MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
SEMUA SALAHMU


__ADS_3

"Bruk...." Suara tempat sampah yang ditendang keras oleh Chanyeol begitu keluar dari ruangan Renjun, ia tidak lagi memperdulikan kehadiran Doyoung dan Lukas yang menatap bingung kepadanya. Selain itu ia juga tidak memperdulikan lagi Imagenya dimata orang lain, kini ia sulit berpikir jernih dan hanya terbawa emosi belaka saja.


Chanyeol yang biasanya dikenal sebagai orang yang sabar, kini lepas kendali dan memperlihatkan kekesalannya secara membabi-buta hanya karena seorang anak tiri yang selama ini tidak pernah menganggap kehadirannya. Tampak jelas rasa sayangnya pada Renjun yang bisa saja tidak dimiliki oleh Ayah manapun di dunia ini, bahkan Chanyeol bisa dijuluki sebagai Ayah terbaik untuk Renjun bila dibandingkan Hyunwoo yang merupakan Ayah kandung Renjun sendiri.


"Kenapa harus anakku?" tanyanya, entah kepada siapa saat ini ia bertanya yang jelas pikirannya benar-benar tidak jernih saat ini.


Lukas dan Doyoung saja sampai bergidik ngeri melihat kelakuan Chanyeol, seperti mengingatkan mereka pada kepribadian Winwin saja. Meskipun tingkah Chanyeol masih jauh terkontrol dibandingkan Winwin bila sudah membabi-buta.


"Kenapa harus sekarang? Apa kau tahu selama ini aku berjuang untuk menjadi Ayahnya? Jawab aku!" gumamnya yang langsung terjungkal ke lantai dan terduduk lemas, sesekali ia memukul lantai dengan tangannya dan menatap sekeliling tanpa arah.


Lukas yang merasa kasihan pada Chanyeol segera meminta Doyoung untuk mencari Winwin dan Tante Wendy sementara itu dirinya berniat untuk menenangkan Chanyeol.


"Kau bisa cari Winwin dan Tante Wendy! Biar aku yang urus Om ini," pungkas Lukas yang langsung disetujui Doyoung tanpa penolakan.


Sementara itu di sisi lain Gedung Rumah Sakit, Wendy masih sibuk mengejar Winwin yang berusaha menghindarinya.


"Kau tidak seharusnya bersikap kayak gini sama Mami!" keluh Wendy yang berhasil menggenggam tangan anaknya untuk mencegah Winwin pergi lebih jauh lagi.


Akan tetapi, Winwin tidak hanya diam saja karena dalam hitungan detik ia langsung melepaskan tangan Wendy darinya dengan kasar.


"Aku tidak mengenalmu, berhenti menyebut dirimu sebagai Mamiku!" ketus Winwin dengan tajam.


"Aku ini ibumu, jadi seharusnya kau tidak lari dariku!" ucap Wendy yang tak memberikan tatapan melotot pada anaknya.


"Kau bukan ibuku, lagian apa sih maumu?" tanya Winwin.


"Apa yang terjadi pada Wajahmu?" tanya Wendy yang masih penasaran tentang apa yang terjadi pada anaknya itu.


"Bukan urusanmu, kau harusnya sadar kalau sejak hari itu kau bukan lagi ibuku dan berhenti bersikap semuanya masih baik-baik saja!" ucap Winwin yang masih berusaha menggunakan intonasi nada yang tenang dengan sedikit tekanan pada kalimatnya.


Namun Meskipun begitu, Wendy dibuat tercengang oleh Perkataannya.


"Mami gak berniat meninggalkanmu waktu itu, Maafkan Mami." Wendy mulai memahami isi hati anaknya, spontan ia membelai wajah Winwin yang langsung ditepis saat itu juga oleh Winwin.


"Tolong berhenti! Tolong berhenti mengundang luka lama yang seharusnya gak perlu lagi dikorek kembali, kau mengerti kan hampir berapa lamanya aku berusaha menyembunyikan luka itu dan secara seenaknya kau muncul dihadapanku untuk mengorek kembali luka itu, apa kau memang gak punya hati?" tanya Winwin yang suaranya mulai keras, ia tak perduli lagi tatapan beberapa orang yang melirik kepadanya.

__ADS_1


"Tapi, Mami -" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Winwin langsung memotong seenaknya saja. Mungkin saja ia berniat mengeluarkan semua unek-uneknya pada sang Mami.


"Lebih baik kau urusin saja Renjun. Dia jauh lebih penting di Dunia ini dan saat ini ia pasti membutuhkanmu," ucap Winwin seraya membuang muka kearah lain.


"Tapi Mami perlu bicara sama kamu, Mami benar-benar merasa bersalah sama kamu dan Mami harap kamu mau ikut Mami!" ajak Wendy tanpa tahu malu, jelas saja Winwin yang mendengarkannya merasa muak.


"Dengar ya, Mami tahu kalau Papa kamu yang membuat kamu babak belur kayak gini. Jadi tolong jangan tolak permintaan Mami, karena Mami hanya ingin kedua anak Mami kumpul lagi dan kita bisa hidup bahagia bersama. Mami tahu kok luka yang kamu rasain, tapi Mami janji bakal menebusnya mulai sekarang." Wendy berusaha meyakinkan anaknya, memang saat ini ia benar-benar merasa bersalah pada Winwin tetapi tak ada sama sekali ketulusan yang bisa dirasakan oleh Winwin dari ucapan Wendy.


"Maaf, aku gak bisa. Tapi intinya berhentilah menyalahkan Papa karena setidaknya Papa tidak pernah membuangku sepertimu, Papa gak pernah sekalipun meninggalkanmu sendirian!" bentaknya, lalu ia mendekati Wendy dan berbisik tajam.


"Kau tahu kalau kau sudah gagal menjadi seorang Ibu, jadi tolong jangan menambah kegagalanmu lagi sebagai ibu bagi Renjun." Winwin tersenyum puas seusai mengatakan itu, jelas saja Wendy yang mendengarkannya langsung marah dan menampar Winwin secara spontan.


Winwin memang sudah keterlaluan, ia tidak seharusnya mengatakan perkataan kasar pada Wendy karena bagaimanapun Wendy adalah ibu kandungnya.


Wendy menatap Winwin dengan tatapan tidak percaya, matanya berkaca-kaca dan tangan yang digunakannya untuk menampar Winwin terasa gemetaran seperti habis terkena air dingin.


"Kau benar-benar kurang ajar, Nak. Apa sebegitu bencinya kau dengan Mami?"


Winwin mengangguk, "Kau benar, kalau bukan karena Renjun pasti aku gak bakal datang kesini. Kau harusnya sadar kalau aku sangat membencimu, "


Berbeda dengan Winwin yang tetap bersikap biasa saja, walau sebenarnya ia juga merasa gundah pada hatinya sendirian dan kebencian yang selama ini ditanamnya.


Hingga kedatangan Doyoung yang berjalan terburu-buru membuyarkan pembicaraan diantara kedua Ibu dan anak itu.


"Win, kau perlu balik ke sana sekarang!" ajak Doyoung yang mulai kelelahan karena berlari tidak tentu arah.


Dengan terengah-engah, ia mengambil nafas sejenak seraya menunjuk kearah lorong yang membawanya menuju Ruangan Renjun.


"Ada apa, nak?" tanya Wendy cemas.


"Adikmu kambuh lagi, Win. Itu lagi diperiksa sama Dokter," beritahu Doyoung yang jelas membuat kepanikan diantara Ibu dan anak itu.


Winwin langsung berlari menghampiri ruangan Renjun, disusul jiga oleh Wendy dan Doyoung yang mengikuti dari belakang.


Dan tepat di depan pintu ruangan Renjun, mereka bisa mendengarkan suara teriakan kesakitan Renjun yang seperti tersiksa.

__ADS_1


Suara teriakan itu pastilah mengundang rasa ingin tahu Winwin, ia langsung mengintip dari sela pintu yang sebagian tengahnya terbuat dari kaca dan dari luar ia bisa melihat Renjun meronta-ronta kesakitan di ranjang dengan beberapa tenaga medis yang berada di kedua sisinya.


Entah apa yang sedang diberikan Dokter itu pada Renjun, tapi yang jelas setelah itu tangan Renjun yang tadinya mencengkram kuat tiang penyangga ranjang mulai melemas dan suara teriakannya tidak lagi terdengar sampai keluar.


Winwin yang tampak kesal melihat semua ini langsung membalikkan badannya dan tangannya menunjuk kepada Chanyeol dan Wendy.


"Kala terjadi apa-apa dengan Renjun, aku gak akan pernah memaafkan kalian! Harusnya kalian itu bisa merawatnya dengan baik, apalagi kau sebagai ibunya harusnya bisa dong menjaganya selama ini padahal kau sendirilah yang bilang kalau kau akan membawanya pergi jauh berobat agar dia bisa sembuh total. Mana buktinya?" bentak Winwin yang jelas tidak diterima oleh Chanyeol.


"Jaga ucapanmu, nak! Kau gak seharusnya ngomong kayak gitu sama Mamimu dan gak ada yang pantas untuk disalahkan disini mengenai penyakitnya Renjun, Ngerti kamu!" tegas Chanyeol, sepertinya ia sudah mulai tenang beberapa saat yang lalu setelah berhasil ditenangkan oleh Lukas.


"Terserah," ujar Winwin yang merasa lelah juga bila melanjutkan perdebatan dengan Chanyeol, lagian ia juga sudah tidak tertarik lagi menyalahkan keduanya saat para Dokter itu keluar dari ruangan dengan wajah yang penuh kecurigaan.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Wendy.


"Keadaan pasien semakin parah, sepertinya kita perlu mengatur kembali jadwal kemoterapi untuknya dan untuk pembicaraan selengkapnya mungkin Bapak dan Ibu bisa ikut saya ke Ruangan!" ajak Dokter.


"Baik, Dok." Chanyeol langsung mengiyakan saat itu juga, baginya tak ada waktu untuk berpikir yang macam-macam apalagi sampai memutuskan untuk membawa Renjun berobat ke luar negeri saja seperti yang sebelumnya telah mereka sepakati.


"Mari ikut saya!" ucap Dokter yang langsung berjalan pergi sambil tersenyum ramah, Chanyeol juga ikut menarik istrinya dan membantu Wendy berjalan karena memang tubuh Wendy sudah terlanjur lemas saat ini.


Sementara itu, Winwin hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat punggung semua orang dewasa itu pergi meninggalkan mereka. Lalu ia menatap kepada kedua rekannya, "Kalian pulang aja deh sekarang, soalnya si Lukas kan harus kerja part time dan kau juga harus bantu bapakmu buat nyupirin angkutan umum."


"Oke deh, Bro. Tapi kau harus bersabar ya dan jangan putus asa. Nanti kalau sempat, besok kami bakal datang buat jenguk atau kalau perlu bantuan kau bisa langsung hubungin kami!" ucap Lukas.


Winwin hanya tersenyum saja sambil menepuk kedua bahu sahabatnya, lalu pergi masuk kembali kedalam Ruangan.


Berbeda dengan sebelumnya, saat Winwin memasuki ruangan untuk kedua kalinya ia bisa melihat Renjun yang sedang menangis di ranjang sambil membelakangi Winwin.


Winwin sendiri bisa saja berjalan ke sisi satunya untuk bisa mengobrol dengan Renjun secara empat mata, tapi ia mengurungkan niatnya dan membiarkan Renjun tetap membelakanginya dirinya.


"Apa rasanya sakit?" tanya Winwin, tapi tak ada jawaban apapun yang ingin dikatakan Renjun.


Hanya keringat yang masih terus bercucuran disekujur wajahnya, sepertinya AC ruangan tak lagi sanggup mendinginkan tubuhnya dan Renjun sendiri juga tidak berniat membalikkan badannya kearah Winwin.


"Apa kau nakal terus nangis dan diam kayak gini? Kau ingin menyerah? Tapi bukannya kau sudah janji gak akan pernah menyerah, aku harap kau gak akan mengingkari janjimu itu karena aku sangat membenci seorang pembohong." Winwin berusaha tidak menangis, walau sebenarnya suaranya mulai rapuh dan hatinya terasa sakit melihat adiknya sendiri sedang menderita seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2