MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
HUKUMAN


__ADS_3

Akibat perkelahian di atap tadi, akhirnya ke empat remaja muda itu diberikan hukuman oleh Pak Suho. Untung saja yang menghukum adalah Pak Suho, coba bayangkan kalau saat itu Pak Sehun yang datang pastilah hukumannya jauh lebih mengerikan bila mengingat betapa galaknya Pak Sehun.


Dan saat ini, keempatnya disuruh menghormat bendera di lapangan sekolah sebagai ganti dari hukuman panggilan orang tua.


Lagipula hukuman penghormatan bendera juga adalah hukuman yang cukup ringan dibandingkan yang lainnya, bahkan sudah menjadi hal yang wajar untuk kelas 11-E yang lebih di dominasi oleh Heechan ataupun anak lainnya. Namun tidak dengan Jeno maupun Renjun, apalagi Jaemin yang kini menjadi pusat perhatian semua orang.


Tak ada satupun yang tidak terkejut tatkala melihat Jaemin berada di lapangan, sebab biasanya ia selalu di kenal sebagai titisan dari kesempurnaan Winwin di sekolah.


"Udah jam berapa sekarang, Njun? " tanya Heechan yang melirik kearah Renjun yang berada di sebelahnya.


Renjun tidak menjawab dan hanya menunjukkan tangan kirinya yang memakai jam kepada Heechan.


"Sebentar lagi istirahat, baguslah." Heechan menyengir kegirangan, Jeno yang melihatnya menjadi lumayan kesal.


"Kalau kau gak ribut, pasti kita gak di hukum gini. " Jeno kembali mengeluh setelah beberapa saat yang lalu Melontarkan keluhannya pada Heechan.


Tapi Heechan bukannya merasa bersalah, malahan ia meledek balik dengan memasang raut wajahnya yang mengesalkan.


Renjun yang berada di sebelah Heechan sampai risih melihat tingkah keduanya, belum lagi ia juga merasa kesal sekaligus kasihan pada Jaemin yang terus menundukkan kepalanya karena malu ditatap oleh yang lain.


"Gak perlu diperdulikan pandangan orang tentangmu, lagian juga ini murni kesalahan kita karena berkelahi jadi gak usah ambil pusing! " tukas Renjun pada Jaemin yang ada di sebelahnya.


"Kau benar, " ucap Jaemin yang masih menunduk.


Sepertinya perkataan Renjun tadi tidak banyak membantu memperbaiki suasana hati Jaemin yang sudah memburuk karena tidak sengaja mendengar beberapa umpatan kecil dari kelas lain yang lewat di hadapannya.


Dan disisi sebelah, Renjun juga melihat Jeno yang masih memasang wajah kesal dengan keringat yang bercucuran penuh dan Heechan yang sibuk membalas umpatan Jeno.


Renjun tidak habis pikir juga kenapa dia bisa di kelilingi oleh tipe manusia seperti mereka, ia menghapus keringatnya yang telah membasuh wajah dan menggerak-gerakkan kakinya yang terasa pegal.


Dan saat itu juga, ia menemukan jawaban atas keraguan terhadap dirinya sendiri. Entah bagaimana sepertinya hukuman ini memberikan dampak positif bagi dirinya, ia langsung tersenyum tanpa sadar dan energinya kembali penuh.


"Makasih ya buat kalian, " ungkapnya seraya menoleh kepada ketiga temannya itu.


"Buat apaan, njun? Mau nyindir apa gimana nih? " tanya Jeno yang sudah tidak bisa lagi bersikap tenang karena kelelahan.


"Kirain kalian ngamuk pas kulempar kepala kalian pakai tempat bekalnya si Jeno, " Renjun tersenyum geli, ia merasa malu bila membayangkan ekspresinya saat itu.


Dan sepertinya bukan dia saja yang merasa lucu, Jeno juga ikutan tertawa.

__ADS_1


"Kalau aku sih jelas gak marah sih, Njun. Malahan ngakak habis ngelihatnya, " ucap Jeno.


"Tapi tupperwarenya rusak loh, emang Mamamu gak marah?" tanya Renjun.


"Tenang aja," ucap Jeno yang kini wajahnya gak cemberut lagi.


"Baguslah, kalau Kepala kalian berdua aman, kan? "


"Kalau gak ada dirimu, pasti kita udah babak belur lebih parah kali Njun. Jadi santai aja, walaupun masih kesal sih dipukulin seenaknya samamu. " Heechan mengatakannya dengan penuh ekspresif, Renjun dan Jeno cuman tersenyum saja mendengarkannya.


Sementara itu, Jaemin masih diam saja dan tidak terlalu menyimak obrolan teman-temannya tersebut.


"Woy Anak sombong! Diam aja kau, malu gara-gara gabung sama kita atau udah nyerah berteman sama si Renjun?" tanya Heechan yang malah lebih ke ledekan belaka.


Jelas saja Jaemin jadi terpancing kembali, ia tak menjawab dan hanya memberikan tatapan tajam saja pada Heechan.


"Guys, coba kalian lihat ke langit!" perintah Renjun yang berusaha mengalihkan perhatian Jaemin terhadap Heechan.


"Memangnya apaan sih? Kenapa juga lihatin langit, silau yang ada kali Njun. " keluh Heechan.


"Emang silau, maksudnya biar tambah keringatan aja makanya ku suruh lihat langit soalnya ada matahari di atasnya," puas Renjun yang kembali tersenyum.


"Nih anak makin lama tambah ngeselin banget ya, " pekik Heechan kesal.


"Siapa suruh kalian  mau jadi temanku?" puas Renjun sombong, lalu melirik kepada ketiganya sampai membuat ketiganya malah jadi kesal.


Lalu Renjun merangkul Heechan dan Jaemin yang ada di sebelah kanan-kirinya, "Makasih ya udah mau jadi temanku, mulai hari ini aku janji bakal berusaha jadi teman yang baik buat kalian."


Lalu ia menoleh kepada Jaemin, "Kau masih mau kan jadi temanku?"


Jaemin tersenyum, entah kenapa ekspresi bahagia Renjun menular kepadanya dan rasanya ia sangat bahagia mendengarkan Renjun telah menganggapnya sebagai teman.


"Kan emang kita temanan kali, " pukas Jaemin seraya tersenyum, lalu Renjun menoleh kearah sisi kanannya.


"Kalian berdua tetap mau kan jadi temanku?"


"Tentu dong, Njun. Gak ada alasan buat kami musuhin kau juga." Heechan merangkuk Jeno yang tampak sedikit risih.


"Aku juga bakal berusaha jadi teman yang baik, " ucap Jeno yang sedikit malu.

__ADS_1


Lalu Renjun menoleh lagi kepada Renjun dan Jeno secara bergantian, "Kalau gitu, kalian juga harus berteman lagi! Soalnya aku gak pengen ada permusuhan di antara kita, gimana?" tanya Renjun, cukup lama Jaemin dan Jeno saling memandang satu sama lain.


"Kalau aku sih bakal maafin si anak sombong ini, asalkan dia mau minta maaf sama si Jeno dan gak ngerendahin kita lagi. " Heechan malah ikutan nimbrung yang sebenarnya lebih ingin memprovokasi Jaemin.


"Aku gak pernah memusuhi Jeno ataupun semau murid kelas 11-E, jadi kalau memang dia ataupun kalian mau berteman samaku yaudah kali ini gak masalah kalau kita menjalin pertemanan, Tapi aku gak bakal minta maaf ya, soalnya aku juga gak merasa bersalah. "


Jeno menghela nafas panjang seolah mengerti akan watak kepribadiannya Jaemin, "Aku juga gak punya kebencian apapun padanya, terus kalau memang syaratnya kamu harus temanan lagi demi bisa jadi temannya Renjun. Oke deh, " Jeno memberikan jabatan tangannya pada Jaemin, lalu Jaemin meraih jabatan tangan itu dengan wajah datar. Meskipun sebenarnya mereka merasa lega terlepas dari belenggu gengsi hanya karena perkelahian di masa lalu.


"Kalau gitu, kita bertujuh bisa dong jadi teman." ucap Renjun sambil menimpa jabatan tangan Jaemin dan Jeno.


"Tujuh" tanya Heechan.


"Iya, kita ada tujuh. kan udah kubilang kalau temannya aku itu temannya kalian juga, sama halnya dengan temannya kalian juga temannya aku."


"Maksudnya apaan, Njun? Emang siapa aja rupanya?" tanya Heechan.


"kita berempat, Mark dan Chenle sama satu lagi itu ada Jisung." Renjun mengatakannya tanpa ada beban sama sekali.


"Yakin? Dia mana mau jadi teman kita, lagian orang ngeselin kayak gitu ditemanin buat apa?" tolak Heechan yang merasa tidak setuju.


"Kalian juga ngeselin waktu awal kenal,"


"Tapi, Njun-" belum sempat Heechan berbicara, lalu tangannya ditarik oleh Renjun untuk saling berjabat tangan berempat.


"Terserahmu aja deh, Njun." ketua Heechan yang cuman bisa mengalah saja pada Renjun.


"Kalau gitu -" Renjun tertegun melihat setetes cairan merah terjatuh di hadapannya.


Lalu ia buru-buru menarik tangannya dan menggunakan dasinya untuk mencupit hidungnya tersebut.


"Kau mimisan, njun?" tanya Jaemin.


"Santai aja, mungkin kelelahan doang." Renjun tetap tersenyum sembari mencupit hidungnya.


"Yakin? Kalau gitu ke UKS aja dulu, nanti kami ijinin deh kalau Pak Suho datang, lagian ntar lagi udah mau istirahat juga." ucap Jaemin.


"Gak usah, aku ijin ke toilet aja. Bentar ya!" Renjun langsung buru-buru lari ke toilet yang ada di lantai satu, ia  menyalakan kran wastafel dan menunduk kedalam wastafel sembari membiarkan darah menetes dalam wastafel.


Tangannya menggenggam erat kran wastafel seperti menahan amarah, lalu ia menangis dalam diam dan membiarkan tetesan air matanya terjatuh bersamaan dengan air yang mulai menggenangi wastafel dan darah yang memerahi air tersebut.

__ADS_1


__ADS_2