bisa menduga segalanya, namun entah mengapa hari ini Winwin rela mengambil resiko-resiko tersebut hanya untuk memenuhi keinginan adiknya itu.


Walaupun ia sudah berulangkali mengambil resiko-resiko kecil hanya untuk menolong teman-temannya, tapi hal ini jelas berbeda sama sekali karena seperti yang kita ketahui kalau biasanya Winwin takkan pernah berani mengambil resiko yang menurutnya malah akan semakin memperburuk keadaannya. Dan kali ini ia benar-benar memilih menggunakan semua keberuntungan dan dirinya untuk berkorban mengabulkan keinginan sang adik dan ia juga sudah siap secara mental bila saja nantinya ia mengecewakan Renjun ataupun kehilangan Renjun untuk selama-lamanya. Ia juga rela dibenci oleh Mami nya karena telah membawa pergi Renjun dari buaian sang Mami, lagian juga sudah sepantasnya ia belajar untuk bersikap sebagai Kakak laki-laki yang baik untuk Renjun daripada ia harus menyesal dikemudian hari.


Mungkin sebanyak itulah yang saat ini dipikirkan oleh Winwin sampai membuatnya kesulitan tidur, bahkan ada beberapa kali ia bergumam kesal karena kesulitan mencari ide lain untuk menjadi dewa pengabul keinginan Renjun. Sementara itu Renjun malah tertidur pulas tanpa mengetahui betapa hampir gilanya sang kakak saat ini karena mencoba mengabulkan semua keinginannya. Namun hal itu bukan hanya semata-mata Renjun sengaja tidur duluan karena merasa mengantuk, hanya saja Renjun sengaja tidur duluan karena ia merasa perutnya terasa sangat sakit dan kepalanya pusing saat ini makanya ia memutuskan untuk tidur dan meninggalkan Winwin terjaga sepanjang malam.

__ADS_1


Renjun berusaha untuk tidak sekalipun mengeluh dihadapan Winwin, ia tak mau nantinya Winwin membatalkan rencana yang sudah mereka buat dan malah memaksa Renjun kembali ke Rumah Sakit. Ia juga sebenarnya tak semata-mata bersikap egois dengan melontarkan keinginannya itu, ia hanya tak sanggup lagi menahan semua hal itu. Apalagi ia tahu kalau suatu hari nanti ia akan pergi untuk selama-lamanya, jadi ia tak mau ada satupun penyesalan yang tertinggal hanya karena ia terus-menerus menjadi anak baik yang menuruti semua keinginan Wendy. Bahkan kalau dipikir-pikir, saat ini ia tidak memiliki kenangan menyenangkan apapun bersama Winwin ataupun Papanya.


Dan hari ini salah satu dari banyaknya keinginan Renjun akhirnya bisa terwujud, tanpa sekalipun pernah disampaikannya pada Winwin kalau sebenarnya ia sangat ingin menjalin kembali ikatan persaudaraan dengan Winwin. Ia benar-benar ingin Winwin kembali menjadi Abangnya yang selama ini selalu dibanggakannya dan satu-satunya alasan yang membuat Renjun bersikeras kembali ke kota ini. Winwin juga adalah alasan kenapa Renjun kecil waktu itu bisa bertahan hidup dan bisa sadar dari kritisnya, karena saat itu Renjun sempat mendengar sayup-sayup kalau Winwin pernah mengatakan agar Renjun gak boleh selamanya bersembunyi didalam komanya. Tanpa sekalipun pernah diingat oleh Winwin, kalau ia pernah mengatakan agar Renjun tetap menjadi adiknya yang selalu saja gagal bermain petak umpet dan tetap membiarkan Winwin berhasil menemukannya meski sekalipun jarak mereka terpisah berjuta-juta mil sekalipun.


__ADS_2