
"Kepalaku sakit,Hyung!" teriak Renjun.
"Tenang, kau tunggu disini dulu!" perintah Winwin, ia langsung berdiri dan berlari kesalah seorang pejalan kaki.
"Dimana Rumah Sakit terdekat disini?" tanya Winwin, tak perduli lagi tentang adab sopan santun dalam bertanya kepada yang lebih tua seperti yang biasa dilakukannya di lingkungan umum.
"Lumayan si jauhnya, dek. Kamu bisa naik kendaraan aja biar lebih cepat," beritahu Pejalan kaki tersebut yang sepertinya baru saja keluar dari rumah makan dengan pakaian kantor lengkap, mungkin saja pejalan kaki itu baru usai menyantap makan siang di luar kantor.
"Nama Rumah Sakitnya apa?" tanya Winwin lagi.
Rumah Sakit Bahagia," beritahu Pejalan kaki itu.
"Makasih," ucap Winwin yang langsung berlari kembali ke tempat Renjun, sementara itu pejalan kaki tersebut juga kelihatannya tidak terlalu perduli atau mempunyai niat untuk membantu Winwin, ia langsung pergi melewati Winwin dengan langkah Terburu-buru menuju kantornya.
"Dengar! Kau harus tenang, aku akan bawa kau ke Rumah Sakit." Winwin mencoba menenangkan adiknya itu, tetapi Renjun secara tegas menolak ajakan Winwin.
"Gak perlu ke Rumah Sakit, aku ada obat di dalam tas." Renjun terlihat tidak tertarik untuk dibawa ke Rumah Sakit, ia menarik jaket yang menutupi kepalanya dan menatap Winwin dengan ekspresi yang seolah menahan rasa sakit sambil melepaskan ranselnya.
Winwin tak mengatakan apa-apa, ia langsung meraih tas Renjun dan mencari obat yang dibilang oleh Renjun tadi.
Untungnya obat tersebut langsung ketemu, tanpa banyak tanyak ia pun memberikannya kepada Renjun saat itu juga. Renjun menelan obat tablet itu yang sebenernya merupakan obat pereda rasa nyeri dari resep Dokter beberapa hari yang lalu.
Dan seusai menelan obat, ia langsung meneguk air botol yang ada didalam tasnya dan sengaja disediakan Mami Wendy tadi pagi.
Untuk beberapa saat, Renjun masih terdiam sembari menahan rasa sakit yang masih menjalar dikepalanya, belum lagi ia juga telah mengotori seragam putih Winwin dengan darah mimisannya yang mulai berhenti.
Sebelum akhirnya kebisingan jalan raya dan hiruk-pikuk kendaraan semakin membuat Renjun sakit kepala dan bertambah muak.
Belum lagi beberapa pejalan kaki yang tampak tidak perduli dengan mereka, hanya berpura-pura tidak melihat dan jalan melewati keduanya seolah tidak ada apa-apa yang terjadi semakin membuat Renjun teringat pada dirinya di masa lalu yang tak pernah terlihat dimata orang lain.
__ADS_1
Dia bisa merasakan sikap individualitas dan acuh masyarakat kota, jadi tidak ada alasan baginya mengharapkan ada orang lain yang merasa sedih dan kasihan pada dirinya saat ini atau sekedar memberikan tumpangan saja.
"Kita bisa pulang saja sekarang!" ajak Renjun yang berusaha berdiri dan menahan rasa sakit di kepalanya yang mulai sedikit mereda karena pengaruh obat beberapa menit yang lalu.
"Kau yakin tidak mau ke Rumah Sakit?" tanya Winwin sambil membantu Renjun dengan menarik tangannya Renjun sambil menggendong tas milik Renjun.
"Gak deh, aku sangat muak dengan bau Rumah Sakit," kata Renjun yang langsung berdiri dengan langkah perlahan-lahan dan masih lemas.
Winwin berjalan di sebelah Renjun dengan tetap mengikuti langkahnya. Keduanya berjalan menyusuri jalan trotoar di siang bolong, sesekali Winwin melirik kearah Renjun dan berjaga-jaga mana tahu Renjun terjatuh atau pingsan saat ini.
Tak ada satupun dialog lagi di antara keduanya, mereka sibuk memikirkan langkah kaki masing-masing sampai keduanya tiba di pagar taman kota.
Dan tanpa meminta persetujuannya Winwin, malahan Renjun langsung memasuki taman kota itu yang kebetulan masih agak sepi di siang bolong begini.
"Apa yang kau mau lakukan disini? Kau bilang kalau kau mau pulang saja," cakap Winwin yang juga ikutan menyusul dibelakang Renjun.
Winwin langsung berlari mendekati Renjun, ia meluruskan kaki Renjun sambil menatap kearah adiknya yang hanya terdiam.
Kaki Renjun masih gemetaran, belum lagi keringat yang dikeluarkannya jauh lebih banyak dibandingkan orang sehat dan sebagian wajahnya yang masih ada bekas darah kering.
"Kenapa denganku, Hyung?" tanya Renjun yang mulai curiga terjadi dirinya sendiri, ia benar-benar takut tentang dirinya sendiri dan sakit yang dideritanya.
"Kau cuman kecapekan saja, jadi gak usah berlebihan."
"Kau benar, kayaknya aku cuman kecapekan saja." Renjun tertawa, ia sepertinya setuju dengan perkataan Winwin dan menolak mempercayai penyakit yang dideritanya dan menyangkal semua pemikirannya yang menjurus kepada penyakit Leukimia.
Winwin juga sepertinya tidak niat untuk memberitahu Renjun tentang fakta yang sebenarnya terkait penyakit yang diderita Renjun, ia sudah terlanjur berjanji pada Chanyeol dan lagipula ia juga tidak sanggup untuk mematahkan harapan hidup adiknya.
Kini Winwin sudah tidak lagi punya alasan untuk bersikap seolah-olah ingin menjauh dari adiknya, sebab tembok yang kini harus diruntuhkan oleh Renjun bukanlah lagi keangkuhan Winwin melainkan kematiannya sendiri yang semakin lama terasa dekat dan secara nyata yang nantinya akan memisahkan Renjun dari Winwin.
__ADS_1
"Kita istirahat saja dulu disini, nanti aja kita pulang setelah kau gak merasa lelah lagi!" tegas Winwin, ia ikutan duduk disebelah Renjun dan menutupi kakinya Renjun yang masih gemetaran dengan Seragam putih yang sudah kotor dan tumpukan tas mereka.
"Gak usah dilihatin kakimu, biarin aja! Nanti gemetar nya juga hilang,"
Renjun mengangguk saja. Entah kenapa setiap bersama Winwin, ia berubah menjadi sosok yang penurut dan sedikit ceria sehingga menjadikannya berbeda dengan Renjun yang biasanya dikenal banyak orang.
"Hyung!" panggil Renjun sambil berusaha memperlihatkan senyumannya ditengah rasa sakit yang sedang ditahannya.
"Kenapa?" Winwin menoleh kearah Renjun, tetapi kedua matanya sesekali melirik kearah kaki Renjun yang masih gemetaran walau sudah ditimpa oleh dua buah tas dan ditutupi oleh seragam putih miliknya.
"Maafkan aku, aku tahu kok kalau kau membenciku karena merebut Mami darimu." Senyuman Renjun mulai menghilang, ia membalas tatapan Winwin dengan serius.
Winwin tak memberikan reaksi apapun, ia malah mengacak-acak rambutnya Renjun seperti yang dulu dilakukannya saat masih kecil.
"Ini bukan salahmu, kau harusnya gak perlu minta maaf." Winwin menarik kembali tangannya dan mengorek sesuatu dari saku tas ranselnya.
Dia memperlihatkan sebuah koin kepada Renjun yang jelas membuat Renjun keheranan.
"Kau ingat koin ini?" tanya Winwin.
"Enggak, memangnya koin apa itu?" tanya balik Renjun.
"Ini koin yang kuambil dari celenganmu sehari sebelum Mami membawamu pergi dari Rumah, bagiku ini adalah benda berharga yang menjadi kenangan terakhir diantara kita."
"Kenangan terakhir?" tanya lagi Renjun.
Winwin mengangguk, "Karena semenjak hari itu, aku menganggap kalau kau sudah pergi selamanya dari hidupku. Lagipula alasan aku masih menyimpan koin ini supaya aku masih tetap mengingat jelas rasa sakit dan perasaan kecewa yang kurasakan waktu itu, makanya sampai detik ini aku selalu membencimu." Winwin mengantongi kembali koin itu dan mengalihkan pandangannya dari Renjun.
"Rupanya kau memang masih membenciku, aku pikir kau cuman berpura-pura selama ini." Renjun juga berhenti menoleh kearah Winwin dan hanya menatap lurus kedepan saja.
__ADS_1