MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
KELUAR DARI ZONA NYAMAN


__ADS_3

Renjun berjalan melewati koridor kelas, sepertinya ia telah merasa lega setelah memperoleh jawaban yang diinginkannya dari Winwin.


Hatinya terasa deg-degan saat membayangkan dirinya bisa bertemu dengan Sang Ayah. Ayah yang selama ini dirindukan olehnya sampai membuat ia berusaha menutupi diri dari sosok Chanyeol selaku Ayah tiri Renjun.


Dengan langkah yang terlalu bersemangat, ia melirik kesegala arah dan merasakan terik matahari yang mulai menyengat kulit.


Hingga suara seseorang yang dikenal memanggilnya cukup keras, tentu saja tidak ada alasan bagi Renjun untuk tidak menoleh ke sumber suara tersebut yang tidak lain ialah Jaemin yang kebetulan baru keluar dari kelasnya sembari memegang sebuah buku berukuran tebal.


Jaemin tampak tersenyum senang menyambut kehadiran Renjun, bahkan ia sampai rela menutup kembali lembaran bukunya demi menghampiri Renjun.


"Ada apa?" tanya Renjun yang saat ini suasana hatinya cukup terobati, sepertinya ia juga tidak lagi mengingat masalah pertengkaran kedua orangtuanya itu.


"Darimana? tadi kayaknya dicariin sama Heechan, tapi kayaknya mereka udah balik lagi ke kelas sih."


"Ada urusan tadi, " jawab Renjun , lalu ia tertarik pada buku yang dipegang Jaemin.


"Rajin banget baca buku, pelajaran apa tuh?"


"Ini?" Jaemin memperlihatkan sampul depan buku itu pada Renjun, "Ini buku tentang sejarah Perang Dunia 2, kan bentar lagi mau UTS jadi harus banyak belajar. Kau kan tahu kayak mana kedua orang tuaku," jelas Jaemin seraya berpura-pura tertawa bahagia, walaupun Renjun bisa melihat binaran tekanan dibalik pantulan matanya.


"Kalau memang merasa lelah, lebih baik berhenti sejenak dan gak usah melakukan apapun." Renjun tersenyum.


"Kalau gitu aku bisa ketinggalan dari yang lain dong," ledek Jaemin seraya tertawa geli mendengarkan saran dari Renjun.


"Daripada kau terus memaksa jiwa dan fisikmu melakukan sesuatu dengan paksaan, lebih baik mengistirahatkan diri sesaat kan gak ada salahnya." Renjun menaikan sebelah alisnya, lalu ia melipat kedua tangannya.


"Coba deh aku tanyak samamu, " Renjun berhenti sejenak dan merubah posisi berdirinya, "Bukannya kau pernah bilang kalau kau lelah terus-menerus menjadi yang terbaik? Memangnya kau gak bosan berada ditengah kompetisi yang jelas-jelas kau sendiri gak tahu siapa lawan yang saat ini kau hadapi? Pernah gak kau menyadari kalau lawan yang seharusnya kau hadapi itu adalah diriku sendiri, kau tahukan aku ini kawanmu dan jelas aja aku ataupun Heechan dan teman kita yang lainnya gak pengen kau sakit hanya karena berusaha memenuhi semua kehendak orang tuamu!"


Jaemin yang mendengarkan semua perkataan Renjun hanya tersenyum saja, "Kau benar, aku sendiri saja sampai gak tahu keinginanku sendiri karena terlalu sering mengikuti keinginan orang tuaku."


"Saranku lebih baik kau istirahat dulu sekarang, nanti juga kau bakal belajar lagi di bimbel sepulang sekolah. Nikmati aja Waktu istirahat sekolah sebagai waktumu sendiri, kalau perlu kau bisa datang ke kelasku dan bermain dengan kami." Renjun tersenyum dan sepertinya ia merasa lega saat mendapatkan reaksi positif dari Jaemin atas nasihat yang diberikannya.

__ADS_1


Akan tetapi keadaan itu tak berlangsung lama, sebab tak beberapa lama reaksi Jaemin berubah bingung dan senyuman diwajahnya hilang tatkala saat tetesan darah merah menetes dari hidung Renjun.


"Hidungmu mimisan?" tanya Jaemin, jelas saja Renjun buru-buru menggunakan dasinya untuk mengusap darah tersebut dan mencupit hidungnya seraya menunduk.


"Kau lagi sakit ya, Njun?" tanya Jaemin.


Renjun menggelengkan kepalanya, tetapi Jaemin yang merasa kalau temannya itu butuh bantuan langsung meminta tisu dari teman kelasnya lalu menyerahkannya pada Renjun.


"Bagusan kau ke UKS aja, " saran Jaemin.


"Makasih tisunya, tapi aku gak apa-apa kok. Tenang aja," pungkas Renjun seraya tetap memperlihatkan senyuman ramahnya.


Untungnya teman-teman sekelas Jaemin sama sekali tidak terlalu memperdulikan apa yang terjadi pada Renjun, jadi kejadian ini tidak menjadi berita panik di sekolah dan lagipula status Renjun yang bukan dari kelas unggulan tidaklah menarik bagi mereka.


"Kau yakin gak apa-apa?" tanya Jaemin curiga.


"Palingan kecapekan aja, makanya mimisan." Renjun masih memperlihatkan sikap santai, ia seperti berusaha menyembunyikan penyakitnya dari sang teman.


"Pantas saja kau gak pernah ikut organisasi, Kau selalu mimisan ya kayak sekarang kalau kelelahan, " pungkas Jaemin seraya mengangguk percaya.


Tanpa disadarinya, kalau suaranya yang keras itu telah terdengar ditelinga Winwin yang berpapasan melewati mereka berdua. Dimana kebetulan pintu kelas Jaemin itu berada disebelah tangga lantai Dua.


Winwin sontak menatap kearah mereka, matanya langsung melotot saat melihat Renjun yang sedang mencupit hidungnya dan spontan Winwin menghampiri adiknya itu.


"Kau mimisan lagi? Kau sudah minum obat atau Mami belum bawa kau berobat?" tanya Winwin kesal.


Renjun langsung panik, ia melirik sekilas pada Jaemin yang bukanlah orang bodoh dan jelas saja Jaemin langsung paham akan semua perkataan Winwin.


"Aku baik-baik saja, Hyung gak perlu khawatir." Renjun tersenyum, tetapi matanya memberikan isyarat kepada Winwin kalau saat ini ada Jaemin yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka.


Winwin menghela nafas panjang, "Jaemin, kau bisa mintakan beberapa berkas yang perlu di tandatangani dari sekretaris osis sekarang?"

__ADS_1


"Bisa kak, sebentar ya kak." Jaemin langsung menurut, sebab memang dirinya merupakan anggota osis jadi sudah sepantasnya dia menuruti permintaan Winwin dan ditambah lagi Winwin adalah role modenya sebagai seorang senior.


Dan begitu Jaemin pergi, barulah Winwin meminta sapu tangan dari Lukas yang berada dibelakangnya dan barusan datang menghampirinya.


Kebetulan saja memang Lukas suka menbawa sapu tangan, katanya sih kalau keringat itu bisa membunuh ketampanannya jadi sapu tangan adalah solusi yang tepat untuk menghapus keringat itu dari sekujur wajah.


"Pakai ini!" Winwin menyerahkan Sapu tangan itu itu kepada Renjun, seraya membawa Renjun ke daerah yang sepi dan berada disedikit dibawah tangga sambil mencupit keras hidung Renjun.


"Tetap menunduk saja!" perintah Winwin, seraya melepaskan tangannya dari hidung Renjun.


Renjun hanya bisa tersenyum saja, sepertinya ia merasa senang atas kepedulian Winwin padanya.


"Ayo kita ke UKS!" ajak Winwin.


"Gak perlu, Hyung. Aku baik-baik aja kok dan makasih buat perhatiannya. Tapi aku udah minum obat kok tadi pagi, memang sih obat sekedarnya dari dokter soalnya belum konsultasi lagi ke Rumah Sakit."


"Aku gak perduli samamu, aku cuman kasihan aja." Winwin membantah semua yang dipikirkan Renjun saat ini terhadap perilakunya.


"Gak masalah, kalaupun tindakan Hyung cuman sekedar kasihan tapi aku bakal anggap ini sebagai sikap perhatian Hyung samaku. Hyung memang kakak laki-laki terbaikku!" Renjun tersenyum dan disaat yang bersamaan juga ada Pak Suho yang melihat Renjun dan panik.


"Apa yang terjadi padamu, nak? Ayo kita ke UKS sekarang!" ajak Pak Suho yang memang sudah mengetahui penyakit Renjun dan telah memegang janji untuk menjaga Renjun seperti janjinya pada orang tua Renjun.


Renjun yang tidak bisa melawan guru hanya bisa menurut saja saat ini, padahal ia sudah menolak beberapa kali untuk dibawa ke UKS ditambah lagi suara bel mulai berbunyi yang jelas saja membuat Renjun ketinggalan pelajaran lagi karena harus beristirahat di UKS.


Winwin yang merasa kalau adiknya sudah aman ditangan pak Suho, lantas ia segera mengajak Lukas untuk kembali ke kelas.


"Kau itu lucu ya, lain kali kau harusnya lebih ekspresif saat dipuji adik sendiri. Bukannya kau senang dibilang terbaik oleh adikmu, kau harusnya tunjukkan perasaan senangmu."


"Diamlah, aku malah muak dengar pujian darinya. Aku gak pengen dia terus bergantung padaku, " ucap Winwin yang langsung memasang headset ditelinganya sembari menaiki anak tangga.


Lukas hanya bisa senyum-senyum sendiri saja sambil bergumam, "Padahal jelas-jelas kau itu haus akan pujian, dasar manusia aneh."

__ADS_1


__ADS_2