MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
BERTEMU AYAH KANDUNG


__ADS_3

Permasalahan kemarin sepertinya masih terus-menerus terngiang dipikiran Renjun, ia bahkan sampai melewatkan sarapan pagi hanya karena tidak sanggup lagi mendengarkan pertengkaran Chanyeol dan Wendy didalam kamar pagi ini dengan topik yang masih sama terkait pemindahan Renjun. Memang sih saat ini Chanyeol lebih mendukung keinginan Renjun, tetapi sikap tidak mau mengalah Wendy malah semakin menjadi-jadi dan menyebabkan pertengkaran adu mulut yang tak kunjung menipis, makanya Renjun memilih berangkat ke sekolah duluan karena tidak ingin menjadi merasa bersalah pada keduanya.


Hal itulah yang menyebabkan rasa bersalah Renjun tumbuh menjadi perasaan gelisah yang dibawa-bawa olehnya sampai ke sekolah, ia jadi kesulitan konsentrasi pada pembelajaran dan kerap berperilaku murung saja sampai membuat teman-temannya menjadi khawatir.


"Kau punya masalah ya? Kok diam saja sih," tukas Heechan yang pertamakali menyadari sikap Renjun.


"Benar tuh, Anak ini diam mulu daritadi dan parahnya lagi omongan kita diacuhkan terus." Jeno ikut menimpali, tetapi tetap saja Renjun enggan menjawab dan cuman tersenyum saja.


"Gak ada masalah apa-apa kok, santai aja." Renjun berdiri dari kursinya, "Aku pergi ke toilet bentar deh, lagian bentar lagi Jam istirahat masih lama jadi masih sempatlah ke toilet."


"Jangan lama-lama, nanti Pak Sehun yang masuk dan bapak itu galak!" peringat Heechan yang hanya dibalas anggukan saja oleh Renjun.


Renjun langsing berjalan pergi saat itu juga, ia memang melangkahkan kakinya tetapi pikirannya masih terpaku pada bayangan kegelisahan dan keraguan. Bahkan koridor sekolah yang tampak ramai seolah-olah terasa sepi dimatanya, Renjun masih sibuk menyesali perbuatannya kepada Wendy tadi malam dan rasanya ia ingin menarik kembali perkataannya tersebut dan mulai ragu untuk bersikeras tetap tinggal disini.


Dan ditengah langkah kaki yang tak tentu arah itulah pandangan matanya tertuju pada pintu UKS yang sedikit terbuka dan membuatnya tertarik untuk sekedar mengintip.


Hingga kedua matanya melihat kearah Doyoung yang mengenakan slayer Kuning dilehernya seolah-olah memandang kalau Doyoung adalah anak PMR, tetapi hal yang membuatnya jauh lebih tertarik daripada fakta bahwa Doyoung adalah anak PMR ialah saat melihat Doyoung sedang mengobati luka lebam di punggung belakang Winwin.


Renjun yang khawatir pada kakak laki-lakinya itu langsung masuk saja dan membuat kaget semua orang yang ada didalam.


"Apa yang terjadi pada Hyungku?" tanya Renjun.


Lukas langsung buru-buru menutup rapat pintu saking paniknya melihat kehadiran Renjun di UKS, ia tidak mau siapapun bakal menyadari keberadaan mereka di UKS dan membuat gosip buruk yang nanti bakal meruntuhkan image sempurna Winwin. Apalagi setahu semua orang kalau Winwin tidaklah orang yang suka berkelahi dan memiliki kehidupan sempurna, ia tidak mau gosip murahan menyebar di sekolah itu.


"Kau lain kali jangan masuk sembarangan, kami ini seniormu jadi bersikaplah sopan!" tegas Lukas spontan ditengah kepanikannya, disusul oleh tawa merendahkan Doyoung terhadap situasi saat ini.


"Maaf, aku cuman khawatir aja melihat Doyoung Hyung mengobrol punggung Winwin Hyung." Renjun mencoba membela diri, lalu ia bertanya lagi pertanyaan yang sama pada Winwin.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Renjun sekali lagi, tetapi Winwin memilih diam saja sampai Doyoung selesai membaluti Luka lebam Winwin dengan perban dan kasa.

__ADS_1


Winwin memasang kembali seragam putihnya dan mulai melirik kepada Renjun.


"Ini bukan urusanmu, Bentar lagi masuk kelas! lebih baik kau pergi dari sini," perintah Winwin yang langsung ditolak mentah-mentah.


"Kau selalu bersikap seperti ini, kupikir kejadian kemarin membuat kita dekat ternyata kau sama saja berusaha mengacuhkanku." ketus Renjun seraya tersenyum geli, sebenarnya omongan Winwin tidaklah kasar ataupun mengundang kemarahan diantara keduanya. Akan tetapi, hanya saja perasaan gelisah dan amarah Renjun saat inilah yang membuat ia tidak sengaja melampiaskannya pada Winwin dengan menganggap Winwin sama sekali padahal Winwin hanya berusaha mengalihkan obrolan dengan meminta Renjun kembali ke kelas.


"Aku tidak mengacuhkanmu sama sekali dan aku juga tidak berniat menjadi dekat kembali denganmu, jadi lebih baik pergi dari sini saja sekarang." Winwin berusaha bersikap tegas pada Renjun, meskipun ia sedang menahan rasa nyeri dipunggungnya akibat pukulan KDRT dari Papa mereka yang sama sekali tidak diketahui oleh Renjun.


"Terserah kau sajalah, tapi yang jelas ada yang mau aku sampaikan samamu sekarang." Renjun memberitahu Winwin tentang apa yang tadi sempat terlintas dipikirannya begitu melihat sosok Winwin dibalik pintu UKS.


"Memangnya kau mau bilang apa?" tanya Winwin.


"Mami ngajak pindah lagi," jawabnya.


Winwin mengangkat sebelah alisnya, "Lalu?"


Winwin yang mendengarkan permintaan Renjun hanya bisa tersenyum kecut saja, lalu ia menggelengkan kepalanya. Dia tampak tidak kaget akan kepindahan Renjun dan sepertinya ia juga tidak menyukai keinginan Renjun untuk berjumpa kembali dengan Papa mereka.


"Gak bisa, kau gak perlu jumpa dengan dia juga. Jadi kalau memang mau pergi, yaudah tinggal pergi aja!"tukas Winwin sambil berdiri dari ranjang UKS dan memasang kembali Dasinya.


"Lagian Papa juga gak menginginkan kehadiranmu sama sekali, jadi berhentilah berharap apa-apa darinya!" ujar Winwin yang tetap bersikeras menolak keinginan Renjun.


Sementara itu Lukas dan Doyoung cuman bisa berdiri sambil memperhatikan obrolan dua orang bersaudara ini, mereka juga enggan ikut campur urusan keduanya selain memastikan kalau Winwin tidak lepas kendali dan memukuli adiknya itu.


"Kau salah besar, Hyung. Walau bagaimanapun dia adalah Papaku, jauh di lubuk hatinya pasti Papa menyayangiku seperti Papa menyayangimu." Renjun memperlihatkan wajah ketatnya.


Winwin tersenyum tipis, tak menyangka ia bisa mendengarkan ucapan percaya diri adiknya yang justru menyakitkan hatinya bila membayangkan bagaimana nantinya Renjun kecewa bila mengetahui kepribadian Papa mereka yang telah berubah.


"Kenapa kau bisa yakin?" tanya Winwin seraya menatap dirinya di depan cermin yang kebetulan ada di UKS sambil memperbaiki seragamnya.

__ADS_1


"Om Chanyeol saja bisa menyayangiku seperti anaknya sendiri, pasti Ayah kandungku sendiri sangatlah menyayangiku." Renjun tetap bersikeras pada keinginannya.


Winwin menghela nafas panjang, "Lalu bagaimana kalau ternyata Papa semakin membencimu?"


"Aku gak perduli tentang kebenciannya samaku, aku hanya tidak mau menyesal kalau kelak aku tidak bisa lagi melihatnya. Aku tidak mau ketakutanku pada kebenciannya membutakan keinginanku untuk bertemu dengannya, jadi aku mohon tolong kabulkan keinginanku kali ini!" pinta Renjun.


"Maaf, aku tidak bisa." Winwin tetap menolak keras, sampai membuat Renjun mulai kesal dan menjatuhkan gelas plastik di Uks secara tidak sengaja sampai airnya tumpah membasahi lantai.


"Kenapa sih Hyung selalu berusaha memisahkan aku dengan Papa? Kenapa Hyung selalu bilang kalau Papa membenciku?" tanya Renjun yang sudah mulai emosi.


"Aku tidak mengada-ada, Dia memang membencimu dan kau harusnya menerima kenyataan itu." Winwin berbalik dan menepuk-nepuk pelan bahu Renjun, sebelum akhirnya ia mengambil gelas plastik yang terjatuh di lantai dan menyerahkannya pada Lukas.


"Nanti bisakan kau bersihkan UKS ini? Soalnya nanti kita bisa dimarahin lagi kalau sampai buat UKS kotor," pungkas Winwin.


"Santai aja, nanti anggota PMR ku yang bakal membersihkan ini." respon Doyoung yang sebenarnya sedikit kesal pada Renjun.


Winwin hanya tersenyum saja seraya mengucapkan terimakasih, lalu ia menatap mata Renjun kembali dan menunggu Renjun membalas perkataannya tadi.


Renjun menyingkirkan tangan Winwin darinya, lalu ia memberikan sorotan mata tajam.


"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan, Hyung. Kita bukan anak-anak lagi, jadi berhenti berbuat seenaknya dan egois kayak gini. Aku gak perduli tentang alasanmu itu, aku juga gak butuh dilindungi karena mau bagaimanapun aku sudah lama tersakiti. Aku sudah lama tersakiti sejak mengetahui sel darah putihku telah menjadi penyakit mematikan yang perlahan-lahan akan membunuhku. Jadi kalau memang kau perduli padaku, harusnya kau mengijinkanku ketemu dengan Papa!" bentak Renjun yang tak bisa menyembunyikan binaran air mata yang terkumpul rapat di bola matanya.


Winwin yang mendengarkan perkataan Renjun barusan benar-benar terbungkam saat itu, ia tidak habis pikir kalau hatinya terasa sesak dan perasaan gagal mulai menyelimuti hatinya.


Selama ini ia berusaha menjadi soson sempurna di mata semua orang, bahkan ia juga berusah untuk tetap sempurna melindungi Renjun dari rasa sakit. Tapi sayangnya keinginan melindungi itu mulai membisu tatkala menyadari kenyataan yang terasa pahit ini. Ia sudah lama merasa hancur karena gagal melindungi Renjun, tetapi perasaan sakit ini semakin membengkak saat Renjun mengatakannya secara berterus-terang kali ini.


Bibirnya sampai terbungkam dan sorotan matanya mulai menunduk ke lantai, ia mencoba memikirkan segalanya dan bernegosiasi dengan dirinya yang berada jauh di dalam kegelapan pikiran. Tampaknya ia mencoba berdiskusi dengan rasa egonya sendiri.


Jelas saja Doyoung yang berada disana dan menyaksikan suasana suram di antara kedua kakak-beradik ini cuman bisa tersenyum sinis saja sambil berniat menyindir Renjun.

__ADS_1


__ADS_2