
Doyoung dan Lukas menghampiri keduanya, terlihat tatapan curiga dibalik mata Doyoung terhadap Renjun. Sebenarnya ia sudah lama tidak menyukai sikap tidak sopan Renjun, ditambah lagi Winwin terus-menerus bersikap lembut pada Renjun tanpa memberikan pelajaran yang kasar.
"Apa yang dilakukan anak kelas 11 disini?" tanya Lukas yang sudah berdiri di sebelah Winwin, ia terlihat ramah seperti biasanya dengan senyuman lebar yang memancarkan auranya. Mungkin hanya Winwinlah satu-satunya teman Lukas yang lumayan bersikap ramah setelah semua yang dilakukan Renjun selama ini.
Berbeda pula dengan Doyoung, ia menatap tajam pada Renjun. Walaupun ia pernah berbuat baik pada Renjun, tetapi itu hanyalah atas dasar rasa kemanusiaannya bukan berarti ia tidak kesal pada perbuatan Renjun terakhir kali.
"Apa dia membuat keributan lagi samamu?" tanya Doyoung pada Winwin sembari melipat kedua tangan. Posisinya saat ini berada disebelah Lukas tetapi tubuhnya mencondong sedikit pada Renjun.
"Dia cuman butuh nasihat aja tadi, kan kalin tahu aku itu ketua OSIS Sekaligus Senior jadi udah seharus memberikan nasihat pada juniornya." Winwin tetap menatap Renjun, tak ada kegentaran sama sekali dari perkataan yang dilontarkannya seakan ia sudah terbiasa bersikap tenang setiapkali berbohong.
"Bagus dong," ungkap Lukas yang tidak perlu merasa khawatir, ia pikir akan ada baiknya bila Winwin telah berbaikan dengan adiknya meski hubungan mereka masih sangat berjarak lebar terlalu jauh.
"Kau benar. Tapi kalau sekali lagi dia nyari ribut samamu, jangan harap dia gak pulang babak belur!" ancam Doyoung yang hanya diacuhkan oleh Renjun saja, malahan Renjun bersikap bodoh amat dan berjalan perhi meninggalkan ketiga senior itu sampai membuat Doyoung menjadi kesal.
Doyoung memberikan sorotan mata tajam pada Winwin, "Kenapa adikmu mengesalkan banget? Apa dia memang gak sopan dari dulu?"
Lukas langsung menyenggol bahu Doyoung untuk memintanya diam saja, bisa-bisanya ia mengkritik kepribadian Renjun yang jelas-jelas adalah adiknya Winwin.
"Lah emang salah ngomong kayak gitu? Kan emang adiknya gak sopan banget sih," keluh Doyoung pada Lukas, sepertinya ia tidak terima pada Lukas yang menyuruhnya diam.
__ADS_1
"Dia anak yang kok, Jadi jangan ganggu dia. Lagian aku sengaja cuman ngasih tahu kalian berdua tentang ini karena aku percaya sama kalian." Winwin menekankan ucapannya, ia memang tidak marah tapi nada yang dilontarkan sangat jelas mengungkapkan kalau ia tidak suka pada omongan Doyoung tadi.
"Kalau kau memang sesayang itu sama adikmu, terus ngapain sih sampai memusuhinya gini?" Lukas memberikan tatapan meledek pada sikap Winwin yang tidak pernah jujur pada perasaannya sendiri, tentu saja inilah pandangan Lukas terhadap kasih sayang Winwin pada adiknya.
"Aku gak mau lagi berurusan dengannya, takutnya nanti aku malah melukainya hanya karena perasaan amarahku ini. Kalian kan tahu kalau aku belum bisa terima kenyataan kalau Renjunlah yang buat Papiku selingkuh dan Mami pergi, bahkan aku gak habis pikir tentang Mami yang lebih memilih membawa Renjun dibandingkan aku." Mata Winwin berbinar, ada aura kebencian yang tampak jelas dimatanya.
Lukas menghela nafas, "Terserahmu lah, itu juga hakmu untuk memaafkan ataupun membencinya."
"Tapi itu juga bukan kesalahannya, dia cuman anak kecil saat itu." Doyoung menepuk bahu Winwin.
"Wah, tumbenan kau ngomong gitu. Apa kau membelanya kali ini?" ledek Lukas seraya menyeringai.
"Aku tahu, kau ini bawaannya marah mulu. Lebih parah dibandingkan Winwin, heran aku kenapa sampai detik ini kau juga jadi kepercayaannya Winwin." Lukas meledek lagi, mungkin saja kalau gak ada Winwin disebelah mereka pasti sudah baku hantam saja dua orang ini.
"Sudahlah, Lukas. Kau jangan membuatnya kesal terus, kau kan tahu dia kalau ngomong bisa pedas dan malah buat kau emosinya nanti kalau udah keluar julidnya."
"Aku tahu." Lukas tertawa seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia juga tidak mau mengusili Doyoung lagi setelah diingatkan Winwin barusan.
Doyoung yang sudah sedikit tenang, menepuk bahu Winwin lumayan keras lalu memasang wajah serius.
__ADS_1
"Balik lagi deh ke topik, menurutku lebih baik kau belajar memaafkan masa lalu deh atau kalau gak kau bisa kehilangan adikmu selamanya. Kau ngerti kan yang kubilang barusan, Win?" Winwin cuman diam saja.
Doyoung bertambah ekspresif melihat tidak ada jawaban apapun dari Winwin, "Sekarang aku tanyak samamu, kau udah siap belum kehilangan adikmu? Dia bakal semakin dewasa, apa kau siap kehilangannya saat dia benar-benar melupakanmu atau lebih parahnya lagi dia malah membencimu. Apa kau siap kehilangan adik yang selama ini berharga di hidupmu?"
Untuk kesekian kalinya, Winwin masih tetap diam sampai membuat Doyoung kembali kesal melihat ketidakjujuran temannya itu.
"Dasar pembohong besar! Kau memang orang yang terlalu kejam ya, Win. Kau terus-menerus larut dalam kebencian yang kau ciptakan sendiri, sampai kau sendiri gak sadar kalau kau semakin membuat jarak diantara kalian. Bagaimana kalau ternyata hal yang kau takutkan benaran terjadi? Kau kan tahu dua hari yang lalu adikmu mimisan hebat, aku aja sampai ikutan panik bawa dia ke UKS dan kau masih aja bersikeras dengan sikap batumu!" keluh Doyoung.
"Kau ini kenapa sih , Doyoung? Kau selalu menyalahkan semaunya sama Winwin. Aneh banget," tukas Lukas yang merasa bingung pada sikap temannya itu, kadang rasanya Doyoung terlihat membenci Renjun dan terkadang juga ia membela Renjun dan meminta agar Winwin berhenti menjaga jarak pada Renjun.
"Memangnya aku kenapa? Aku cuman gak suka aja sama pembohong besar, kau kira gak capek berurusan sama anak ingusan itu hanya karena Winwin mengacuhkannya!" keluh Doyoung lagi sambil tertawa geli menatap Winwin yang masih diam saja.
"Jangan ceramahin aku lagi, aku bakal menghabisimu kalau kau terus-menerus menceramahiku!" ancam Winwin yang langsung berjalan pergi menjauhi kedua temannya itu.
Lukas yang merasa perbuatan Doyoung sudah keterlaluan, ia langsung memukul kepala Doyoung atas omongan kasarnya.
"Kau bisa habis kalau ngomong gitu lagi, harusnya kau gak berhak mencampuri urusannya hanya karena kau juga mendapatkan kepercayaan penuh olehnya sepertiku." Lukas menunjuk Doyoung, lalu pergi menyusul Winwin.
Sementara itu Doyoung hanya menyeringai saja, ia merasa kesal saat mengingat ancaman Winwin barusan padanya. Padahal sebenarnya dia hanya berniat baik saja, siapapun pasti lelah melihat kesombongan dan ego Winwin yang teramat berlebihan ditambah lagi Kebohongan Winwin pada dirinya sendiri yang membuat ia tersiksa tanpa sadar. Doyoung hanya ingin temannya itu berhenti menyiksa diri sendiri, belajar memaafkan masa lalu dan kembali menjalin hubungan dengan adik dan ibunya. Hanya itu saja yang Doyoung inginkan, tetapi sepertinya pesan itu terlalu sulit untuk melunakkan hati Winwin.
__ADS_1